Pengumuman Final Giveaway “Berbagi Ide untuk Pesantren”

Saat kita memutuskan untuk berjalan, mungkin akan terjadi beberapa hal yang tidak diingankan. Seperti kata pecinta kuliner, “Kita tidak akan membuat telur dadar tanpa memecah telurnya”. Wajar kiranya jika timbul konflik yang tidak terduga, wajar pula seandainya ada yang terluka karena konflik tersebut. Layaknya terjatuh di jalan, luka akan sembuh setelah diobati; tinggalah bekas-bekasnya.

Bekas itu menjadi tanda mata seumur hidup. Bila suatu saat timbul hasrat yang sangat kuat untuk kembali ke masa lalu, atau masa lalu berulang tanpa kita minta -barangkali untuk mengajarkan kembali sesuatu yang belum kita pahami; maka kita tinggal melihat bekas itu lagi. Kata Paulo Coelho, bekas luka itu ditinggalkan oleh belenggu dan akan mengingatkan kita pada kengerian, karenanya kita pun akan terus berjalan lurus ke depan.

Dan, penyelenggaraan Trilogi Giveaway ini memberi saya banyak sekali bekas. Barangkali lantaran sejak awal sudah saya sampaikan, “Saya tidak punya modal sepeser pun untuk menyelenggarakan giveaway ini.” Tapi saya percaya tidak ada hal yang dimulai dengan kesempurnaan, pun tidak ada yang bisa memastikan sesuatu telah dipersiapkan dengan sempurna sebelum dimulai.

Pernyataan ini bukan berarti saya membela diri akan ketidaksiapan penyelenggaraan giveaway ini. Bukan berarti saya sepenuhnya tidak bersalah akan segala kekurangan dalam hasil giveaway ini. Hanya saja, saya teringat Pablo Picasso, “Tuhan juga seorang seniman. Dia menciptakan jerapah, gajah, dan semut. Dia tidak pernah mencoba mengikuti suatu gaya tertentu. Dia sekadar menuruti dorongan hatinya.”

Dorongan hati itulah yang kemudian menjelma dalam bentuk “nekad”, dan menjadi modal utama saya -yang agaknya tidak bisa dibeli dengan uang sebanyak apa pun.

Perjalanan Trilogi Giveaway “Action for Pesantren”

Telah saya sampaikan pula, Trilogi Giveaway ini muncul karena dorongan emosional -untuk tidak menyebut kekecewaan, atas penyelenggaraan Ekspo Kampus di sebuah pesantren. Ungkapan hati saya yang menyoroti “ke-luar-biasa-an” peran alumni sebagai motor kegiatan tersebut, seketika dipatahkan oleh mereka yang tidak sejalan. Apa daya, fakta di lapangan yang saya kemukakan itu dianggap “merugikan” mereka.

Jadilah langkah inisiatif dadakan itu muncul: Trilogi Giveaway “Action for Pesantren”, berjargon “Lupakan tulisan saya, mari bikin aksi lagi untuk pesantren.”

Gagasan awal hanya mencetuskan satu giveaway, sengaja mengangkat tema “Ide untuk Pesantren” lantaran beberapa pertimbangan. Terutama untuk mengetahui berapa banyak pecinta pesantren (baik pihak pesantren, santri, alumni, maupun simpatisan) yang mau “menyalakan lilin” dalam kegelapan; atau justru hanya merutukinya.

Namun rasa berat atas gagasan ini membuat saya berpikir ulang dan menghasilkan giveaway lanjutan. Dengan mempertahankan satu tema sentral -pesantren-, giveaway 2 dan 3 diturunkan tingkat kesulitannya. Meski hanya berhasil menjaring 42 peserta dari keseluruhan giveaway, saya jadi tahu kalau ada peserta “menyalakan lilin” dengan hati diantara sekian peserta yang hanya mengejar materi.

statussantriBahkan saya dikagetkan dengan jumlah mayoritas peserta yang tidak berasal dari pesantren (55%), padahal jelas-jelas giveaway ini mengangkat topik yang semuanya berhubungan dengan pesantren. Apa gerangan yang membuat para santri dan alumni hanya terbilang 13 orang dari keseluruhan peserta? Apa yang salah dengan pencarian wujud kepedulian mereka lewat giveaway ini? Atau jangan-jangan saking zuhudnya manusia-manusia pesantren itu, hingga enggan menunjukkan betapa mereka cinta pada pesantrennya? Entahlah, saya masih bertanya-tanya.

usiaKeheranan saya berlanjut saat melihat tabel kelompok usia. Dominasi warna orange menunjukkan 11 orang berusia 21-25 yang berarti usia produktif, usia kreatif, usia yang sangat menggelora untuk bereksperimen dengan kedewasaan. Tapi agaknya itu tidak berlaku untuk giveaway 1. Terbukti saya justru harus berdebat panjang dengan sponsor (yang juga juri tahap 2), lantaran tidak ada satu pun ide yang bisa dinobatkan sebagai pemenang. Sponsor (lho ya, bukan saya) geleng-geleng kepala, bagaimana bisa ide-ide itu jauh sekali dari ekspektasinya.

Tidak apa-apa. Toh 9 donatur tetap mengapresiasi semua peserta, terutama pada para pemenang. Sebutlah Aida, Irowati, dan Sinna Saidah yang menjadi juara 1, 2, dan 3 dalam giveaway 2. Juga selamat kepada Hariyanto, Jiah, Abdur Rosyid, dan Shofiulloh sebagai jawara giveaway 3. Meski hanya bingkisan kecil berupa total 9 buku, 7 pin, dan 6 domain serta hosting, semoga para pemenang melihat seberkas cinta dari donatur yang memberikannya.
—-

Pemenang Giveaway 1 “Ide untuk Pesantren”

Sekarang tibalah saatnya saya umumkan hasil giveaway 1. Giveaway paling rumit, paling menyita energi, sekaligus paling menggemaskan. Giveaway ini juga yang paling kontroversial. Paling banyak dikritik dan dihujam. Meski di mata saya justru terkira sebaliknya: paling diperhatikan.

Memang, giveaway yang hanya diikuti oleh 17 peserta ini tidak bisa dikatakan sukses. Bahkan terkesan amburadul. Seleksi tahap 1 harusnya terpilih 13 ide dikerucutkan menjadi 7 ide. Ternyata pada tahap 2 hanya ada 4 peserta yang hadir dan semuanya tidak berhasil memikat hati juri. Apa mau dikata, inilah seni mencoba. Rupanya warna semangka itu kuning bukan merah, setelah semangkanya terbelah. Jadi wajar saja kalau saya baru tahu hanya ada 4 peserta yang hadir setelah tahap 2 mencapai deadline.

Whatever, giveaway ini sudah mencapai batas akhir dan pengumuman pemenang harus tetap dilakukan. Maka berdasar hasil kesepatan dengan pihak peserta (yang memilih opsi “giveaway ditutup tanpa pemenang tunggal dan hadiah diberikan kepada 4 peserta dengan nilai dibawah hadiah utama) maupun sponsor (yang berhak menentukan siapa mendapat apa), inilah pemenang giveaway 1 “Ide untuk Pesantren”:

Fiu

fiuBerhak mendapat:
Buku “Rezeki Rumah Miring” karya Ust. Bobby Herwibowo
Buku “Gadis Kecilku” karya Syaihul Hady
Buku “Kumpulan Do’a dan Dzikir” karya Chamimah M.
Uang tunai senilai Rp 100.000 (bisa ditransfer, ditukar dengan domain+hosting, atau dibelikan benda nyata khas kota Bandung -sesuai permintaan pemenang)
Pin berlogo Trilogi Giveaway “Action for Pesantren”

Abdul Rosyid

HM Zwan dan AbdurBerhak mendapat:
Buku “Blog Mini Penghasilan Maksimal” karya Abdul Cholik
Buku “Gadis Kecilku” karya Syaihul Hady
Uang tunai senilai Rp 100.000 (bisa ditransfer, ditukar dengan domain+hosting, atau dibelikan benda nyata khas kota Bandung -sesuai permintaan pemenang)
Pin berlogo Trilogi Giveaway “Action for Pesantren”

Ridwan

ridwanBerhak mendapat:
Buku “Gadis Kecilku” karya Syaihul Hady
Buku “Kmpulan Do’a dan Dzikir” karya Chamimah M.
Uang tunai senilai Rp 100.000 (bisa ditransfer, ditukar dengan domain+hosting, atau dibelikan benda nyata khas kota Bandung -sesuai permintaan pemenang)
Pin berlogo Trilogi Giveaway “Action for Pesantren”

HM Zwan

BeHM Zwan dan Abdurrhak mendapat:
Buku “Blog Mini Penghasilan Maksimal” karya Abdul Cholik
Buku “Gadis Kecilku” karya Syaihul Hady
Uang tunai senilai Rp 100.000 (bisa ditransfer, ditukar dengan domain+hosting, atau dibelikan benda nyata khas kota Bandung -sesuai permintaan pemenang)
Pin berlogo Trilogi Giveaway “Action for Pesantren”

Sponsor memutuskan Fiu mendapat nilai plus karena ide Fiu dianggap paling bisa diterapkan dan bisa diadopsi oleh banyak pesantren.
—-

Akhirnya.. Selesai sudah perhelatan Trilogi Giveaway “Action for Pesantren” yang dimulai sejak 13 Maret hingga 31 Mei 2014 ini. Terima kasih yang sebesar-besarnya saya ucapkan pada donatur, sponsor, juri, peserta, publisher, dan semua pihak yang telah membantu terselenggaranya giveaway ini. Mohon maaf yang sedalam-dalamnya atas segala kekurangan baik dari sisi penyelenggara maupun hadiah yang tidak seberapa.

Besar harapan saya, langkah ini bukan akhir dari wujud cinta santri, alumni, dan simpatisan pesantren untuk terus berbagi. Walau bagaimana pun, pesantren adalah keunikan dunia pendidikan -yang bila santri dan alumninya tidak mau menjaga, siapa lagi?. Maka mari bergandeng tangan dan bikin aksi lagi untuk pesantren.

The last of all, selamat untuk semua peserta dan pemenang. Selamat atas nyalanya lilin dalam kegelapan.

Salam pesantren, salam damai.

Note: Note: Semua pemenang giveaway 1 silahkan mengirim alamat lengkap, nomor telepon, dan nomor rekening (bila memilih uang ditransfer) ke email damai@wardani.info

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *