Masak Sendiri, Resep Hidup Hemat & Sehat Ala Anak Kost

kostKehidupan anak kost biasanya dijalani oleh mahasiswa, perantau, atau orang yang  memilih tinggal di tempat terdekat dengan pekerjaan meski memiliki rumah di kota yang sama. Maka tak heran jika kita jumpai standar hidup menengah ke bawah pada frontstage anak kost-an.

Bukan berarti mereka tidak kaya, bukan. Hanya saja, label anak kost yang disandang itu berpengaruh pada mindset pola hidup serba hemat dan serba praktis. Tentu saja hal ini juga cerminan dari kehidupan para single (meski tidak semuanya), karena barangkali akan lain cerita jika mereka masih nge-kost bersama anak istri. Sehemat-hematnya dan sepraktis-praktisnya, tetap saja kebahagiaan, kenyamanan, & keamanan anak menjadi prioritas utama.

Hidup serba hemat & serba praktis terbukti dari beberapa adigum yang kerap kita dengar. Diantaranya, mie instan sahabat sejati dalam segala suasana. Sarapan pagi cukup rokok dan segelas kopi. Kemana-mana bawa motor sendiri, naik metromini, atau jalan kaki (jika dekat). Ah, pokoknya persis lagu dangdut yang bunyinya begini, sob..

Masak, masak sendiri

Makan, makan sendiri

Tidur pun sendiri…

—-

Nah, pertanyaan yang muncul kemudian: apakah hidup serba hemat & praktis itu masuk kategori hidup sehat? Mari kita cek, sob.

Mie instan di warung tepi jalan –5000

Kopi, rokok, & aneka gorengan di warung kopi –6000

Nasi rames di warung Tegal –7000

Bakso di tepi jalan –8000

Es teh –3000

Nasi goreng keliling malam hari –10.000

Perkiraan pengeluaran untuk makan sehari bisa mencapai 40.000, sob. Memang ini hanya perkiraan, tapi rasanya prediksi harga makanan itu hampir sama di tiap kota (bedanya mungkin seribu-dua ribu). Dan, dari rincian tempat makan yang didominasi warung tepi jalan, bisa kita tangguhkan kebersihannya, bukan? Jika makan di restoran atau kafe ya jelas beda lagi: namanya bukan anak kost, tapi anak apartemen.

Jadi sekarang sobat bisa menimbang sendiri, bagaimana bisa hemat kalau sehari pengeluarannya 40rb (belum termasuk ongkos transport, kebutuhan pribadi, dll)? Bagaimana bisa sehat kalau tempatnya di tepi jalan atau warung emperan (yang mencuci piring dengan 2 atau 1 ember)? Barangkali hanya praktis saja yang didapat karena tak perlu ribet memasak & belanja sayuran.

Karena itulah saya ingin berbagi resep hidup hemat dan sehat ala anak kost. Ini sudah saya lakoni sejak setahun lalu dan memang terasa sekali bedanya. Mau tahu resepnya?

Masak Sendiri!

Yup, masak sendiri artinya memberi kesempatan pada diri sendiri untuk:

  • Belanja sendiri (membeli bahan masakan yang ingin dimasak)
  • Belajar manajemen keuangan pribadi (belanja membuat otak kita berpikir mana kebutuhan primer, mana seknder, mana tersier)
  • Bebas makan sesukanya (Jika di warteg menunya itu-itu saja, maka dengan memasak sendiri kita bisa memilih menu sesuka kita)
  • Memakan masakan yang sehat & bersih (jelas, walau bagaimana pun masakan sendiri pasti lebih bersih dan sehat. Logikanya, mana mungkin diri sendiri tega tidak mencuci cabai dulu sebelum dimasak. Nah, kalau di warteg kan kita tidak tahu semua sayuran dicuci bersih atau tidak sebelum dimasak)
  • Belajar memasak (ini point plus untuk kita, toh tidak ada ruginya kan kalau kita bisa memasak? Terlebih cewek yang nantinya bakal jadi istri dan ibu, super wajib bisa masak)
  • Melatih manajemen waktu (kalau biasanya kita tinggal makan di warung, tentu bisa sambil berangkat menuju tempat kerja, kuliah, dll. Tapi jika memasak sendiri, kita bisa belajar mengatur waktu untuk: bangun jam berapa, butuh berapa lama untuk masak, berapa lama untuk mandi kemudian sarapan, baru bisa berangkat)
  • Belajar mandiri (hal ini mengajari kita untuk tidak bergantung pada orang lain -warteg-, karena masak sendiri berarti kita berusaha memenuhi kebutuhan primer dengan tangan sendiri)

Nah, asik sekali kan, sob? Kita bisa belajar banyak hal dari sebuah hal sederhana: masak sendiri.

Eits, jangan khawatir. Saya tahu keluhan yang muncul kemudian adalah: “aku kan nggak pernah masak, aku juga kerja fulltime, di kosan tidak ada dapur, dlllllll”. Justru belajar masak sendiri itu agar kita bisa masak, pintar membagi waktu, hidup lebih hemat, dan sehat. Soal dapur, kita bisa menggunakan kompor portable yang super mini. Selain praktis, kompor ini juga bisa dibawa kemana-mana.

Toh masak sendiri untuk diri sendiri. Mau kurang garam atau kelebihan gula ya tidak akan ada yang menghina. Terlebih, kita bisa memulai dari masakan sederhana seperti: dadar telor, nasi goreng, tumis kangkung, atau sekadar goreng tahu & tempe. Kalau sudah terbiasa, tentu kita bisa eksplore lagi untuk membuat masakan lain. Misal, sayur sop atau cap cay.

Hasilnya, beuuh.. Beda jauh sama beli di tepi jalan. Detailnya begini, sob. Misalkan dadar telor saja yang gampang. Kalau di warteg biasa dijual 2000-2500, padahal modalnya hanya telor 1 (1000) & penyedap rasa (100). Berarti warteg bisa untung lebih dari 100%. Itu baru dadar telor, bagaimana dengan nasi goreng atau sayur yang lain? Pastinya keuntungan bisa lebih besar. Itulah mengapa bisnis di bidang makanan itu sangat menggiurkan.

Nah, sekarang sudah tahu kan betapa hidup hemat & sehat itu tidak susah? Tidak rugi & tidak perlu gengsi, karena martabat anak kost ya ditentukan oleh diri kita sendiri.

Betul apa betul? :)

Salam Anak Kost,

Facebook Comments

Leave a Reply

3 Comments

  1. Susi Ratnasari
    ·

    (y)
    ::salam::anak::kost

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *