#KKM210 Malam Kelima

Yeay! Malam kelima! Rasanya lama sekali menghitung hari. Biasanya di Bandung aku selalu merasa waktu terlalu cepat berputar. Apalagi kalau lagi menghabiskan hari untuk melahap film 20 episode untuk 1 judul, 24 jam itu sangat kurang.

Tapi di sini, sehari bisa melakukan hampir semua hal: mandi, nyuci, masak, makan, bebersih rumah, observasi lingkungan, sosialisasi program, rapat desa, rapat kelompok, nonton tivi, nonton film, baca buku, tidur siang, bercanda sama kawan, jajan, sampai tidur malam saja di mulai jam 9, saking bigungnya mau ngapain lagi.

Ya, sudah. Kuputuskan untuk bercinta saja denganmu. Upz.

Ngomong-ngomong soal sosialisasi program, hari ini aku bersama 4 kawan bertugas ke MTs. Madrasah Tsanawiyah Nurul Fikri. Sekolah berbasis agama selevel SMP. Awalnya berniat observasi, bagaimana sistem pembelajaran di sana dan apa yang bisa kami lakukan untuk sekolah itu. Sekalian sosialisasi program bimbel (bimbingan belajar) yang akan kami buka di Posko 210 setiap hari. Tentu semua mata pelajaran. Waktunya setelah pulang sekolah, jam 14-17.

Namun di luar prediksi, pihak sekolah justru meminta kami mengajar saja di sekolah. Sesuai kemampuan. Satu orang satu mata pelajaran. Pegang kelas 7 dan 8, karena kelas 9 sudah masuk kelas intensif persiapan UN jadi tidak bisa dialihkan ke kami. Meski itu belum fix. Bukan keputusan final. Esok kami diminta datang lagi setelah ada
konfirmasi dan ijin dari Kepala Sekolah.

Beres dari MTs, kami berjalan lurus ke lebak (bawah) menuju rumah tukang rongsok. Lebih kerennya, pengepul sampah kering. Lumayan bikin kaki lecet. Apalagi aku pakai sepatu yang kurang cocok untuk berjalan di kemiringan: turun maupun naik.

Kau bisa lihat saat beberapa kali aku menepi dan membuka sepatu, jemari kaki membengkak dan lebam kehitaman. Bayangkan saja, jarak dari posko (rumah tinggal kami) sampai sekolah saja sekitar 2 kilo, turun ke bawah sampai agen sampah itu nambah sekilo lagi. Matahari persis di atas kepala pula.

Lebih menyebalkan lagi saat nihil hasilnya. Tukangnya lagi sakit dan kita tidak bisa bertemu hari itu. Padahal kami siap mengumpulkan sampah kering dari setiap rumah di Budiasih, hasilnya akan dikembalikan ke warga dalam bentuk barang layak pakai. Apa boleh buat. “Besok ke sini lagi aja, Neng.” kata teteh yang kebetulan sedang mampir ke rumah itu.

Di sepanjang perjalanan pulang, kawan-kawan asik berfoto seolah ini kawasan desa wisata. Geli (untuk tidak menyebut malu) aku lihatnya. Begitu ku tengok kiri di area persawahan, kakiku berjalan sendiri menghampiri seorang petani yang sedang beristirahat di galengan. KuperhatikanĀ  sembari berjalan sekira 20 kaki dari jalan raya, ia begitu menikmati tenggakan air teh di botol hijau. Botol yang sisi luarnya dihiasi lumpur kering.

Punten, Pak, nuju naon ieu teh?”, sapaku sambil mengambil posisi duduk di samping si bapak.

Ah, nuju istirahat weh, Neng. Ai neng ti mana?”, jawabnya malu-malu.

Perbincangan mengalir bak sungai yang terbuka bendungnya. Ternyata bapak (aku lupa bertanya siapa namanya) sedang menggarap 13 bidang tanah berukuran sekira @2×10 meter untuk ditanami bayam. Duh, aku juga lupa nama jenisnya, yang jelas bayam ini hanya untuk sekali panen. Tidak bisa dipetik berkali-kali seperti bayam putih.

Masing-masing bidang berjarak sekira 30 sentimeter. Setelah tanah dicangkul dan didiamkan sejenak, bibit bayam disebar di atas permukaan bidang. Untuk sejumlah lahan itu dibutuhkan sekitar 3 kantong bibit. Satu kantong dibeli seharga 80 ribu rupiah.

Tak perlu repot-repot menyiram lahan karena di desa ini hujan turun saban hari, selepas dzuhur sampai maghrib menjelang. Selang satu minggu, bapak kembali ke sawah untuk memupuk bibit yang mulai berakar. Pupuk kandang, lho, ya, bukan pupuk kimia. Diambil dari kandang ayam. Gratis, dong? No! Pupuk kandang juga beli. Tujuh ribu per kantongnya.

Paling tidak, 13 bidang ini butuh sekitar 10 kantong pupuk. Jangan memicingkan mata begitu. Pupuk kandang ini tidak semenjijikkan yang kamu bayangkan. Selain baunya tidak menyengat, kotoran ayam sudah dicampur dengan “merang” alias kulit padi terluar. Biasanya diambil dari tempat penggilingan padi.

“Nanti dipupuk lagi kalau bayam sudah tumbuh setinggi 10-15 senti. Pakai pupuk urea (berbahan kimia)”, lanjut si bapak.

Bayam ini dapat dipanen dalam sebulan. Sistem penjualannya, kalau tak mau ribet membawa sendiri ke pasar, banyak penjual yang bersedia memborong. Biasanya per 50 tombak (setara 13 bidang) dihargai 3 hingga 5 juta rupiah, bergantung kualitas bayam. Sayangnya itu bukan laba bersih. Masih harus dikurangi, selain biaya yang sudah disebut sebelumnya, juga ada upah buruh taninya.

“Sehari 35 ribu upahnya,” kata bapak. Ditambah makan siang, kira-kira totalnya 50 ribu. Pengerjaan total untuk 13 bidang membutuhkan waktu sekira 7 hari.

Jadi, bisa dikira-kira dalam sebulan pemilik tanah bisa mengantongi 2 juta rupiah jika pemborong membayar 3 juta. Sedang buruh tani seperti bapak yang lelahnya minta ampun dari mengolah tanah pra tanam sampai panen, hanya mendapat upah sekira 350 ribu rupiah.

Dan, saat ditanya: tanah ini milik siapa? Pak Lurah, jawabnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *