….KAKU…

Waduh..lama tidak bermain kata dengan pena murahan dan kertas sederhana ternyata lumayan membuatku canggung dan bingung setelah jemari-jemari lentik ini berada diatas keyboard yang tertata rapi. Betapa tidak! terehitung hampir…bulan dari postingan terkhir. Entah apa yang telah kulakukan dan terjadi padaku, sayang sekali tidak bisa termuat di blog yang seerhana dan lumayan kurang terawat. Kecanggungan benar-benar aku rasakan, kebiasaaan menulis yang lama kutinggalkan. Tapi perubahan yang lebih drastis adalah dalam hal menulis puisi. Dulu, waktu 3 jam cukup untuk mencipta sebuah puisi, kemarin aku membutuhkan waktu 4 hari 4 malam untuk menyelesaikan sebuah puisi yang terdiri dari 5 lembar buku tulis ukuran biasa ( anda bisa baca puisi ini pada postingan berikutnya ). Betul -betul aneh …. kata-kata yang biasanya bisa kutemukan dimana-mana dan bisa kupungut kapan dan dimana saja bagai debu yang beterbangan dan berserakan dijalanan. Tapi kali ini aku benar-benar mati kutu. Aku tak berkutik dan terpaku sambil memegang pena dan kertas lusuh dan pandangan tak tentu.

Sebenarnya puisi itu bukan tercipta atas kesadarnku. Awalnya diminta membuatkan puisi dengan tema persahabatan dan perpisahan yang akan dibawakan oleh kakak kelas 3 dalam pentasa seni nanti ( tapi ini rahasia lho…) ternyata gagal karena orang yang akan membawakan tidak bisa hadir saat itu. Tak apa lah. Aku justru berterima kasih karena permintaan itu mengingatkanku akan produktivitas puisiku yang semakin menurun. Bahkan sangar drastis. Apa yang menyebabkan aku seperti ini? aku jadi teringat kata-kata Andreas Herafa, Bila manusia ( perseorangan maupun kelompok)                                                   tidak belajar selama sekian bulan, sekian tahun, sekian puluh tahun _ yakni seperti elite politik dimasa orde lama maupun orde baru juga para pejabat dilembaga-lembaga yangberkaitan dengan pendidikan_ dan kebudayaan_ maka yang terjadi bukan sekedar kemunduran, tetapi pembusukan danpembinatangan diri menjdi tidak manusiawi

Penulis buku best seller Menjadi Manusia Pembelajar ini memang benar. Bulu kudukku berdiri ketika membaca kata-kata itu. Jangankan menulis puisi yang membutuhkan pemusatan pikiran dan diksi, menulis tangan yang teksnya sudah ada didepan mata pun bisa tuliasannya tidak bisa dibaca ( tulisaanya damai _kaya cakaran bebek_) bila memang lama tak menulis tangan (min: 1 bulan saja) iya kan? Llu bagaimana dengan otak kita? ternyata benar juga , kita diperintahkan untuk menuntut ilmu seumur hidup. Benar juga perumpamaan pisau yang tumpul dan tak bisa digunakan bila diasah bisa menjadi landep _bahasa jawa_. Sebaliknya, pisau yang runcing dan landep bila tidak digunakan dan tidak diasah lagi bisa karatan dan tidak terpakai. * iya, neng*

PS: Setiap detik waktumu didunia itu akan dipertanggungjawabkan diakherat (itu pesan ibu yang selalu ku ingat)

Facebook Comments

Leave a Reply

5 Comments

  1. novi
    ·

    spechless..except :

    This is an example of the blog berhikmah.

    I like it

    alhamdulillah,,

    Reply
  2. lebah cerdas
    ·

    Buku yang sama–Menjadi Manusia Pembelajar– juga menjadi inpirasi untuk menjadi lifelong learner.. menyenangkan bila menemui orang yang terinspirasi oleh karya yang sama. Keep up the spirit….

    alhamdulillah,,wah punya temen baru ni..thanks atas kunjungannya. Ternyata da manfaatnya juga ya kemarin nyolong buku di perpus..*lho.. kok* he…

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *