Perayaan [Tangisan] Kartini

kartini2Moment 21 April selalu istimewa untuk semua wanita. Peringatan hari kelahiran R.A. Kartini menjadi kian berarti kala para wanita menyuguhkan segala jasanya, sekaligus jasa para penerusnya.

Berbagai acara seminar, workshop, teater, pentas seni, parade, karnaval, hingga festival, ramai digelar serempak dengan satu tema: wanita.

Tentu saja, acara serasa kurang lengkap tanpa kehadiran para tokoh wanita sesuai bidang yang ditekuninya.

Serasa kurang lengkap tanpa bombastis liputan di berbagai media massa, bahkan grass root journalism yang tertuang melalui blog dan sosmed pun tak luput menambah semarak.

Tak sedikit pula instansi yang “katanya” bergerak di bidang pemberdayaan wanita, berbondong-bondong mengadakan penganugerahan untuk para wanita. Ialah mereka yang “dianggap” atau mungkin lebih tepatnya “ingin dianggap dengan mengajukan diri”, sebagai manusia yang telah berjasa untuk Indonesia.

Bahkan banyak pula yang diselenggarakan oleh perorangan, dikemas dalam lomba kecil-kecilan.

Pesta Komersialisasi Kartini

Berapa dana yang dihabiskan untuk membuat sebuah acara? Berapa juta untuk menyewa gedung, menyewa soundsystem, mengundang pembicara, membayar konsumsi, mendekor ruang acara, mengundang bintang tamu, hingga menyediakan doorprize agar acara kian mengundang selera, berapa?

Belum lagi uang yang harus dikeluarkan peserta untuk membeli HTM, tiket masuk, atau apa pun namanya. Jika pun gratis, minimal peserta keluar ongkos transport dari rumah menuju tempat acara. Jika pun berbentuk lomba, tentu saja ada rupiah yang dikeluarkan sponsor untuk setiap hadiah.

Coba dikalkulasi, taruhlah satu acara menghabiskan dana 100 ribuĀ  sampai 20 juta. Dalam sehari ada 5 acara saja di 5 tempat yang berbeda, berapa uang yang terbuang untuk menyelenggarakan peringatan R.A. Kartini? Bagaimana jika ada 100 tempat di seluruh Indonesia yang mengadakan acara serupa? Silahkan Anda hitung.

Lalu, kemana uang penyelenggaraan acara itu mengalir? Ke tamu undangan, pembicara, bintang tamu, pengusaha soundsystem, pemilik gedung, pengusaha dekorasi ruangan, pengusaha snack/catering, percetakan pamflet/spanduk/baligho, pengusaha transportasi, para sponsor, media partner, dan tentu saja ke organisasi/instansi/komunitas/kelompok yang menyebut dirinya sebagai “penyelenggara acara”.

Setelah acara terselenggara, apa untungnya buat peserta? Mendapat ilmu baru dari acara workshop/seminar, mendapat “kebesaran nama” dari penganugerahan, mendapat hiburan dari parade/festival/pentas seni/teatrikal, juga mendapat instruksi secara tidak langsung untuk membuka memori tentang jasa-jasa seorang Kartini? Hanya itu?

Jadi apa efek acara itu untuk peserta? Apa sebatas heboh dalam pemberitaan media? Sebatas menuliskan liputannya dalam postingan blog? Sebatas terhibur dengan beragam suguhan rangkaian acara? Sebatas tahu kalau si A dinobatkan sebagai penerus Kartini? Sebatas mendapat penghargaan atas perannya dalam suatu bidang yang bermanfaat? Atau sebatas diingatkan akan hari lahir Kartini, diingatkan bahwa wanita sebaiknya meneruskan sepak terjang Kartini, apa sebatas itu?

Ah, sepertinya ini bukan pertanyaan terakhir. Beberapa anak tanya yang mendesak untuk disuarakan kemudian, apakah Kartini merasa bahagia dengan semua perayaan itu? Apa di alam baka sana, Kartini terharu dengan semua itu? Atau memang itu cara merayakan ulang tahun seorang pahlawan wanita yang dikenal “harum namanya”?

Ataukah, ini hanya sebuah pesta bisnis dan komersialisasi wanita yang dibalut dalam acara bertajuk “peringatan hari Kartini”?

Sayang, Kartini hari ini tidak bisa menjawab secara langsung. Namun sejarah mengatakan, Kartini tak pernah meminta dihargai, dianugerahi, apalagi diagungkan sebagai pahlawan.

Kartini semasa hidupnya hanya melakukan apa yang bisa ia lakukan untuk menyelamatkan wanita, dari kurungan budaya “laki-laki adalah segalanya”. Kartini pada jamannya mencurahkan segenap gagasan, tenaga, harta, dan karyanya demi derajat dan martabat wanita agar tidak lagi dianggap seonggok sampah busuk. Sejarah pula yang berbicara bahwa, Kartini melakukan semua itu dengan segenap ketulusan cinta. Sekali lagi, ketulusan cinta.

Manusia-manusia yang mengetahui perjuangannya pada masa itu, kemudian menjadikan Kartini sebagai pahlawan. Tapi, sekali lagi, Kartini tidak pernah memintanya.

Maka bila manusia-manusia hari ini menghabiskan ratusan juta untuk memperingati hari lahirnya, bisa jadi Kartini justru menangis. Bila hari ini wanita-wanita mengajukan diri untuk “dihargai”, “mendapat penghargaan”, atau apa pun namanya, atas jasa yang, mungkin belum ada apa-apanya dibanding mahakarya Kartini dulu, bisa jadi Kartini ngelus dada; prihatin.

Apatah lagi kebaya anggun milik Kartini kini dikenakan oleh wanita-wanita -yang mengaku- modern dengan segala modifikasinya, justru ternyata mengikis budaya asli dari tanah kelahiran Kartini. Bisa jadi Kartini tidak hanya malu, tapi juga enggan mengenakan.

Bagaimana Seharusnya?

Lalu bagaimana cara yang benar, pantas, dan seyogyanya dilakukan untuk memperingati hari Kartini? Sekali lagi, manusia bisa berkaca dari sejarah.

Kartini mendedikasikan seluruh hidupnya untuk kemaslahatan umat, khususnya kaum wanita. Maka barangkali Kartini akan tersenyum jika uang yang terkumpul guna menyelenggarakan beragam peringatan itu digunakan untuk membangun sekolah anak jalanan, membuka lapangan kerja untuk pengemis, memberikan pelatihan keahlian menjahit untuk para pengamen, atau memberi modal wirausaha untuk para Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang tergantung di negeri orang.

Jika itu terlalu muluk, mungkin cukup untuk melunasi SPP anak fakir miskin barang sebulan.

Kartini tidak pernah “meminta” dihargai apalagi disebut pahlawan. Maka barangkali Kartini akan bahagia jika menyaksikan semangat perjuangannya tetap membara -dalam jiwa setiap wanita, tanpa pernah mengharap imbalan. Wanita tetap berbagi dengan tangan kanan, tanpa tangan kiri mengetahui.

Wanita tetap berkarya setulus hati, meski tidak pernah dipuji. Wanita tetap belajar dalam segala hal, sekalipun tidak mampu mengenyam bangku perguruan tinggi. Wanita tetap menjadi ibu yang baik, istri yang baik, tetangga yang baik, meski tak semua orang mengetahui.

Kartini memberi bukti betapa tangguhnya, kuatnya, hebatnya, cerdasnya seorang wanita, tanpa menghilangkan kodratnya. Kartini juga memberi bukti betapa cantiknya, anggunnya, lembutnya, wibawanya seorang wanita, tanpa menjadikan itu sebagai kelemahannya.

Sekarang, masihkah wanita bertanya bagaimana cara merayakan hari lahir Kartini? Barangkali, Kartini justru gembira jika hari jadinya diperingati dengan cara memberi manfaat untuk orang lain, semampunya, setulusnya. Dan, bila manusia mengaku cinta serta ingin menghargai jasa Kartini, mungkin bisikan doa dari dasar hati justru membuat Kartini lebih bahagia.***

Dedicated for my supermom 57th birtday’s on 21 April 2014. So sorry, your daughter just could wishper from the deep heart. Hopefully all the best for you, Mom.

2 thoughts on “Perayaan [Tangisan] Kartini

  1. Yusuf R says:

    sekarang sudah tanggal 22. uda lewat. momentnya jadi hilang.
    orang-orangpun sudah melupakan sosok kartini. kembali ke kehidupan seperti biasanya.

    ya, seperti ini lah kita. seperti dalam tulisanmu. hanya bisa merayakan, tanpa mau untuk meneladani.

    • damai_wardani says:

      sengaja ditulis setelah moment usai memang, sebatas ingin tahu apa efek hiruk pikuk kemeriahan di moment itu. ternyata tidak ada, bahkan meski baru berjeda 1 hari saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *