Celoteh Angin 3: Kehilangan

œHai, kenapa kamu menangis? akhirnya dia datang. Angin. Dulu aku pernah bilang kalau sahabat yang selalu ada itu dia. Ya, angin. Meski kadang kedatangannya hanya menjaili, tapi dia tidak pernah menyakiti.

œAda apa, Dam? Air matamu terlalu berharga jika hanya menangisi dia. Dia yang sudah membuatmu terluka. aku bingung harus berkata apa. Bingung harus memulai cerita darimana. Bingung. Bingung. Dan, bingung.

œKalau tetap diam, itu artinya kamu galau. Ah, Dam! Baru kali ini aku melihatmu galau. tuh kan. Dia memang bisa membaca pikiranku. Kegalauanku. Tanpa bicara pun aku tahu kalau dia sudah tahu.

Kualihkan pandang. Menunduk. Meski kutahu dia ada dimana-mana. Tak terlihat, memang. Tapi terasa. Kehadirannya nyata disekelilingku. Kumenunduk, dia di bawah. Aku menoleh, dia di samping. Aku menengadah, dia di atas. Ya, dia ada. Benar-benar ada.

œHelllooo Daaaam! kali ini dia mencari perhatian. Atau memang kesal karena aku diam.

œAku bicara padamu, bukan sama setaaaaan! ah, dasar angin. Mulai deh menyebalkan.

Kalau sudah begini, cukup mengulum senyum. Dan, merapikan posisi duduk. Mau tak mau aku harus bicara.

œAku sedang muak bicara, Bayu. Mengertilah. Bayu, dasanama Angin dalam bahasa Jawa. Itu nama aslinya. Meski aku lebih suka memanggilnya angin.

œHmm dia mendesah. Guratan kecewa tampak jelas di wajahnya.

œAku sudah kehilangan banyak hal, Dam. Long week end itu sesuatu yang kubenci. Karena manusia sibuk berlibur, sibuk berbahagia dan membahagiakan orang-orang terkasih mereka. Hampir tidak ada yang menangis dan menikmatiku sepertimu, Dam. Masihkah Kau tega membiarkanku lebih kehilangan lagi? Karena kebungkamanmu sama artinya aku kehilangan ceritamu. suaranya luruh.

Agaknya dia benar-benar ingin membersamaiku malam ini.

œDi luar hujan. Bercumbu sajalah dengannya. Bukankah dia teman setiamu? hanya selirik mataku menoleh, lalu beranjak. Sejatinya tak tega. Tapi lebih tak tega lagi jika dia harus mendengar erangku akan cerita terburuk yang sama-sama bertajuk: KEHILANGAN.

œJANGAN BERANJAK, DAM! dia menarik lenganku. Berlutut. Dan menitikkan bulir bening di sandal jepit yang kukenakan. Ah.. Dasar Angin.

œKumohon beri aku 5 menit lagi. Lima menit untuk membuatmu bertahan 5 jam bersamaku. Kumohon sandalku semakin basah. Air matanya menderas.

œHuhf Tak bisakah Kau duduk manis menikmati malam ini sendiri? Aku sedang MUAK dengan perbincangan. Aku MUAK dengan kata-kata. Aku hanya ingin DIAM! hatiku basah.

œDiamlah, Bayu! Diamlah..! kakiku melemas. Tertunduk. Sejajar dengan posisinya saat melututi kakiku tadi.

œHiks.. Hiks.. akhirnya air mataku tak kuasa turun.

œAku tahu Kau kesepian, Bayu. Aku tahu Kau sendirian Aku tahu Kau hanya butuh teman. Aku tahu Kau kehilangan Aku tahu, Bayu. Aku tahu.. dia memelukku. Menggenggam erat jemariku yang kian dingin. Pundakku basah. Rupanya dia sudah menangis deras. Melebihi hujan di luar.

œDan Kamu tahu aku pun ingin duduk bersamamu, Bayu. Bercanda Menghibur diri dibalik kesepian kita. Tapi mengertilah Mengertilah kalau aku sedang membenci kata-kata. Aku sedang membenci bicara. Aku sedang tangisku bertarung dengan tangisnya.

œSedang apa, Dam? Kenapa Kau membenci kata-kata? Kenapa, Dam? sambil menggoyang-goyangkan badanku, dia masih memeluk. Erat.

œKarena kata-kata itu akan lebih menyakitimu, Bayu. Akan lebih menyakitimu! melemas. Melepaskan pelukan. Menghilang. Angin benar-benar menghilang. Dan, sempurnalah kehilanganku

Facebook Comments

Leave a Reply

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *