DAMAI,, Bintang Ke-Zora

Alam seolah mengerti apa yang terjadi. Tapi apa yang kurasakan takkan pernah bisa mereka rasa.Sebelumya aku bisa sedikit tersenyum lega karena telah terbuka jalan untuk semakin dekat dngan mereka.Ya…sekarang aku telah berada dalam lingkungan mereka…meski aku tak tahu apakah mereka pun menganggapku bagian keluarga mereka?enthlah…mungkin pula akupun belum bisa mendarah daging dengan mereka. Tapi setidaknya aku telah berusaha memenuhi permintaan mereka, karena aku sayang mereka, aku cinta mereka,mereka adalah keluargaku yang tak dapat kutemukan selain disini..hanya disini.

Semakin aku dekat dengan mereka, semakin aku tahu apa yang terjadi sebenarnya. Aku masih ingat, aku pernah berkata bahwa satu persatu dari mereka pasti kan merasakan apa yang pernah kurasa. Bagaimana pahitnya menjadi orang terasing, dikucilkan, tak punya teman dan…ya..betapa hampanya hidup..tanpa ada siapa-siapa disisi kita. Mungkin kini giliran Sang bintang ke-Zora yang mengalaminya. Aku pikir ini impossible karena gadis belia yang kukenal ini very funny, dan selalu membuat gaduh suasana. Tapi ternyata dibalik kerianganya, tersimpan berjuta problamatika yang mungkin tak hbis ditulis dalam tumpukan betas berlapis-lapis. Sayangnya, dia yang selalu membantu masalah orang lain, bahkan akupun pernah kecipratan perhatiannya, hanya bisa terpuruk dan bungkam seribu bahasa tenggelam dalam masalahnya. Untung saja dia wanita yang tegar.

Berminggu-minggu masalah ini berlarut-larut, bahkan i sampai kabur ke pangkuan bundanya di Purwokerto yang sebentar lagi akan melhirkan buah hati yang dinantinya, dengan hanya meninggalkan sepucuk surat yang ditemukan setelah ia berada dalam perjalanan. Kami semua tak kuasa menahan air mata ketika baris demi baris coretan penanya terbaca. Akupun sungguh tak mengira ksedalam itu keletihan hatinya menghadapi sifat dan sikap semua teman-temannya. Sayangnya, namaku tak ikut serta, mungkin karena aku tak tahu apa-apa.

Lebih parah lagi, hari berikutnya kelompok 3 harus menampilkan drama dalam acara meeting EDS dimana drama itu disutradari oleh Bintang ke-Zora. Aku yang juga bagian dari kelompok itu turut pusing 7 keliling. Alhamdulillah keajaiban datang. Beberapa jam sebelum meeting dimulai, Sang Bintang ke-Zora telah kembali dan lebih melegakan lagi ternyata meeting di cancel minggu depan karena ada acara pondak yang harus diikuti semua santri.

Hari pun berganti hari. Namun mentari tetp setia menemani menyinari dunia yang mulai rapuh terkikis usia. Kisah sang Bintang ke-Zora masih terus belanjut rupanya. Bahkan mencapai puncaknya ketika ia merasa hidup sendiri. Dia menjauh dari kami. Mungkin pula ia tak sanggup lagi menatap muka kami. Sungguh ironi! karena kami hanya bisa berdiam diri. Ya…ku akui aku kehabisan kata-kata untuk membantunya. Ku tak sanggup lagi membuka mata hati dan nurani yang telah beku doiselimuti egonya. Dampaknya, banyak kewajiban yang ia abaikan, tak hanya sekolah, spes, mengaji bahkan makanpun ia enggan.

Tapi,, sepetinya ada titik terng menuju roma.Di detik-deti terakhir pertemuan kami dengan Mam Fitroh yang akan berpaling ke Mamuju, kampung halmn pujaan hatinya, dibanjiri air mata kami. Mam Fitroh membuka mata hati kami tentang arti persahabatn. Ketika itu pula Sang Bintang ke-Zora tak kuasa menahan isak tangis yang terpendam selama ini. Alhamdulillah,, setelah seaso n sharig ini, mata hati kami terbuka dan semuka pu saling membuka pintu maf yang berangkat dari ketulusan dan keikhlasan. Tak ubahnya seperti Bintang ke-Zora yang bisa kembali tersenyun dan kenbali mewarnai dunia. Aku lega,, aku bahagia,, kami dapat bersatu kembali.

Hari ini kami ( kelas 1 EDS ) berniat mengadakan meeting yang telah tertunda-tunda sebelumnya. Aku yang punya schedle nyuci terpaksa mempercepat gerak tanganku bagai mesin cuci menggiling baju kotor selama 3 hari lalu. Aku tak mau terlambat, aku tak mengecewakan siapapun dan aku tak mau membuat orng lain menunggu karena ku tahu menuggu afalah perbuatan yang paling membosankan. Alhamdulillah, aku bisa datang tepat waktu. Tpi ,,, apa yang tejadi? Bintang ke-Zora menyuruhku menjemput yang lainnya yang entah berada diman ketika itu, dengan alasan aku sebagai sie. Humas. Benarkah ini tugasku?

Tanpa pikir panjang lebar meski dengan tubuh gemetar karena tenagaku habis untuk mencuci baju sementara aku harus menahan lapar dan haus hingga bedug maghrib tiba. Aku langsung turun dari lantai 3 dan mencri atu per satu dari mereka. Ternyata mereka masih dudduk santai dikamar semntara yang lain dada yang pulng, bustelan, ataupun kesibukan merek yang tak terhitung jumlahnya. Betapa illfeelnya aku ketika mereka marah saat aku menyuruh mereka untuk bersiap-siap ke tempat meting yang tersedia. Sekembalinya aku ke tempat itu, Sang bintang malah meluapkan kemarahannya tanpa lalasan yag rasioal. Ia menyuruh sie humas yang lain untuk membantuku sementara iaa dan yang lain hanya duduk menunggu. Ia menolak dan pecahlah keegoisan. Semua terhenti seketika the leadr membanting meja dan meninggalksan ruangan. Ya…meeting gagal lagi. Aku hanya bisa tersenyum pilu dalam hati dan kucurahkan lewat senandung diri yang ditemani air mata langit deras sekali…

Inilah goresn sejarah hidupku… bagaiman denganmu..?

Facebook Comments

Leave a Reply

2 Comments

  1. damai_wardani
    ·

    tulisannya kenapa Vi?btw, pa kabar?dah sembuh belum?kapan mo kesini lagi?aku nggak nyangka kamu masih online.
    Thanks atas kunjungannya.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *