[Cerita Gadis Berkaca Mata] Manusia-Manusia Antik

Ok! Kembali ke kisah di bumi Nurul Qur’an. Saya sempat penasaran ketika Pa’e menyebut santrinya sebagai manusia-manusia antik, masa sih? Tanyaku dalam hati. Kenapa dinamakan demikian? Apa rahasia terkuak di dalamnya?.

Yukz! Kita telusuri                                        !

Manusia antik. Sejujurnya, ada seorang guru yang menjuluki saya sebagai manusia antik. Beliau memang tidak menjelaskan apa alasannya. Tapi yang jelas beliau salah satu guru yang menaruh perhatian besar pada saya sejak pertama kali saya menginjak bumi Al-Hikmah. Beliau masih single pula. Wah..jangan..jangan.. Beliau ingin agar saya mencarikan calon istrinya kali ya                                        Wkkk                                        Ada aja deh!.

Makanya saya kaget ketika julukan manusia antik terlontar dari Pa’e untuk santrinya yang terbilang langka. Ya..memang benar adanya, baru saya temui polosnya anak-anak yang rata-rata umurnya 10-15 tahun. Yang kurang dari 10 tahun bisa dihitung jari, dan yang kurang dari 20 tahun kurang dari 5 orang. Mengurus mereka, santri yang kurang dari 100 ini tenaganya sama besar dengan 500 orang. Kok bisa? Karena kebandelan mereka, kenakalan mereka 5 kali lebih besar dari anak normal pada umumnya. Seperti yang sudah dijelaskan di depan, mereka berasal dari latar belakang yang berbeda. Hal inipun berpengaruh pada perkembangan mental mereka. Meskipun ada yang sampai detik ini belum tahu asal-usul dirinya karena Pa’e merahasiakan itu. Yang berada di situ sejak lahir juga banyak. Makanya dinamakan pondok sekaligus Panti Asuhan.

Satu hal yang menjadi larangan keras bagi kami (Group A) dan tak boleh sedikitpun dilanggar adalah dilarang memberi kenang-kenangan sekecil apapun terhadap santrinya Pa’e karena kalau satu diberi, berarti harus diberi semuanya, biar adil.

Pernah suatu ketika ada kejadian yang membuat Pa’e kalang kabut karena hal ini (kalau tidak salah). Anak SOP tahun lalu, ada yang memberi kenang-kenangan sebuah gelang pada seorang santri putri. Santri itu cerita pada santri-santri lainnya. Hingga ketahuan oleh semuanya. Nah, santri lain yang tidak diberi otomatis merasa iri. Akhirnya semua santri demo sama Pa’e minta dibelikan gelang yang sama persis dengan yang diberikan pada salah seorang santri itu. Jadilah Pa’e korban pemaksaan santrinya.

Oya, satu lagi. Kami dilarang keras membuat acara perpisahan. Kenapa? Karena perpisahan akan membuat mereka merasa kehilangan.

Masih di tahun kemarin, santri-santri Nurul Qur’an sempat mogok ngaji, mogok makan, mogok sekolah, hanya karena mereka ingin bertemu dan ingin ikut anak-anak SOP ke Al-Hikmah setelah acara perpisahan. Mereka tidak mau berpisah. Hal ini juga membuat Pa’e kerepotan sendiri karena harus kucing-kucingan dengan anak SOP agar anak SOP bisa pulang.

Cerita yang sama juga terjadi pada saya. Ada seorang santri yang merengek bahkan meneteskan air mata hanya demi mendapatkan puisi yang ia minta asli buatan saya.

Panggil saja Farid, anaknya tembem, suka nyanyi, dan rambutnya berponi panjang. Farid sudah diasuh Pa’e sejak usia 2,5 tahun hingga detik ini, ia belum tahu siapa bapak kandungnya. Yang ia tahu, ibunya telah meninggal sejak ia kecil. Dia nge-fans berat sama Pa’e dan ia ingin menjadi Hafidz seperti Pa’e.

Entah kenapa seperti ada magnet yang menarik saya untuk dekat dengan bocah yang baru berusia 13 tahun itu. Anehnya, dia seperti tau siapa saya, padahal saya tidak pernah menceritakan identitas saya sebenarnya. Dan saya baru tahu itu sesaat sebelum saya pulang Ukhti itu cantik, manis, pintar, jago computer, tapi ukhti pelit plus nyebelin karena tidak mau membuatkan puisi untuk saya                                         itu yang diucapkannya. Dia juga sempat memberi saya dua pilihan. Kalau tidak mau membuatkan puisi, berarti saya harus memberikan sajadah sebagai kenang-kenangan. Kalau tidak mau, dia akan nangis sejadi-jadinya. Padahal dia juga tahu kalau kami dilarang keras memberi kenang-kenangan sekecil apapun. Dia sampai berjanji kalau ada yang minta puisi yang berjudul guru itu akan ia photo copykan semua.

Tapi, meskipun santri-santri Nurul Qur’an sebandel dan senakal itu, mereka banyak yang sudah menjadi Hafidz dan Hafidzah di usia yang tidak tanggung-tanggung kurang dari 20 tahun.

Dan entah bagaimana caranya Ma’e bisa memberi uang saku tiap hari pada santri-santri yang masih sekolah. Maklum, karena mereka belum bisa diandalkan makanya Ma’e yang mengatur keuangan. Setiap tahun ajaran baru pasti semua santri dibelikan buku, pulpen, dan seperangkat peralatan sekolah lainnya.

Masih banyak kisah-kisah unik tentang manusia-manusia antik yang belum saya uraikan. Tapi rasanya pena ini sudah letih untuk menggoreskannya.

Kalau anda sempat, berkunjunglah kesana. Karena di sana banyak sekali anak-anak yang membutuhkan uluran kasih sayang dan perhatian kita.

Teruslah berjuang, santri Nurul Qur’an jangan pernah menyerah tuk gapai impian. Teruslah berjuang wahai para generasi penerus bangsa.

Facebook Comments

Leave a Reply

8 Comments


  1. ·

    wow keren tuh kecil2 cabe warit eh rawit.
    Pondok Nurul Qur’an di mana ya??

    Reply

  2. ·

    mbak….blognya bagus siech….ajarin donk khususnya buat header yg sebagus itu……

    Reply
  3. dloen
    ·

    sipzzz, kembangin tyus ya non,,,q dukung!

    Reply
  4. admin
    ·

    mba logo OASIS di taruh dimana??? kok gak ada…

    Reply
  5. yummy
    ·

    jadi kangen neh ma nurul qur`an…
    kira2 msih pd inget g y?

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *