Leave a Reply

20 Comments


  1. ·

    waaaahh mantap, mai!! emang dari dulu hingga sekarang prestasi2mu slalu tak asing ditelinga. Allahu yaftah ‘alaik…. smg Allah slalu menambahkan ilmumu, menambah keberkahan dalam langkahmu, memberikan kesabaran dalam setiap lika-liku kehidapmu… amin
    sulit mungkin bagi saya pribadi yang tidak punya pengalaman dalam dunia tulis menulis, untuk mengkritik karya yang luar biasa ini. dari autografi ini saya yaqin akan lahir karya2 lainnya yg pastinya akan sangat menarik sekali…
    Good Job

    mungkin saya sbg org awam ingin memberi pendapat sedikit ttg penyusunan autografi ini. penyusunan setiap bagian sungguh menarik dan rapi. tapi coba klo disetiap bagian diberikan ilustrasi, ya semisal diberikan ilustrasi diatas judul setiap bagian. mungkin menambah ketertarikan dan rasa penasaran (itu menurut saya.. hehe). dan klo ga salah di daftar isi ada bagian akhir yg tertulis foto-foto tp loh kok ga ada yah!!??

    mungkin ini saya, maaf bila ada salah2 kata. terima kasih ^_^

    Reply

    1. ·

      hahaha….
      loh kok ketahuan yah!!?? (sambil garuk2 kepala)
      hehe…

      seep seep, terus berkarya mae!!

      Reply
    2. damai_wardani
      ·

      wah.. tersanjung.. sesuatu banget gitu, ya.. makasih mas lukman… semoga kedepan bisa diperbaiki. untuk foto2,, emang kurang banyak ya foto2 damae yang ada di mas lukman?
      OPZ!

      Reply
  2. peci merah
    ·

    sudah saya baca, menarik sekali kamu punya cerita, dari lahir sampai sekarang. penyuguhannya bagian per bagian juga menarik. Semenarik orangnya #ehm

    Reply
    1. damai_wardani
      ·

      terima kasih atas kunjungannya. kalimat terakhir itu dimasukin endorsment juga ta?

      Reply

  3. ·

    WaW!!! ….
    It’s a great creativity …..
    Wish You Luck with UR crativity …..

    Reply
    1. damai_wardani
      ·

      thanks a lot, bro! btw, liburan ke Pare lagi ga?

      Reply
    1. damai_wardani
      ·

      terimakasih atas pujiannya. ini memang biografi. jadi sangat tipis kesempatan mengaduk2 pembaca dengan konflik dan solusi yang memukau. kalau itu mungkin nanti bisa jadi novel (amin).
      sekali lagi terima kasih, kritikan yang membangun

      Reply
    1. peci merah
      ·

      @heris
      protes ke dosennya yg kasih tugas beginian.
      dia pasti bingung and galau ketika diminta menulis tentang dirinya sendiri

      Reply
      1. damai_wardani
        ·

        sobat peci merah, terima kasih atas pembelaannya. tak apa, mungkin ada sobat heris memang tidak paham atau belum membaca seluruhnya.

        Reply
    2. damai_wardani
      ·

      afwan, sobat Heris. Sepertinya ada kesalahan makna yang Anda tangkap dari maksud tulisan ini. Silahkan dibaca kembali. Atau jangan-jangan Anda belum selsai membaca??
      tapi, saya tetap berterima kasih atas masukannya.

      Reply

  4. ·

    GOOD ……
    mngkin itu yg bs ukhti sampaikan ma u mai.. setelah mmbaca tulisanmu hmmm jdi iri dikalahin adeknya hahahahaha…..
    pnyajian untuk stiap sinnya cukup bagus may alurnya pun sudah bisa dinikmati….terlebih kalau kata2y dbikin agak santai…..hmmm mngkin bs lbih dari itu, krna nntinya kita akan mndapati pembaca yg berbeda2 cyanx…..

    he..he..makasih my cute sista..
    ukhuk2.. ni belum ada apa2nya sis, doakan saja bisa terus berkarya dan mencetak buku2 berikutnya. halah..sis mah dah berkembang lebar layarnya, malah dah dipentasin juga.. ya, nuju diantos lah nu karya2 terbaik teteh,, jangan lupa undang damae atuh kalo mo ada pementasan lagi,, he..he..
    hatur nuhun komen n kunjungannya,,

    Reply

  5. ·

    sudah saya baca. cukup menarik, ditambah penyajiannya yg ngeresep di hati. Tapi apalah artinya semua kebagusan itu jika dia gagal mendapatkan cinta saya

    semoga dia tidak termasuk orang2 yg merugi

    Wkwkwkwkwkwkwkwk Just kid :p

    Reply
    1. damai_wardani
      ·

      EKHM.. terima kasih atas kunjungannya, akhi..
      wah, alhamdulillah klo gitu. emm..apa itu ga kebalik ya? justru sepertinya saya semakin merugi kalau dapat cintanya akhi. dan semoga saya termasuk orang yang mendapat kebahagiaan dunia akhirat. :)

      oya, gimana kabar lamarannya? ilang neh. awas kalau ga bikin kabar karena masih niat TTP
      …..kaboorrrrr….

      Reply

  6. ·

    Membaca otobiografi Siti Dzarfah Maesaroh yang kemudian lebih akrab disapa Damae Wardani membuat jidat saya berkerutan. Ini anak benar-benar cerdas, energik, hiperaktif, dan tak pernah berhenti melakukan aksi, pikir saya. Saya seperti tengah menyaksikan kiprah dara mungil ini dalam sebuah layar lebar di memori saya. Penggalan-penggalan kisah hidupnya yang unik     sejak masuk madrasah ibtidaiyah yang punya misi kuat     untuk menjadi pemecah rekor hingga akhirnya bisa diterima di SMP 1 Gandrungmangu (Cilacap, Jawa Tengah) dan dinamikanya yang sarat dengan kemelut     di Malhik 2, bagaikan mozaik kehidupan seorang ABG     yang bertipikal dinamis, progresif, dan tampil beda    . Kiprah dan pemikirannya yang progresif dan kritis seringkali harus berhadapan dengan kenyataan pahit dan menyakitkan    . Justru lantaran sikapnya itu, ia mampu melakukan pembebasan mitos     dan stagnasi pemikiran yang berkembang selama ini, seperti stigma     anak IPS yang dicitrakan sebagai anak buangan atau belitan dunia pesantren yang acapkali membuat para santri gagal bersentuhan dengan kemajuan dan dinamika peradaban di luar sana. Sebuah otobiografi yang sanggup menginspirasi banyak orang, meski deskripsi tentang Kelahiran Serba Ganjil     terkesan agak berlebihan. Bisakah seseorang mampu mengilustrasikan proses kelahiran dirinya sendiri sedemikian detilnya tanpa melalui penuturan orang-orang terdekatnya? Juga masih ditemukan adanya kesalahan-kesalahan ejaan, meski secara teknis tidak mengganggu substansinya, seperti penulisan kata depan di     yang selalu ditulis serangkai (diatas    , disini    , diantara    , dihadapan    , dll) atau boigrafi    , menyabung    , dan sebagainya. Terlepas dari kekurangan yang ada, otobiografi ini sungguh membuat jidat saya makin kencang berkerutan. Salut! (Sawali Tuhusetya, pendidikan dan blogger).

    Reply
    1. damai_wardani
      ·

      terima kasih telah mengabulkan request damae, pakdhe.
      terimakasih juga untuk komen yang sangat membangun untuk perbaikan2 dimasa mendatang. semoga tidak pernah bosan memberi masukan untuk tulisan2 damae berikutnya, insyaallah. satu harapan damae yang belum terwujud, damae belum bisa berjabat tangan dengan pakdhe. semoga ada kesempatan. amiin.

      Reply
  7. Anistok
    ·

    Si tua renta ini tertinggal jauh dengan anak muda. Mungkin satu-satunya yang tersisa dariku adalah menghabiskan waktu untuk tongkat penyanggahku dan membaca karya-karyamu. Dan sesekali terpaksa tersenyum melihat lucunya dirimu, karena dirimu berhasil menggiring aku menjadi kambing gembala.

    Reply

  8. ·

    Heumh..desah nafasku iringi lafadz basmallah yang terucap. Entah mengapa, teramat sering bilaku menulis, selalu diawali dengan desahan. Seakan-akan hal tersebut sudah menjadi hal yang lumrah serta ritual kecil sebelum berkarya. Rasanya dengan begitu, rangkaian selaput konsentrasi mulai mengkontraksi bersama sebait inspirasi. Itu sebabnya, bila mentok mulai menghujam imajinasi, saya selalu mendesah berkali-kali. Heu    

    Termasuk tulisan yang ada dihadapan Anda saat ini. Tak terhitung, berapa kali paru-paru ini kembang kempis menarik oksigen dan mengeluarkannya menjadi karbondioksida. Yaps.. sangat tidak terhitung. Mungkin karena masih bingung juga dengan apa yang akan dituangkan. Yang ku lakukan hanyalah mengetik     terus mengetik dan beginilah jadinya.

    Sebelum dilanjutkan, permintaan maaf sudah barang tentu harus ku katakan terlebih dulu. Pasalnya sudah lebih dari sebulan saya diminta untuk mengomentari karyamu yang satu ini, namun jemariku baru berkenan        “mengabulkannya           sekarang. Maaf yach !!

    Sungguh bukannya enggan atau menganggap tidak penting atas permintaan tersebut, bukan. Namun banyaknya panggulan beban saat itu, mengharuskan saya menyelesaikan lebih dulu amanah tulisan yang kadung menjadi tanggung jawab diriku. Mohon dimaklum.

    Maaf juga, apabila pada akhirnya bukanlah komentar yang Anda dapatkan. Malah serangkaian kalimat tak bermutu yang sudah barang tentu tidak dapat mengkritisi apapun. Apalagi memberikan semacam perbaikan tulisan seperti yang pernah diharapkan sebelumnya. Karena memang, saya pun merasa kurang pantas untuk mengomentari buku Anda yang sebetulnya lebih dari bagus untuk sekadar karya dadakan tuntutan dosen. Secara, ratusan karya inspiratif telah Anda sematkan diberagam media. Pun raihan prestasi yang tentunya belum bisa ku tandingi. Dengan kata lain, apalah saya dibandingkan dirimu yang telah mencecap asam manisnya dunia kepenulisan. Bukan bermaksud merendah diri, apalagi membuat dirimu jumawa atas sanjungan, namun begitulah kondisinya. Sampai detik ini, saya masih belajar. Mohon bimbingannya.

    Namun janji tetaplah janji. Permintaan yang sudah di-insya Allah-kan harus dipenuhi. Dengan segala keterbatasan kata dan daya analisis, inilah yang ingin saya sampaikan :

    Masih tersimpan hangat dalam lembar episode memori, pertemuan singkat dengan dirimu medio Agustus 2011 lalu. Obrolan santai ditemani gelak canda mewarnai pekatnya senja yang berdebu. Unik. Begitulah awal penilaianku. Hingga kini, kata tersebut belum terhapus dan masih melekat padamu. Walaupun hati ini sempat tergores serpihan prasangka yang tak berdasar, terlukai oleh perubahan sikap dan tutur yang tak ku mengerti sebabnya.

    Namun terlepas dari itu semua, sungguh tak dinyana, dibalik kepolosanmu itu, tersimpan sejuta ketegaran yang sama sekali tak tergurat dalam tatapan. Bila dibandingkan dengan kehidupanku yang belum seberapa. Nampaknya masih lebih berat perjalanan hidupmu. Bagaimana tidak, diawali dengan proses kelahiran dengan status (maaf)        “premature           , nyatanya tak menyurutkan semangatmu untuk terus melaju. Ketika bayi mungil lainnya tertidur dalam dekapan orang terkasihnya, dirimu mesti menjalani cerita kehidupan yang jauh berbeda dari yang lain.

    Satu persatu cobaan datang silih mengisi. Kegagalan yang sempat menghujam emosi, lambat laun berubah ambisi. Prestasi, menjadi jawaban atas segala macam hingar bingar keraguan. Sungguh luar biasa.Atas kasih dan karunia-Nya, dirimu berhasil melalui tahap demi tahap cobaan tersebut. congratulation !!

    Mengurai Mimpi Meretas Kegagalan, menjadi sebuah pilihan judul yang cerdas. Karena begitulah kehidupan. Nyatanya tak selalu berjalan lempang. Sesekali kita akan menemukan kelokan tajam yang mau tak mau harus kita tikung. Sangat mustahil bila niat tak disematkan pada ketetapan Illahi, kita bisa melalui rintangan tersebut dengan selamat. Namun rasanya, selama nafas masih berdetak seirama, antara mimpi dan kegagalan akan selalu ada.

    Wahai Damai teruslah bermimpi, jangan menyerah dengan kegagalan, raih prestasi sebagai bukti eksistensi dihadapan Sang Empunya kehidupan. Karena ku yakin, kisahmu tak berhenti sampai disini. Akan lebih banyak lagi hadangan serta tantangan yang semakin mengguras emosi. Damai, kisahmu belumlah usai.[]

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *