The Balinese Harmony #2

Jangan dikira aku seperti petualang yang mencangklong ransel setinggi kepala. Jangan sebut aku backpacker yang tahan berjalan puluhan kilometer. Apalagi pelancong bertubuh gempal bak jagoan yang kuat menangkis musuh, sama sekali bukan. Aku juga bukan bagian dari manusia macho yang justru terlihat keren saat menikmati bahaya.

Agaknya, aku hanya memiliki sepersekian koma sekian keberanian dari hasrat penasaran. Hasrat yang terkandung dalam mimpi konyol seorang gadis ringkih penyakitan. Ada pula yang bilang nekat, bahkan gila. Keduanya tak lain menjelma dari ‘haus perjalanan’.

Kali ini, aliran haus itu sampai ke tepian pantai: Kuta, Uluwatu, Bluepoint, Pandhawa, Nusa Dua, hingga Tanjung Benoa. Semua terkisah senja bersama The Balinese Harmony on damai.malhikdua.com. Continue reading

The Balinese Harmony #1

Antara Was-Was dan Surprize

Ketika terikhlaskan untuk batal, Tuhan justru berkehendak mewujudkan awal perjalanan. Sedikit bimbang: apakah ini ilusi dari mimpi yang terpendam 3 tahun? Atau benar bahwa adakalanya perjalanan sesuai rencana? Entahlah. Ini baru mula. Jelas belum ada konklusi yang menjelma.

Meski tetap saja, antara bahagia dan tidak percaya, di tengahnya ada segumpal keraguan. Ragu yang berujung “jangan-jangan”. Jangan-jangan.. Sekali lagi, Tuhan sedang menguji. Continue reading

First Birthday is My First Journey

Source: Here

Source: Here

Berkisah tentang first journey, sejatinya aku tak tahu kapan dimulai. Makna journey, petualangan, perjalanan, atau apa pun namanya, kerap kali merujuk pada ‘bepergian’. Mengunjungi suatu tempat yang belum pernah didatangi, mendapat pengalaman yang mengesankan di luar rumah, atau tertantang untuk menempuh kata ‘jauh’.

Semula aku pun berpikiran sama dengan Anda, terobsesi kata ‘jauh’. Journey identik dengan pengalaman menantang yang selalu memacu adrenalin untuk menaklukkan. Journey memang diksi yang pas untuk perjalanan mengalahkan jarak. Journey juga tepat untuk menggambarkan robohnya dinding ketakutan dalam petualangan.

Tapi bagiku, first journey is my first birthday; first birthday is my first journey. Ulang tahun pertama adalah petualangan pertamaku. Terdengar aneh? Bagaimana mungkin ulang tahun pertama justru menjadi pengalaman first journey?

Entahlah.
Aku hanya merasa betapa menakjubkannya dunia, ketika aku mendapat ucapan ‘selamat ulang tahun’ kali pertama. Menakjubkan karena pada usia perdana itulah, aku belajar menginjak tanah. Continue reading

Dari Street Food Hingga Pujasera

Malam belumlah larut saat langkah kecil saya menyusuri taman paling ramai di The Heroes City. Selain nafsu traveling yang memang belum terpuaskan, saya penasaran dengan street food yang berpusat di Taman Bungkul, taman paling ramai itu. Sembari melepas penat setelah bertugas di The Sister City of Singapura ini, mata terus mengamati tiap tenda yang berjajar. Tapi, hey! Tunggu! Continue reading

Kisah Perdana Garuda Naik Merpati

Hallo sobat Garuda, :)

Sedikit berbeda dari tulisan bergenre tewe biasanya, kali ini saya tidak mengupas sebuah tempat wisata atau kuliner yummy. Melainkan semua suara hati tentang pengalaman perdana saya naik pesawat. Alat transportasi termahal, terunik, terhebat, dan ter-ter lainnya, bagi saya. Barangkali pesawat sudah sangat biasa untuk sebagian orang, tapi untuk traveller macam saya yang hampir tiap perjalanan hanya bisa menikmati bus atau kereta ekonomi, itu sangat luar biasa.

Ya, beberapa bulan lalu saya berkesempatan menjumput beberapa pariwisata menggiurkan di Jawa Timur. Perjalanan Bandung-Jawa Timur tentu tidak sebentar jika dilalui transportasi darat: 17 jam menggunakan bus, 14 jam menggunakan kereta. Terasa sangat membuang waktu untuk saat itu. Jadilah saya putar otak mencari celah lain: tiket pesawat murah.

Hampir tiap hari otak-atik harga tiket termurah di beberapa website penyedia layanan informasi terkait harga tiket. Terkadang ada harga yang sesuai, tapi jadwal tidak berjodoh. Ada jadwal yang pas, ternyata harga sudah melambung. Begitulah angka-angka di kotak-kotak informasi terus berubah, setiap saat. Bisa jadi naik selangit, bisa jadi turun selaut. Faktor keberuntungan boleh jadi berperan dalam kalkulasi ini. Entah bagaimana menejemen yang sebenarnya dari pusat pembelian tiket-tiket pesawat itu. Satu hal yang pasti, saya bersyukur bisa mendapat tiket termurah saat itu: 170 ribu. Ini lebih murah dari kereta bisnis seharga 185 ribu.

Ya, Merpati. Ini dia pesawat perdana yang berjodoh dengan saya. Selain harga dan jadwal penerbangan yang sesuai, pelayanan yang diberikan juga cukup memuaskan. Meski saya harus rela berangkat jam3.30 pagi menuju bandara, karena peraturannya satu jam sebelum penerbangan (jam 5.36 pagi) semua penumpang harus sudah ada di bandara. Sedang perjalanan saya menuju bandara Husein Sastra Negara selama satu jam. Semenit saja terlambat, bisa jadi saya gagal berangkat.

Beruntung taxi yang saya pesan datang on time. Meski akhirnya sempat panik karena saya bangun agak terlambat, tapi supir taxi tancap gas dan memberi jaminan tiba di bandara sebelum jam 4.30 pagi. Huhf     berdebar ini jantung saat beberapa menit terakhir menuju pintu masuk bandara.

Begitu sampai di bandara, saya pasang senyum termanis membalas sambutan para scurity di pintu masuk. Turut mengantri untuk diperiksa keaslian tiket serta barang bawaan. Dengan wajah lusuh dan dua tas di tangan, saya berlagak sok tahu mencari loket Passenger Service Change milik Merpati. Sempat berputar-putar di area yang sama, akhirnya menyerah dan bertanya pada salah satu OB. Beruntung dia baik (atau memang baik, diwajibkan baik, atau entahlah). Lebih beruntung lagi ternyata biaya charge hanya 25 ribu. Semula saya kira bandara kaliber Internasional Husein Sastranegara ini kisaran 40 ribu.

Selesai membereskan administrasi, saya langsung menuju ruang tunggu di lantai dua. Ternyata beberapa tempat duduk sudah dipadati para calon penumpang. Logat bicara Jawa, Sunda, Sumatra, Sulawesi, bahasa Asing, juga beberapa bahasa lain yang kurang saya mengerti, bercampur jadi satu dalam satu ruang tunggu. Berbagai aktivitas pun mereka lakukan, mulai dari baca koran, main gadget, meeting, ngemil, sampai bersenda gurau dengan beberapa calon penumpang lain.

Saya putar pandangan ke sekeliling. Tinggal deretan bangku di ujung yang masih tersisa. Tak mengapa, yang penting duduk.

Huhf.. Alhamdulillah, ucap saya lirih. Lega rasanya saya tidak terlambat. Perjalanan ini benar-benar akan dimulai. Bahkan sudah dimulai sejak saya riwa-riwi hunting tiket pesawat. Semoga dimampukan menyelsaikan hingga episode terakhir.

Sembari menunggu waktu boarding, saya sempatkan mengecek email, kabar terbaru dari jejaring dan media online. Tak lupa titip absen ke komisaris mahasiswa (kosma) lantaran meninggalkan beberapa mata kuliah selama perjalanan 3 hari ke depan.

Beruntung pesawat tidak delay. Hanya 30 menit berselang, sudah ada pengumuman boarding. Artinya, perjalanan nanti akan sesuai schedule yang telah saya buat. Karena molor 30 menit saja akan membuat serangkaian jadwal lain didbelakangnya ikut terlunta-lunta.

Tampak beberapa pramugari cantik, tinggi, sexi, rapi, berjalan anggun menuju ruang tunggu. Dengan senyum termanis mereka, meski tampak sedikit dipaksakan, memandu para calon penumpang menuju awak pesawat. Antri. Saya pun ikut berbaris. Dengan dua tas menempel di badan, saya merasa paling kecil dan pendek diantara calon penumpang lain. Seketika ingatan saya terbayang antrian pembagian zakat yang selalu, selalu, dan selalu ada saja yang ricuh, berdesak-desakkan, hingga terjadi keributan dan memakan korban. Ide konyol saya, barangkali, jika yang mengatur antrian itu para pramugari cantik ini, mereka bisa tertib dan tidak saling berebut.
* Ah, dasar Damae! Sempat-sempatnya berfikir konyol disaat seperti ini. Tapi katanya, mindset travel writer memang harus begitu. :)

Seat 14D, disanalah saya duduk. Persis samping jendela. Meski sempat fobi lantaran biasanya deretan kursi tengah itu paling bahaya jika terjadi kecelakaan pesawat. Tapi saya berusaha tenang dan menikmati perjalanan.

Mata saya terus terpaku pada kaca jendela. Tak besar memang, kira-kira cukup untuk mengintip rembulan yang belum sepenuhnya tenggelam. Juga mentari yang perlahan tersenyum di balik bukit. Mentari dan bulan itu seolah saling menyapa. Barangkali jika tahu saya bahasa mereka, ini yang mereka sampaikan: bulan, silahkan istirahat. Saatnya saya bertugas, kata matahari. Lalu bulan menjawab, Ok, brad! Jaga bumi baik-baik ya..

Haha.. Lucu sekali. Mereka tak pernah mengeluh dan selalu kompak. Sepenuhnya mengabdi untuk manusia, tapi kadang manusia lupa untuk berterima kasih. Bahkan tak pernah minta maaf jika tanpa disadari pernah membuat mereka tersiksa.

Pesawat terus melaju. Sesekali miring ke kiri dan kanan, menyeimbangkan posisi. Pramugari pun terus berlalu lalang menjalankan tugas utama mereka: memperagakan pemasangan sabuk pengaman, berkeliling menjajakan souvenir pesawat, membagikan snack & minuman, dan tentu saja senantiasa tersenyum lebar saat melakukan semua itu.

Jadi teringat kisah training calon pramugari di suatu negara tetangga, lupa tepatnya. Sedikit ngeri membacanya, karena ternyata untuk melatih pramugari ini selalu tersenyum manis adalah dengan memasang kawat pada mulut mereka. Kawat ini akan menarik mulut beberapa senti ke samping kanan dan kiri, hingga membentuk senyum. Lalu mereka tahan untuk sekian menit. Begitu diulang seterusnya. Ternyata tidak mudah menjadi pramugari itu.

Belum lagi isu miring terkait pemberitaan pramugari nakal. Mereka seringkali dimanfaatkan untuk memuaskan nafsu lelaki hidung belang yang beruang. Tidak hanya faktor cantik, tapi jauhnya jarak pramugari dengan suami mereka (karena pramugari biasanya tinggal di apartemen dekat bandara) juga menjadi faktor lengahnya pramugari untuk bermain diluar sana.

Ah.. Lagi-lagi pikiran saya melayang kemana-mana.

Kembali saya tatap jendela. Agaknya perjalanan tinggal setengah. Kini hanya gundukan awan dan birunya langit yang tampak. Indah sekali dilihat dari dalam jendela. Lurus sayap pesawat.

Penerbangan ini mengingatkan saya pada mimpi masa kecil. Ini benar mimpi saat tidur, bukan impian. Usia saat itu belum genap 5 tahun. Tapi sepenggal mimpi yang masih saya ingat, tiba-tiba saya terbang menunggangi layang-layang yang sedang saya kendalikan. Ya, dalam mimpi itu saya sedang bermain layang-layang. Tapi hanya saya saja yang tiba-tiba terbang, sementara teman-teman terkejut, bingung, dan bengong melihat layang-layang itu terus membawa saya ke arah selatan, kiat tinggi, kian jauh, dan menghilang.

Entah apa makna mimpi itu. Barangkali hanya bunga tidur yang memang tidak bermakna. Satu hal yang pasti, saya bersyukur akhirnya benar-benar bisa merasakan terbang yang sesungguhnya. Bukan dengan burung garuda atau layang-layang, tapi dengan pesawat yang sesungguhnya. Dan, impian untuk bisa keliling dunia itu masih tergenggam erat. Semoga suatu saat nanti impian itu benar-benar bisa terbukti.

Wallohu’alam.

Tak terasa pesawat sudah landing. Pramugari kembali memperingatkan untuk memasang sabuk pengaman. Kisah ini pun harus saya akhiri. Penerbangan kepulangan juga tak kalah indah dari penerbangan perdana ini. Dan semoga saya masih sempat mengabadikannya.

Ini kisahku. Mana kisahmu? :)

Foto: Menyusul (dikarenakan keterbatasan koneksi internet, :) )