#KKM210 Malam Keempat (1)

Iya, iya. Aku tahu kamu sudah tidak sabar mendengar kelanjutan cerita di malam ketiga. Baik, akan kuselesaikan sekarang.

Setelah solat maghrib berjamaah, mereka dipanggil oleh ketua RW 03 dan DKM setempat. Basa-basi awalnya. Mereka juga sama sekali tak menyangka akan makan buah simalakama. Hingga tiba pada pertanyaan, “Kenapa cewek cowok tinggal serumah?”. Ketua kelompok belum sempat menjelaskan, pak RW sudah membantai dengan berbagai dalil layaknya pejuang salah satu ormas saat menggrebek diskotik.

Apa yang terjadi selanjutnya? Persis yang kusebut di malam ketiga, semua anggota wanita pindah malam itu juga. Ke rumah ibunya pak Lurah. Sekira 10 rumah ke arah bawah dari rumah pak RT. Meski pak Lurah sudah berusaha menenangkan, “Bapak mah percaya ke kalian. Bapak juga pernah jadi mahasiswa dan tahu persis kalau banyak masalah yang butuh penangan cepat. Tinggal serumah memudahkan kalian untuk bermusyawarah.”, sayangnya tak mengubah keadaan.

Satu yang ingin kutanyakan jika saja malam itu aku ada di antara mereka: apakah memang begitu cara “nya” menyelesaikan masalah? Terlebih kami ini tamu. Main marah dan bantai dengan berbagai dalil, diucapkan dengan nada DO pula!

Padahal dia sendiri belum melihat bagaimana keadaan rumah yang kami tempati, di sisi mana kamar wanita, di sisi mana para lelaki tidur, wanita lepas jilbab atau tidak selama di dalam rumah, dan bagaimana cara kami menjaga -bukan hanya kehormatan- satu sama lain, tapi juga nama baik kampus yang kami bawa. Dia, sama sekali tidak bertanya dan tidak peduli dengan itu semua.

Tapi, toh, apalah bisa kuperbuat. Aku hanya anggota. Hanya pendatang. Hanya tamu. Hanya numpang. Layaknya orang yang menumpang, pasti kudu sendiko dhawuh sama yang punya kawasan. Pepatah bilang, “di mana bumi
dipijak, di situ langit dijunjung”.

Terlebih ini baru permulaan. Program bahkan belum dicanangkan. Kami pun belum berkenalan dengan semua warga di Budiasih. Maka mau tak mau, suka tidak suka, kami harus ikhlas untuk dipindah agar tidak lagi serumah dengan anggota laki-laki.

Meski memang kami akui, semangat tempur mendadak melempem. Seperti balon udara yang keluar gasnya.

Kabar bagusnya, rumah baru yang ditempati anggota wanita ternyata lebih bagus dari rumah pak RT. Bukan bermaksud merendahkan rumah pak RT, paling tidak, aku bisa tidur nyaman di atas ranjang. Air juga jernih terus, beda sekali sama rumah pak RT yang sering macet airnya. Apalagi kalau musim hujan, air berubah jadi kopi susu, malah sering tidak ngalir sama sekali.

Ah, ya, sudahlah. Maaf aku jadi bawa-bawa bendera aliran, karena memang mayoritas di sini pengikut aliran itu. Overall, itu saja yang bisa kuceritakan dari tragedi malam ketiga.

Masih sudi mendengar ceritaku? Jika lelah, katakan saja. Aku bisa diam untuk sementara. Katakan kapan kau merasa siap untuk kujlentrehkan lagi partikel-partikel liku KKM ini, saat itulah aku akan kembali bercerita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *