Nizar: Link, itu yang Terpenting!

Instrumen yang dibawakan oleh seorang pianis di Star Lobby Lounge seakan mengiringi Nizar berkisah. Mengalahkan derasnya hujan yang sempat mengguyur kawasan JL. MT. Haryono No. 972 Semarang, sore itu. “It’s not about how much money we get, but the relation we make.” tutur anggota keluarga Malhikdua Network (M2Net) itu penuh keyakinan.

Tamu hotel tampak ramai keluar masuk lobi, pun pelayan tak henti tersenyum meski entah dari jam berapa mereka bekerja. Tapi suasana peak session ini, Rabu (30/12/2015), tak mengganggu konsentrasi pemilik nama lengkap Afif Alfia Nizar selama bercerita. Meja pojok Lounge di Star Hotel Semarang mejadi saksi kisah bagaimana ia menempuh karir sambil kuliah, dan berdiaspora.

“Sebenernya.. kalau dipikir-pikir.. menurutku, semua yang aku dapat sekarang ini bermula dari meminjami laptop.” kata mahasiswa semester 7 Universitas Negeri Semarang, membuka cerita. Mata menatap ke depan dan menyatukan kedua telapak tangan, seolah menyibak masa lalu. Masa ketika dia baru mencicipi bangku kuliah.

Meski sedikit was-was, kenangnya, apalagi laptop itu baru saja didapat, dengan berat hati ia tetap meminjamkan pada salah seorang kakak kelas tanpa keterangan apa pun. Sempat bertukar nomor hp memang, untuk janjian waktu dan tempat pengembalian. “Tapi ya namanya laptop baru, dipinjam sama orang baru kenal..” rona wajah pemuda kelahiran Brebes ini menyiratkan kecemasan.

Beruntung, sore harinya laptop itu benar-benar kembali ke tangan Nizar. Saat itu pula dia mendapat penjelasan, laptop dipinjam untuk menyelesaikan website seminar internasional. Kejar tayang. Tak disangka, senior itu justru mengajaknya bergabung dalam kepanitiaan seminar dan mengelola websitenya. Tentu saja, bekal web developing dan desain yang pernah Nizar dapat dari M2Net mendorongnya untuk menerima tawaran.

Dari sanalah pemuda yang bercita-cita menjadi English Lecturer itu dikenalkan pada banyak dosen dan mendapat link-link pekerjaan. “Mungkin saat aku dipinjami laptop itu lagi diuji” terka Nizar. Kepercayaan dan keihklasannya telah membayar kecemasan, bahkan memberi relasi yang disyukuri berkahnya. Hingga kini ia berhasil mengantongi sekira total 10 juta rupiah dari web developing saja.

Sempat pecinta Manga ini agak putus asa. Di awal, banyak pekerjaan yang ia lakukan secara cuma-cuma. Fee tak seberapa, sementara waktu, tenaga, dan pikiran, tersita sekali. Namun salah satu dosennya membangkitkan semangat dan mengingatkan -yang kini ia jadikan motto hidup, “Bukan berapa banyak uang yang kita dapat, tapi relasi yang kita bangun.”. Link itu yang terpenting, tegasnya.

Benar saja. Fee pertama sebesar 50 ribu 3 tahun lalu untuk web developing itu telah menelurkan sederet pekerjaan lain: computer service, private teacher, translator. Bahkan ia dipercaya menjadi asisten beberapa dosen, meski tak ber-SK. Membantu penelitian biasa sampai thesis dosen juga pernah. Saking jelinya, dia sering beli gadget bekas dosen-dosennya dan dijual via online.

Satu yang menurutnya tak pernah terpikir. Ialah menjadi penjaga Taman PAUD Aisyiyah 1, Jl. Menoreh Selatan No. 26, Sampangan, dan gratis tinggal di sana beserta akses semua fasilitasnya. “Tugasnya bebersih dan merawat semua area PAUD. Tapi karena berdekatan sama mushola, ya sekalian saja.” terangnya. Mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris ini mengaku tidak canggung harus memegang sapu dan lap pel. Seringkali malah disebut tukang kebun.

Justru Nizar merasa sangat beruntung lantaran tempat itu menjadi sumber rejeki. “Saya juga diijinkan memakai kelas-kelas PAUD setelah KBM selesai untuk membuka les-lesan” katanya, itu akan dimulai pada 2016. Sejumlah 10-15 siswa dari beragam jenjang pendidikan memang dirasa membuat Nizar kewalahan jika harus les privat dengan jarak yang tak dekat. Meski ia bisa memasang tarif minimal 50 ribu per jam, tapi padatnya rutinitas memaksanya mencari solusi lain.

Terlebih, “Mereka nggak mau kalau guru lesnya diganti. Maunya sama saya.” keluh Nizar. Pernah ia harus kembali ke semarang ketika sedang berlibur di kampung halaman, gegara salah satu siswa lesnya tidak mau belajar kalau Nizar tidak datang. Padahal statusnya kala itu hanya sebagai tutor yang bekerja di bawah lembaga kursus. Bahkan orang tua siswa itu sampai memutus ikatan dengan lembaga kursus agar fee seutuhnya diterima Nizar.

“Saya juga heran kenapa bisa begitu..” renungnya. Mungkin karena mahasiswa yang aktif di berbagai komunitas ini menggunakan metode ‘menteroikan praktik’, pikirnya kemudian. Jika kebanyakan guru mengajar hanya menyampaikan teori di buku panduan, Nizar sebaliknya. Dia mengajak siswanya mempraktikkan sesuatu, hingga siswa menemukan sendiri apa teori dari materi yang dipelajari berdasar praktik tadi.

Seringkali ia juga menyelipkan humor dalam mengajar. Tentu saja candaannya tak jauh dari materi yang tengah diajarkan. Menurutnya, siswa akan lebih mudah menerima materi jika suasana belajarnya menyenangkan. Agaknya, kemampuan membangun hubungan harmoni ini pula yang membuat Nizar disenangi warga di sekitar tempat tinggalnya. Tak jarang mereka bergantian mengirim makanan untuk Nizar dan seorang kawan yang menemaninya di sana.

Saat ditanya penghasilan dari semua pekerjaannya sekarang, malu-malu ia menghitung “Sekitar 600 ribu sampai 1 juta per bulan”. Aktivis English Students Association ini bahkan bisa menyisihkan sebagian untuk orang tua. Sebagian lagi ia tabung untuk bekal temu kangen dengan kekasih nun jauh di kota kembang, Bandung. Katanya, kunjungan wajib minimal saat libur semester, 6 bulan sekali.

“Kalau sunahnya ya.. semampunya. Kadang bisa tiap dua bulan kalau mau berburu tiket promo, hehe..” kelakarnya. Di mata pecinta warna hitam dan biru ini, diaspora percintaan bukan masalah besar. LDR selama 3,5 tahun memang tak terelakkan dari pertengkaran. Tapi yang paling penting baginya, “..sama-sama nyaman”. Ia pun sangat berharap asmaranya bisa bermuara ke pelaminan. ***

Reportase ini dibuat dalam rangka merayakan program #1hari1post di #RamadhanMalhikdua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *