Sejumput Mimpi di Buku Puisi

“Be happy is the man that finds wisdom and discernment, because it is more than precious stones”

Lusuh, kumal, dan usang. Meski tampak sedikit rapi lantaran dilampingi (disampuli, pen) kertas kado bergambar mawar dan plastik tebal, tetap saja bercak coklat di sekeliling ketas yang bertumpuk itu tak bisa bohong. Bercak yang menjadi saksi betapa tidak terawatnya buku ini.

Kutemukan di sela tumpukan karya, baris kedua dari bawah. Tak sengaja teringat saat tiba-tiba merenungi karya yang belum bertambah. Di atas lemari itu, ia seolah memanggilku tuk mengambil. “Masih ingatkah kau, padaku?”, barangkali begitu ucapnya jika ia bisa bicara.

Ah, tentu saja aku ingat. Buku ini saksi sejarah, bukti perjalanan karya, juga suara jiwa yang tak lapuk oleh usia. Buku ini yang mengajariku mengenal diksi, tata bahasa, juga keindahan makna dalam tiap huruf dan suku kata. Buku ini pula yang paling setia menamani rupa-rupa kehidupan. Mulai cinta, persahabatan, kegagalan, hingga manisnya perjuangan. Dan, buku ini pula yang mengingatkanku pada sebuah puisi berjudul “Andai”. Puisi perdana yang kutulis saat usia 5 tahun.

Sob, bisakah kau tebak buku apakah yang kumaksud? Ya, barangkali kau satu pikiran denganku. Ialah buku kumpulan puisi yang kutulis dengan tinta hitam.

Awalnya tak lebih dari buku kosong dengan ketebalan sekitar 50 halaman. Seingatku, buku ini pemberian terakhir  SD sebagai hadiah keberhasilanku menjadi juara umum pada perpisahan sekolah. Eum.. Jika dihitung mundur, itu moment 8 tahun silam.

Lantaran perwajahan buku yang memang cantik, ditambah lembar biodata di awal dan catatan di akhir halaman yang berwarna pink, sayang rasanya jika harus dipakai untuk buku mata pelajaran. Dulu, begitu pikirku. Jadilah kugunakan untuk menulis puisi. Lumayan sebagai ganti buku gambar yang kupakai menulis puisi waktu TK, yang entah raib kemana.

Kubuka lembar pertama, puisi berjudul “Rindu” tertanggal 10 Juli 2006. Berhias bunga tulip di pojok atas yang kugambar dengan pensil, juga ornamen love yang mengitari baris puisi, membuat lembar ini tampak sayu dan sunyi. Meski sekejap berubah menjadi tawa membahana saat membaca keluguan kata demi kata dalam puisi ini.

rindu“Di tengah api kerinduan

Diantara sepi kesepian

Kesendirian kurasakan

Kangen tak tertahankan”

Polos sekali kan, sob? Isinya 4 bait, tiap bait ada 4 baris. Baku sekali, xixixi.. Makannya aku malu menuliskan sampai akhir. Uniknya, tiap selesai satu puisi, pasti ada catatan riwayat dibuatnya puisi itu. Peristiwa apa yang melatarbelakangi, bagaimana kronologisnya, hingga alasan mengapa aku tertarik menjadikannya sebuah puisi. Meski ada beberapa catatan yang sudah kututup kertas lantaran terkesan rahasia, hal ini memaksa memori kembali ke masa lalu.

Dalam kurun 3 tahun (tanggal terakhir 4 Juni 2009), telah tertulis 39 judul puisi yang menghabiskan 44 lembar (atau 88 halaman). Bisa dipastikan bahwa ada beberapa puisi yang memakan lebih dari 2-4 halaman tiap judul. Puisi terpanjang berjumlah 5 lembar (sama dengan 10 halaman) tanpa judul. Membaca isinya, sepertinya ini puisi perpisahan yang pernah dipesan seorang teman.

Dari ke-39 judul puisi itu, ada 2 judul yang berbentuk Geguritan. Pernah mendengar istilah ini, sob? Kata guru bahasa Jawa di SMP dulu, geguritan itu sejenis puisi tapi ditulis dalam bahasa Jawa kuno atau dikenal Sansekerta. Satu diantara dua itu berjudul “Galih kang Nglakra” (Hati yang Sakit, Jawa). Begini isinya.

geguritanNalika mega abang katutup lintang

Yen sepi iki sirna marga candra kang sulistya

Ing wardaya aku ngunandika

Ngenteni Sliramu sing gawe padhang

Cemloroting mutiara ing tengah segara

Kaya dene sliramu kang wijaksana

Gagahe mata dunya kang perkasa

Laksana tresnamu sing ora bakal sirna

Nanging saiki tresna iku embuh ing ndi?

Kagawa mlayune samirana kang ora pesti

Atiku lara, atiku gela…

Pranyata aku namung bocah cilik kang nglakra

–Siti Dzarfah, 06.01.2008–

Tidak tahu artinya? Mangga searching, hihihi…

Cukup lama kuamati satu per satu puisi itu. Sesekali tertawa, malu, gemas, bahkan jengkel mengiringi slide masa lalu yang terekam lewat puisi ini. Ternyata, begini riwayatku dulu. Begini kisah-kisah unik yang tak mungkin terulang. Kisah remaja labil selalu berobsesi menggapai ini itu. Kisah remaja yang, sedikit banyak pasti berpengaruh pada pribadiku yang sekarang.

Hingga kujumpai lembar terakhir di catatan belakang. Lembar pink yang kutulisi dengan tinta biru. Berhuruf sambung yang terkesan dipaksakan -barangkali waktu itu aku baru menekuni huruf sambung-, namun tetap mudah dibaca.

“Meskipun puisi ini tidak akan diterbitkan oleh penerbit, tapi saya akan selalu menggali kreatifitas yang saya miliki. Saya harap, suatu saat saya menjadi sastrawan yang hebat. Amien…”

Maka berputarlah kembali sebuah moment 7 tahun silam, dibenakku. Sedang duduk di teras depan, di bawah pohon mangga, atau menggantung di pohon jambu samping rumah, menulis baris demi baris puisi itu dengan kepolosan dan keluguan. Tentu, berdasar sebuah khayal, sebuah mimpi, bahwa suatu hari nanti aku bisa seperti Chairil Anwar atau WS. Rendra.

Walau kini itu belum tercapai, tapi dengan berpuisi aku merasakan kebahagiaan yang tak terbilang. Hanya lewat puisi lah aku bisa mendengar kebijaksanaan dan kearifan dari nurani yang, seringkali terlibas dan tertawan nafsu manusia. Dan, terlebih bahagia lagi, aku mampu berpuisi dengan caraku. Bukan menjadi Chairil Anwar, Rendra, atau sastrawan lain. Tapi menjadi diriku sendiri.

“Andai, aku telah dewasa

Kan kuwujudkan

Semua cita dari balita”

(bait terakhir puisi “Andai” yang masih kuingat.)

*Beruntung aku mengenal blog, dokumentasi puisi lebih aman, praktis, dan tidak akan usang. Kumpulan puisi penulis dapat disimak disini

“Khayalan ini diikutsertakan dalam Giveaway Khayalanku oleh Cah Kesesi Ayutea”

Facebook Comments

Leave a Reply

5 Comments


  1. ·

    Sesuatu yang dianggap usang itu kadang menjadi barang yang mahal bagi seseorang. Eh mahal beneran juga kok.. tuh perangko usang, koin lama atau barang-barang antik.

    Sukses GA-nya ya mbak..

    betul sekali, uncle lozz.. :) berharga ato tidak bukan dari harga dan rupa, tapi dari makna.
    aamiin, matur suwun sudah berkunjung.

    Reply

  2. ·

    Wah indahnya… benar-benar tertata rapi. Niat yang tulus semoga berbuah manis

    Aku sekalian follow twitternya ah, kayaknya si empunya asik :)

    makasih Ave Ry, :) aamiin..
    mangga, nanti saya folbek deh. dijamin asik! heehee

    Reply

  3. ·

    berkunjung dulu, tercatat sebagai peserta :D

    matur suwun, mbakk :)

    Reply
  4. komaruddin_yahya
    ·

    Mungkin puisi “rindu” Mba Damai itu, make metode sajak ala Soneta dari Italia berisi 4 baris perbait.

    ahaahh.. bisa jadi bisa jadi.. :)

    Reply
  5. komaruddin_yahya
    ·

    oia, “sejumput” itu artinya apa yah?
    masih asing ditelingaku.

    kalau tidak salah, sejumput itu yang biasa tumbuh di halaman rumah itu loh, hihii

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *