Rintikmu kembali membelaiku, duhai langit
Mesranya malam terus kau lilit
Merengkuh hati nan rumit
Menangisi nasib yang kian menjepit
Sakit…kit..kit..

A Peace of Simplicity
Rintikmu kembali membelaiku, duhai langit
Mesranya malam terus kau lilit
Merengkuh hati nan rumit
Menangisi nasib yang kian menjepit
Sakit…kit..kit..
Aku tahu Kau begitu
Maka ijinkanku menikmati caraku
(17.08.2013)
Sekiranya pantas kubertanya,
Siapakah aku bagimu?
Aku yang,
Selalu Kau dustai tentang rasa
Tapi akumu selalu sama: cinta semu
Memang, Kau berhak mengelak
Se-berhak aku memendam
Kerinduan yang berbatas angan
Kerinduan yang,
Tak tahu malu tuk terus pasang
Bila nanti waktu menuntun kita berjumpa lagi
Ijinkanku sekadar menyapa, My Fa
Meski lagi dan lagi berbatas angan
Biarlah kerinduan ini tetap kugenggam
Bila kenang ini harus menghilang tanpa kata
Biarlah tintaku diam-diam mengabadikannya
Dalam diam,
Terlalu diam,
Menyisir malam-malam melambai duka
Dusta, bisik mereka
Tak mengapa Kau tak risau
Mendengar lenguhku setengah parau
Tapi kuyakin iba-mu terlipat rapi
Menyelinap di sebalik relung hati
Demi dia, ibu dari putriku, ucapmu tertunda di batin saja
Begitulah, siksa kisah kasih terbelenggu realita
Inilah ramadhanku
Ramadhan penyambut tangis pertama
Ramadhan saksi namaku baru tercipta
Ramadhan bukti juang jantungku berdetak
Ramadhan, yang menguati
Yang membisiki
Yang menyinari
Keyakinan napas Ilahi
Inilah Ramadhanku
Ramadhan, bulan kelahiran
(19 Ramadan, 13 Maret)
Jika boleh aku menangis,
Mungkin berpuluh ember akan penuh
Tapi itu takkan membunuh peluh
Pun tak membuatku lebih bermakna
(06.08.13, 16:07)
Kau bisa memberhentikanku,
Tapi karyaku takkan berhenti mengguncang dunia.
(06.08.13, 10: 03)