Kemanakah Wajah Keren Alumni?

Banner Malhikdua-1Sejujurnya saya bingung harus memberi judul apa pada tulisan ini. Tapi kalau boleh saya lebih jujur, sejatinya saya sangat takut dan merasa berdosa kalau menuliskan ini.

Tapi setelah saya pikir lagi, sepertinya saya akan lebih berdosa kalau tidak jadi menuliskan ini. Bahkan mungkin, seumur hidup saya hanya akan dihantui penyesalan yang teramat dalam jika saya tidak menuliskan ini.

Ah, sebenarnya apa yang akan saya tuliskan? Mengapa saya harus memberi prolog yang panjang dan bertele-tele. Entahlah. Semua kalimat di awal tadi muncul sendiri. Seakan menjadi penegas bahwa saya memang bimbang. Tulis tidak. Tulis tidak. Tulis tidak.

Huhf.. Baiklah. Sudah saya putuskan. Saya akan menulisnya.

Begini.

Sepanjang perjalanan pulang dari acara ekspo kemarin, saya berpikir. (Jika Anda belum membaca ulasan Malhikdua Ekspo Kampus, silahkan klik disini).

Persis sebelum mobil melaju dari depan GOR Al Hikmah 2, saya melihat banner besar terpajang di sisi kanan. Isinya, jelas terlihat bahwa segudang prestasi sekolah tertampang disana. Satunya lagi berisi pose-pose alumni yang dengan gagahnya diberi keterangan: meraih beasiswa anu, diterima di perguruan tinggi ini, dan mendapat prestasi itu.

Dalam hati saya berdecak kagum. Keren sekali mereka, pikir saya. Banner Malhikdua-5

Di sebalik GOR itu juga ada banner tahun-tahun sebelumnya. Tapi tidak ada foto dan nama saya. Barangkali karena saya hanya mahasiswi UIN, sebuah perguruan tinggi negeri yang kurang bonafit, kurang favorit, kurang kece! Saya juga bukan penerima beasiswa Bidikmisi, STAN, Surya, PPA, atau apa pun namanya. Sungguh, bukan!

Namun semua pajangan itu membuat memori saya kembali ke masa lalu, kisaran 4 tahun silam. Masa dimana wajah saya pernah ada di sana, di tempat banner yang sekarang berdiri di depan saya. Kala itu wajah saya tersenyum malu memegang piagam penghargaan, sebagai bukti juara 2 lomba website sekolah tingkat nasional. Bersama deretan prestasi lainnya, foto sayalah yang memakan tempat paling besar.

Bagaimana perasaan saya melihat pajangan itu? Pajangan yang membuat semua orang bilang “waw!”. Pajangan yang membuat seisi pesantren (yang konon) terbesar se-Jateng itu, mengenal saya meski tak pernah saling sapa. Pajangan yang dalam sekejap seakan menaikkan derajat siswa bak artis Korea papan atas.

Banner Malhikdua-2Menurutmu, sob, harusnya saya bahagia atau justru kecewa?

Jawaban saya sejak melihat banner itu sampai hari ini, tetap sama: saya kecewa.

Bagaimana saya bisa bahagia kalau sebenarnya foto itu sudah menginjak-injak harga diri saya?

Menginjak-injak harga diri? Ya. Meski kata-kata itu terdengar kasar, tapi saya tidak menemukan kata yang lebih halus dari itu.

Setelah memendam hampir 4 tahun, saya baru bisa leluasa mengungkapkannya hari ini. Bahwa kemenangan sekolah yang tergambar dalam banner itu, yang saya terima piagamnya itu, bahkan sekolah sendiri (kala itu) tidak pernah tahu dan tidak tidak mau tahu bagaimana saya (dan tim) memperolehnya. Bagaimana perjuangannya dan bagaimana orang-orang memandangnya. Sungguh, Malhikdua tidak tahu.

Tapi begitu kemenangan digenggam, dengan PD-nya Sekolah mengumumkan pada semua orang melalui banner itu, bahwa sekolah telah juara. Bahkan, saya sendiri tidak pernah tahu siapa yang memberikan foto itu pada sekolah, siapa yang memasukkannya dalam banner, dan siapa yang mencetaknya. Ujug-ujug sudah dipajang!

Jika saja saya dimintai ijin lebih dulu atas pemajangan foto itu, sudah tentu saya lebih memilih tidak memajangnya. Tapi disaat banner itu sudah terpajang tanpa seijin saya, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Itulah mengapa saya kecewa.

Banner Malhikdua-4Lalu, apa hubungan flashback (atau lebih tepatnya curhat tidak bermutu) tadi dengan banner yang saya lihat pasca-ekspo?

Tidak ada hubungannya sama sekali, kecuali sama-sama “kecewa”.

Ya. Lagi-lagi saya kecewa dengan apa yang terpajang di banner itu. Tapi kali ini bukan hanya pada sekolah, melainkan pada pemilik foto-foto yang jelas terlihat disana.

Benar memang, sekolah membuat banner itu lantaran bangga pada siswa-siswinya yang berhasil tempus PTN favorit dan mendapat beasiswa bergengsi. Benar juga bahwa sekolah memajang itu untuk menunjukkan ‘betapa hebatnya Malhikdua’.

Dan benar juga bahwa pemilik foto-foto itu pun tidak tahu kalau sekolah memamerkannya. Setidaknya, kebenaran itu dilihat dari kacamata saya. Jika salah, maka kacamata sayalah yang harus disalahkan.

Namun disisi lain saya juga kecewa dengan para pemilik foto itu, pemilik foto yang seakan diagungkan dan dibanggakan oleh Malhikdua. Bahkan di awal saya sudah bilang kalau, saya berdecak kagum.

Mengapa saya kecewa dibalik kekaguman itu? Lantaran tak satu pun pemilik wajah di foto itu muncul saat acara ekspo berlangsung.

Tidak ada dari kampus beken, penerima beasiswa keren, atau peraih prestasi gemilen *eh (maksa banget sih) gemilang maksudnya. Tidak satu pun dari mereka yang keliatan batang hidungnya.

Jika pun ada, sepertinya hanya satu dua. Ya, hanya satu dua. Padahal foto di banner itu banyak sekali. Puluhan, bro! Kalau dirata-rata tiap tahun ada 10 saja, sudah lebih dari 30 dalam 3 tahun!

Banner Malhikdua-3Kemanakah mereka? Alumni yang dibangga-banggakan sampai nampang di banner sebesar itu, kemana mereka?

Tidak hanya dari Malhikdua, bahkan dari SMA atau sekolah lain pun, tidak tampak gairahnya untuk turut berpartisipasi dalam ekspo kemarin.

Pertanyaan terakhir: apa mata saya yang salah lihat, acaranya yang salah konsep, mereka yang memang tidak ingin hadir, atau Sekolah memang tidak mengajari bagaimana seharusnya orang-orang keren ini menjadi ‘benar-benar keren dengan berbagi’?

Siapa pun pembaca postingan ini, meski Anda bukan alumni, sudilah kiranya Anda membantu saya untuk menjawabnya. Karena sekali lagi saya harus menutup postingan dengan dengan satu kata: Wallohu’alam.

*Maaf bila ada kata yang kurang berkenan.
**Foto hasil jepretan Emfarobi, sengaja saya memintanya karena waktu acara ekspo saya lupa tidak moto.

UPDATE:
Postingan ini sempat saya unpublish setelah ada yang kurang berkenan dengan isi. Tanpa mengurangi muatan, beberapa kata saya samarkan demi menghindari kesalahan intepretasi. Masih kurang nyaman..? Lupakan Tulisan Saya, Mari Bikin Aksi lagi untuk Pesantren!

Facebook Comments

Leave a Reply

11 Comments


  1. ·

    aku selalu iri sama orang yg pinter nulis. jadi bisa semaunya ngatain apapun

    Reply
    1. damai_wardani
      ·

      hahaha, justru dengan nulis malah nggak berkata, kan tulisan nggak ada suaranya. :D #peace

      ya beginilah salah satu hikmah jadi penulis, bisa mempropaganda segala sesuatu. dan memang itu sah!
      heuhue

      tapi, satu hal yang perlu kamu catat, atau setidaknya kamu tahu ajalah, kalau di prolog tulisan ini sudah saya pertimbangkan masak2. sudah saya godog dulu dua hari sampai di-unpublish!

      so, jelas saya sama sekali tidak semaunya ya, sob. :)

      matur suwun sudah mampir..

      Reply
  2. yummy
    ·

    Begitulah… sampe sekarang aku juga masih memendam kekecewaan sama sekolah
    Toeflku 500 lbh itu emang karena aku dilesin ama sekolah apa? Aku juara 1 pidato english di jateng, di karesidenan, emang karena dibantuin sekolah? Memangnya pas aku juara 1 seprovinsi, trus minta dijemput di bumiayu aja sekolah mau apa? Memang aku dikasih reward apa dg prestasiku mengharumkan nama sekolah?
    Tapi dengan seenaknya, dengan tak berperasaannya, dipamerkanlah semua pencapaianku *dg keringatku sendiri* di brosur, di spanduk dll
    Seakan2 mereka yg membuatku bisa mencapaii semua itu, mereka yg mengantarkanku menjadi seperti itu
    What the * with malhkdua
    I dont really care anymore

    Reply
    1. damai_wardani
      ·

      heuheu, makannya ini moment yang pas buat ikutan GA-ku yuuuum, yuk berbagi ide buat pesantren, :)

      Reply
    1. damai_wardani
      ·

      ya ga papa, mbak nunu, :) makasih sudah mampir

      Reply

  3. ·

    saya alumni SMU. yang baru satu kali menginjakan kaki ke SMU itupun 5 tahun yg lalu. Satu lagi yg sekolah banggakan adalah ketika siswanya dah jadi pejabat besar. si gubernur ini dulu sekolah disini…. ato bapak kepala dinas itu sekolahnya disini.. seperti halnya SD menteng yang mana Obama pernah jadi murid disitu…

    Reply
    1. damai_wardani
      ·

      maksudnya? *mengerutkan dahi

      Reply

  4. ·

    Bingung ini komentarnya

    Kudu baca satu-satu lagi link sebelum ini.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *