Menyingkap Ke”semu”an Ospek

Memasuki tiap bulan September, Oktober, hingga November, ialah bulan “empuk” bagi DeMa (Dewan Mahasiswa), BEM-F (Badan Eksekutif Mahasiswa – Fakultas), dan BEM-J (Badan Eksekutif Mahasiswa – Jurusan) di UIN Bandung. Konon, bukan hanya moment paling kece untuk eksis di kalangan mahasiswa baru. Tapi juga kesempatan emas untuk mendaur “uang panas” yang datang tanpa diundang, bahkan tanpa rasa “sayang”.

Sudah tentu ada pihak kedua yang menjadi sasaran tembak alias calon “korban”, dari para pamong praja yang berlindung dibalik status organisasi ini. Tak lain ialah mahasiswa baru yang masih lugu, unyu, lagi lucu. Yang pasti patuh dan taat akan semua perintah senior. Yang pasti meng-iya-kan apa yang ditetapkan sebagai “kewajiban peserta” dalam kitab aturan main masa orientasi. Maka, bukan pemandangan asing bila pada masa itu kita jumpai mahasiswa berseragam hitam putih. Ada pula yang memakai atribut-atribut aneh dan menggelikan, berkeliaran di sudut kampus. “Sedang dihukum, Kak.”, jawab mereka singkat lagi padat jika ditanya.

Pertanyaan yang muncul kemudian, benarkah itu yang disebut Ospek? Apa tujuannya? Apa manfaatnya? Bagaimana aturan mainnya? Bagaimana konsep acaranya? Berapa biayanya? Dan, apa yang tersirat, terselubung, semu, dari sebuah kegiatan Orientasi Studi & Pengenalan Kampus (Ospek) -atau apa pun namanya-?

Hakikat Ospek

Orientasi Studi & Pengenalan Kampus (Ospek) merupakan kegiatan untuk mengenalkan dunia kampus kepada mahasiswa baru. Inilah momentum bersejarah bagi setiap siswa yang baru saja “naik pangkat” untuk memasuki gerbang perguruan tinggi. Karenanya, kegiatan Ospek dengan seluruh rangkaiannya merupakan awal pembentukan karakter bagi para maba.

Dengan kata lain, baik tidaknya kepribadian maba di sebuah perguruan tinggi, sedikit banyak ditentukan oleh Ospek di perguruan tinggi tersebut. Memang, kedengarannya agak ekstim karena seolah menafikan komponen lain. Tapi pengalaman pertama menjadi maba yang diperoleh selama Ospek, membekas dan tak terlupakan. Yang pada gilirannya akan terekspresi dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan kampus.

Di UIN sendiri, istilah ini diganti menjadi Opak. Yakni Orientasi Pengenalan Akademik & Kebangsaan. Namun kata terakhir itu sudah lama tak berdengung, hingga lebih dikenal Orientasi Pengenalan Akademik saja.

Tujuan & Fungsi Ospek

Dari namanya saja sudah menegaskan bahwa kegiatan ini setidaknya memiliki satu tujuan pokok. Adalah mengenalkan lingkungan kampus sebagai suatu lingkungan akademis, serta memahami mekanisme yang berlaku di dalamnya. Baik level universitas, fakultas, maupun jurusan, intinya sama. Sekali lagi, tak lebih dari “mengenalkan” segala hal ikhwal dunia kampus pada maba.

Dengan demikian, setidaknya ada 4 fungsi yang diperoleh dari kegiatan Ospek.

      1. Fungsi orientasi bagi mahasiswa baru untuk memasuki dunia Perguruan Tinggi yang berbeda dengan belajar di sekolah lanjutan.
      2. Fungsi komunikatif yakni komunikasi antara civitas akademika dan pegawai administrasi kampus.
      3. Fungsi normatif yakni mahasiswa baru mulai memahami, menghayati dan mengamalkan aturan-aturan yang berlaku di kampus.
      4. Fungsi akademis yakni pengembangan intelektual, bakat, minat dan kepemimpinan bagi mahasiswa. (kata Tante Wiki, pen).

Ternyata sungguh luar biasa fungsi dari kegiatan Ospek. Namun sudahkah fungsi ini berjalan sesuai pedoman dan harapan? Mari berdiskusi.

Kenyataan di lapangan memang tak selalu seideal teori. Meski masa orientasi saat ini sudah tak seheboh dulu, saat merebak sistem perpeloncoan dan aksi balas dendam. Namun, sepengamatan penulis, kegiatan Ospek ini masih jauh dari impian. Terutama, kampus UIN Bandung.

Konsep Acara

Dari tahun ke tahun, tak tampak inovasi berarti yang mengesankan dari acara orientasi. Monoton. Dari pengenalan kampus, pengenalan fakultas, hingga jurusan. Semua biasa-biasa saja.

Hanya sedikit berbeda pada Ospek jurusan yang dimotori oleh BEM-J atau HMJ. Meski terkesan agak lebay dengan aksi Komdis (Komisi Disiplin) yang hanya terkesan “marah-marah”, Ospek jurusan juga dinilai paling stategis untuk pemantapan maba dalam memilih jurusan yang dimasuki.

Tranparansi Dana

Ini dia perkara paling “seksi” dalam setiap acara. Tak terkecuali Ospek. Jika Ospek universitas itu mewajibkan maba membayar 170 ribu pada saat daftar ulang. Maka Ospek jurusan lain cerita.

Ospek jurusan murni mengandalkan iuran mandiri dari setiap maba. Artinya, panitia harus bekerja ekstra untuk meraih hati maba agar ikut Ospek jurusan. Selain memang bukan kewajiban utama, Ospek jurusan kerap kurang mendapat support dari kantor jurusan maupun fakultas.

Disinilah kerja keras segenap panitia dimaksimalkan. Tak sedikit ancaman, rayuan, hingga sanksi sosial diterapkan BEM-J bagi maba yang tak mau ikut Ospek jurusan.

Namun ada sisi plus yang bisa dilihat dari Ospek jurusan, yakni laporan pertanggungjawaban yang akan mengurai tranparansi dana. Meski hanya Tuhan yang tahu bila laporan itu sudah “diotak-atik”, biarlah pertanggungjawaban moril itu hanya dia dan Tuhan yang tahu. Dengan kata lain, ditanggung masing-masing.  Sedang Ospek universitas yang dikendalikan DeMa, seringkali terhembus angin dan tak seorang pun menanyakan kembali: kemana dana Ospek universitas bermuara?

Aturan Main

Ospek universitas, fakultas, dan jurusan semuanya memiliki aturan main. Memiliki tata tertib yang harus dipatuhi semua maba. Dan, dari semua tata tertib itu, satu yang paling penulis ingat. Yakni:

Pasal 1: Panitia tidak pernah salah

Pasal 2: Jika panitia salah, maka kembali ke Pasal 1.

Apa yang tersirat, tersembunyi, dan semu?

Merupakan  sikap pengecut jika ada mahasiswa senior yang menanamkan sikap kewibawaan pada maba dengan membentak-bentak atau memberi tugas yang melecehkan derajat kemanusiaan. Tindakan itu biasa dilakukan mereka yang frustrasi karena gagal di bidang kademik, mencoba menutupi kekurangan dengan menonjolkan ke”aku an” nya di bidang lain agar mendapat pengakuan dari mahasiswa lain. Dalam istilah psikologi, mahasiswa tersebut “bersublimasi”. Reka adegan itu bukan lagi rahasia umum, tapi menjadi hal lumrah yang -disadari atau tidak- masih kita temukan dalam kegiatan bernama Ospek.

Padahal, Rasullullah saw. telah  memberi teladan kepada kita bagaimana menumbuhkan persaudaraan, kedisiplinan, dan kewibawaan terhadap sesama muslim. Tak lain ialah sikap saling menghormati dan menghargai. Hebatnya, sikap hormat senior pada maba bukan hanya berbalik pada senior tersebut. Tetapi juga pada maba tahun depan alias calon junior maba tahun ini. Begitu seterusnya. Maka terciptalah harmonisasi turun temurun, yang diwariskan melalui kearifan perilaku senior saat masa Ospek berlangsung. Jika hal ini terwujud, mustahil kiranya akan timbul budaya dendam, apatis, egoistis, hingga aksi anarkis seperti yang terjadi di masa silam.

Tidakkah kita ingat bahwa maba juga manusia yang notabenenya berakal dan berhati? Jika dipupuk dengan pengenalan kampus yang dilandasi nilai Ilahiyah; disiram tuntunan perilaku yang menyejukkan hati, diarahkan menuju jalan hidup positif; maka di hari pertama mereka menjadi maba sudah terbenam rasa tanggung jawab. Tanggung jawab pada Tuhan, keluarga, juga masyarakat, bahwa “Aku datang untuk belajar”. Bukan untuk merusak masa depan.

Jika hal itu terwujud, maka tak berlebihan kiranya jika penulis mengucapkan “Selamat datang di lingkungan civitas akademik yang cerdas, bermoral, dan siap menjadi director of change peradaban dunia, wahai maba.”

Facebook Comments

Leave a Reply

1 Comment


  1. ·

    hmmm.. ospek. kalau ga sadis ga seru.

    akademi memang mencetak orang2 pinter. tapi fakta dilapangan. mereka yg pinter tanpa kesiapan mental kerap tidak tahan banting dalam menjalani kerasnya hidup.

    jadi, opspek pake bentak2an.. so what. semua tahu koq itu pura2.. ngapain dikaji dgn cara ilmiah segala sampe menyebut harmonisasi segala :)

    dan umumnya cm 3 hari. selalu jadi bahasan besar.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *