Pertemuan 1: Rabu, 8 Februari 2012
Perdana tatap muka dengan Pak Ali, saya sudah terlambat. Untung saja (culture Jawa, dalam setiap kesempitan pasti tetap ada keuntungan. Opz!) dosen yang sedikit humoris ini masih memberi dispensasi untuk pertemuan pertama. Tak ingin merasa semakin bersalah, saya langsung menyiapkan buku catatan, pulpen, sepasang bola mata dan sepasang telinga tentunya, juga otak yang siap merekam setiap suku kata ucapan beliau. Tentunya setelah saya memberikan absen dosen dan absen siswa yang KOSMA (Korban Suruhan Mahasiswa, plesetan untuk istilah Ketua Kelas) percayakan pada saya.
Tak ubahnya seperti dosen lain, untuk awal perjumpaan pasti membahas silabus, tata tertib, dan teknis pembelajaran serta sistem pengajaran yang akan digunakan selama satu semester ke depan. Untuk silabus, bisa Sobat Garuda baca disini. Sedang tata tertib, tak jauh beda dengan dosen lain, diantaranya soal pakaian yang selayaknya dikenakan mahasiswa ketika masuk kelas. Catatan untuk keterlambatan, pengampu matkul Dakwah untuk jurusan ini memberi dispensasi 15 menit dari jadwal yang telah ditetapkan. Topik lain sepertinya tak begitu urgent. Pembahasan perdana sesuai silabus yang telah dijelaskan, mengupas tentang ‘Urgensi Mempelajari Ilmu Dakwah’. Berikut saya torehkan hasil tarian jemari yang mencoba mereview penjelasannya: # Masalah kelemahan para Da’I dalam berdakwah, tentu tak pelak menyimpan masalah sosial dalam realita kehidupan, yakni:
Oleh karena itu, seyogyanya aktifitas dakwah harus tampil secara:
Perkembangan masyarakat yang terus mengglobal, menuntut dakwah tak bisa lagi dilakukan secara tradisional. Dakwah butuh keilmuan, skill, planning, dan menejemen yang handal. Tak salah jika kemudian diperlukan orang-orang yang terus mengkaji, meneliti, dan meningkatkan aktivitas dakwah secara profesional.
Mempelajari hal ini, saya jadi teringat artikel berjudul ‘Santri Katro, Dakwah KO’ yang berhasil menyabet juara 1 penulisan artikel santri untuk wilayah Jateng & DIY dua tahun lalu. Dalam goresan pena yang saya curah sepenuh hati itu, tertera jelas bahwa sudah saatnya santri _generasi pembawa risalah berikutnya ke masyarakat awam_ bermuhasabah untuk memperbaiki dan meningkatkan metode berdakwah. Keilmuan saja tak cukup, karena media dan metode dakwah kini kian dituntut bisa mengglobal seiring dengan perkembangan dunia IT yang tak terbendung. Kiranya ini yang bisa saya ulas. Sangat dinantikan tambahan atau pun sanggahan Sahabat Garuda untuk menyempurnakan materi ini.