Rindu – Kesal

Rindu dan kesal itu beda tipis

Rindu semata karena aku cinta

Kesal pun semata karena aku sayang

Tapi kenapa,

Kau lebih mampu membuatku kesal ketimbang rindu

Kesal karena aku rindu untuk merindukan seseorang

Seseorang yang,

Selalu bisa mengubah kesalku menjadi rindu

Sulit

Tidak muluk

Hanya ingin menatap senyum dan mendengarmu berceloteh

Hanya itu,

Tapi kenapa…

Suliiit sekali..

Bahkan menangisimu pun tak bisa lagi kulakukan

Karena air mataku bukan hanya kering,

Tapi juga habis

Sayangnya penyesalan itu justru kian tebal

Penyesalan tentangmu,

Tentang kita yang tak jodoh

Sekiranya aku boleh memohon

Mohon beri tahu aku

Beri tahu cara terampuh untuk melupakanmu

Cara yang tidak sulit

Ya, tidak sulit…

KOMA 2013, FANTASTIS!

posterIni dia Promo FANTASTIS untuk Kegiatan Orientasi Mahasiswa Anyar (KOMA) JURNALISTIK 2013. Dalam 3 hari, peserta tercatat 100% ikut, 80% membeli formulir, dan 30% LUNAS.

Kok bisa?

Hasil “ngimpleng” (baca: semedi) saya setiap jam 12 malam, memcetuskan beberapa sistem promo yang cetar membahana badai. Sampai saya kewalahan untuk menjawab kicauan MABA saat Grand Opening Promo diluncurkan. Xixixixi

Mau tahu sistemnya? Check This Out!

– GRATIS 100 TIKET MASUK ke 10 Organisasi berikut, untuk 100 pembeli formulir  PERTAMA. Kuota tiket @organisasi sebanyak 10 tiket.

  • Bandung Oke TV
  • Suaka
  • Photo’s Speak
  • Tim-Nas Jurnal
  • Jurnal Pos
  • Panitia KOMA 2014
  • KAT (Komunitas Anak Tangga)
  • BEM-J (Bem Jurnalistik)
  • TDM (True Dreams Movie)
  • FIM (Forum Intelektual Muda)

– GRATIS FOTO KELAS ala Jonash Foto, untuk 1 KELAS yang telah membeli formulir semua dalam waktu 1 MINGGU (9-14 September 2013).

*KOSMA kelasnya juga akan mendapat REWARD KHUSUS

– GRATIS GOLDEN REWARD yang dapat ditukar dengan salah satu doorprize berikut:

  • Jam Tangan SWISS ARMY tali kanvas warna hitam (1 GOLDEN REWARD)
  • Karikatur (4 GOLDEN REWARD)
  • Voucher pulsa 25.000 (1 GOLDEN REWARD)
  • Voucher Langganan Majalah SUAKA selama 1 semester (4 GOLDEN REWARD)
  • Kerudung KINANTHI aneka koleksi (4 GOLDEN REWARD)

*GOLDEN REWARD berlaku untuk peserta yang membeli formulir dan membayar LUNAS dalam 3 hari (9-12 September 2013). Setiap peserta berhak mendapat 1 GOLDEN REWARD

– GRATIS 75 SOUVENIR untuk 75 peserta yang membayar TUNAI Rp 75.000 (membeli formulir  50.000 + 25.000).

ARTINYA???

Setiap peserta akan mendapat HADIAH BERLIPAT jika membayar LUNAS dalam 3 HARI (9-12 September 2013)! (Dapat TIKET MASUK + FOTO KELAS + GOLDEN REWARD + SOUVENIR).

Gimana, sob? FANTASTIC, kan?

Ada Sakit dalam Diam

Malam ini kusaksikan lagi, bagaimana menyakiti orang lain tanpa tertangkap jejak. Dan, tanpa bisa melakukan perlawanan kecuali DIAM.

Sejak lahir, aku memiliki beragam kelemahan fisik karena memang terlahir prematur. Sakit perdana yang paling terasa adalah batuk. Batuk yang, hanya bisa kunikmati hingga kini. Bukan karena tak ada obat yang mampu menyembuhkan, tapi badan ini terkadung lemah saat keluarga besar mengepul asap rokok setiap kali menjengukku di rumah sakit. Ya, perokok pasif. Aku terpaksa menjadi perokok pasif sejak lahir dan menanggung akibatnya sendiri hingga detik ini. Perokok pasif yang hanya bisa melawan dengan diam dan tangisan.

Beranjak anak-anak, hal paling menyakiti dan lagi-lagi hanya bisa kupendam dalam diam adalah, dipanggil si Rambut Mie. Dulu, semasa balita hingga remaja, rambutku memang keriting. Mirip sekali Mie Keriting jika digerai. Hal ini menjadi bahan ejekan yang tak pernah tak terlontar saat kelas 1 SD. “Hei, Rambut Mie.. Hahahah..” begitu gelak tawa teman-teman saat mengejekku sepulang sekolah. Dan, itu terjadi setiap hari.

Apa responku? Diam. Tak lebih dari itu. Namun dalam diam ku berdoa, doa yang terpanjat hampir setiap selesai solat. Yakni meminta dikarunia rambut lurus tapi bukan diluruskan. Dan, do’a itu terkabul ketika aku menginjak remaja akhir. Dalam diam pula kuteteskan air mata, tangis puji syukur.

Moment SMP, rasa sakit dalam diam kembali terpendam saat semua teman menjauhiku selama satu tahun. Bisa dibayangkan, betapa sedihnya menjadi orang terasing di sekolah. Selidik punya selidik, ternyata ada sekelompok teman yang mendendam padaku, hanya karena aku disukai ketua genk paling cool di sekolah. Padahal, jujur, aku pun tak tahu menahu perihal ini. Bahkan, setiap ada siswa (baca: cowok) mendekat dengan gelagat tidak wajar, pasti kujauhi.

Dapatkah Anda tebak bagaimana akhirnya aku bisa mendapat teman dan bahkan diidolakan? Aku berusaha keras dan senantiasa berdoa agar dinobatkan menjadi Siswi Teladan. Dalam diam. Lagi-lagi dalam diam. Dan, Allah kembali mengabulkan. Tahun kedua aku berhasil meraihnya. Menjadi Siswi Teladan. Artinya aku meraih peringkat paralel. Itulah titik balik semua sandiwara yang teramat menyakitkan, dalam diam.

Kisah SMA tak lebih baik dari sederet kesakitan sebelumnya. Justru lebih parah.

Tahun pertama, hampir setiap hari dicibir, dihukum, disidang, dijauhi, dibenci, difitnah, dan di-di yang lain. Bahkan, percaya atau tidak, kamar asramaku hanya untuk menaruh barang. Karena keseharianku di perpustakaan, sekolah, dan masjid. Kehidupanku di pesantren yang konon terbesar di Jawa Tengah itu, mati suri. Satu pun teman baik, tak kupunyai. Penyebabnya sepele, hanya karena aku bergabung dengan komunitas blogger di sekolah. Sayangnya, hal itu justru menimbulkan beragam kebencian yang aku sendiri tak tahu apa permasalahannya.

Tahun kedua, kebencian kian menjadi seiring dengan perjuanganku di sebuah lembaga informasi sekolah. Aku bukan saja difitnah, dihukum, dicibir, dijauhi. Tapi bahkan hampir tidak naik kelas dan hampir dikeluarkan. Kenapa? Entahlah. Sensitivitas pribadi yang akhirnya menjadi kebencian berjamaah, sangat cepat menyebar. Tanpa tahu duduk perkaranya, aku hanya bisa menikmatinya dalam diam. Hingga segala aktivitasku kulakukan di luar kamar asrama, saking takutnya mendengar ocehan yang menyakiti hati jika bertemu dengan teman-teman di asrama. Saking traumanya, sob. Percaya atau tidak, aku tidur, makan, mandi, belajar, dan mengaji pun semuanya di masjid. Kamar hanya untuk menyimpan lemari dan tikar alas tidur.

Barulah di tahun ketiga, tampak sinar mentari merona. Semua kesakitanku serasa terbayar dengan sendirinya. Dalam segala kediamanku, segudang prestasi telah kuukir. Tak hanya level sekolah, pesantren, Se-Jateng, DIY, tapi juga level nasional. Berita dari berbagai media sibuk mengabarkan keberhasilanku. Lurah, Camat, Bupati, Gubernur, bahkan Mendiknas, M. Nuh, pun memuji dan selalu menitip salam untukku.

Mulailah satu per satu kebencian mereka berguguran. Satu per satu meminta maaf dengan caranya masing-masing. Satu per satu pun takjub, salut, dan mengangkat topi tinggi-tinggi atas semua keberhasilanku. Dan lagi-lagi, aku hanya tersenyum dalam diam. Sama sekali tak kutunjukkan busung dada yang memang tak kupunya. Kecuali rasa yang sesekali mencoba percaya: diam dalam sakit itu bisa menjadi bumbu nikmat sebuah kebahagiaan.

Merambat dewasa, aku memasuki dunia perkuliahan. Dunia kampus, dunia yang sedari dulu tak pernah tersirat untuk bisa kusinggahi. Maklum, aku untuk makan saja susah, apalagi untuk kuliah.

Ya, tak jauh beda dari kisah sebelumnya. Segudang kesakitan dalam diam kembali dan kembali terulang. Mulai dari trik pengusiran terselubung dari asrama, hingga anggapan miring yang tak pernah tercroscheck sesuai fakta.

Dan, malam ini aku kembali menyaksikannya: bagaimana mereka merencanakan sebuah kesakitan untuk orang lain. Yang dilakukan dalam diam, diam-diam. Tapi meski objek yang disakiti dianggap tak menyadari dan tak tahu menahu, aku tetap merasa tersakiti bahkan sangat sangat sangat tersakiti. Terlebih jika aku ikut menjadi pelakunya. Sungguh hanya kediaman yang mampu kutujukkan. Diam dalam sakit, sakit dalam diam.

Sampai kapan dua hal itu terus menghantuiku?

Balada Kemenangan Malhikdua, Haruskah Terlarung?

Menjadi bagian dari Malhikdua, seperti pernah tertuang dalam celoteh silam, memang bukan rencana strategis untuk meraih prestasi. Namun, benar memang rencana Allah itu lebih indah dari rencana manusia. Lebih indahnya lagi, keindahan rencana itu justru jelas terlihat ketika manusia terkapar setelah menjalani proses panjang.

Dan, itulah yang saya alami, sob.

Tak pernah terbesit di benak saya untuk menjadi santri berprestasi. Apalagi siswa berprestasi di sekolah yang berada di bawah naungan pesantren. Besitan ini tumbuh dari kekecewaan sekolah SD saya yang notabenenya Islam, yang memang sangat kurang mengapresiasi siswa-siswi berprestasinya. Meski begitu, saya hapal betul raut wajah kepala sekolah yang agak disembunyikan saat membanggakan nama saya, kala memecah rekor: peraih hasil UN tertinggi sepanjang sejarah berdirinya sekolah.

Kisah klasik yang menjadi tonggak kekhawatiran saya itu, justru berbalik 180 derajat ketika saya mengenal Malhikdua.

Memang, saya akui, apresiasi sekolah dan pesantren tak jauh beda dengan sekolah SD dulu itu. Tapi, disinilah keindahan rencana Allah berbicara. Allah memberi jalan lain yang tak pernah terpikir oleh saya. Jalan yang teramat terjal, penuh duri, bahkan sangat berbahaya. Tapi itulah keunikannya. Itulah keindahannya. Itulah kenikmatannya, sob.

Proses demi proses menuju prestasi itu sangat berarti untuk saya. Bahkan tiap momentnya tak ada yang terlupa. Saya seperti terbimbing untuk terus dan terus berjalan, walau aral tak kunjung selesai jua. Dan itulah fase yang membalikkan ketidakpercayaan saya menjadi yakin: bahwa keajaiban itu benar ada, bahwa ketidakbisaan manusia hanyalah omong kosong selama mau berusaha dan berdoa.

Maka, ijinkan saya mengurai kemenangan Malhikdua yang pernah saya saksikan, yang pernah saya buktikan, dan yang akan selamanya saya banggakan, sob.

2008

Malhikdua Juara Harapan Lomba Website SLTA tingkat Nasional versi Gunadarma Jakarta. Ini kemenangan pertama yang membuat hati saya berdecak kagum. Bagaimana bisa sekolah macam Malhikdua menjuarai kompetisi Web? Mungkinkah siswanya bisa membuat website sendiri? Serta sederet pertanyaan lain langsung tumpang tindih di otak, sesaat setelah saya melihat piagam kemenangan itu di lab komputer sekolah.

Dan, kekaguman inilah yang mengantarkan saya mengenal M2NET.

2010

Malhikdua Juara 2 Lomba SLTA versi UNIKOM AMIKOM Yogyakarta dan Juara 1 Opersource tingkat Nasional versi Gunadarma Jakarta. Inilah keajaiban pertama yang membuat saya hampir pinsan. Dari juara harapan di tahun 2008, pejuang-pejuang M2NET berhasil menggiring ke Juara 2 dan Juara 1 dalam kurun waktu 2 tahun. [berita 1] [berita 2]

Dua Siswi Malhikdua Menjadi Blogger Terbaik & Penulis Terbaik Al Hikmah 2 versi BISA2010. Kemenangan ini menjadi titik balik semua keraguan saya untuk berprestasi. Sungguh, sehebat apa pun prestasi itu, kemenangan ini lebih dahsyat dan lebih membahana, karena saya tak pernah berpikir untuk menjadi penulis apalagi blogger. [berita]

Siswi Malhikdua Juara 1 Lomba Penulisan Artikel Se-Jateng & DIY versi Suara Merdeka. Dan, sekali lagi, ketidakbisaan manusia hanyalah omong kosong selama mau berusaha dan berdoa. [berita]

2011

Malhikdua Luncurkan 15 Buku Karya Santri. Inilah bukti bahwa saya bisa menulis. Benar-benar seperti mimpi.

2012

Siswa Malhikdua Juara 2 Lomba Penulisan Artikel Nasional versi ICI. Kini giliran anak-anak saya, adik kelas saya, yang meneruskan prestasi-prestasi itu setelah saya tak lagi di Malhikdua. Ini dahsyat!

Malhikdua Gelar Pelatihan Menulis Te-We Bersama Damae Wardani. Ya Allah, rencana-Mu benar-benar lebih indah dari rencana manusia. Inilah moment yang penuh peluh. Moment yang hanya bisa tercapai dengan tertatih. [berita]

2013

Malhikdua Juara 3 Lomba Website SLTA Se-Jateng & DIY versi UIN Malang. Meski hanya mensupport jarak jauh, saya tetap bangga pada Malhikdua dan pejuang tangguh M2NET.

Malhikdua Juara 1 Kompetisi Pers Siswa Se-Jateng & DIY versi IAIN Walisongo. Ini dia puncak kepuasan kemenangan yang Allah berikan. Semua berakhir indah, teramat indah. Dan, keindahan ini hanya tercapai dengan jalan yang sangat tidak mudah.

———

Sobat, semua kemenangan Malhikdua ini tidak akan tergenggam jika saja pejuang-pejuangnya gugur di tengah jalan. Selanjutnya, akankah kemenangan ini hanya menjadi sejarah yang tak berlanjut? Anda, pejuang Malhikdua lah, yang bisa menjawabnya.

Maka, jika Malhikdua.com harus menghembuskan napas terakhir pada November nanti, semua karya yang telah tercipta sejak 2008 lalu, menjadi abu yang terlarung ke laut oleh ketidakpedulian keluarga Malhikdua sendiri.

Haruskah itu terjadi, sob?

***

3 Langkah Mudah Membuat Blog di Malhikdua.com

Sekarang ini tak banyak orang yang memanfaatkan email sebagai sarana komunikasi. Tradisi beremail ria seakan tergerus oleh kemudahan dan kepraktisan sosial media dalam menjembatani komunikasi manusia. Meskipun orang mendaftar layanan sosial media selalu menggunakan email saat verifikasi, tapi pada kenyataan banyak yang malas buka hingga seringkali berujung lupa password.

Mengatasi kondisi demikian, M2Net sebagai pengelola Blog Malhikdua memudahkan blogger untuk memiliki blog di Malhikdua tanpa melalui proses verikasi lewat email. Proses pendaftaran pun jadi lebih ringkas.

Bagaimana prosesnya? Ikuti langkah berikut.

  1. Buka web Malhikdua.com yang beralamat di http://malhikdua.com. Klik link [Daftar BLOG baru] seperti gambar.
    1
  2. Isi form yang disediakan sesuai keinginan anda. Contoh pada gambar jika user dan blog yang diinginkan adalah http://soleh.malhikdua.com. Pada bagian akhir, pilih  ”Gimme a Site”. Klik NEXT
    2
  3. Isi form lanjutan. Isian Site Domain diisi dengan alamat blog yang anda inginkan. Minimal 4 karakter, boleh berupa huruf atau angka, atau campuran. Harap diisi dengan hati-hati karena alamat yang sudah dimasukkan tidak bisa diubah. Site Title adalah nama blog, untuk nama ini bisa sembarang, bisa diubah kapan-kapan. Di bagian Human Verification ada pertanyaan yang harus anda isi sebagai bukti anda benar-benar keluarga besar Al Hikmah 2. Klik SIGNUP.
    3
  4. Tampil ucapan selamat yang artinya BLOG baru anda telah berhasil dibuat. Untuk melihat wujud blog anda ketikkan http://nama.malhikdua.com pada address bar. Sedang untuk mengelola silakan login di http://nama.malhikdua.com/wp-admin atau login melalui halaman utama Malhikdua.com.
    4

 — happy blogging —

Malhikdua.com Akan Ditutup, Dimanakah Keluarga Besar PP. Al Hikmah 2?

Jika Anda keluarga PP. Al Hikmah 2 sejati, harusnya Anda berduka. Karena Abah Masruri selalu mengingatkan “Ikatlah ilmu dengan menulisnya”. Tapi bila kabar ini tak berarti sama sekali untuk Anda, semoga tidak ada penyesalan di kemudian.

Sudah 4 tahun malhikdua.com menemani kita dalam mewadahi penulisan santri. Seperti yang kita lihat bersama, pekan kemarin malhikdua.com  telah berganti wajah. Pergantian tersebut bukan karena kejenuhan, bukan karena iseng-iseng, melainkan dikerjakan dengan serius dan sungguh-sungguh oleh salah satu alumni. Sufyan, nama alumni tersebut, rela menanggalkan pekan pertama kuliah dengan pergi ke Surabaya. Tak lain karena pekerjaan itu.

Pergantian wajah tersebut juga diikuti pembenahan sistem di dalamnya. Semua dilakukan -sekali lagi- bukan karena iseng2, bukan karena tempat praktik codifikasi, tapi dengan sungguh2, agar Blog Malhikdua tetap menjadi agen perubahan stigma santri katro yang pernah melekat, agar Blog Malhikdua tetap menjadi kebanggan Pesantren, disamping misi kebangsaan atas cintanya produk (bandwith) dalam negeri.

Ikhtiar perbaikan itu berangkat dari kegelisahan kami mengamati nasib malhikdua.com yang tidak seberuntung saudara tuanya (malhikdua.sch). Sudah hampir 2 tahun ini malhikdua.com tampak tak lagi bernyali.

Kurang minatnya para santri sendiri terhadap Blog menjadi salah satu penyebab Malhikdua seperti mati suri. Santri terlihat lebih asyik bersosial media hingga bertwitteran yang memang lebih praktis tanpa perlu mengeluarkan otak setetespun. Kurangnya sosialisasi kepada santri juga menjadi alasan redupnya Malhikdua.com, sangat berbeda saat promosi gencar di tahun 2008-2009 yang saat itu sukses menelurkan penulis-penulis bertaji.

Dari sisi pengelola pun setali tiga uang. Mengelola malhikdua.com kalah menarik dibanding mengelola malhikdua.sch.id. Logis saja, dengan mengelola situs SCH.Id nama pengelola turut terangkat atas kemenangan lomba-lomba yang didapat. Sanjungan, tepuk tangan, medali, dan uang bisa didapatkan dari pengurusan Malhikdua.sch.id.

Kini, malhikdua.com semakin merana, semakin usang oleh pembiaran-pembiaran yang kita lakukan. Hanya beberapa blogger yang aktif didalamnya. Jika distatiskan pertumbuhannya, setahun tak sampai 15 blogger baru yang memakai malhikdua.com sebagai sarana penulisan. Itupun banyak dipakai oleh orang diluar santri, untuk keperluan monetize dan mencari backlink demi mendukung pemasukan income mereka. Santri-santri sendiri, entahlah dimana berada. . Keterbatasan waktu, alat, dan koneksi menjadi alasan utama yang harus kami maklumi.

Satu tahun, 2 tahun kami sabar menunggu. Berharap santri-santri yang dulu masih polos-polosnya akan muncul dengan membawa kabar gembira bagi kami. Kabar untuk meneruskan project Malhikdua.com, mengisinya dengan postingan-postingan bermutu, berkualitas, berskala dunia, hingga mensosialisasikan Blog Hosting Produk dalam negeri ini ke seluruh dunia.

Tapi yang kami hadapi berkata lain. Tahun berganti, pengguna blog Malhikdua tetap sedikit. Ironisnya, para santri yang kami tunggu bertahun-tahun tidak tampak tetesan ilmunya di Blog ini. Para alumni yang kami harap bisa menggunakan kemampuan riset untuk mengembangkan malhikdua, para alumni yang kami harap bisa menggunakan ketajaman penanya untuk me-wibawa-kan wajah Blog Hosting ini, rupanya memilih untuk membiarkan malhikdua.com teronggok tak berdaya, tampil membisu, tanpa tulisan-tulisan greget, tanpa info-info bermutu. Malhikdua.com tetap tampil dengan kepolosan wajahnya. Tak jauh beda saat mereka menjadi santri.

***

Menarik garis tahun kebelakang, membangun Malhikdua.com sebagai tempat blog hosting saat itu adalah resiko yang kami pilih. Tenaga, dana, waktu bakal terkuras habis untuk membuat hingga mengembangkannya. Tak sedikit yang mengkritisi tentang ketidakefektifan ini, karena kalau hanya untuk menulis lebih baik menggunakan layanan-layanan yang ada (spt blogdetik, blogspot, wordpress.com,  kompasiana, dll). Tidak makan resource dari biaya hingga waktu.

Tapi kami bergeming akan kritikan itu, pembangunan Blog Hosting tetap kami teruskan, karena mereka (para pengkritik itu) tidak mengetahui bagaimana resistensi pesantren terhadap pelaku dunia online.

Teman-teman,anda semua, yang saat itu menjadi santri , ketahuilah, anda tak akan diijinkan berinternet jika kami tak memakai nama Malhikdua. Empat tahun lalu, dengan kocek sendiri, keringat sendiri, kami menggarap blog hosting Malhikdua.com agar saat anda berinternet pihak sekolah ataupun guru mengira anda mengelola Malhikdua. Perjuangan menggarap Malhikdua.com sejalan dengan perjuangan kami mewadahi karya-karya dan pikiran anda.

Karena gerilya, selama 2 tahun Malhikdua.com masih memakai dana sendiri. 2 tahun kemudian Malhikdua.com memakai dana kas Sekolah setelah kami melakukan lobi-lobi yang meyakinkan, ditambah keberhasilan menjuarai event website. Lewat janji-janji proyeksi akan pemanfaatan Malhikdua.com untuk pengembangan dan ketajaman pesantren itu sekolah bersedia membiayai server malhikdua.com per tahun.

Namun melihat kenyataan sekarang, di tahun ke-5 ini nanti, disaat kontrak pembayaran berakhir bulan november nanti, kami tahu diri untuk tak lagi melobi perpanjangan Malhikdua.com. Alasannya seperti yang sudah kami sebut diatas.

Kami harus bersikap gentle, kala tujuan tidak terc apai tak mungkin kami meminta dana ke sekolah. Dana sekolah untuk malhikdua.com jauh lebih besar daripada malhikdua.sch.id. Dana setahun 3,6 Juta yang diambil dari perputaran warnet alangkah lebih manfaat jika diperuntukan untuk pengadaan-pengadaan pelatihan, operasional redaksi, dan menambah aset-aset untuk pengelolaan SCH.

Bukan soal dana pula pertimbangan kami. Secara TENAGA sudah tak sanggup lagi terus-menerus mengerjakan project malhikdua.com . Beban tenaga yang dikeluarkan 4-5x lebih menguras dibanding membangun situs Malhikdua.sch.id. Apakah anda membiarkan kami bekerja dalam kesepian? Mengelola sesuatu hal yang tidak banyak diambil manfaatnya oleh para santri, alumni, guru-guru, dan lain-lain. “Jika alumni-alumni berkumpul membangun pesantren lewat riset, sosialisasi, tulisan-tulisan tajam tentu menjadi kekuatan besar yang sangat diperhitungkan orang-orang diluar pesantren.” Ternyata hanya teori. Sampai saat ini kami hanya melihat Sufyan melakukan seorang diri mengelola hal itu diantara ribuan para santri dan alumni-alumni lain.

Maka dari itu, keputusan menghentikan project malhikdua.com adalah hal yang sangat logis dan sangat memungkinkan.

Masih ada 2 bulan lagi Malhikdua.com bisa mengudara. Selanjutnya kami menutup layanan secara permanen jika dalam waktu tersebut tidak ada kabar baik terkait Malhikdua.com. Kami harus jujur menyampaikan segala perkembangan ke Sekolah. Kiranya sekolah juga akan berpikir 1000x untuk meneruskan mengingat besarnya dana yang dikeluarkan tidak impact dengan manfaat untuk santri dan alumni sendiri.

Ini bukan ancaman. Kami hanya menyampaikan konsekuensi yang masuk akal. Bukan hal aneh kala suatu produk digital gulung tikar. Multiply sudah menutup layanan Blognya, diganti dengan Marketplace (ecommerce), Yahoo telah mematikan layanan Koprol yang dibanggakan anak negeri, Friendster sudah tamat jauh tahun, Myscape sudah ganti kepemilikan, Google menutup picasa dan mybloglog. Dan terakhir, tinggal tunggu waktu aja, karena saham Facebook terus turun saat orang-orang beralih ke Path.

Artinya, penutupan Layanan malhikdua.com adalah wajar-wajar saja. Karena memang tidak ada yang awet dalam dunia digital, dunia online.  Malhikdua tidak punya santri dari keluarga Bakrie yang bisa mengatasi pendanaan. Malhikdua tak punya santri sejiwa Dahlan Iskan yang tetep bangga mengendarai Merpati disaat teman-temannya memilih produk-produk Boeing, Airbus, hingga Shukoi.

Anda tak punya siapa-siapa. Anda-lah, sebagai pemilik Malhikdua.com yang bisa menentukan nasib sendiri, anda yang membuat lanjut atau tidaknya milik anda sendiri. Nasib Malhikdua.com tidak bergantung kepada orang lain, demikian pula kepada kami.

Karena, mohon diketahui, riwayat pengelola dan pengembangan Malhikdua.com selama ini (Novi, pranda, estiko, wahyudi, MQ  Hidayat, dan Tantos) bukan lah santri maupun alumni Pesantren Al Hikmah 2. Empat tahun waktunya sudah cukup untuk melakukan banyak hal untuk Pesantren. Mereka tidak terlalu bangga dengan kepopuleran Malhikdua di dunia daring. Mereka tidak ambil pusing jika label “satu-satunya Blog Hosting di dunia pesantren” hilang. Mereka hanya relawan-relawan yang terjun atas dasar tolong menolong.

Pergantian wajah yang telah kita lihat bersama pekan kemarin adalah upaya terakhir kami dalam membantu mempertahankan Blog Hosting Malhikdua. Sekali lagi, masih ada waktu hingga awal November. Jika tidak ada peningkatan jumlah blogger maupun mutu tulisan, tak ada lagi upaya lobi sekolah untuk memperpanjang biaya tahunan hosting yang cukup besar.

TTD

HUMAS M2NET

——————————–

(dw/ns)