<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>
<channel>
	<title>Garuda with White Rose</title>
	<atom:link href="http://damai.malhikdua.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://damai.malhikdua.com</link>
	<description>Kreativitas Adalah Ekspresi Keunikan Diri</description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 May 2012 17:21:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=</generator>
		<item>
		<title>Prosa Kontra: Enggan</title>
		<link>http://damai.malhikdua.com/2012/05/16/prosa-kontra-enggan/</link>
		<comments>http://damai.malhikdua.com/2012/05/16/prosa-kontra-enggan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 17:21:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>damai_wardani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh Damae]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://damai.malhikdua.com/?p=1160</guid>
		<description><![CDATA[Sudah seminggu terakhir aku enggan ke kampus, enggan belajar, enggan bertemu teman-teman, enggan menulis, enggan memenuhi jadwal yang sudah tersusun rapi, enggan makan, enggan tersenyum, enggan mandi, enggan tidur, bahkan enggan keluar kamar. Dunia seolah enggan menyapaku lagi. Ah, bukan. Yang benar itu, aku seolah enggan menyapa dunia lagi. Enggan membalas senyum mentari, enggan menyapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah seminggu terakhir aku enggan ke kampus, enggan belajar, enggan bertemu teman-teman, enggan menulis, enggan memenuhi jadwal yang sudah tersusun rapi, enggan makan, enggan tersenyum, enggan mandi, enggan tidur, bahkan enggan keluar kamar.</p>
<p><span id="more-1160"></span></p>
<p>Dunia seolah enggan menyapaku lagi. Ah, bukan. Yang benar itu, aku seolah enggan menyapa dunia lagi. Enggan membalas senyum mentari, enggan menyapa ramah rembulan. Enggan menghitung lagi bintang-bintang. Enggan bercengkrama dengan angin, juga enggan melukis awan. Enggan bermanja dengan senja, bahkan sangat enggan mengantar mentari kembali ke peraduannya. Enggan, aku enggan sekali.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>***</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sore ini, kubulatkan tekad tuk menghirup udara luar. Cukup, pengap ini membelenggu dan menjenuhkan auraku. Kuberanikan melangkahkan kaki, mengganti derap kaki kanan dengan kiri. Sembari menebar senyum pada ilalang yang bergoyang. Kutatap lamat-lamat langit sore yang tak lagi panas, juga untung tak mendung. Meski kurang tepat kubilang cerah, setidaknya panorama awan berarak yang tak terbaca bentuknya itu mampu menghibur diri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jalanan cukup lengang. Meski pasti harus antri sepanjang lampu merah menyala, tampaknya bukan hambatan menyebalkan untuk pengguna motor sepertiku. Karena celah untuk bisa sampai di deret antrian terdepan tetap bisa kubuka. Asik. Berkelok anggun dengan Beat kesayangan, menikmati sisa kesejukan disela pikuk jalanan. Sesekali menyelip. Sesekali juga harus rela terbatuk saat kepulan asap hitam bus kota persis di depan kedua lubang hidung.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>***</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sejenak lupa dengan sederet &#8216;enggan&#8217; lalu. Rasanya air mataku terlalu berharga jika menetes karenanya. Hidupku terlalu indah jika harus hancur oleh dia. Waktuku terlalu mahal jika terampas sia-sia, hanya untuk memikirnya. Sadarlah duhai hati, dia tak pantas dicintai. Hatiku terlalu cantik tuk menyayangi. Kasihku terlalu istimewa jika dipaksakan untuk makhluk sepertinya. Lapangkan saja dada ini seluas-luasnya lapang, biarkan sakit hati ini pergi. Biarkan jiwa tenang kembali.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Yakinlah, semua yang terjadi hanyalah petikan warna-warni kehidupan. Dan semua pasti akan indah pada waktunya.</p>
<p>Huhf&#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<img src="http://damai.malhikdua.com/files/2012/01/ttd.png" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://damai.malhikdua.com/2012/05/16/prosa-kontra-enggan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menulislah</title>
		<link>http://damai.malhikdua.com/2012/05/16/menulislah/</link>
		<comments>http://damai.malhikdua.com/2012/05/16/menulislah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 17:19:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>damai_wardani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi Damae]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://damai.malhikdua.com/?p=1158</guid>
		<description><![CDATA[Menulislah, Ayat-ayat alam semesta menunggumu menyapanya Bisiknya, belainya, peluknya, Begitu hangat dan dekat Mereka mengharapmu lebih peka Menulislah, Jika racau jiwamu tak lagi dimengerti Jika teriakan nuranimu tak lagi didengar Teriakan yang membahana semesta Sayup-sayup sirna termakan usia Tapi tidak untuk tulisanmu Ia abadi sepanjang ketidakabadian bumi &#160; Menulislah, Meski kaki tanganmu tersandra Tapi hati [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menulislah,</p>
<p>Ayat-ayat alam semesta menunggumu menyapanya</p>
<p>Bisiknya, belainya, peluknya,</p>
<p>Begitu hangat dan dekat</p>
<p>Mereka mengharapmu lebih peka</p>
<p><span id="more-1158"></span></p>
<p>Menulislah,</p>
<p>Jika racau jiwamu tak lagi dimengerti</p>
<p>Jika teriakan nuranimu tak lagi didengar</p>
<p>Teriakan yang membahana semesta</p>
<p>Sayup-sayup sirna termakan usia</p>
<p>Tapi tidak untuk tulisanmu</p>
<p>Ia abadi sepanjang ketidakabadian bumi</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menulislah,</p>
<p>Meski kaki tanganmu tersandra</p>
<p>Tapi hati dan pikiranmu tak bisa dipenjara</p>
<p>Mereka tak kenal batas ruang dan waktu</p>
<p>Mereka perekat jiwa dan nyatamu</p>
<p>Berdesir,</p>
<p>Mengalir</p>
<p>Mengembara sudut dunia</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menulislah,</p>
<p>Jika kau ingin sejarah tahu namamu</p>
<p>Sebenar-benar merdekanya jiwa dan raga</p>
<p>Tak beku di pengap waktu</p>
<p>Tak mati tanpa arti</p>
<p>Tak fana meski jasadmu telah tiada</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menulislah,</p>
<p>Meski penamu tak setajam pujangga tinta</p>
<p>Meski kata-katamu tak seindah penyair cinta</p>
<p>Meski kertasmu tak seputih kanvas lukis</p>
<p>Cukuplah sepuluh jemarimu menari</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menulislah,</p>
<p>Hidupmu lebih sastrawi dari novel</p>
<p>Lebih bermajas dari puisi</p>
<p>Lebih indah dari pelangi</p>
<p>Tunggu apa lagi?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<img src="http://damai.malhikdua.com/files/2012/01/ttd.png" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://damai.malhikdua.com/2012/05/16/menulislah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ijinkan Aku Membencimu</title>
		<link>http://damai.malhikdua.com/2012/05/16/ijinkan-aku-membencimu/</link>
		<comments>http://damai.malhikdua.com/2012/05/16/ijinkan-aku-membencimu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 17:17:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>damai_wardani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi Damae]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://damai.malhikdua.com/?p=1155</guid>
		<description><![CDATA[Getir, Senyum beku itu terus bergulir Acuh Damainya hati kian merapuh &#160; Kau sadar Aku bukan pilihan Kau tahu Aku bukan maumu Kau mengerti Aku bukan mainan hati Mengapa jeratmu kian menguat? Mengapa resahmu padaku kian berat? Mengapa sayang itu kian amat? &#160; Sakiiit.. Dengarkah kau jerit itu? &#160; Sungguh, lubuk hatiku bersua Sayangku, ijinkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Getir,</p>
<p>Senyum beku itu terus bergulir</p>
<p>Acuh</p>
<p>Damainya hati kian merapuh</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kau sadar</p>
<p>Aku bukan pilihan</p>
<p>Kau tahu</p>
<p>Aku bukan maumu</p>
<p>Kau mengerti</p>
<p>Aku bukan mainan hati</p>
<p><span id="more-1155"></span></p>
<p>Mengapa jeratmu kian menguat?</p>
<p>Mengapa resahmu padaku kian berat?</p>
<p>Mengapa sayang itu kian amat?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sakiiit..</p>
<p>Dengarkah kau jerit itu?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sungguh, lubuk hatiku bersua</p>
<p>Sayangku, ijinkan aku membencimu</p>
<p>&nbsp;</p>
<img src="http://damai.malhikdua.com/files/2012/01/ttd.png" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://damai.malhikdua.com/2012/05/16/ijinkan-aku-membencimu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dunia Kita Berbeda</title>
		<link>http://damai.malhikdua.com/2012/05/16/dunia-kita-berbeda/</link>
		<comments>http://damai.malhikdua.com/2012/05/16/dunia-kita-berbeda/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 17:14:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>damai_wardani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi Damae]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://damai.malhikdua.com/?p=1152</guid>
		<description><![CDATA[Huhf… Huhf… Huhf… Duniamu, duniamu Duniaku, duniaku Dunia kita berbeda Jika titik harus mengakhiri kisah ini Jangan biarkan titik itu berdiri sendirian Agar aku tetap melihat senyummu bahagia &#160; Duniaku, duniaku Duniamu, duniamu Dunia kita berbeda Tapi jangan salahkan alam jika Duniamu tetap terbaca Karena alam pun tak pernah tahu Apa yang ada di depan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Huhf…</p>
<p>Huhf…</p>
<p>Huhf…</p>
<p>Duniamu, duniamu</p>
<p>Duniaku, duniaku</p>
<p>Dunia kita berbeda</p>
<p><span id="more-1152"></span></p>
<p>Jika titik harus mengakhiri kisah ini</p>
<p>Jangan biarkan titik itu berdiri sendirian</p>
<p>Agar aku tetap melihat senyummu bahagia</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Duniaku, duniaku</p>
<p>Duniamu, duniamu</p>
<p>Dunia kita berbeda</p>
<p>Tapi jangan salahkan alam jika</p>
<p>Duniamu tetap terbaca</p>
<p>Karena alam pun tak pernah tahu</p>
<p>Apa yang ada di depan sana</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Meski duniaku bukan duniamu</p>
<p>Meski dunia kita berbeda</p>
<p>Yakinlah,</p>
<p>Hati ini tetap milikmu</p>
<p>Seutuhnya</p>
<img src="http://damai.malhikdua.com/files/2012/01/ttd.png" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://damai.malhikdua.com/2012/05/16/dunia-kita-berbeda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sempurna</title>
		<link>http://damai.malhikdua.com/2012/05/16/sempurna/</link>
		<comments>http://damai.malhikdua.com/2012/05/16/sempurna/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 17:11:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>damai_wardani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi Damae]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://damai.malhikdua.com/?p=1150</guid>
		<description><![CDATA[Sempurna Sempurna sakit ini Sempurna remuk ini Sempurna hancur ini Ini bukan nestapa Bukan pula duka Ini hanya sementara &#8216;masa&#8217; &#160; Yakinlah, semua akan indah pada waktunya Seindah kesempurnaan air mata detik ini &#160; &#160; (03/07 &#8212; 16/05) (-11/12-)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sempurna</p>
<p>Sempurna sakit ini</p>
<p>Sempurna remuk ini</p>
<p>Sempurna hancur ini</p>
<p><span id="more-1150"></span></p>
<p>Ini bukan nestapa</p>
<p>Bukan pula duka</p>
<p>Ini hanya sementara &#8216;masa&#8217;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Yakinlah, semua akan indah pada waktunya</p>
<p>Seindah kesempurnaan air mata detik ini</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>(03/07 &#8212; 16/05)</p>
<p>(-11/12-)</p>
<img src="http://damai.malhikdua.com/files/2012/01/ttd.png" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://damai.malhikdua.com/2012/05/16/sempurna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Guru Buang Sampah Sembarangan, Wajar atau Kurang Ajar?</title>
		<link>http://damai.malhikdua.com/2012/05/11/guru-buang-sampah-sembarangan-wajar-atau-kurang-ajar/</link>
		<comments>http://damai.malhikdua.com/2012/05/11/guru-buang-sampah-sembarangan-wajar-atau-kurang-ajar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 May 2012 22:41:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>damai_wardani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Damae]]></category>
		<category><![CDATA[Celoteh Damae]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[sampah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://damai.malhikdua.com/?p=1145</guid>
		<description><![CDATA[Miris. Satu kata yang spontan membuat saya tersentak, terhenyak, dan manajamkan pandangan tak percaya. Bukan karena sebuah tontonan mengahrukan yang kerap membuat hati ini turut basah. Bukan pula adegan antagonis yang kadang memaksa saya ikut membenci pemerannya. Ini adalah pemandangan nyata, raib dari pengawasan publik, bahkan kadang diabaikan. Sayang, ketika menjumpai moment itu saya tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify">Miris. Satu kata yang spontan membuat saya tersentak, terhenyak, dan manajamkan pandangan tak percaya. Bukan karena sebuah tontonan mengahrukan yang kerap membuat hati ini turut basah. Bukan pula adegan antagonis yang kadang memaksa saya ikut membenci pemerannya. Ini adalah pemandangan nyata, raib dari pengawasan publik, bahkan kadang diabaikan. Sayang, ketika menjumpai moment itu saya tak membawa seperangkat kamera yang bisa membuktikan keterperangahan kedua mata ini. Tapi kemirisan dan keironisan fakta tadi spontan membuat saya resah dan langsung menuntun jemari menuliskan apa yang terjadi.<span id="more-1145"></span></p>
<p style="text-align: justify">Barangkali pembaca menanggapi cuplikan peristiwa ini sebagai sesuatu yang tak pantas dieksplore, silahkan. Namun, bagi saya sebuah kemirisan yang jelas tercermin dari satu slide penangkapan panca indera itu bukanlah kesiaan belaka. Inilah salah satu potret karakter bangsa kita yang selayaknya disudahi. Terlebih, jika pelakunya adalah para praktisi dan akademisi di bidang pendidikan. Panutan dan suri tauladan generasi penerus bangsa, cerminan didikan mereka sangat berpengaruh terhadap masa depan dan kehormatan negara kita tercinta ini. Karena dari tangan-tangan merekalah awal mula kemajuan peradaban bangsa bisa seperti sekarang.</p>
<p style="text-align: justify">Ya, siapa lagi kalau bukan guru.</p>
<p style="text-align: justify">Disuatu hari yang cukup membuat napas terengah-engah, terik mentari pun seolah siap membakar kulit atau setidaknya mengubah warna putihnya menjadi kecoklatan, saya sengaja mencari pedagang es krim cingcau yang sangat cocok untuk menyejukkan tenggorokan di balik cuaca ekstrim ini. Sesampainya ditepi warung makan, tempat mangkalnya pedagang es tersebut, sedang duduk seorang wanita paruh baya di atas motor matic hitamnya. Sambil menikmati es krim cingcau yang dilahap sempurna dengan kedua tangannya itu, ia terus memperhatikan sang penjual meracik 2 gelas pesanan pelanggan lain. Bukan perkara sebenarnya, sikapnya yang demikian akan menjadi wajar bila pelakunya adalah seorang traveler yang tak sengaja beristirahat untuk melepas lelah selama berkendara. Atau seorang anak kecil yang belum tahu etika, lebih parahnya ya pelajar SMP-SMA yang memang sekarang _maaf_banyak abai akan sopan santun dalam perjalanan.</p>
<p style="text-align: justify">Namun, apa kata setiap mata yang memandang jika wanita yang makan es krim cingcau diatas motor itu berseragam guru? Terlebih, gelas bekas wadah es tersebut dilempar begitu saja ke arah persis belakang penjual? Kedua mata saya menjadi saksi kemirisan ini.</p>
<p style="text-align: justify">Tertegun. Sejenak saya pandangi raut wajah cantik ibu guru itu, tanpa rasa bersalah atau kikuk sedikit pun, ia langsung menyodorkan beberapa lembar rupiah untuk membayar es krim cingcau tadi. Padahal jelas-jelas disekitar penjual itu ada beberapa gadis remaja berseragam SMP yang juga sedang memesan pesanan yang sama dengan dirinya. Tidakkah ia malu atas tindakannya? Jika gurunya saja bertindak demikian, bagaimana dengan muridnya? Bukankah guru itu harusnya digugu (didengarkan) lan ditiru (dan diteladani/menjadi contoh yang baik) oleh muridnya? Tapi jika demikian kejadiannya, tidakkah itu menurunkan kredibilitas seorang pendidik di mata publik, anak didiknya, juga di mata bangsa.</p>
<p style="text-align: justify">Tampaknya membuang sampah sembarangan itu sepele, bahkan sudah menjadi hal wajar di negeri kita tercinta ini. Tapi ketika hal itu dilakukan oleh seorang guru, terlebih dihadapan khalayak umum, agaknya itu menjadi sesuatu yang &#8216;kurang ajar&#8217;.</p>
<p style="text-align: justify">Bagaimana menurut Anda?</p>
<img src="http://damai.malhikdua.com/files/2012/01/ttd.png" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://damai.malhikdua.com/2012/05/11/guru-buang-sampah-sembarangan-wajar-atau-kurang-ajar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Metode Tahsin, Apa dan Bagaimana?</title>
		<link>http://damai.malhikdua.com/2012/04/06/metode-tahsin-apa-dan-bagaimana/</link>
		<comments>http://damai.malhikdua.com/2012/04/06/metode-tahsin-apa-dan-bagaimana/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Apr 2012 15:08:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>damai_wardani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Damae]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://damai.malhikdua.com/?p=1127</guid>
		<description><![CDATA[KALAU bacaan Al Fatihah kita tidak sempurna, maka tidak sempurna pula shalat kita. Mending kalau shalat sendiri, kalau jadi imam? Tentu bertanggung jawab dia atas makmumnya. Nah Lho..! Apalagi bagi kaum hawa. Ibu itu Madrasatul Aulad, sekolahnya sang buah hati. Hayo, bisa ngajarin anaknya baca Qur&#8217;an tidak nanti?&#8221;  Demikian canda seorang ustadz di Ash-Shaff Education [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><em>KALAU bacaan Al Fatihah kita tidak sempurna, maka tidak sempurna pula shalat kita. Mending kalau shalat sendiri, kalau jadi imam? Tentu bertanggung jawab dia atas makmumnya. Nah Lho..! Apalagi bagi kaum hawa. Ibu itu Madrasatul Aulad, sekolahnya sang buah hati. Hayo, bisa ngajarin anaknya baca Qur&#8217;an tidak nanti?&#8221;</em> <span id="more-1127"></span></p>
<p style="text-align: justify">Demikian canda seorang ustadz di Ash-Shaff Education di sela mengajar. Meski dianggap sebuah candaan, sebenarnya terkandung <em>ibrah</em> di dalamnya yang membuat kita sejenak merenung kembali <em>Sudah benarkah bacaan solat dan Al-Qur&#8217;an kita selama ini? </em>Jika belum, maka di sinilah kita harus mengenali urgensi belajar tahsin dalam membaca Al-Qur&#8217;an.</p>
<p style="text-align: justify">Tahsin secara harfiyah berasal dari &#8216;<em>hassana-yuhassinu</em>&#8216; yang artinya &#8216;membaguskan&#8217;. Kata ini sering digunakan sebagai padanan &#8216;Tajwid&#8217; yang berasal dari &#8216;<em>jawwada-yujawwidu</em>&#8216;. Karena itu, jumhur ulama kerap menyamakan pendefinisian <em>tahsin</em> itu dengan <em>tajwid, </em>yakni &#8216;mengeluarkan setiap huruf hijaiyah sesuai tempat keluarnya <em>(makhorijul huruf)</em> dengan memberikan hak dan mustahaknya&#8217;.</p>
<p style="text-align: justify">Dengan kata lain, metode Tahsin ialah metode untuk menyempurnakan semua hal yang berkaitan dengan kesempurnaan pengucapan huruf-huruf Al-Qur&#8217;an. Baik kesempurnaan sifat yang senantiasa melekat padanya, maupun pengucapan hukum bacaan satu huruf dengan lainnya seperti hukum nun mati dan tanwin, mim mati, hukum bacaan mad, dan sebagainya.</p>
<p style="text-align: justify">Lalu, mengapa kita harus belajar <em>tahsin</em>? Dari sisi definisi, sudah jelas sekali fungsi metode <em>tahsin</em> itu sama dengan <em>tajwid</em>, yakni untuk membagusi bacaan Al-Qur&#8217;an. Meninjau kembali firman Allah dalam Q.S. Al Muzammil ayat 4: <em>&#8220;Dan bacalah Al-Qur&#8217;an itu dengan tartil&#8221;,</em> menjadi landasan paling dasar yang tak bisa ditawar bahwa kita harus membaca <em>Kalam</em>-Nya dengan kaidah bacaan sesuai tajwid.</p>
<p style="text-align: justify">Selain memang perintah, membaca Al-Qur&#8217;an dengan prinsip &#8216;haqqa tilawah&#8217; yakni &#8216;membaca dengan sebenar-benar bacaan&#8217;, sebagaimana diterangkan dalam QS. Al Baqarah: 121, merupakan refleksi keimanan terhadap kitab-Nya. Bahkan jika tidak melaksanakan, diancam kerugian dan kebinasaan abadi di akhirat nanti. Maka semangat untuk mempelajari Al Qur&#8217;an dan menyempurnakan bacaannya merupakan bukti kejujuran beriman kepada kitab-Nya.</p>
<p style="text-align: justify">Alasan selanjutnya, barangkali ini yang paling mudah dipahami secara logika, untuk menghindarkan diri dari kesalahan bacaan. Dalam ilmu tajwid, kesalahan ini dibedakan menjadi dua, <em>Lahn Jaliyy</em> dan <em>Lahn Khafiyy</em>. <em>Lahn Jaliyy</em> merupakan kesalahan fatal yang bisa masuk kategori amaliyah haram, seperti tertukarnya huruf yang dibaca, bahkan harakat dan baris karena kurangnya kehati-hatian. Sedang kesalahan kedua, <em>Lahn Khafiyy</em>, tergolong ringan. Seperti tidak menyempurnakan panjang pendeknya bacaan. Dengan mempelajari Tahsin Al-Qur&#8217;an, maka setiap pembaca telah mengenali kesalan ini dan berusaha menghindarinya.</p>
<p style="text-align: justify">Terlepas dari ketiganya, &#8220;Tahsin hanyalah sebuah metode mempelajari Al-Qur&#8217;an sesuai kaidah yang benar. Adapun metode lain yang sejenis, tapi bukan tahsin itu hanya beda nama. Sebenarnya inti pembelajarannya sama, untuk membagusi bacaan Al-Qur&#8217;an, dan Ash-Shaff mengajarkan itu dimulai dari Tahsin 1 sampai Tahsin 4, dalam waktu 6 bulan atau 4 bulan paling cepat,&#8221; tandas Ayang, mengakhiri perbincangan menjelang adzan asar, Sabtu sore itu. <strong></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>[Muat di Bandungoke.Com edisi 6 April 2012]</p>
<img src="http://damai.malhikdua.com/files/2012/01/ttd.png" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://damai.malhikdua.com/2012/04/06/metode-tahsin-apa-dan-bagaimana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ash-Shaff Bangun Generasi Berjiwa Qur&#8217;ani</title>
		<link>http://damai.malhikdua.com/2012/04/06/ash-shaff-bangun-generasi-berjiwa-qurani/</link>
		<comments>http://damai.malhikdua.com/2012/04/06/ash-shaff-bangun-generasi-berjiwa-qurani/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Apr 2012 15:02:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>damai_wardani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Damae]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://damai.malhikdua.com/?p=1123</guid>
		<description><![CDATA[TENANG dan damai. Itulah kesan yang terasa menghujam ke dalam hati. Di setiap sudut ruangan, terdengar gema Al-Qur&#8217;an yang dibaca dengan metode Tahsin. Merdu sekali. Tampak beberapa ikhwan dan akhwat menikmati baris demi baris kalam-Nya yang tersaji rapi dalam mushaf Utsmani. Khusyu&#8217; dan menyejukkan setiap insan yang mendengar. Begitulah suasana yang tercipta di dalam sepetak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify">TENANG dan damai. Itulah kesan yang terasa menghujam ke dalam hati. Di setiap sudut ruangan, terdengar gema Al-Qur&#8217;an yang dibaca dengan metode Tahsin. Merdu sekali. Tampak beberapa ikhwan dan akhwat menikmati baris demi baris <em>kalam</em>-Nya yang tersaji rapi dalam <em>mushaf</em> Utsmani. Khusyu&#8217; dan menyejukkan setiap insan yang mendengar.<span id="more-1123"></span></p>
<p style="text-align: justify">Begitulah suasana yang tercipta di dalam sepetak rumah, sejak mentari mulai mucul hingga ia kembali ke peraduan. Itulah yang terjadi di Ash-Shaff Education. Sebuah LSM yang mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadi bagian dari pelaku-pelaku kebaikan dalam membebaskan kaum muslim dari kebutaan Al-Qur&#8217;an.</p>
<p style="text-align: justify">Lembaga yang kini berpusat di Komplek Taruna Parahyangan, Jl. Taruna no 39 A, RW 02, Bandung ini sudah 3 tahun membuka bimbingan belajar Tahsin dan Tahfidz Al-Qur&#8217;an gratis. Sesuai Akta Notaris No. 15 tanggal 4 Juni 2008, Ash-Shaff bergerak dalam lingkup pendidikan Al-Qur&#8217;an, sosial, dan dakwah.</p>
<p style="text-align: justify">Usia Ash-Shaff masih tergolong balita (bawah lima tahun), namun tidak kurang dari 1000 tuna netra Al Qur™an berhasil diberantasnya.  Lebih dari 100 peserta tiap rekrutmen per tiga bulan sekali, jadi bisa dihitung berapa banyak peserta sampai tiga tahun ini, ungkap Akh Ayang, pengajar Ash-Shaff yang tampak ramah menyambut kedatangan calon peserta baru untuk registrasi.</p>
<p style="text-align: justify">Setelah menamatkan proses belajar Tahsin dan Tahfidz selama 6 bulan, peserta tidak serta merta dilepas begitu saja. Ash-Shaff menawarkan pilihan menjadi tenaga pengajar atau staff tetap di sana, tentu dengan catatan bagi mereka yang berkompeten untuk memajukan. Setidaknya, berbekal 4 metode Tahsin yang telah dikuasai, diharapkan peserta mampu berbagi dengan orang terdekat mereka untuk mengulas kembali dan turut membebaskan kebutaan Al Qur™an sebagai salah satu bentuk pengamalan generasi berjiwa Qur™ani.</p>
<p style="text-align: justify"><strong>Beasiswa Pembinaan Tahsin</strong></p>
<p style="text-align: justify">Dari sekian banyak orang Indonesia yang beragama Islam, berapa orang yang shalat? Dari yang shalat, berapa yang membaca Al-Qur&#8217;an? Dari yang membaca Al-Qur&#8217;an, berapa yang membaca artinya? Dari yang membaca artinya, berapa yang paham? Dari yang paham, berapa yang mengamalkan?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify">Sederet kalimat refleksi yang acap kali kita dengar di sela pengajian itu, agaknya menarik hati Ustad Dani, penggagas Ash-Shaff untuk turut berkiprah memperbaikinya, khususnya terkait pendidikan Al-Qur&#8217;an. Di lapangan fakta berbicara, tidak sedikit orang Islam, terlebih generasi modern saat ini, yang masih buta Al-Qur™an, bahkan enggan mengenal apalagi menyelami dan mengamalkan Al-Qur&#8217;an. Hal ini dapat tampak dari minimnya pengamalan Al-Qur&#8217;an sebagai pedoman dan petunjuk sejati dalam setiap derap kehidupan sehari-sehari.</p>
<p style="text-align: justify">Berangkat dari keprihatinan itulah, Ustad Dani dan karibnya merapatkan barisan, mendirikan sebuah lembaga berbasis Al-Qur&#8217;an yang bisa diikuti anak-anak, remaja, dewasa, juga orang tua tanpa biaya sepeser pun. Inilah program Beasiswa Al-Qur&#8217;an dalam bentuk pembinaan Tahsin dan Tahfidz Al-Qur&#8217;an selama 6 bulan.</p>
<p style="text-align: justify">&#8220;Beasiswa ini memang bukan berupa uang tunai, kami memberikan dalam bentuk pembelajaran Al-Qur&#8217;an secara gratis,&#8221; jelas Akh Ayan, alumni Prodi Ilmu Komunikasi Jurnalistik UIN Sunan Gunung Djati Bandung angkatan 2003, yang juga ikut mendirikan lembaga ini, saat berbincang, baru-baru ini.</p>
<p style="text-align: justify">Jika pembelajaran ini diberikan secara cuma-cuma, lalu dari mana dana operasional lembaga? ˜Paguyuban Donatur&#8217; adalah jawabannya. Paguyuban Donatur Ash-Shaff Education menggagas Program Pendidikan, Da&#8217;wah, dan Sosial bertajuk &#8220;Semua Bisa dari Shodaqoh&#8221; yang telah memberantas ribuan tuna aksara Al-Qur&#8217;an sejak 3 tahun silam.</p>
<p style="text-align: justify">Donasi dalam bentuk uang tunai dan penitipan kencleng (kotak tabungan) ini menjadi modal utama untuk mengoperasikan beasiswa Al-Qur&#8217;an. Program pendidikan gratis ini dibuka setiap 3 bulan sekali atau menjelang pembelajaran tahsin 1 usai.</p>
<p style="text-align: justify">&#8220;Setiap peserta yang mengikuti bimbingan tahsin ini akan diberi sebuah kencleng. Ia boleh memberi shodaqoh seikhlasnya, baik dari pribadi maupun diisi oleh shodaqoh orang lain. Nanti setiap bulan dikumpulkan dan kami mengelolanya untuk segala biaya operasional Ash-Shaff itu sendiri,&#8221;  lanjut Ayang, lajang Jatinangor yang kini menjadi tenaga pengajar di beberapa sekolah, selain di Ash-Shaff.</p>
<p style="text-align: justify">Jadi secara tidak langsung, mereka yang belajar di sini juga menjadi donatur, karena uang itu digunakan semaksimal mungkin untuk kemaslahatan bersama. Selain dari peserta, donatur yang tidak melembaga (baca: perorangan) ini juga berasal dari kalangan masyarakat umum yang diterima via rekening. Berkat tangan-tangan dermawan itulah, beasiswa Al-Qur&#8217;an ini berjalan.</p>
<p style="text-align: justify">Paguyuban Donatur juga membuka program Dompet Peduli Da&#8217;i, menyentuh ranah pengembangan dakwah. Donasi disalurkan untuk da&#8217;i dan da™iyah di berbagai daerah sebagai dana subsidi atau diberikan dalam bentuk pembinaan dan pelatihan. Sedang bidang sosial, Ash-Shaff lewat Paguyuban Donatur ini menggalakan program &#8220;Tebar Al-Qur&#8217;an&#8221;, yang memberikan sarana penyediaan Al-Qur&#8217;an untuk masyarakat atau kalangan majlis taklim yang terbatas dalam hal ini.</p>
<p style="text-align: justify"><em>&#8220;Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkan sebagian harta yang kamu cintai..</em> (Q.S. Ali Imran: 92).  Selain bergerak dalam pendidikan Al-Qur&#8217;an, agaknya nilai islami yang terkandung dalam perintah shodaqoh di  atas, benar-benar diterapkan Ash-Shaff.</p>
<p>[Muat di Bandungoke.com edisi 6 April 2012 ]</p>
<img src="http://damai.malhikdua.com/files/2012/01/ttd.png" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://damai.malhikdua.com/2012/04/06/ash-shaff-bangun-generasi-berjiwa-qurani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karena Cinta, Aku Ada</title>
		<link>http://damai.malhikdua.com/2012/03/28/karena-cinta-aku-ada/</link>
		<comments>http://damai.malhikdua.com/2012/03/28/karena-cinta-aku-ada/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Mar 2012 13:19:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>damai_wardani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi Damae]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://damai.malhikdua.com/?p=1120</guid>
		<description><![CDATA[Benar kata pujangga Mencintai itu mudah, hanya butuh  hati yang siap untuk terluka Benar kata sahabat Bermodal cinta yang tulus itu tak butuh kembali modal Benar pula kata cerita Cinta tak pernah salah, karena penoda cintalah yang menyulap kesuciannya menjadi kenistaan Ya, benar pula realita berbicara Segalanya bisa terjadi karena cinta Namun perlu diingat, tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Benar kata pujangga</em></p>
<p><em> Mencintai itu mudah, hanya butuh  hati yang siap untuk terluka</em></p>
<p><em>Benar kata sahabat</em></p>
<p><em> Bermodal cinta yang tulus itu tak butuh kembali modal</em></p>
<p><em>Benar pula kata cerita</em></p>
<p><em>Cinta tak pernah salah, karena penoda cintalah yang menyulap kesuciannya menjadi kenistaan</em></p>
<p><em>Ya, benar pula realita berbicara</em></p>
<p><em> Segalanya bisa terjadi karena cinta</em></p>
<p><em>Namun perlu diingat, tak sepenuhnya kata mereka benar</em></p>
<p><em> Karena cinta, aku ada</em></p>
<img src="http://damai.malhikdua.com/files/2012/01/ttd.png" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://damai.malhikdua.com/2012/03/28/karena-cinta-aku-ada/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Enam Jurus Jitu Menembus Media Massa</title>
		<link>http://damai.malhikdua.com/2012/03/27/enam-jurus-jitu-menembus-media-massa/</link>
		<comments>http://damai.malhikdua.com/2012/03/27/enam-jurus-jitu-menembus-media-massa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Mar 2012 22:53:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>damai_wardani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Damae]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://damai.malhikdua.com/?p=1114</guid>
		<description><![CDATA[Bandung. Jusman Dalle, penulis ratusan artikel yang tersebar di lebih dari 20 media massa nasional dan lokal, menyampaikan sederet resep jitu menembus media massa dalam Workshop Kepenulisan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah Bandung. Workshop ini merupakan rangkaian Semarak 14 Tahun KAMMI, dilaksanakan di Aula Rabbani  pada Sabtu (24/3). Para peserta tak hanya  anggota [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><strong>Bandun</strong><strong>g</strong>. Jusman Dalle, penulis ratusan artikel yang tersebar di lebih dari 20 media massa nasional dan lokal, menyampaikan sederet resep jitu menembus media massa dalam Workshop Kepenulisan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah Bandung. Workshop ini merupakan rangkaian Semarak 14 Tahun KAMMI, dilaksanakan di Aula Rabbani  pada Sabtu (24/3).<span id="more-1114"></span></p>
<p style="text-align: justify">Para peserta tak hanya  anggota KAMMI, namun sangat antusias mengikuti workshop yang dimoderatori oleh Fetriyan, Ketua panitia pelaksana Semarak 14 tahun KAMMI. Terbukti dengan  aneka berita dan opini yang mereka hasilkan dalam durasi satu jam pada saat simulasi.</p>
<p style="text-align: justify">Antusiasme tersebut tentu saja tidak terlepas dari kiat-kiat membuat kerangka tulisan menarik dan beberapa strategi menembus media yang diuraikan oleh pemateri. Jusman menjelaskan, setidaknya terdapat enam jurus penting yang bisa menjadi pedoman agar tulisan bisa diterbitkan media.</p>
<p style="text-align: justify">Momentum menjadi jurus pertama. Yakni tulisan relevan dengan peristiwa terhangat dan menjadi pembicaraan publik. Jurus kedua yaitu menghadirkan  perspektif atau sudut pandang baru sehingga memiliki nilai plus tersendiri dibanding tulisan lain, meski  permasalahan  yang dikupas sama. Selanjutnya, spesialisasi atau gelar penulis juga mengambil peran penting sebagai penegasan relevansi tema yang diurai dalam tulisan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify">Stategi berikutnya, kata Jusman, membiasakan memulai dengan menulis surat pembaca sebagai upaya menaikkan rating dan popularitas penulis di kalangan  media maupun pembaca. Bisa juga memulai menulis di dunia daring atau online. Jurus ini justru paling ampuh untuk memupuk <em>personal branding</em> penulis via dunia maya seiring dengan kecanggihan IPTEK yang tak terbendung. Jurus terakhir yaitu membangun hubungan emosional dengan media yang bersangkutan.</p>
<p style="text-align: justify">Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, mulai tahun ini Humas Pengurus Pusat memacu semangat kawula muda, khususnya anggota KAMMI untuk memperkaya wawasan dan berbagi lewat tulisan. &#8220;Mengingat anggota KAMMI memang dirasa kurang dalam minat baca dan tulis, makannya agenda ini digalakkan, pemilik sapaan akrab Kang Jusman, salah satu Humas Pengurus Pusat KAMMI yang sukses sebagai penulis muda juga interpreneur ini menuturkan di sela workshop.</p>
<p style="text-align: justify">Selain workshop kepenulisan, agenda yang disponsori oleh Departemen Perikanan dan Kelautan, Bank BJB, Rabbani, MQ 102.7 FM, dan Bank Mandiri ini juga menyelenggarakan Workshop Perempuan bertajuk &#8220;Wanita dan Eksistensinya di Era Globalisasi&#8221;, sehari sebelumnya Jum&#8217;at (23/3). Acara dimulai sejak pagi, menghadirkan pembicara Ir. Nurani, Dr. Ana, dan Umi Ihsan, dengan HTM Rp.10 ribu termasuk sertifikat serta konsumsi. Masih di hari yang sama, Ketua Dept. Politik dan Pemerintahan PP KAMMI Pusat, Pangi Syarwi,  membedah karyanya  yang berjudul &#8220;Titik Balik Demokrasi&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify">Semarak 14 tahun KAMMI berlangsung selama dua hari dan sudah dipersiapkan matang sejak Februari lalu.  &#8221;Seharusnya dilaksanakan pada Sabtu-Minggu. Tapi kami majukan karena menyesuaikan waktu dari para narasumber. Serangkaian acara ini juga akan berlanjut di bulan April mendatang dalam Diskusi Umum <em>insyaallah</em>,&#8221; jelas Fetriyan, Ketua Panitia Pelaksana, mengakhiri wawancara redaksi, disela breaktime acara. (Damae Wardani)</p>
<p> Postingan terkait:</p>
<p><a href="http://bandungoke.com/index.php?page=view&amp;class=Berita&amp;id=120327225958">http://bandungoke.com/index.php?page=view&amp;class=Berita&amp;id=120327225958</a></p>
<p>(setelah diedit oleh media tersebut)</p>
<img src="http://damai.malhikdua.com/files/2012/01/ttd.png" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://damai.malhikdua.com/2012/03/27/enam-jurus-jitu-menembus-media-massa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

