100 Eu Lepas Jeratan Ngantuk di Kelas

Apa yang Anda rasakan ketika mengikuti proses belajar mengajar (perkuliahan) yang dimulai ba’da dhuhur hingga maghrib menjelang? Beberapa fakta dalam lingkungan belajar saya mengatakan bahwa masuk kelas sore sangat tidak efektif. Kenapa?

Ada yang berpendapat karena materi tidak terserap 100 persen. Jelas.                          Sejak bangun tidur hingga sebelum sampai di kelas tentu sudah puluhan aktivitas yang dilakukan. Apalagi saya yang tinggal di ma’had, berbasic seperti pesantren modern. Tentu tidak bisa seenaknya sendiri,                          mengikuti jadwal yang telah ditentukan ma’had,                          _asrama_ , pasti tidak sebebas anak kost atau tinggal di rumah sendiri.

Ditambah lagi, area perkuliahan sekarang diboyong karena semua gedung sedang direnovasi besar-besaran. Ruang kuliah yang masih berdiri kokoh ketika saya mengikuti tes masuk PTN, kini tak tampak batang hidungnya. Semua rata dengan tanah. Sebagai konsekuensi, mau tidak mau semua mahasiswa diungsikan belajarnya di kampus DS (Darurat dan Sementara). Tentu saja fasilitas tidak selayaknya                          karena ruang kelas yang disewa tak bukan ialah gedung-gedung SD hingga SMA (kembali jadi siswa dong), bahkan mall dan rumah makan pun tak luput terjamah.

Namun, satu hal yang saya rasa benar-benar menyiksa. Boleh dibilang itu salah satu kelemahan saya. Wujudnya tak tampak, tapi jeratannya sangat kuat dan susah sekali dilepaskan. Meski dicubit, ditepuk, bahkan ditampar, tetap saja tidak mau berpindah tangan. Sering pula saya berbekal makanan kecil, permen, juga air minum sekedar untuk mengalihkan rasa itu, tetap saja diri ini tak kuasa lepas darinya. Seandainya saya memiliki orang yang paling saya benci, mungkin persenannya masih lebih banyak benci pada hal ini.

Apa itu?

Ya, itulah NGANTUK. Bukannya saya tidak mau bersyukur atas rasa itu. Barangkali diluar sana banyak orang yang setiap malam harus menangis karena tidak bisa atau susah sekali tidur. Tapi ngantuk yang saya benci adalah ngantuk yang datang tidak pada waktunya. Terutama saat perkuliahan berlangsung. Apalagi didukung cuaca yang adem dan angin sepoi-sepoi. Beuh!!!! Makin kuat jeratannya.

Lalu, apa yang harus saya lakukan?

Kemarin saya hampir putus asa. Namun begitu dosen masuk dan menyapa dengan kata pertama Eu (dibaca: e seperti membaca e pada kalimat geuleuh), kedua bola mata terbelalak dan berinisiatif untuk menghitung berapa kata Eu yang diucapkan selama mata kuliah berlangsung.

Ajaib! Ngantuk saya hilang seketika dan tahukah Anda? Selama                          satu jam, kurang lebih 100 kata Eu yang terucap oleh beliau. Lebih dahsyatnya lagi, meski setiap kalimat yang hendak beliau ucapkan selalu diawali kata itu, namun salama itu pula pertanyaan membanjiri beliau. Jadilah saya terus menghitung dan menghitung. Hingga Eu yang ke-100, beliau meninggalkan kelas.

Huhhhfff….

Facebook Comments

Leave a Reply

2 Comments


  1. ·

    tuhan mang menciptakan segala sesuatu ada pasangannya:

    Tak bisa tidur?, hitunglah sekumpulan domba dipekarangan.
    Tak bisa melek?, hitunglah sekumpulan kata Eu yang diucapkan dosen.

    ^_^

    sedikit kritik :
    kata pertama Eu                                         (dibaca: e seperti membaca e pada kalimat geuleuh)

    hmm.. cari padanannya koq sama2 bahasa sunda. mana paham juga. :)

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *