Sudahkah Berterimakasih? #CelotehSangBunda

┬áJika dia tak menatih kaki untuk menggendong kalian, masih mungkinkah piala itu tergenggam? Tapi acap kali semua lupa, hanyut dalam euforia. –Relung Damae–

Ini bukan perkara juara. Bukan soal piala seperti pesan hari lalu: hari perhelatan. Bukan pula soal keberpihakan. Ini tentang sebuah renungan. Sebuah keprihatinan. Sebuah kemirisan. Sebuah asa. Sebuah ingin dibalik ingin. Ingin yang rasional.

Ialah sesosok di balik kesuksesan Malhikdua. Sosok yang, barangkali hanya disebut jika mereka butuh. Hanya diakui kala karyanya mengguncang dunia. Padahal sejatinya, ia selalu ada dibalik (anggapan) ketiadannya.

—-

Goal Malhikdua

Gaung kemenangan Malhikdua dalam ajang bergengsi Lomba Website SLTA Se-Jawa 2013 yang diselenggarakan UIN Malang, masih sangat terasa. Sabtu (2/3) lalu, tiga pejuang M2Net berhasil membawa pulang piala; meski kabarnya hanya meraih peringkat 3.

Berapa pun angka juara itu, agaknya menjadi tak penting asal piala sudah digenggam. Lebih tak penting lagi, kala disandingkan dengan kisah perjalanan mereka yang cetar membahana. Sebagai peserta terjauh, tentu butuh perjuangan yang tak mudah untuk melintasi Brebes-Purwokerto-Surabaya-Malang-Batu-Madura, hingga kembali ke Surabaya-Brebes dan Pekalongan. Belum lagi meyakinkan sekolah juga pondok agar mau mengeluarkan surat ijin untuk jumlah pasukan yang tak sedikit dalam satu waktu: 9 orang. Agaknya, ini tak cukup diungkapkan dengan kata ‘luar biasa’. Ini menakjubkan.

Belum lagi proses breafing peserta selama dua hari. Mereka berpuasa dari rasa penasaran akan moleknya Surabaya, tak satu pun berleha selama puncak perjuangan. Tiga peserta; Hafata, Aziz, Lutfi, berlatih keras mempersiapkan presentasi. Dibawah bimbingan sang master, mereka mengulangi, mengulangi, dan terus mengulangi materi itu. Bahkan ketika penumpang kereta -yang mengantar mereka menuju Malang- lelap di waktu subuh, ketiganya komat-kamit menghadap luar jendela; seolah berhadapan dengan juri saat presentasi. Sementara 6 supporter yang memang sengaja datang untuk menyaksikan langsung pencetakan sejarah itu, saling menambal kekurangan senjata peserta. Ini kolaborasi perjuangan yang (harusnya) tak terkalahkan.

Ditengah ring perhelatan, pejuang tangguh Malhidkua cukup bangga dengan pakaian yang baru kering dari jemuran, perut keroncongan, dan lusuh wajah yang jelas tergurat sisa letih kereta. Sementara peserta lain, turun dari mobil sekolah dengan pakaian mulus bekas setrika, didampingi pembina bahkan kepala sekolah. Beruntung mental pasukan lebih kuat dari baja.

Terbukti presentasi web madrasah yang digawangi Hafata CS ini berhasil merampok applause juri, diiringi riuh keenam supporter dan (ternyata juga) peserta lain. Tepuk ini makin meriah saat Malhikdua masuk nominasi Tiga Besar. Beberapa senior tak kalah heboh menginfokan perkembangan tapak mereka via (jejaring) virtual. Semakin yakin bisa membawa pulang piala.

Layaknya perjuangan, tentu tak urung mengalami banyak gesekan. Dibalik kegembiraan itu, nenek Hafata dikabarkan wafat sehari sebelum pengumuman pemenang. Sontak membuat pemred M2Net ini shock, juga ingin lekas pulang ke rumah: di Pekalongan. Bukan perkara mudah memang, karena tiket kadung dipesan, jadwal kepulangan pun sudah disepakati hari Minggu. Terlebih perihal perijinan sekolah dan pondok yang, perlu menembus kotak pandora.

Disinilah uluran tangan para alumni menjadi sangat berarti. Mereka, alumni yang berdomisili di Malang dan sekitarnya, merangkul sesuai kemampuan masing-masing: menyediakan tempat tidur, mengirim makanan, mengurus akomodasi, bahkan berpusing ria hunting tiket Surabaya-Pekalongan. Sekelebat prahara tadi seolah bukan hal besar yang perlu dicemaskan, berkat alumni.

Hingga menjelang jam 2 siang, Hafata, Aziz, juga Lutfi berpose manis sembari menggenggam piala, piagam, dan uang pembinaan. Malhikdua, menyabet juara 3 Lomba Website SLTA Se-Jawa. Inilah buah kerja keras mereka.

—-

Tak Berharap Lebih Selain Terima Kasih

Sejarah kedigdayaan Malhikdua dalam menyabet juara perlombaan website memang bukan kali pertama. Penyelenggara Gunadarma: Juara Harapan 3 Nasional (2008), Juara Open Source Nasional (2010); Amikom: Juara 2 Nasional (2008); dan UIN Maliki: Juara 3 Se-Jawa (2013), cukup menjadi bukti ketangguhan para pejuangnya.

Namun, barangkali mereka; sekolah, lupa. Lupa akan invisible hand yang sungguh lebih layak memiliki semua kemenangan itu. Disebut invisible hand, karena sejatinya dia terlihat namun tak pernah dilihat.

Dialah yang mati-matian mendirikan dan mempertahankan M2Net. Dia yang tak pernah letih bolak-balik Surabaya-Benda. Dia yang selalu gelisah kala M2Net bermasalah. Dia yang selalu cerewet tentang koneksi internet. Dia yang setia mengajari seluk beluk keredaksian. Dia yang menumbuhkan mental wartawan, blogger, hingga pejuang.

Dia pula yang mengurus hosting dan domain website Malhikdua. Dia pula yang mempercantik gaun webnya. Dia pula yang rajin mencerca dan membenahi kesalahan berita. Dia pula yang rajin blogwalking ke akun-akun berekor malhikdua.com. Dia pula yang tak henti memperluas link sponsor dan pementor. Dia pula yang selalu membawa poster juga banner dalam setiap acara Malhikdua.

Hingga kemarin, dia juga yang mendaftarkan Malhikdua untuk kembali berlaga. Dia juga yang setengah koma mengganti template, meredesain, mengoreksi berita, mengubah tampilan foto, mempromosikan, juga memantau setiap perkembangan. Bahkan, dia juga yang memberi breafing peserta, menyiapkan materi presentasi, mengatur strategi materi, dan menyiapkan segala keperluan pasukan termasuk penginapan dan makanan.

Tapi apa yang ia dapat setelah deret piagam itu digenggam? Namanya bahkan tak tercantum sebagai ‘Pembina’ pada tropi kemenangan.

Sungguh, tulisan ini tidak sedang mengadu domba. Juga tidak untuk menggalang iba. Penulis hanya ingin menyajikan fakta sejarah. Bahwa ada dia dibalik kebesaran nama Malhikdua. Dia yang tak pernah berharap lebih dari sekedar ucapan ‘terima kasih’. Sudahkah hal itu dilakukan oleh Malhikdua?

Jika sudah, semoga tidak menelan ‘terima kasih’ mentah-mentah. Tapi jika belum, tak perlu dipusingkan. Toh tulisan ini tidak lebih dari sekedar celoteh.

Wallohu’alam.

*Damae Wardani, Ex-Pemred 2010

Facebook Comments

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *