Malhikdua.com Akan Ditutup, Dimanakah Keluarga Besar PP. Al Hikmah 2?

Jika Anda keluarga PP. Al Hikmah 2 sejati, harusnya Anda berduka. Karena Abah Masruri selalu mengingatkan “Ikatlah ilmu dengan menulisnya”. Tapi bila kabar ini tak berarti sama sekali untuk Anda, semoga tidak ada penyesalan di kemudian.

Sudah 4 tahun malhikdua.com menemani kita dalam mewadahi penulisan santri. Seperti yang kita lihat bersama, pekan kemarin malhikdua.com  telah berganti wajah. Pergantian tersebut bukan karena kejenuhan, bukan karena iseng-iseng, melainkan dikerjakan dengan serius dan sungguh-sungguh oleh salah satu alumni. Sufyan, nama alumni tersebut, rela menanggalkan pekan pertama kuliah dengan pergi ke Surabaya. Tak lain karena pekerjaan itu.

Pergantian wajah tersebut juga diikuti pembenahan sistem di dalamnya. Semua dilakukan -sekali lagi- bukan karena iseng2, bukan karena tempat praktik codifikasi, tapi dengan sungguh2, agar Blog Malhikdua tetap menjadi agen perubahan stigma santri katro yang pernah melekat, agar Blog Malhikdua tetap menjadi kebanggan Pesantren, disamping misi kebangsaan atas cintanya produk (bandwith) dalam negeri.

Ikhtiar perbaikan itu berangkat dari kegelisahan kami mengamati nasib malhikdua.com yang tidak seberuntung saudara tuanya (malhikdua.sch). Sudah hampir 2 tahun ini malhikdua.com tampak tak lagi bernyali.

Kurang minatnya para santri sendiri terhadap Blog menjadi salah satu penyebab Malhikdua seperti mati suri. Santri terlihat lebih asyik bersosial media hingga bertwitteran yang memang lebih praktis tanpa perlu mengeluarkan otak setetespun. Kurangnya sosialisasi kepada santri juga menjadi alasan redupnya Malhikdua.com, sangat berbeda saat promosi gencar di tahun 2008-2009 yang saat itu sukses menelurkan penulis-penulis bertaji.

Dari sisi pengelola pun setali tiga uang. Mengelola malhikdua.com kalah menarik dibanding mengelola malhikdua.sch.id. Logis saja, dengan mengelola situs SCH.Id nama pengelola turut terangkat atas kemenangan lomba-lomba yang didapat. Sanjungan, tepuk tangan, medali, dan uang bisa didapatkan dari pengurusan Malhikdua.sch.id.

Kini, malhikdua.com semakin merana, semakin usang oleh pembiaran-pembiaran yang kita lakukan. Hanya beberapa blogger yang aktif didalamnya. Jika distatiskan pertumbuhannya, setahun tak sampai 15 blogger baru yang memakai malhikdua.com sebagai sarana penulisan. Itupun banyak dipakai oleh orang diluar santri, untuk keperluan monetize dan mencari backlink demi mendukung pemasukan income mereka. Santri-santri sendiri, entahlah dimana berada. . Keterbatasan waktu, alat, dan koneksi menjadi alasan utama yang harus kami maklumi.

Satu tahun, 2 tahun kami sabar menunggu. Berharap santri-santri yang dulu masih polos-polosnya akan muncul dengan membawa kabar gembira bagi kami. Kabar untuk meneruskan project Malhikdua.com, mengisinya dengan postingan-postingan bermutu, berkualitas, berskala dunia, hingga mensosialisasikan Blog Hosting Produk dalam negeri ini ke seluruh dunia.

Tapi yang kami hadapi berkata lain. Tahun berganti, pengguna blog Malhikdua tetap sedikit. Ironisnya, para santri yang kami tunggu bertahun-tahun tidak tampak tetesan ilmunya di Blog ini. Para alumni yang kami harap bisa menggunakan kemampuan riset untuk mengembangkan malhikdua, para alumni yang kami harap bisa menggunakan ketajaman penanya untuk me-wibawa-kan wajah Blog Hosting ini, rupanya memilih untuk membiarkan malhikdua.com teronggok tak berdaya, tampil membisu, tanpa tulisan-tulisan greget, tanpa info-info bermutu. Malhikdua.com tetap tampil dengan kepolosan wajahnya. Tak jauh beda saat mereka menjadi santri.

***

Menarik garis tahun kebelakang, membangun Malhikdua.com sebagai tempat blog hosting saat itu adalah resiko yang kami pilih. Tenaga, dana, waktu bakal terkuras habis untuk membuat hingga mengembangkannya. Tak sedikit yang mengkritisi tentang ketidakefektifan ini, karena kalau hanya untuk menulis lebih baik menggunakan layanan-layanan yang ada (spt blogdetik, blogspot, wordpress.com,  kompasiana, dll). Tidak makan resource dari biaya hingga waktu.

Tapi kami bergeming akan kritikan itu, pembangunan Blog Hosting tetap kami teruskan, karena mereka (para pengkritik itu) tidak mengetahui bagaimana resistensi pesantren terhadap pelaku dunia online.

Teman-teman,anda semua, yang saat itu menjadi santri , ketahuilah, anda tak akan diijinkan berinternet jika kami tak memakai nama Malhikdua. Empat tahun lalu, dengan kocek sendiri, keringat sendiri, kami menggarap blog hosting Malhikdua.com agar saat anda berinternet pihak sekolah ataupun guru mengira anda mengelola Malhikdua. Perjuangan menggarap Malhikdua.com sejalan dengan perjuangan kami mewadahi karya-karya dan pikiran anda.

Karena gerilya, selama 2 tahun Malhikdua.com masih memakai dana sendiri. 2 tahun kemudian Malhikdua.com memakai dana kas Sekolah setelah kami melakukan lobi-lobi yang meyakinkan, ditambah keberhasilan menjuarai event website. Lewat janji-janji proyeksi akan pemanfaatan Malhikdua.com untuk pengembangan dan ketajaman pesantren itu sekolah bersedia membiayai server malhikdua.com per tahun.

Namun melihat kenyataan sekarang, di tahun ke-5 ini nanti, disaat kontrak pembayaran berakhir bulan november nanti, kami tahu diri untuk tak lagi melobi perpanjangan Malhikdua.com. Alasannya seperti yang sudah kami sebut diatas.

Kami harus bersikap gentle, kala tujuan tidak terc apai tak mungkin kami meminta dana ke sekolah. Dana sekolah untuk malhikdua.com jauh lebih besar daripada malhikdua.sch.id. Dana setahun 3,6 Juta yang diambil dari perputaran warnet alangkah lebih manfaat jika diperuntukan untuk pengadaan-pengadaan pelatihan, operasional redaksi, dan menambah aset-aset untuk pengelolaan SCH.

Bukan soal dana pula pertimbangan kami. Secara TENAGA sudah tak sanggup lagi terus-menerus mengerjakan project malhikdua.com . Beban tenaga yang dikeluarkan 4-5x lebih menguras dibanding membangun situs Malhikdua.sch.id. Apakah anda membiarkan kami bekerja dalam kesepian? Mengelola sesuatu hal yang tidak banyak diambil manfaatnya oleh para santri, alumni, guru-guru, dan lain-lain. “Jika alumni-alumni berkumpul membangun pesantren lewat riset, sosialisasi, tulisan-tulisan tajam tentu menjadi kekuatan besar yang sangat diperhitungkan orang-orang diluar pesantren.” Ternyata hanya teori. Sampai saat ini kami hanya melihat Sufyan melakukan seorang diri mengelola hal itu diantara ribuan para santri dan alumni-alumni lain.

Maka dari itu, keputusan menghentikan project malhikdua.com adalah hal yang sangat logis dan sangat memungkinkan.

Masih ada 2 bulan lagi Malhikdua.com bisa mengudara. Selanjutnya kami menutup layanan secara permanen jika dalam waktu tersebut tidak ada kabar baik terkait Malhikdua.com. Kami harus jujur menyampaikan segala perkembangan ke Sekolah. Kiranya sekolah juga akan berpikir 1000x untuk meneruskan mengingat besarnya dana yang dikeluarkan tidak impact dengan manfaat untuk santri dan alumni sendiri.

Ini bukan ancaman. Kami hanya menyampaikan konsekuensi yang masuk akal. Bukan hal aneh kala suatu produk digital gulung tikar. Multiply sudah menutup layanan Blognya, diganti dengan Marketplace (ecommerce), Yahoo telah mematikan layanan Koprol yang dibanggakan anak negeri, Friendster sudah tamat jauh tahun, Myscape sudah ganti kepemilikan, Google menutup picasa dan mybloglog. Dan terakhir, tinggal tunggu waktu aja, karena saham Facebook terus turun saat orang-orang beralih ke Path.

Artinya, penutupan Layanan malhikdua.com adalah wajar-wajar saja. Karena memang tidak ada yang awet dalam dunia digital, dunia online.  Malhikdua tidak punya santri dari keluarga Bakrie yang bisa mengatasi pendanaan. Malhikdua tak punya santri sejiwa Dahlan Iskan yang tetep bangga mengendarai Merpati disaat teman-temannya memilih produk-produk Boeing, Airbus, hingga Shukoi.

Anda tak punya siapa-siapa. Anda-lah, sebagai pemilik Malhikdua.com yang bisa menentukan nasib sendiri, anda yang membuat lanjut atau tidaknya milik anda sendiri. Nasib Malhikdua.com tidak bergantung kepada orang lain, demikian pula kepada kami.

Karena, mohon diketahui, riwayat pengelola dan pengembangan Malhikdua.com selama ini (Novi, pranda, estiko, wahyudi, MQ  Hidayat, dan Tantos) bukan lah santri maupun alumni Pesantren Al Hikmah 2. Empat tahun waktunya sudah cukup untuk melakukan banyak hal untuk Pesantren. Mereka tidak terlalu bangga dengan kepopuleran Malhikdua di dunia daring. Mereka tidak ambil pusing jika label “satu-satunya Blog Hosting di dunia pesantren” hilang. Mereka hanya relawan-relawan yang terjun atas dasar tolong menolong.

Pergantian wajah yang telah kita lihat bersama pekan kemarin adalah upaya terakhir kami dalam membantu mempertahankan Blog Hosting Malhikdua. Sekali lagi, masih ada waktu hingga awal November. Jika tidak ada peningkatan jumlah blogger maupun mutu tulisan, tak ada lagi upaya lobi sekolah untuk memperpanjang biaya tahunan hosting yang cukup besar.

TTD

HUMAS M2NET

——————————–

(dw/ns)

Facebook Comments

Leave a Reply

1 Comment


  1. ·

    Adakan sumbangan alumni,
    Kalo di hitung setahun Rp. 3.600.000,- Memang besar tapi jika di bagi 12 bulan kita punya beban bayaran Rp. 300.000,- perbulan. Coba nanti saya rembug temen2 di JABODETABEK yang saya kenal, barangkali dari Rp. 300.000,- itu bisa di bagi beberapa alumni yang memang siap membantu dana. insya Allah saya siap membantu, semoga alumni yang lain akan turut membantu. tapi untuk yang Rp. 3.600.00,-/tahun kita ajukan bantuan sebanyak-banyaknya ke alumni2 yang berduit dan dermawan, kalau dari dalam tak bisa, coba dek Damai hubungi temen2 yang mau membantu.
    Semoga dapat banyak apresiasi dari alumni yang peduli, jadi lebih ringan.
    Untuk eksistensi santri dalam hal menulis memang harus sabar, karena menumbuhkan semangat menuls di blog butuh perjuangan yang kuat.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *