Di Desa Ini Hampir Tiada Hari Tanpa Mati Listrik, Kemana PLN?

Beberapa bulan terakhir, ibu saya yang tinggal di dusun Purwadadi, desa Cisumur, kecamatan Gandrungmangu, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah, sering cerita soal mati listrik. Sayangnya saya (yang kala itu berdomisili di kota lain) selalu berpikir positif dan bilang: mungkin sedang ada pemadaman bergilir, bu.

Setelah 10 hari ini mudik, barulah saya mengalami sendiri kalau di desa ini benar-benar hampir tiada hari tanpa mati listrik. Yang paling menyedihkan, kondisi itu tak pernah pandang waktu. Sedang sahur, buka puasa, tengah hari, maupun sore, listrik mati tanpa aba-aba. Berjam-jam. Lalu menjadi puluhan jam ketika weekend tiba. Saat saya menulis ini, listrik sudah mati sejak jam 4 pagi, baru nyala sekitar jam 15 sore, dan kembali mati sekitar jam 18.30 malam, persis ketika semua orang sedang berbuka puasa.

Saking seringnya mati listrik, orang-orang di desa ini sampai bergumam, “Mati lampu kok dadi penggawean” (mati lampu kok jadi pekerjaan). Apakah karena orang desa tidak pernah protes? Atau karena PLN merasa tak pernah diprotes makannya “tenang-tenang saja”, mau mati sehari 10 jam pun tak masalah?

Meski saya (juga warga desa) tak tahu apa-apa, benar-benar awam terkait listrik, bahkan tarif selalu melonjak beberapa bulan terakhir dan terus terang “mencekik” orang desa, tapi mati listrik puluhan jam seharian dan hampir setiap hari terjadi itu bukan hal wajar. Jika ada kendala yang belum terselesaikan, kiranya akan lebih bijak jika orang desa diberi tahu, dikasih penyuluhan, agar kami tidak “suudzon”, merasa dirugikan, dan hanya bisa merutuki PLN.

Saya sangat menanti pertanggungjawaban PLN untuk mengatasi permasalahan ini. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *