Hikmah di Balik Perkenalan dengan Pelayan

Teteh kok logatnya Jawa, sih?

Iya, saya kan dari Jawa

Jawanya mana?

Cilacap

Wuahahaha           .! Sontak saya tertawa. Senang sekaligus bersyukur, menemukan kawan sedaerah di perantauan ini. Terlebih, setelah ditelusuri ternyata mereka tetangga desa, bahkan saudaranya adalah salah satu guru saya ketika di Al Hikmah. Wah, lengkaplah sudah! Bertemu tetangga desa di tanah orang, meski sejatinya tak saling mengenal, rasanya tetap membahagiakan bak bertemu saudara di tengah bencana. Seakan menjadi pelipur kerinduan pada keluarga, meski tak ada hubungan darah apalagi pertalian keturunan. Itulah ekspresi spontan saat saya tak sengaja berkenalan dengan pelayan warung makan Ayam Jago yang masyhur dengan kekhasan sambal penyetnya. Dan, kejadian serupa sudah lebih dari 5 kali saya alami di Kota Kembang ini.

Barangkali itu yang menjadi salah satu tambahan keunikan bangsa Indonesia. Lantaran saking pluralnya, sampai kadang lieur (pusing-red) jika berinteraksi dengan kawan yang datang dari berabagai sudut pulau. Berinteraksi dengan orang Sumatera, tentu akan berbeda bahasa dan gaya interaksinya dengan orang Sunda. Begitu pula orang Betawi dengan orang Jawa, apalagi orang Padang dengan orang Madura. Tak heran jika sesekali saya merasa sepi, lantaran Suku JaWa, Cilacap khususnya, terbilang cukup langka disekeliling tempat tinggal saya sekarang (bukan Bandung secara general lho, ya). Betapa tidak, satu kampus saja kurang dari 50 mahasiswa yang berasal dari Jawa Tengah, yang dari Cilacap? Bisa dihitung jari.      Menjadi wajar kiranya jika sepercik rasa senang membuncah saat tak sengaja berkenalan dengan orang sesama daerah, sesama suku, sesama latar belakang, bahkan senasib-sepenanggungan.

Lantaran persamaan itulah, kemudian timbul rasa saling kasih dan peduli, bahkan rasa saling memiliki yang mengalir tanpa paksaan. Jika sudah demikian, kekeluargaan pun tumbuh dengan sendirinya, dan seolah menjadi saudara jauh yang justru meniadakan rasa pekewuh (sungkan-red). Seperti kekeluargaan yang tak sengaja terjalin dengan pemilik warung service TV di depan tempat kost saya. Meski bukan orang Cilacap asli, tapi karena keluarga besarnya tinggal di daerah Kebumen (tidak jauh dari Cilacap), maka kebaikan dan keakraban mereka dengan saya jauh melebihi hubungan baik dengan tetangga lain. Mereka selalu ramah menyapa dan memberi bantuan dengan suka rela. Ya, begitulah rasa persaudaraan itu hadir tanpa dipanggil.

Hikmah di Balik Perkenalan dengan Pelayan

Bertolak dari semua cerita diatas, kawan. Satu hal yang membuat saya tertegun saat berkenalan dengan para pelayan di rumah makan Ayam Jago tadi, ialah peringatan untuk kembali bersyukur. Bukan hanya bersyukur lantaran bertemu dengan tetangga desa, melainkan juga bersyukur atas nikmat pendidikan yang bisa saya kenyam hingga perguruan tinggi. Karena para pelayan itu, bukan saja masih terbilang gadis belia, tapi mereka juga sudah putus sekolah sejak SMP dan SMA. Jika tak karena putus sekolah, barangkali mereka tak kan berprofesi seperti sekarang. Melainkan duduk manis di bangku kuliah, menyandang gelar mahasiswi, menyongsong cita-cita dan masa depan yang bermartabat, serta menjadi bagian dalam pengkaderan Director of Change bangsa dan negara, seperti saya dan teman-teman rasakan.

Jika postingan sebelumnya sempat saya keluhkan ketidakberuntungan masuk UIN Bandung, kini saya kembali menyadari sepenuhnya bahwa itu salah besar. Menjadi bagian dari keluarga besar kampus, ialah hasil perjuangan panjang sejak saya TK yang sepatutnya disyukuri dan dinikmati. Tanpa jenjang pendidikan sebelumnya, TK-SD-SMP-SMA, mustahil adanya saya bisa masuk Perguruan Tinggi. Namun, lebih dari semua itu, diterima di Universitas Negeri adalah anugrah, karena dari 10 ribu pendaftar satu angkatan saya tahun lalu, hanya diterima 3500 peserta. Artinya, saya termasuk orang-orang pilihan yang berhasil menggeser 6500 lainnya. Jika saya masih tidak bersyukur, bagaimana dengan mereka yang tertolak?

Hal yang terpenting dari itu, kawan. Wujud rasa syukur saya tak selayaknya hanya di bibir saja. Melainkan juga dibuktikan dengan bakti dan pengabdian pada mereka, yang tak mampu merasakan pendidikan perguruan tinggi, juga paling tidak untuk masyarakat sekitar. Bukti bakti itulah yang menjadi cikal bakal pengabdian sejati pada bumi pertiwi. Pengabdian generasi penerus bangsa untuk membenahi kecarut-marutan negara, meski dengan prediksi keberhasilan yang tak seberapa. Bukankah itu menjadi tanggung jawab kita bersama?

Bagaimana menurutmu, kawan?

Facebook Comments

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *