Belajar lagi…

Setelah gagal menjadi PanMOS MA AL Hikmah 2 beberapa waktu lalu, kini damai kembali terjun tuk belajar berorganisasi yang akhirnya hanya beurusan dengan dapur, sumur, dan kasur *lho..*.                                                   Tapi dengan tidak kapok dan matinya rasa kecewa dalam peristiwa yang telah menenggelamkan namanya, justru membwawanya bangkit dan bercermin diri dari apa yang telah ia alami. Ia mengaku mendapat banyak hikmah dari jerih payah menjadi konggres IPNU & IPPNU                                                   pada tanggal 19-23 Juni 2009 lalu. Tak hanya bertambah banyak teman, tapi ia juga belajar bekerja sama demi terselenggaranya konggres besar yang dihadiri Syeh Puji dan Jusuf Kalla di Al Hikmah 2 .

( Waduh…. dah kaya berita dikoran aja ya….he…he..)

Ya, itulah sebingkai cerita yang ingin kubagi bersama sobat blogger semua. Awalnya aku disuruh pulang bersama ibu dan adikku setelah acara Haflatut Taudi tingkat SLTP selesai. Kebetulan waktu itu aku menjadi MC dadakan ( ditegur Abah Mukhlas gara-gara yang baca Al-Qur’an tidak membawa mushaf sendiri _maklum, lagi nyuci piring ditarik disuruh qiro’_ dan suara kurang bagus) dan benar-benar tanpa persiapan. Malahan waktu itu aku sedang memberesakan piring kotor di parasmanan sebelah barat GOR. Tapi, karena aku sudah kadung janji pada diri sendiri (nadzar: kalau sakitkusembuh sebelum aku pulang aku mau jadi panitia. Alhamdulillah sembuh meski masuk rumah sakit dua kali _masuk doang terus keluar lagi_ ) akhirnya aku pun kukuh untuk melaksanakan tugas mulia dan siap untuk hunting pahala sebanyak-banyaknya. Jreng…jeng..jeng….

Tak hanya letih yang kurasakan. Tapi pengorbanan dengan keikhlasan itu yang harus aku camkan. Kerja dengan penuh kesadaran diri dan kesungguhan hati. Bahkan aku pernah ditegur oleh rekanku, Jangan pernah bilang capek, meskipun dirimu sebenaranya sangat capek . Tak hanya aku dan dia, tapi juga _aku yakin_ semua panitia. Meskipun akhirnya panitia hanya formalitas saja( mulanya memang ada pembagian job, tapi akhirnya kita semua besatu padu. Dimana ada pekerjaan, disitu panitia dibutuhkan). Tapi alhamdulillah, acara bisa terselenggara dan tuntas semua.

Ada pelajaran menarik yang bisa kupetik selama                                                   menjadi panitia, aku bisa bekerja sama dengan yang lainnya, ngelapin piring sampai tengah malam, angkat + hitung dan nata ribuan kursi diberbagai tempat yang disediakan, makan senampan bertujuh,                                                   beresin GOR sampai tengah malam, semuanya saling bahu membahu dan bekerja sama, jadi nambah temen juga.                                                   Ini benar-benar acara besar bagiku. Bahkan aku bisa melihat dan mendengarkan langsung pidato Pak JK ( yang masih ku ingat, Apa yang akan terjadi dimasa datang, tergantung apa yang kau lakukan hari ini ) dan Pak Gubernur. Sayangnya aku tidak berhasil melihat langsung dan berfoto bareng Syeh Puji karena terjadi sedikit keributan di sebelah selatan masjid An-Nur. Tapi, aku berhasil mendapat jubah berwarna putih dari Syeh Puji yang waktu itu dibagikan ( kebetulan ukurannya pas untuk adikku, dia senang sekali ).

Selain itu aku juga dapat melihat bazar_pasar malam_ meskipun tak ada yang menarik bagiku, tapi setidaknya aku bisa sedikit mengenang masa kecilku dulu ( aku masih ingat pernah membeli arum manis berwarna pink di Pasar Malam yang digelar dilapangan Gandrung mangu ), tapi waktu aku umur berapa ya..? * wah lutu….na… * lho kok sampai kesitu ceritanya..?

Tapi ada satu hal yang masih menjadi pertanyaan, katanya Pelajar Nahdlatul Ulama, tapi kok dalam rapat terjadi keributan, antri makan tidak tidak sabaran, sama panitia menyuruh-nyuruh sembarangan, dimana sopan santun mereka? meskipun tidak semuanya bersikap demikian, ^maap^

Facebook Comments

Leave a Reply

2 Comments

  1. novi
    ·

    sudah bukan rahasia lagi kalau mengatur orang Nahdlatul Ulama itu susahnya bukan maen. saya sering sakit hati

    waduh..gawat tu..! dah dibawa kerumah sakit jiwa belum..?oops..salah ya..?

    Reply
  2. saifunalyoom
    ·

    ya begitulah NU,,,aku tak jauh beda dg apa yang mas novi sering rasakan…

    o..ternyata kita senasib…

    Reply

Leave a Reply to novi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *