Cinta [Sejati] Tak Pernah Salah Jatuh

Source: Here

Hai, kau masih betah beralama-lama melamun?”

Ah, Kau! Lama tak melihatmu. Apa kabar, Kau?”

“Kurang baik. Aku sedang ditugaskan untuk berhembus lebih kencang dari biasanya, di daratan Barat sana.”

“Berhembus lebih kencang?”

Hu’um

“Di daratan Barat?”

E’um

“Lalu kenapa Kau kemari?”

Hahaha… Pertanyaan bodoh itu masih saja kudengar. Aku merindukanmu. Aku rindu hembusanmu yang lembut dan tak pernah melukai makhluk lain.” Continue reading

Ruang Kosong

Bahkan lemahnya badan yang terkulai di pembaringan pun, justru menyadarkanku untuk menikmati kebahagiaan. Kesempatan ini sejatinya bukan pertama, malah aku sendiri tak mampu menghitung sudah berapa ratus kali penyakit ini tumbuh, mati, lalu tumbuh lagi.

Tapi menikmati bahagia yang tak sedikit pun ada pada sakitnya tarikan napas, baru kurasakan kali ini. Ya, ini bukan virus yang mematikan. Justru sebaliknya. Ini virus yang membahagiakan. Dan awas, virus ini bisa menular!

ruang kosongSempat kuberpikir, menghabiskan masa liburan sebulan full hanya untuk menemani ibu di rumah, adalah pilihan terbodoh yang pernah kuputuskan. Bukan berarti aku tak mau pulang, bukan juga karena aku tak senang bertemu ibu. Sungguh bukan itu.

Bahkan sejujurnya aku bahagia bisa pulang. Ini kesempatan langka. Tahun-tahun sebelumnya, aku hanya bisa pulang tiap lebaran saja. Setahun sekali. Kalau pun libur semester, paling lama seminggu atau lebih beberapa hari di rumah. Itulah kenapa moment pulang begitu berharga untukku. Continue reading

Merutuki Hujan

merutuki hujan

Source: Here

“Hujan. Huhf.. Kenapa harus turun sekarang?”, dia tak berhenti merutuki anugrah langit yang baru saja turun. Memang, kadang aku juga kesal dengan makhluk bernama hujan ini. Selain menghambat aktivitas, hujan juga pandai menyayat hati. Tapi untuk kesempatan satu ini, aku bersyukur.

Bersyukur, karena hujan ini membuatku lebih lama melihat kerlingnya. Lebih lama menatap punuk pipinya. Lebih lama menikmati tingkah lucunya. Lebih lama bergurau dan mencubitnya. Lebih lama mendengar suara imutnya. Lebih lama membersamai dia, meski tak lebih dari sekedar œabang.

Aduuh, gimana ini, bang?” Aku harus pergi sekarang, tapi rengekan macam inilah yang selalu membuatku rindu. Rindu untuk melihat dengan jelas gigi kelinci yang tersusun rapi. Kuakui dia tidak cantik. Tubuhnya juga tidak aduhai. Tapi senyumnya, beuuuuh Bikin jantung mau lepas. Suer.

Eum.. Kita tunggu saja sebentar lagi. Kalau sampai jam 5 bis belum datang, aku antar kamu pulang”, sebenarnya ini modus. Tapi, ya, mau bagaimana lagi. Continue reading

Aku Rindu

Aku rindu masa itu

Rindu tidur 2 jam sehari semalam

Rindu makan 2 kali sehari semalam

Rindu mandi sekali sehari semalam

Rindu berpacu dengan waktu

 

Aku rindu masa itu

Rindu menulis 10 lembar sehari semalam

Rindu membaca 1 juz sehari semalam

Rindu belajar 3 buku sehari semalam

Rindu berlomba dengan waktu

 

Aku rindu masa itu

Rindu dibentak

Rindu dimarahi

Rindu dihukum

Rindu digunjing

Rindu dihina

Rindu dikucilkan

Rindu bergelut dengan asa

 

Aku rindu masa itu

Rindu memandu

Rindu membina

Rindu memimpin

Rindu mengudara

Rindu bersahabat dengan duka

 

Aku rindu masa itu

Rindu karya

Rindu prestasi

Rindu berlomba dengan emosi

 

Aku rindu

Sungguh rindu masa itu

Masa 3 tahun lalu

Masa menjadi bagian dari negara atas negara

Mampukah kuputar masa itu?

For You

Bukan mencuri, Sayang

Aku tak bermaksud mencuri amarahmu

Sama sekali

Kecuali hanya sepucuk doa

Doa yang amat tipis dindingnya dengan

Hal yang Kau takuti

Hal yang Kau benci

Hal yang Kau hindari

Dan itu membuatmu terluka

Menuntutmu marah

Bahkan ketika satu huruf depannya terucap

Aku takkan membela

Hanya saja, jika boleh memohon

œBerikan aku senyum termanismu

Dari lubuk hati terdalam

Cauze I Am Here, Still Here

For You,

Always and Forever

 

*)Dunia Damae, 16/4/13