Haru

Haruku membiru

Menyulap riak cemburu mengembun

Sejuk

Menyublim warna hari

Menepi emosi

Disini, di palung hati

Aku katakan semua baik-baik saja

Pilu Tulangku

Inginku pergi darimu, Salju

Dari kebekuan yang lelah

Menggerogoti pilu tulangku

Sama

Lelah kubilang begini

Rautmu tetap sama

Belamu tetap sama

Dia,

Dia yang bermanja di ketiakmu

Dia yang Kau puja bak Putri Salju

Dan aku,

Selamanya tetap sama,

Selalu salah

Seutuhnya

Misteri Puisi

Harus bagaimana lagi logikaku?

Ini sudah, itu sudah

Semua sudah

Harus bagaimana lagi terkaku?

Ini sudah, itu sudah

Semua sudah

Tapi tetap saja buntu

Tetap saja bisu

Tuhan, misteri puisi macam apa ini?

Kau

Ah, Kau!

Lagi-lagi, Kau!

Tak bisakah Kau enyah?

Sejenak saja

Sekejap mata tak apa

Sekadar memberiku jeda

Barang senapas

Ya, cukup senapas

Huhf…

Sekiraku bisa mengencangkan tali & nyali

Celoteh Angin 2

Waktumu habis. Saatnya pulang, Dam! makhluk yang paling suka mengagetkan itu kembali menguntit.

Temanku juga sudah datang. Dia akan membersamaimu di bus, agar Kau sejenak terlelap. belum sempat kurespon, ceracaunya terus saja tak berjeda.

Temanmu justru merepotkan. Tahu aku tak berpayung, kenapa malah datang? Pusing! aku berkilah.

Mulutnya masih tampak menganga. Seakan ada ribuan kata yang siap terlontar, tapi urung. Barangkali wajahku beringas. Atau kata terkahirku membuatnya mendadak bungkam. Sebenarnya tak bermaksud begitu, lebih tepatnya aku tak sengaja berkata begitu. Meski harus kuakui kalau dia memang menyebalkan.

Kau bisa sakit jika terus berdiri disini. Ayolah.. akhirnya berhasil juga dia melawan katup mulut.

Peduli apa Kau dengan sakitku? aku menerka.

Kau tahu, di garis depan batas cintaku ada sejumput rasa yang sedang tersobek. Tidak berdarah memang, tapi sakitnya luar biasa.

Kau lihat, mata ini sembap dan mengantung hitam. Bukti bahwa air mataku tertahan untuk keluar, ia kehabisan stock dari gudang.

Kau dengar, erangan kalbu menyusup pori-pori siluet mentari. Mentari yang cahayanya tertawan kawanan hujan, sahabatmu itu, sekarang membuatku kehilangan.

Aku percaya hatimu tak berdusta, apalagi nista. Tapi aku juga mengerti kalau Kau tak menginginkan langkahku gontai, sendiri.

Biarkan aku bertahan disini. Sebentar saja. Aku hanya ingin memastikan serpihan rasa ini masih bisa kugenggam utuh. Jika pun harus kukubur, berharap tak ada satu serbuk pun yang jatuh apalagi tercecer. Mengertilah.. Sekali ini saja. aku menghembuskan napas berat.

Dia menutup mulut rapat-rapat. Tampak berpikir. Kakinya yang tadi berdiri, sedikit ditekuk hingga badan membungkuk. Mata elangnya perlahan mengerling. Sejatinya wajahnya manis, apalagi kalau tersenyum dan memamerkan sedikit lesung pipit. Sayangnya mahal.

Baiklah, jika malam yang beruntung menyaksikan kepulanganmu, jangan limbung. Esok menanti dirimu menggengnggam mentari. Dan aku percaya pada seikat asa yang pasti kan Kau jemput. dia menggenggam erat tangan dingin ini. Tak seperti biasa.

Aku hanya mengangguk, dan tersenyum. Melepasnya kembali mengembara. Sedang temannya, hujan, tak bergeming melihat sepenggal adegan melow tadi.

Kuayunkan kaki menuju gerbang masuk penumpang yang terjaga beberapa scurity. Bukan hendak masuk, karena memang aku tak bertiket. Hanya butuh menyentuh gerbangnya saja. Agar kepergian kereta yang membawa separuh jiwaku itu, bisa kusaksikan utuh. Separuh jiwa yang baru saja membuat hariku sempurna. Separuh jiwa yang selalu berjuang untuk membuatku bahagia. Separuh jiwa, yang.. Sepuluh menit lalu mendewasakanku dengan segenap cinta dalam peluknya. Ya, dialah separuh jiwa yang pergi untuk kembali.

Tanpa sadar, bulir bening dari sebalik kelopak mataku kembali jatuh. Sedang makhluk tak terlihat yang selalu mengagetkanku itu, aku tahu belum beranjak. Masih tegak dibelakang tubuh ringkihku. Huhf, dasar Angin!, aku membatin.

—–

Lamunan Stasiun, 29/3.