#KKM210 Malam Keempat (3)

Masih tentang Lokakarya. Belum tuntas aku cerita. Rasanya kok ada yang tompel kalau tak kuselesaikan.

Program kedua, kami ingin menyentuh perbalongan yang belum dimaksimalkan di desa ini. Bahasa kerennya memang perikanan. Kalau kamu main ke sini, dari gapura paling depan sampai kawasan Cihideung 2, kamu bakal lihat kolam ikan alias balong hampir di tiap rumah. Memanfaatkan sumber air dari Cihideung 2 yang mengalir sampai Cihideung 1, balong tidaklah susah dikelola.

Berbeda dengan dusun Wanasari yang lokasinya di pegunungan. Konon balong-balong di sana hanya bertahan 3 bulan. Setelah itu? Habis airnya. Potensi dusun Cihideung 1 dan 2, sayangnya, baru dimanfaatkan sekadar untuk konsumsi sendiri. Karenanya kami ingin membantu mengembangkan balong-balong itu menjadi lahan produksi yang menghasilkan. Tentu lewat perantara: instansi yang berkaitan dengan dunia perbalongan (baca: perikanan).

Diluar dugaan, Kades malah mengalihkan topik program ke Budiasih Ca’ang. Sedang pak Kadus, Cihideung 2 kalau aku tak salah mencatat, justru meminta lebih dari sekadar bimbingan pembuatan kolam produksi. Ia ingin, “Deplot saja sekalian, itung-itung kenang-kenangan KKM kalian di Budiasih”. Ditanggapi lagi oleh warga lain, deplot yang
dibutuhkan terutama mesin pembuatan pakan ikan. Selain harga pakan ikan yang mahal sekali (bagi mereka), Budiasih punya sumber daya yang bisa dimanfaatkan untuk pakan ikan.

Bahkan dari mesin pelet itu, merambah usulan ke mesin pengolah singkong menjadi tepung. Budiasih memang kaya akan hasil pertanian. Selain padi, bayam, kangkung, tomat, cabai, dan sayur-mayur lainnya, singkong juga menjadi primadona. Tapi setelah ku-search, kamu tahu berapa harga mesinnya? 4-5 juta rupiah! Duit dari mana?
Sebar proposal sebulan saja cuma dapat berapa? Fiuuuh..

Oya, aku tadi nyebut Budiasih Ca’ang. Itu program unggulannya pak Kades, sebenarnya. Ca’ang artinya terang, bahasa Sunda. Terang bukan hanya jalanan di desa Budiasih, tapi juga terang pikiran, hati, spiritual, dan terang-terang lainnya yang menandakan kemajuan. Bisik-bisik pak Kadus sih, “Itu mah sisi bisnisnya pak Kades saja.”
Nah, lho..

Semakin siang semakin menarik. Apalagi saat kutanya ke pak Kades di forum Lokakarya, berapa biaya untuk 1 titik penerang jalan? Jawabnya sekitar 2.250.000, suara mahasiswa langsung membahana meski nadanya berkasak-kusuk.

Tapi tenang, ada satu program yang disetujui tanpa dibantah sama sekali. Lintas Alam. Kami akan mengajak seluruh masyarakat berpartisipasi untuk jalan sehat sekaligus mendapat hiburan di tiap posko yang dilewati dalam rute Lintas Alam. Sudah kusinggung di depan kan, desa ini punya dusun Wanasari yang posisinya di kaki gunung. Kami juga berencana menyiapkan berbagai doorprize untuk memeriahkan acara.

Sementara program per kelompok, semuanya berputar di tiga ranah: pendidikan, kerohanian, dan sosial kemasyarakatan. Pendidikan jelas bekerjasama dengan sekolah-sekolah. Cihideung 1, kelompokku, kebagian
1 SD dan 1 MTS. Tugas kami mengajar dan membantu persiapan lomba tahunan di sana.

Kerohanian, bergabung dengan berbagai pengajian ibu-ibu, bapak-bapak, dan anak-anak. Ada banyak masjid di sini. Tiap malam kami rolling sesuai jadwal. Sedangkan sosial, kami membuat program Jumsih (Jumat Bersih), kerja bakti tiap Jumat pagi, memungut sampah di sepanjang jalan kenangan (jalan desa Budiasih, maksudnya), dan
sekolah-sekolah. Juga memisahkan sampah kering untuk diolah menjadi sesusatu yang bermanfaat.

Terus, gimana kesimpulan Lokakaryanya? Sabar dong. Ada rapat evaluasi setelah kami pulang dari balai desa. Dan, sudah ada ide-ide cemerlang pengganti program-program yang ribet tadi. Bukan pengganti lebih tepatnya, masih satu bendera dengan kata “Budiasih Ca’ang”. Hanya saja, kami berusaha menyederhanakannya. Selain pertimbangan biaya, kami juga ingin menyadarkan Kades bahwa, “Kami mahasiswa KKM, bukan donatur ulung”.

Leave a Comment.