Dingin itu..

Dingin itu.. Saat Kau bergumam Hmm

Dingin itu.. Saat Kau mengulum senyum, memaling roman, dan berkedip sesekali

Menghempus napas, lalu gelisah

Kau menata mimik untuk memulai

Memulai rajutan kata yang,

Berat dan setengah memaksa

 

Dingin itu.. Saat Kau hempas asa ke ufuk barat

Saat Esok tak lagi bergairah

Bahkan Kau gugat hari, menatih cercaan tak bermartabat

Menyeretnya hingga ulu hati

Sekali lagi Kau bergumam Hmm

Lalu tak sengaja menyeka air mata

 

Dingin itu.. Saat senyummu tak bernyawa

Ruh cinta tertanggal di kelambu merah

Jendela seketika membuatmu betah

Mematung dan mengosong tatap

Ke arah yang tak mampu kuterka

Kau menyebutnya Rahasia Pria

 

Dingin itu..

Ah..

Kau lebih tahu,

Betapa hatiku merenda rindu setiap waktu

Membalikkan Dingin itu..

Dingin yang tak pernah kurela menyelimutimu

 

–dunia damae, 31/3–

Celoteh Angin

Bertahan dalam kesendirian itu tidak mudah, bisiknya lirih. Tapi justru kelirihan itu yang membuatku kaget. Selalu kaget saat perlahan kehadirannya mengibaskan wajah letihku. Sudah ribuan kali kuminta mengabari sebelum menghampiri, bahkan mungkin ratusan ribu kali. Sayangnya sebanyak itu pula dia acuh dan seolah tak mau tahu. Kalau sudah begitu, aku tinggal mengelus dada dan tarik napas. Mengusik kekagetan yang kini mulai hafal juga suaranya.

Bahkan lebih pantas jika kubilang, dia berhenti sejenak. Memandangi sekeliling. Bola matanya berhenti ketika memerhati para tukang bangunan yang sedang sibuk dengan adukan semen, menumpuk bata, memotong besi, mengecat, juga menjalankan beberapa alat berat. Alat yang aku tak tahu namanya, tapi kurasa agak mirip permainan Tornado di Dunia Fantasi. Warnanya sama-sama kuning, bisa naik bisa turun. Hanya saja Tornado digunakan untuk having fun, sedang alat itu justru penuh risiko karena mengangkut adonan semen dan pasir dari bawah ke lantai 3, 4, 5, hingga akhir lantai gedung yang sedang dibangun. Di atas sekotak adonan itu ada seorang tukang yang bertugas mengendalikan alat, tanpa pengaman yang menjamin keselamatan.

Menyakitkan. Ya, kesendirian itu menyakitkan., suaranya kembali mengagetkanku.

Aku tak tahu apa maksud ucapannya itu. Barangkali dia sedang ingin mengajakku bergurau. Atau hanya sekedar menumpahkan umpatan-umpatan yang tak pernah didengar siapa pun. Itu hal biasa. Datang tanpa diundang, pergi pun tak diantar. Seperti Jaelangkung? Tidak. Dia bukan makhluk seperti itu. Meski aku belum pernah melihatnya, tapi kupastikan dia berbeda dengan Jaelangkung dan sejenisnya.

Kenapa Kau diam? untuk kesekian ribu kali, dia kembali membuatku kaget. Aku yang masih asik menatap senja sore ini, sontak berkedip, membenarkan posisi duduk, dan siap berinteraksi dengannya -makhluk yang tak terlihat-.

Eh, eu.. aku gugup. Tatapan Elang-nya cerdas sekali mematahkan seribu ucap yang sudah di ujung bibir.

Tidak apa-apa. Ekhm.. aku sedikit berdehem untuk mengusir nervous.

Aku hanya sedang konsentrasi menyimak kata-katamu tadi. Meski sejujurnya aku tak paham apa maksudmu. aku berdalih. Tapi memang benar aku tak paham.

Ah, Kau tak usah berkelakar. Aku tahu apa yang kuucapkan itu benar. Ya, terutama untukmu. itu kebiasaan kedua yang kubenci darinya. Selalu memaksakan sesuatu menjadi benar dimatanya dan dimataku. Tanpa penjelasan.

Sekarang Kau tak bisa lagi liar bercinta. Jangankan bercinta, melihat wanita saja menjadi hal paling menyakitkan bagimu. aku terdiam. Membiarkan dia berceloteh sesuka hati.

Duh, malang sekali nasibmu ini. Ah, tidak. Aku tak perlu memberi iba untuk lelaki sepertimu. Toh, nasib ini sudah Kau kehendaki. Bahkan Kau rencanakan. lama-lama telingaku memerah. Umpatannya berubah ejekan sinis yang harus kuhentikan. Tapi SIAL. Batang hidungnya saja tak dapat kulihat.

Tak perlu Kau sesali begitu. Nimati saja dunia kelammu. Wuizzzhhh ia menghilang tanpa kuminta. Bahkan tanpa kata-kata.

Seiring kepergian makhluk menyebalkan itu, hujan perlahan mengguyur pelataran gedung asrama kampus. Juga gedung baru yang masih dipoles para tukang bangunan. Seketika tukang-tukang itu tergesa berteduh, mengamankan beberapa alat yang tak kukenali semua. Sementara kantin ini, masih sibuk melayani mahasiswa dengan segenap pesanannya. Termasuk aku yang sedari tadi menanti es cappucino dan semangkuk bakso.

Kupandangi awan yang tergusur mendung. Kelabu merata menikam birunya langit. Sesekali petir menggelegar. Sayang, tak kutemui lagi dimana sosok menyebalkan tadi bersembunyi. HUH!!! Dasar, Angin!, aku mendesis.

—-

Lamunan Angin, 25/3.

Wajah Ori nan Alami

The Old Photo

Masih
Masih original wajah Damae. Itu bukan sedang makan microfon tapi sedang baca Ikrar TK dg lantang.

Ini foto saya 14 tahun silam. Diambil saat acara perpisahan Taman Kanak-Kanak (TK). Masih lekat dalam memori, betapa lantang suara saya membaca Ikrar TK sebanyak 5 butir, hingga mencuri perhatian para hadirin. Namun saat point ketiga tertukar dengan keempat, sontak seluruh teman, guru, tamu undangan, dan wali murid tertawa bersama. Dan saya tetap melanjutkan membaca tanpa merasa malu apalagi salah tingkah. Meski setelahnya langsung turun panggung dan mengulum wajah. Ya, itu salah satu polah saya saat berusia 6 tahun.

The New Photo

"Cantiknya
Cantiknya alami kata ayah, ^_^

Nah, ini dia wajah baru saya. Baru diambil setahun lalu, saat usia saya masih 19 tahun. Tampak beda? Memang. Saya saja agak tidak percaya. ^_^

Tapi tenang, ini asli kok. Foto diambil saat pemilihan Putri Jurnalistik 2012 di kampus tercinta. Kata sebagian orang, wajah ini mirip ibu. Tapi bagi saya, justru persis ayah. Nah, lho.

—-

Special for Bunda Yati

Membaca nama Yati Rachmat, sejatinya ketidaksengajaan. Saat blogwalking minggu kemarin, saya menjumpai sebuah postingan teman yang sedang diikutkan GA. Berderet pujian untuk pemilik akun Goodcrab itu tertulis rapi diantara the old and new photos. Siapa sebenarnya orang ini? Batin saya. Sembari mengurai penasaran, saya klik link yang tertera di bawah banner GA.

Dan, profil singkat bunda Yati, sapaan akrabnya, membuat saya tergugah.

Perempuan biasa yang selalu ingin tampil penuh percaya diri. Berusaha sekuat mungkin untuk tetap bisa menyirami dan disirami dengan kasih sayang dan cinta. Mencoba menulis – karena menulis itu kunci untuk pencerahan otak dan peningkatan kepercayaan diri yang hakiki.

Amazing! Tiga kalimat di atas cukup menjadi bukti betapa semangatnya amat membara. Betapa ia tak mau berhenti belajar. Betapa ia ingin selalu menebar manfaat. Betapa ia bertekad turut mencetak sejarah lewat tulisan-. Betapa ia berjuang untuk menjadi matahari, berbagi apa pun yang ia mampu untuk mencerahkan orang lain.

Bila ia seorang generasi muda, barangkali itu biasa. Tapi untuk seorang ibu berkepala tujuh yang masih gesit mengoprek teknologi (ngeblog)? Saya harus bilang WOW untuk hal ini. Dosen saya yang masih muda dan gaul saja jarang sekali yang mau ngeblog. Ah, tak perlu jauh, mahasiswa pun hanya hitungan jari. Termasuk saya yang dibuat malu sekaligus iri akan eksistensi bunda Yati. It’s extra ordinary, bunda!

Sekarang saya baru ingat, ternyata diam-diam dulu sering menikmati tulisan inspiratif ala bunda Yati tapi tak pernah meninggalkan jejak di kotak komentar. Thanks berat, bunda.

src=http://1.bp.blogspot.com/-bpRGULSZl44/UTtQhep63xI/AAAAAAAAB8Q/WU4lgjEsbJw/s1600/banner+baru+dari+pakdge.jpg

Foto dan tulisan diikut-sertakan pada GiveAway – Pertamaku untuk Ultah Blog MISCELLANEOUS

‘Kepala Dua’ & Jalan Damai

Senja masih kemayu saat kutulis ini. Persis selempar pandang di depan kamar, mega merah jingga membentang senyuman. Ufuk barat bersiap menyambut mentari beristirahat. Barisan persatuan burung pun tak mau kalah, mengangkasa ke utara; menuju peraduan mereka. Dari speaker masjid selatan, lantang terdengar puji-pujian santri madin. Sesekali tersedak, suara gaduh, juga tawa yang tak mereka sadari ikut mengudara. Atap bumi sore ini sedang ceria. Elok nan berwarna.

Sekira tiga jepret kameraku mengabadikan panorama itu. Tampak senja berderap. Seolah membentengi rumah-rumah peduduk yang masih sibuk. Tak terkecuali jalanan, padat merayap. Menjelang adzan maghrib memang puncak kemacetan di tiap ruas jalan. Terlebih jalan yang tak bisa dibilang lebar itu, persis dibawah depan kamarku. Deru mesin berebut antrian jalan, klakson bersahutan. Satu dua terdengar ceracau pengendaranya. Tak sabar. Sayang sekali, mereka mengacuhkan kecantikan senja di langit sana.

Bola mataku reflek beralih pandang ke samping. Teman-teman sedang asik bergurau di kamar sebelah. Celoteh sore yang mengundang gelak tawa. Riang. Aku  senang dengan keberadaan mereka. Deretan kamar-kamar ini jadi hidup dan berwarna oleh kebersamaan. Meski kutahu obrolan sore itu tak jauh dari pusaran gerundelan soal kos-kosan. It’s crazy, funny, and love story, guys.

Ah.. Sepotong senja yang menggemaskan. Dan tentu kurindukan.

Dert.. Dert.. Dert.. Hapeku bergetar. Ibu. Langsung kuangkat dan

Selamat ulang tahun, sayang Semoga tambah sayang keluarga, tambah dewasa, tambah tambah tambah tambah semua yang baik pokokya. Nasi kuning dan kadonya nyusul ya, sayang. Ibu terdengar bahagia diseberang sana.

Aku terharu. Speachless, kecuali ‘aamiin’.

Sejatinya aku berharap ucapan itu kudengar kemarin, 13 Maret. Tapi sepertinya ayah ibu sedang sibuk, bahkan saat kupancing via telepon pun justru diputus. Whatever, suara ibu sore ini sudah merenyuhkan hati. Makasih, bu.

Ini tahun ke lima aku mengulang tanggal lahir seorang diri. Ya, lima tahun sudah aku hidup di perantauan. Beruntung masih ada kawan dan saudara yang mengingat. Setidaknya di hari yang -kata orang bahagia, hari spesial- itu aku masih bisa makan kue ulang tahun buatan teman-teman.

Geli mengingat malam kemarin. Aku terlelap di atas sajadah selepas solat maghrib, lengkap dengan mukena. Tubuh ini memang sedang kurang fit. Saat suara gaduh beberapa remaja yang melewati bawah kamarku, aku sontak tersadar. Reflek penggalan ingatan kasus pencurian beberapa bulan ke belakang masih menyisakan trauma. Kulihat laptop masih menyala, jarum panjang jam di sana menunjuk angka 9, sedang yang pendek mendekati angka 11. Hampir tengah malam. Dengan kepala dan mata yang berat, kupaksa bangun. Kamar masih sangat berantakan. Murotal di hape juga masih berputar. Tampaknya aku benar-benar terbius kantuk.

Kruck.. Kruck.. Kruck.. Oh, no! Perutku berdendang. Aku lupa makan tadi sore. Dan, sepertinya ini petaka.

Tak mau mendramatisir rasa lapar, aku mengambil air wudhu dan solat. Menyeduh teh, sembari memutar instrumen musik Kenny G dan Richard Clyderman. Kubuka berkas tulisan yang belum rapi, berharap ini mampu kembali memanggil kantuk dan melupakan dendangan perut. Tampak FB memberi kode pemberitahuan baru. Adikku. Sederet doa panjang yang dia kirim, menjadikannya orang pertama yang mengucapkan itu (hepi milad, pen). Terharu. Adik yang paling hobi menjegal ATM-ku itu bisa juga merangkai kata. :)

Tapi sepertinya, Kruck.. Kruck.. Kruck.. Bunyi kendang dan talu ala perut ini kian keras. Apa yang harus kulakukan? Kutengok persediaan makanan, nihil. Aku memang belum membelinya lagi sejak sepekan. Tapi tak mungkin rasanya keluar di tengah malam begini, seorang diri. Tanpa pikir panjang, kusend sms pada kawan di kamar ujung barat. Berharap dia belum tidur, lebih berharap lagi dia masih punya sisa makanan. Jika pun tidak, setidaknya mau menemaniku beli mie instant.

Dah tidur, neng?, kuawali sms.

Kebangun ni., jawabnya singkat. Ternyata senasib.

Kok sama? Ada sisa makanan kah?

Aku juga laper eung. Tapi nggak ada apa-apa disini.

Beli, yuk!

Malas jalannya, neng. Jalanan sepi banget

Hmm, aku mulai pasrah.

Mau kopi?, dia memberi secercah harap.

Aku udah nyeduh teh, tapi

Coba ketuk pintu kamar sebelahmu, dia punya roti seingatku.

Dah tidur.

Panggil kamar deket tangga, dia ada makanan cenah.

Nasi? ALHAMDULILLAH.., aku segera bangkit.

Gak tau. Yang jelas makanan. ah, tak apalah.

Damae.. Damae Damae suara dia terdengar lantang dari luar kamar. Tak sabar menyuruhku keluar. Aku yang masih mengenakan mukena untuk solat tadi pun tak sempat melepasnya.

Ckreck persis bersamaan dengan detik kubuka pintu kamar, Happy B’day. Selamat Ulang Tahuuuuuuuuuun. Dua kawan yang suka menemani begadang, suka masak bersama, kadang juga suka iseng membully, serentak berteriak. Sembari menabuh setoples makanan ringan di tangan, wajah mereka sumringah.

Wuaaaa, makasiiiiih. Tapi jangan keras-keras, nanti satpam naik baru tahu rasa kita., semua tertawa.

Jadilah aku menanak nasi dan membuat nyanyian perutku berheti. Malam pun sudah berganti pagi, tapi mata ini enggan terpejam hingga mentari kembali bersinar. Untuk kesekian kalinya, aku begadang bersama mereka. Tapi.. Aku mencium gelagat tak beres.

Pradugaku benar. Malam berikutnya mereka berhasil melancarkan serangan G13M (Gerakan 13 Maret) di depan kamar. Air, telur, tepung, bedak tabur, dan beberapa bahan lain dilepar ke muka, rambut, dan sekujur tubuhku. Tak banyak yang bisa kulakukan kecuali menggigil dan kedinginan. Wajah mereka memecah tawa, ini benar-benar rencana sempurna.

Tak peduli tubuhku menggigil, mereka asik memotret bergantian. Dari sebalik kamar sebelah, tampak kue coklat lengkap dengan lilin yang menyala. Mendekat dengan lagu Selamat Ulang Tahun. Hatiku basah. Seuntai senyum dan bulir bening dari sebalik mata ini jatuh. Terima kasih kawan-kawanku.

Seketika itu juga memoriku menerawang masa lalu. Terbayang erangan ibu melahirkan putri pertamanya ini. Puncak jeritnya, kurasakan di detik-detik menjelang udara dunia menyapa lembut kulitku. Dua puluh tahu silam, aku hanyalah bayi mungil yang bisa bertahan hidup dengan bantuan medis. Berat 19 ons saat kulahir, memaksaku berjuang lebih keras dari bayi-bayi lain untuk bergerak, menangis, dan hidup normal. Beruntung wanita yang mengandung dan melahirkanku itu wonder women. Hingga kini aku bisa tetap bernapas meski terpisah dengannya sejak lama.

Terbayang masa kecil yang selalu kurindu. Diayun di cabang pohon Jeruk dan bermain dengan belalang sawah, adalah keseharianku. Sesekali di dekati ular hijau yang tak begitu nakal. Menangkap ikan Caung untuk digoreng. Mengejar traktor dan lempar-lemparan belet, tanah sawah yang sedang diproses untuk menanam padi. Matahari dan lumpur menjadi teman sejati.

Beranjak usia 4 tahun, aku mengenal buku di bangku sekolah. Perhatianku tercuri olehnya. Aku mulai jarang ikut berkebun dan bersawah. Jika pun ikut, pasti harus mengantongi buku bacaan dan camilan. Kadang lebih baik tunggu rumah, meski sering dapat omelan kalau ibu pulang masih ada piring kotor di meja.

Remaja, waktuku habis di sekolah. Perjalanan 10 km pulang pergi dengan sepeda, cukup menyita waktu dan energiku. Terlebih persaingan prestasi yang teramat ketat, membuatku terseok untuk mengejarnya.

Hingga usia 15, aku dikirim ke sebuah pesantren di kota bawang. Disanalah tempaan kehidupan yang sebenarnya dimulai. Lapar, sakit, gembira, bingung, gelisah, dan penat juga letih kumakan sendiri. Dan kini, tak terasa itu semua sudah berjalan 5 tahun.

Damae, ayo lekas tiup lilinnya. Damaee. , teriakan teman-teman menyudahi lamunanku.

Aku pun bergegas meniup lilin, mandi, dan duduk bersama mereka sembari memotong kue. Sampai lupa kalau tubuhku sudah menggigil hebat. Mereka keluarga yang baik. Meski sejatinya moment istimewa ini ingin kunikmati dengan ayah, ibu, juga adikku.

Senja sore ini menjadi saksi bahwa usiaku tak lagi belasan. Aku sudah berkepala dua. Bukan lagi saatnya ranum, ini waktunya aku dewasa. Dewasa meniti hidup yang tak pernah bisa kutebak. Dewasa menapaki seruang kesunyian, ruang yang membentang jalan damai.

Thanks to all my friends atas ucapan selamat dan doanya. Tanpa kalian, saya bukan siapa-siapa. Especially for someone who has make me know that I’ve Jalan Damai.

Sudahkah Berterimakasih? #CelotehSangBunda

 Jika dia tak menatih kaki untuk menggendong kalian, masih mungkinkah piala itu tergenggam? Tapi acap kali semua lupa, hanyut dalam euforia. –Relung Damae–

Ini bukan perkara juara. Bukan soal piala seperti pesan hari lalu: hari perhelatan. Bukan pula soal keberpihakan. Ini tentang sebuah renungan. Sebuah keprihatinan. Sebuah kemirisan. Sebuah asa. Sebuah ingin dibalik ingin. Ingin yang rasional.

Ialah sesosok di balik kesuksesan Malhikdua. Sosok yang, barangkali hanya disebut jika mereka butuh. Hanya diakui kala karyanya mengguncang dunia. Padahal sejatinya, ia selalu ada dibalik (anggapan) ketiadannya.

—-

Goal Malhikdua

Gaung kemenangan Malhikdua dalam ajang bergengsi Lomba Website SLTA Se-Jawa 2013 yang diselenggarakan UIN Malang, masih sangat terasa. Sabtu (2/3) lalu, tiga pejuang M2Net berhasil membawa pulang piala; meski kabarnya hanya meraih peringkat 3.

Berapa pun angka juara itu, agaknya menjadi tak penting asal piala sudah digenggam. Lebih tak penting lagi, kala disandingkan dengan kisah perjalanan mereka yang cetar membahana. Sebagai peserta terjauh, tentu butuh perjuangan yang tak mudah untuk melintasi Brebes-Purwokerto-Surabaya-Malang-Batu-Madura, hingga kembali ke Surabaya-Brebes dan Pekalongan. Belum lagi meyakinkan sekolah juga pondok agar mau mengeluarkan surat ijin untuk jumlah pasukan yang tak sedikit dalam satu waktu: 9 orang. Agaknya, ini tak cukup diungkapkan dengan kata ‘luar biasa’. Ini menakjubkan.

Belum lagi proses breafing peserta selama dua hari. Mereka berpuasa dari rasa penasaran akan moleknya Surabaya, tak satu pun berleha selama puncak perjuangan. Tiga peserta; Hafata, Aziz, Lutfi, berlatih keras mempersiapkan presentasi. Dibawah bimbingan sang master, mereka mengulangi, mengulangi, dan terus mengulangi materi itu. Bahkan ketika penumpang kereta -yang mengantar mereka menuju Malang- lelap di waktu subuh, ketiganya komat-kamit menghadap luar jendela; seolah berhadapan dengan juri saat presentasi. Sementara 6 supporter yang memang sengaja datang untuk menyaksikan langsung pencetakan sejarah itu, saling menambal kekurangan senjata peserta. Ini kolaborasi perjuangan yang (harusnya) tak terkalahkan.

Ditengah ring perhelatan, pejuang tangguh Malhidkua cukup bangga dengan pakaian yang baru kering dari jemuran, perut keroncongan, dan lusuh wajah yang jelas tergurat sisa letih kereta. Sementara peserta lain, turun dari mobil sekolah dengan pakaian mulus bekas setrika, didampingi pembina bahkan kepala sekolah. Beruntung mental pasukan lebih kuat dari baja.

Terbukti presentasi web madrasah yang digawangi Hafata CS ini berhasil merampok applause juri, diiringi riuh keenam supporter dan (ternyata juga) peserta lain. Tepuk ini makin meriah saat Malhikdua masuk nominasi Tiga Besar. Beberapa senior tak kalah heboh menginfokan perkembangan tapak mereka via (jejaring) virtual. Semakin yakin bisa membawa pulang piala.

Layaknya perjuangan, tentu tak urung mengalami banyak gesekan. Dibalik kegembiraan itu, nenek Hafata dikabarkan wafat sehari sebelum pengumuman pemenang. Sontak membuat pemred M2Net ini shock, juga ingin lekas pulang ke rumah: di Pekalongan. Bukan perkara mudah memang, karena tiket kadung dipesan, jadwal kepulangan pun sudah disepakati hari Minggu. Terlebih perihal perijinan sekolah dan pondok yang, perlu menembus kotak pandora.

Disinilah uluran tangan para alumni menjadi sangat berarti. Mereka, alumni yang berdomisili di Malang dan sekitarnya, merangkul sesuai kemampuan masing-masing: menyediakan tempat tidur, mengirim makanan, mengurus akomodasi, bahkan berpusing ria hunting tiket Surabaya-Pekalongan. Sekelebat prahara tadi seolah bukan hal besar yang perlu dicemaskan, berkat alumni.

Hingga menjelang jam 2 siang, Hafata, Aziz, juga Lutfi berpose manis sembari menggenggam piala, piagam, dan uang pembinaan. Malhikdua, menyabet juara 3 Lomba Website SLTA Se-Jawa. Inilah buah kerja keras mereka.

—-

Tak Berharap Lebih Selain Terima Kasih

Sejarah kedigdayaan Malhikdua dalam menyabet juara perlombaan website memang bukan kali pertama. Penyelenggara Gunadarma: Juara Harapan 3 Nasional (2008), Juara Open Source Nasional (2010); Amikom: Juara 2 Nasional (2008); dan UIN Maliki: Juara 3 Se-Jawa (2013), cukup menjadi bukti ketangguhan para pejuangnya.

Namun, barangkali mereka; sekolah, lupa. Lupa akan invisible hand yang sungguh lebih layak memiliki semua kemenangan itu. Disebut invisible hand, karena sejatinya dia terlihat namun tak pernah dilihat.

Dialah yang mati-matian mendirikan dan mempertahankan M2Net. Dia yang tak pernah letih bolak-balik Surabaya-Benda. Dia yang selalu gelisah kala M2Net bermasalah. Dia yang selalu cerewet tentang koneksi internet. Dia yang setia mengajari seluk beluk keredaksian. Dia yang menumbuhkan mental wartawan, blogger, hingga pejuang.

Dia pula yang mengurus hosting dan domain website Malhikdua. Dia pula yang mempercantik gaun webnya. Dia pula yang rajin mencerca dan membenahi kesalahan berita. Dia pula yang rajin blogwalking ke akun-akun berekor malhikdua.com. Dia pula yang tak henti memperluas link sponsor dan pementor. Dia pula yang selalu membawa poster juga banner dalam setiap acara Malhikdua.

Hingga kemarin, dia juga yang mendaftarkan Malhikdua untuk kembali berlaga. Dia juga yang setengah koma mengganti template, meredesain, mengoreksi berita, mengubah tampilan foto, mempromosikan, juga memantau setiap perkembangan. Bahkan, dia juga yang memberi breafing peserta, menyiapkan materi presentasi, mengatur strategi materi, dan menyiapkan segala keperluan pasukan termasuk penginapan dan makanan.

Tapi apa yang ia dapat setelah deret piagam itu digenggam? Namanya bahkan tak tercantum sebagai ‘Pembina’ pada tropi kemenangan.

Sungguh, tulisan ini tidak sedang mengadu domba. Juga tidak untuk menggalang iba. Penulis hanya ingin menyajikan fakta sejarah. Bahwa ada dia dibalik kebesaran nama Malhikdua. Dia yang tak pernah berharap lebih dari sekedar ucapan ‘terima kasih’. Sudahkah hal itu dilakukan oleh Malhikdua?

Jika sudah, semoga tidak menelan ‘terima kasih’ mentah-mentah. Tapi jika belum, tak perlu dipusingkan. Toh tulisan ini tidak lebih dari sekedar celoteh.

Wallohu’alam.

*Damae Wardani, Ex-Pemred 2010

Sesuatu di Balik Nominasi #CelotehSangBunda

Andai bisa terbang, ingin sekali memeluk kalian, batin saya saat bulir bening dari bilik mata ini tak kuasa ditahan.

Haru, lemas, juga bahagia, berpadu dalam alat perasa bernama ‘hati’. Sontak saya bersyukur, bahkan diikuti riuh tepuk tangan keluarga besar Delicious -nama kelas gabungan Jurnal D 11/12- yang hari itu sedang mengadakan gathering. Tak sabar mendengar kabar mereka, saya juga memaksa call penjaga gawang tim kiriman M2Net; Hafata.

Alhamdulillah, bunda kita masuk nominasi 3 besar! Ini semua berkat do’a bunda, suaranya kencang dari seberang.

Tangan ini kian lemas. Tak kuat menahan haru yang menyeruak ke sekujur tubuh. Saya bahagia, benar-benar bahagia mendengarnya. Berdebar sepanjang bangun tidur hingga detik menanti pengumuman, ternyata buncah oleh sorak bocah itu. Bahkan berhasil mengembangkan senyum yang sedari pagi terkulum.

Demikian terjadi pada saya, Rabu (27/2/13), yang tak bisa berbuat apa-apa saat my lovely children sedang berjuang. Ya, pada laga Lomba Website SLTA Se-Jawa yang dimotori UIN Malik Ibrahim Malang, 3 pejuang tangguh kiriman M2Net menggawangi Malhikdua.

Hafata -pemred M2Net-, Aziz, dan Luthfi -yang juga tercatat sebagai peserta- dikirim ke Malang guna menuntaskan perjuangan: presentasi dihadapan juri. Hal ini terjadi setelah beberapa hari sebelumnya Malhikdua dinyatakan lolos babak 10 besar. Sabtu besok adalah hari penentuan pemenang.

Nosatalgila 2010

Barangkali sikap saya dinilai berlebihan, saya serahkan sepenuhnya pada Anda, kawan. Tapi memoar kemenangan Malhikdua pada lomba serupa 3 tahun lalu, saat saya masih berdiri tegak di gardu paling depan, baru terulang kambali detik ini. Wajar kiranya saya turut ‘merasa’ memikul beban pejuang M2Net yang kini sepenanggungan.

Meski tak senasib. Ya, tak senasib. Mereka kini jauh lebih beruntung: akomodasi ditanggung sekolah, pembina stand by 24 jam, dicekoki ramuan mujarab dari sang master, didukung penuh oleh para supporter yang sengaja hadir, bahkan alumni pun dengan sigap menjadi guide mereka menuju dan meninggalkan arena pertandingan. Sedang saya, 2010 lalu, sudah tinggal mengambil hadiah saja masih harus ribed dengan perijinan pondok, berangkat dengan uang saku sendiri, dan hanya segelintir alumni yang mau turun tangan.

Bukan sedang membandingkan, tapi bulu kuduk ini tetap berdiri kala satu per satu slide itu muncul tanpa diminta. Saksi perjuangan itu dapat Anda baca disini, disana, dan disitu.

Tentu pergeseran sikap welcome sekolah terhadap hal-hal semacam ini, sangat saya syukuri. Jika dulu saya harus menangis darah untuk bisa keluar pondok, kini sekolah justru dengan kesadaran penuh mengirim siswanya untuk turut berlaga di pentas karya bertaraf nasional bahkan internasional. Sebuah kemajuan yang patut diajungi jempol.

Disisi lain, open minded terhadap perkembangan IT, merupakan harta karun terbesar yang baru ditemukan. Sekarang, IT bukan lagi ancaman bagi pesantren, bukan lagi kambing hitam bagi santri, bukan lagi musuh para kyai, dalam berdakwah dan mensyiarkan ajaran-ajaran Islam. Bukankah sejatinya, IT tak lebih dari air bening. Mau merah, jadi merah. Mau putih, jadi putih. Terserah penggunanya mau memberi campuran warna apa. Pesantren, selayaknya menjaga air ini tetap bening; inilah tugas M2Net.

Permasalahan selanjutnya, minimnya pengetahuan tentang IT oleh para penggunanya, berdampak fatalnya manfaat IT itu sendiri. œHanya ditangan orang berilmu segala sesuatu bisa  bermanfaat. Kalau demikian, peningkatan pemahaman masyarakat awam dan kalangan pondok pesantren tentang IT tentu perlu digalakkan, agar bukan hanya dampak negative yang didapat karena ketidaktahuan mereka dalam menggunakan, tapi manfaat IT bisa dirasakan secara keseluruhan. -petikan artikel Santri Katro, Dakwah KO oleh Siti Dzarfah M.

Kini, M2Net berhasil mengubah paradigma santri itu jumud dan katro atau gara-gara internet, santri bolos mengaji, yang dulu selalu mendengung di telinga. Setidaknya, paradigma di kalangan pesantren Al Hikmah 2. Hal ini terbukti dengan dukungan penuh Malhikdua untuk mengirimkan jagoannya dalam lomba website tahun ini.

Good job, pejuang tangguh M2Net.

Kedepan, jika kemajuan ini terus ditingkatkan -setidaknya dipertahankan-, saya yakin tak akan ada lagi Larangan Internet Masuk Pesantren. Tak akan ada lagi santri berprestasi yang akan disiakan. Tak akan ada lagi kisah konyol di Jogja seperti ketiga kisah saya di atas. Saya juga berfikir ulang untuk membuat sekuel artikel yang berhasil menyabet Lomba Penulisan Artikel tingkat provinsi 3 tahun lalu, menjadi No Santri Katro, No Dakwah KO.

Overall, untuk pejuang tangguh M2Net, anugrah Malhikdua masuk Nominasi 3 Besar dalam Lomba Website SLTA Se-Jawa 2013, menyimpan satu kewajiban baru: bagaimana memanfaatkan IT agar terasa oleh semua kalangan.

Jangan lupa satu pesan saya: PULANG BAWA PIALA!

*Penulis adalah Ex-pemred M2Net 2010

**Lebih lanjut tentang M2Net, dapat Anda simak Disini.

Pulang Bawa Piala

Dalam diam aku resah

Tiap  langkah kumendesah

Penuh harap

Tegap, mantra ini tak henti terucap

 

Degup hati kian kencang

Di nadi dan sekujur aliran darah

Tarik keluar napas, berat

Bahkan jantung pun bak genderang pecah

Aku sungguh merasa apa yang kalian emban

 

Tapi percayalah, sayang

Kalian BISA!

PULANG BAWA PIALA

 

Puisi ini dipersembahkan untuk segenap pejuang MALHIKDUA dalam perhelatan LOMBA ICT Nasional di UIN Malang, detik ini (27/2/2013)