CERITA GADIS BERKACA MATA I : SERBA PERTAMA

Alhamdulillah, sesaat sebelum mata kami (Group A) terpejam, bus kembali datang tuk mengantar barang bawaan kami yang tersangkut di bus barang.

Huff                                        lega                                                                                 bathinku kembali bersua. Dengan cekat kami langsung mengangkat barang-barang ke lantai 2 kamar no. 1 dari tangga. Ya…itulah kamar yang akan kami tempati. Setelah semua beres dan aman kami langsung berusaha memejamkan mata tanpa ganti pakaian tidur, tanpa cuci muka apalagi tangan dan kaki. Meski sebenarnya rasa kantuk sudah hilang karena sudah nyenyak sepanjang perjalanan di dalam bus tadi. Tapi kita harus tetap istirahat karena besok pagi kami langsung start to hunt the foreigner. Inilah pertama kalinya kami terlelap di kamar berukuran 5 x 6 m, 2/3 lebih kecil dari kamar kami yang ada di Al-Hikmah.

oooOooo

Tepat pukul 3 pagi, Mam Titut gedor-gedor pintu membangunkan kami, dan satu per satu mulai ucek-ucek mata dan berburu kamar mandi. Inilah pertama kalinya kami menghirup sejuknya udara pagi kota Magelang, pertama kalinya merasakan dinginya mandi pagi dengan air Magelang, dan pertama kalinya membuka mata setelah dibangunkan pembina yang tak lain dan tak bukan adalah guru sekolah kami, yang sungguh                                        .belum pernah terjadi sebelumnya.

Selesai mengantri mandi, kami langsung menuju ke majlis (sebutan untuk masjid dengan ukuran kecil). Ternyata disana hampir semua santri sudah berpakaian rapi, duduk manis, sambil menjahadahkan (tradisi wiridan di Pondok Nurul Qur’an). Kurang lebih 1 jam, wiridan baru selesai. Ini wiridan terlama yang pernah kami ikuti, dan kami merasa seperti santri baru yang tidak tahu apa-apa tentang wiridan-wiridan itu. Karena memang di pesantren kami tidak ada tradisi semacam itu. Wiridan selesai dilanjutkan sholat subuh. Inilah sholat fardu pertama yang kami lakukan di bumi Nurul Qur’an.

Selesai sholat dan wiridan, kami langsung bersiap-siap untuk hunting foreigner, meski ada jadwal mengajar Al-Qur’an pagi hari, tapi kami diizinkan untuk tidak ikut agar persiapan tidak gugup di tambah sarapan. Yupz, petugas piket masak hari pertama langsung meluncur ke dapur dan menyiapkan sarapan, sementara yang lain sibuk mengantri cermin untuk berhias diri. Saya hanya geleng-geleng kepala melihatnya berdandan, secantik apa pun nanti pulang juga tetap hitam terbakar sinar. Kayak mau ikut kontes kecantikan saja                                        ah                                        maklumlah                                        namanya juga wanita.

oooOooo

Makanan siap kami langsung membentuk barisan antrian mengambil makanan. Huff                                        .dasar santri , dimana-mana serba ngantri, dan inilah makanan yang kami santap sebagai sarapan pagi. Hmm                                        delicious ! betapa nikmatnya menyantap hidangan di teras depan kamar sambil menikmati indahnya matahari terbit di ufuk timur.

Tak perlu waktu 30 menit tuk menghabiskan porsi makan kami. Petugas piket cuci piring pun langsung mengangkut semua peralatan makan ke dapur tuk dibersihkan kembali.

Tepat pukul setengah tujuh pagi semua sudah siap untuk berangkat. Tidak lupa mereka mengecek seperangkat hunting, note book, pulpen, co card, tas kecil camera, sepatu, minuman, makanan kecil, dan mental. Ya, itulah yang paling utama. Opz! Tidak lupa jangan meninggalkan uang sepersenpun di kamar! Berbahaya.

Ok! Kami siap meluncur ke Borobudur sebagai objek wisata pertama. Kami akan bekerja dengan partner masing-masing dan pasangan saya dalah Lubil Muna siswi (yang juga) berkaca mata, kelas 1 MAK dari Pemalang. Yuk! Ikuti petualangan seru gadis berkacamata ini! Lets go! The first hunting foreigner.

Tiga puluh menit kemudian, kami telah mendarat di Borobudur, setelah check in, kami langsung di lepas dari kandang. Mangsa pertama yang ditangkap oleh dua gadis berkacamata ini adalah turis Filipina Ms. Angel C. Caparas, dia seorang guru bahasa Inggris di Stamford International School, Bandung. Tampangnya sedikit mirip Pretty Usman, bisa dibayangkan? Ya, gadis berberat badan (mungkin) 3 kali lebih besar dari saya ini sedang liburan bersama keluarganya yang juga datang dari Filipina. Berambut pirang memakai T-Shirt, kacamata hitam besar, dan celana pendek selutut, plus sepatu sport warna putih. Sekilas nampak seperti ABG luar negri didukung gayanya yang tomboy. Kami pun sempat tidak percaya ketika dia mengaku berprofesi guru. Sebenarnya masih banyak yang ingin kami tanyakan, tapi mereka masih ingin melanjutkan perjalanan, dan dengan berat hati kamipun mengakhiri perbincangan. Ya                                        ..merekalah foreigner pertama yang sangat berkesan.

Kalau dihitung berapa kali perbincangan, sekitar 5 kali. Tapi kalau dihitung berapa banyak foreigner yang berbincang-bincang dengan gadis berkacamata ini, sepertinya tak cukup hitungan jari. Karena satu kali perbincangan jarang sekali yang hanya bersama satu foreigner. Maksudnya, jarang sekali ada foreigner yang jalan sendirian. Kebanyakan mereka pasti datang bersama keluarga besar. Seperti turis kecil yang satu ini. Meskipun turis lokal tapi asli keturunan luar lho                                        sebut saja Shinjiriki. Orang tuanya di Batam, tapi dia sekolah di International School, Jakarta. Imut, putih, ramah, English-nya juga lancar, padahal baru 12 tahun. Hmmm                                        ..seru deh ngobrol sama dia.

Wah                                        ternyata conversation sama foreigner itu tak sesakit yang gadis berkacamata bayangkan, ya? Cukup siap mental, berani bertanya, dan enjoy aja                                        

Facebook Comments

Leave a Reply

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *