Kata Kereta

Penjaja Hati

Aku terbungkam diantara riuh bersahutan

Saling berebut lihat dan dengar

Menjaja nasi rames, es teh, snack, koran, tas, baju, aksesoris, dan 

Hampir semua barang dipasar bisa kutemui disini

Ada satu dua menepi

Bertawar manis dibalik senyum sinis

Meski masih ada sejumput   asa nan jernih

Terbalut ratap dan murni ucap

Kuhanya merhati

Dari ujung kaki: celana cutbray, kemeja lusuh, kaos katun, kerudung langsung;

Ada pula yang bersolek memantas diri

Menggendong, menjinjing, memikul, bahkan memeluk semua yang dijaja

Dari gerbong kepala hingga ekor

Ribuan kali saban hari

Hanya disini, kereta ekonomi

Tapi satu tanyaku, adakah penjaja hati diantaranya?

 

Belahan Jiwa

Kursi 18A, tiga gadis berambut ikal berpose manis dengan tutup mata

Dua nomor setelahnya pun tak beda

Belakangnya, riang berceloteh ditemani seduan kopi

Samping kanan, autis bersama gadget terbaru merk negara tetangga

Sedang aku, 4 langkah darinya, menanti sepucuk sapa dari belahan jiwa

Adakah dia dengar?

 

Kereta Kutojaya Selatan, 2013

Celoteh Anak Kampung: Master Piece Sederhana

Desa sudah lelap ketika saya berceloteh di postingan ini. Waktu memang baru menunjukkan jam 10 malam lewat 13 menit, saya belum menguap. Tapi di luar sana hanya ada kerlipan bintang dan senyum rembulan yang tampak. Sesekali nyamuk-nyamuk nakal menganggu ketenangan. Begitu pun nyanyian Tokek, Katak, Jangkrik, atau Burung Hantu yang menemani mimpi panjang warga desa hingga fajar menyapa.

Jalanan sepi. Tak ada satu kendaraan pun yang berlalu lalang di atas jam 9 malam. Kecuali satu dua. Terlebih musim hujan begini, jalanan licin, becek, dan menakutkan untuk dilalui. Minimnya penerang jalan juga membuat desa tampak menyeramkan. Pantas jika tinggal suara berisik anak tetangga yang masih betah bermain hingga larut malam, meski sekedar beraktivitas 3 NG: Ngopi, Ngrokok, dan Ngobrol.

Bagaimana dengan kesibukan sobat malam ini?

Lama sekali saya tidak berceloteh di blog ini. Bukan karena saya mengalami titik kulminasi kejenuhan, tapi sejatinya saya sedang mempersiapkan resolusi untuk perbaikan blog sederhana ini. Hanya saja belum bisa saya share sekarang.

Celoteh Anak Kampung

Dan malam ini, ijinkan saya berceloteh, sobat.

Celoteh tentang sepenggal moment kepulangan saya di kampung halaman. Meski saya tidak dilahirkan disini, tapi saya pernah menghabiskan 15 tahun di kampung nan damai ini. Wajar jika saya mengatakan pulang kampung, tak ada tempat lain yang saya singgahi kecuali desa Cisumur. Disinilah saya dibesarkan oleh kedua orang tua yang teramat cinta pada putra putrinya. Disinilah saya belajar menangis, berbicara, berjalan, menulis, membaca, mengaji, beribadah, berlomba, berprestasi, hingga belajar kecewa, depresi, dan bangkit kembali. Disini pula nama Damae Wardani pertama dikenal, karena panggilan yang diambil dari nama asli [D]z[a]rfah [Mae]saroh ini pertama mengudara di radio Garuda, satu-satunya radio di Gandrungmangu, kecamatan dari Cisumur. Maka dengan bangga saya mengatakan, sejatinya saya anak kampung.

Berceloteh soal kampung, sebenarnya kepulangan saya kali ini membawa banyak program untuk kampung. Program yang saya harap bisa memberi warna baru untuk kampung. Sudah saya canangkan sejak setengah tahun lalu, saya pikirkan masak-masak, dan saya kemas dalam selembar poster yang sudah siap disebar.

Berangkat dari keprihatinan akan minimnya pendidikan di kampung saya, tak ada perpustakaan desa, banyak anak putus sekolah hingga SMP-SMA (bahkan sekampung yang kuliah hanya hitungan jari), makin marak nikah muda, makin marak pemuda kampung mabuk, berkelahi, ditangkap polisi. Disisi lain masih banyak pula orang tua yang buta huruf, buta bahasa Indonesia.

Keseharian anak kampung hanya sekolah (bagi yang sekolah), selebihnya bermain. Waktu belajar bagi mereka hanya setelah solat maghrib, itu pun hanya satu jam hingga adzan isya berkumandang. Sementara para orang tua sibuk dengan rutinitas mencari uang: bertani, berdagang, beternak, dan sederet aktivitas warga desa lainnya. Untuk anak yang telah lulus sekolah, pilihannya hanya tiga: melanjutkan pendidikan, merantau ke kota, menikah, kerja apa saja di desa, atau menjadi pengangguran.

Meski tak semuanya, tapi saya berbicara mayoritas.

Keprihatinan saya juga merambah perihal ritual peribadatan. Dulu rumah saya bagaikan mushola, banyak anak tetangga berdatangan tanpa diundang. Hanya untuk belajar mengaji. Namun semenjak saya dan adik saya dikirim ke luar kota demi melanjutkan pendidikan, rumah hanya dihuni oleh ibu seorang dan ritual mengaji itu sempat pudar. Hampir tiga tahun. Beruntung sekarang didirikan semacam madrasah diniyah. Disanalah aktivitas mengaji dihidupkan kembali.

Tapi saya melihat keganjalan pada ritual majlis     pengajian ibu-ibu. Kini seolah bergeser makna. Rutinitas mereka tak jauh dari membaca Yaasin, solawat, do’a tahlil, dan diselipi arisan. Mereka seolah tak tergerak untuk mengetahui lebih dalam tentang Al Qur’an, terlebih mengamalkannya. Meski bagi saya, mereka mau menghidupkan majlis saja sudah patut disyukuri, walau akan lebih baik jika setiap pertemuan ada tambahan ilmu yang didapat agar bertambah manfaat dan tidak menjenuhkan.

Prakarsa Kampung BeBe

kampungbebeblog

Fenomena inilah yang memaksa otak saya berpikir: apa yang bisa saya lakukan untuk kampung saya. Dengan keterbatasan modal, saya memberanikan diri mencanangkan Kampung BeBe.

Kampung Belajar & Bermain. Saya menggambarkan Kampung BeBe ini semacam komunitas belajar dan bermain bersama warga desa. Program yang saya rancang menyentuh semua usia: anak-anak hingga dewasa (terutama para orang tua yang buta huruf). Saya berniat membagi sesi pembelajaran dalam beberapa kelas, yakni Kelas Bahasa Jawa, Kelas Bahasa Inggris, Kelas Agama, Kelas Calistung, Kelas Matematika, Kelas Kreasi, Kelas Diskusi, dan Kelas Motivasi.

Kelas Bahasa Jawa, mutlak mempelajari bahasa Jawa yang baik dan benar. Terutama perihal unggah-ungguh basa, dan lebih utama lagi memotivasi anak-anak agar bangga pada bahasa daerah serta senang berbahasa Jawa dengan tataran yang baik dan benar (basa krama).

Kelas Bahasa Inggris dan Matematika, lebih mengedepankan mengubah mindset anak bahwa kedua pelajaran itu sebenarnya menyenangkan dan penting untuk dipelajari. Tentu dengan metode fun learning, agar materi yang disampaikan dapat diterima dengan baik.

Kelas Agama, memberikan materi keagamaan yang kerap disepelekan tapi sebenarnya amat penting. Tata cara bersuci dan solat yang benar, misalnya. Tampaknya sepele, tapi buktinya memang masih banyak anak yang kurang memahami. Juga mempelajari Al Qur’an beserta maknanya. Walau satu dua ayat, asal paham maknanya tentu akan lebih mudah untuk mengamalkan.

Kelas Calistung: Baca, Nulis, Berhitung, ini khusus untuk orang tua yang huruf. Metodenya pun disesuaikan dengan mereka.

Kelas Kreasi, disini warga bisa bejalar kerajinan yang berbahan barang bekas. Agar mereka terlatih memanfaatkan sesuatu yang sudah tak tertapakai. Bisa jadi kertas bekas untuk kerajinan kertas lipat (semacam origami), hingga plastik bekas bunfkus kopi, sabun, dll untuk dijadikan tas antik.

Kelas Diskusi untuk mengisi wawasan umum, melatih warga untuk kritis dan mengemukakan pendapat. Kelas ini juga akan mencoba menumbuhkan kecintaan membaca dengan jadwal Review Buku. Sedangkan Kelas Motivasi, saya ingin membangkitkan kembali semangat belajar warga, tak peduli keterbatasan ekonomi juga usia mereka, karena belajar bisa dimana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. Dikelas ini juga saya ingin mengadakan nonton bareng (nobar) film-film motivasi sebagai medianya.

Dipenghujung program ini, saya ingin menyelenggarakan Kampung Award. Semacam bentuk penghargaan untuk warga yang giat belajar, atau dia memberi pengaruh untuk kemajuan kampung, dan kategori-kategori lain. Diselingi juga Puncak Kreasi yang akan menampilkan aksi kesenian kampung oleh warga. Hal ini selain untuk melestraikan budaya, juga untuk menambah kecintaan generasi sekarang pada kearifan budaya lokal.

Alangkah bahagianya saya jika wahana kreativitas ini terwujud. Kampung BeBe, bukan hanya sekedar menumbuhkan kesadaran warga akan pentingnya pendidikan, tapi juga memberi ruang anak kampung untuk berkarya, bermimpi, berkreasi, dan mendorong untuk mewujudkannya.

Rencana saya tidak hanya sampai disitu, karena sejatinya Kampung BeBe hanyalah batu pijakan untuk mendirikan TBM (Taman Bacaan Masyarakat). Semacam perpustakaan desa yang bisa dimanfaatkan oleh semua kalangan.

Batu Kerikil Menghadang

mugbriSayang seribu sayang. Ada halangan melintang yang tak dapat saya share disini. Hingga mau tak mau saya harus menyimpan semua konsep itu hingga satu semster lagi. Ya, pada kepulangan saya selanjutnya.

Sempat sedih dan kecewa. Namun tak disangka ada obat mujarab yang kembali menyirami semangat saya. Seminggu lalu, tulisan SP (Suara Pembaca) saya dimuat di detik.com, berjudul Gandrungmangu Butuh Tambahan Kantor Unit BRI. (dapat sobat baca selengkapnya disini)

Tentang Mater Piece Sederhana

Ya, SP berisi keluhan saya yang mewakili suara warga ini ditindaklanjuti manajemen BRI. Hingga dua petugas mendatangi rumah guna klarifikasi serta memberi cinderamata berupa dua mug cantik. Besar harapan saya, kantor cabang BRI benar-benar akan ditambah. Jika pun tidak, setidaknya manajemen BRI pusat tahu permasalahan yang sebenarnya dan segera menindaklanjuti.

Meski jauh dilubuk hati saya berucap maaf. Maafkan saya, duhai kampung tercinta. Kepulangan saya kali ini baru bisa meninggalkan jejak SP guna perbaikan sarana perbankan yang paling digemari warga desa ini. Semoga kelak wacana Kampung BeBe bisa terlaksana, meski entah bagaimana caranya.

Namun ternyata, sobat. Tadi sore saya mendapat sedikit ganjalan berkaitan dengan BRI. Saya hampir saja terjerat modus penipuan yang mengatasnamakan BRI. Undian senilai 5 juta dan voucher pulsa 500 ribu dinyatakan menjadi milik saya. Tapi beruntung Allah MahaBaik. Saya tersadar dari hipnotis by phone itu setelah mematikan hape dan memikirkan beberapa kejanggalan. Insyaallah nanti postingan lain akan mengupas hal ini. Intinya saya menghimbau pada diri sendiri juga sobat semua agar lebih hati-hati terkait modus penipuan yang memang marak sekarang, via apa pun.

Huhf.. Tampaknya malam sudah makin larut, sobat. Ya, tak terasa ternyata hari sudah berganti. Jemari ini pun sudah mulai letih untuk melanjutkan celoteh ini. Semoga esok masih ada mentari pembawa semangat. Di tahun 2013 ini saya bukan tak mau memuat daftar Resolusi panjang. Saya hanya ingin memaksimalkan kemampuan dan daya juang. Ya, barangkali beginilah indahnya hidup.

Bumi Damai

Sakit, Dandelion

Sakit…

Sakit sekali

Hanya itu yang kutahu

Itu yang kurasa

Itu alami, Dandelion

Sakit…

—-

Aku memang bodoh

Aku memang buruk

Aku memang hancur

Aku memang tak pantas untuknya

Aku tak pantas…

Bawa aku pergi, Dande

Bawa aku pergi dari kesemuan ini

Semu yang menyakitkan

Semu yang menghancurkan

Semu yang pasti telah menamparku, lebam

Ya, lebam sekujur tubuh

Dia pengkhianat, Dande

Dia biadab!

Dia pecundang!

Dia…

Dia hanya pembawa malapetaka

Kesialan

Kenistaan

Dia jahat, Dande!

JAHAT!

Andai aku bisa mengutuknya

Andai kubisa

Pasti kujadikan dia kayu bakar

Kulempari api

Biar hangus selamanya

Biar rasa betapa tidak berharganya dia

Biar tahu

Aku bukan robot yang dicipta untuk dihancurkan

Sayang, Dande

Aku tak berdaya

Aku tak bisa apa-apa

Bahkan mengusap air mata pun

Sudah beku rasanya

Aku ingin pergi, Dande

Bawa aku pergi

Kemanapun…

Asal damai

Asal damai, Dande

Tanpa bayangnya lagi

 

 

 

Merajut Maha Karya FLP Jatinangor

Satu pekanan FLP Jatinangor yang barangkali patut diacungi jempol. Selama setahun lebih saya bergabung dengan komunitas kepenulisan ini, baru minggu lalu ada materi yang ‘Joss’ bagi saya dan kawan-kawan.

Sedikit terlambat memang saya baru mengupas sekarang, tapi kata orang tidak ada terlambat untuk berbagi. Terlebih sebuah khasanah yang mungkin bisa membuka mata hati, terutama keluarga besar FLP Jatinangor. Terkait keselarasan teori dan praktik di lapangan, terkait segala hal yang barangkali selama ini telah dianggap salah oleh persepsi.

Ini tentang sebuah teori keorganisasian, kawan. Pekanan FLP Jatinangor merupakan kurikulum wajib dalam proses pembelajaran anggota, terutama yang baru bergabung. Materi yang disajikan berbeda tiap minggunya, dan hal yang akan saya bagi terkait pembelajaran minggu kemarin adalah The Master Piece of Organisatoris.

Hadir sebagai pemateri, Mahabb Adib Abdillah, seorang trainer yang juga menggeluti dunia seni dan bisnis ini cukup pandai membawa suasana. Tak heran pekanan selama kurang dari 3 jam itu membekas pada mindset para anggota. Terbukti, hingga tulisan ini terbit, sudah ada beberapa tulisan lain terkait review materi ini.

Begini, kawan. Sebelum kita bicara master piece, tentu harus dipahami dulu tiga hal: anggota organisasi, organisator, dan organisatoris. Dalam pandangan kang Abid, begitu sapaan akrabnya, anggota organisasi merupakan seorang anggota atau bagian organisasi yang hanya terpaku dan mengikuti alur dari organisasi, dia belum bisa mempengaruhi organisasi.

Setingkat lebih tinggi, organisator itu sudah menjadi bagian organisasi dan sudah menjadi ciri khas di organisasi tersebut. Kehadirannya cukup berpengaruh dan mempunyai masa bakti tertentu.

Sedangkan organisatoris, ialah anggota atau bagian organisasi yang nantinya meski sudah tidak rutin bergabung, misal, tidak mengikuti pekanan rutin FLP, tapi karya, nama, dan pengaruhnya masih ada serta mempengaruhi. Seorang organisatoris telah menciptakan maha karya dalam organisasinya tersebut.

Begitulah seharusnya FLP Jatinangor. Semua harus menjadi sosok organisatoris. Tak ada lagi senioritas. Tak ada mantan anggota. Tak ada overlap tugas dan kewajiban, semua sama rasa, satu jiwa. Tidak saling menyalahkan, tidak saling mencibir. Tapi bahu membahu dan saling mendorong untuk kemajuan bersama.

Untuk bisa mencapainya, butuh suntikan 5 prinsip organisatoris. Adib menjelaskan, prinsip pertama, menjadi Problem Solver.     Ketika organisasi atau anggota dihadapkan pada suatu masalah, dengan cepat dan tanggap seorang organisatoris akan mengajak yang lainnya untuk berembuk dan mencari solusi atau jalan keluar bersama-sama serta memberikan pendapat mengenai solusi yang ia miliki.

Kedua, Public Relation. Seorang organisatoris akan dengan senang hati menjawab dan menggambarkan hal positiv oraganisasinya ketika ada yang bertanya buka malah sebaliknya menjelekkan organisasi tersebut.

Prinsip ketiga, Bermental Cracker. Saat ada orang lain menyaingi dIrinya, seorang organisatoris akan memacu diri dan bekerja keras agar ia bisa jauh lebih baik lagi dari pesaingnya tersebuT. Begitu seterusnya.

Ia juga senantiasa Positiv Thinking. Tidak pernah suudzon menghadapi segala sesuatu. Ini prinsip keempat.

Terakhir, Master Piecer. Seorang organisatoris akan menjadi seorang angota yang mampu memberikan sebuah Maha Karya (Master Piece) sebagai pembuktian keberhasilan dirinya dan organisasinya.

Demikian, kawan.

Di menit terakhir perjumpaan, kang Abid memberi pesan untuk tidak melupakan tiga hal jika ingin menjadi penulis, yakni mental, komunitas, dan mentor. Ketiganya saling bersinergi, saling mendorong untuk mewujudkan cita-cita menjadi penulis yang sesungguhnya.

Bangun mental seorang penulis. Ikuti komunitas kepenulisan, dan cari mentor untuk membimbing langkah kita. Insyaallah menjadi penulis bukan lagi sekedar impian.

Disela materi, ada banyak permainan yang mendidik dan menghibur. Permainan yang sarat akan makna dan mengeratkan ukhuwah. Permainan yang membuat semua gap itu lebur, canda tawa keluarga besar FLP membaur jadi satu.

Semoga pekan berikutnya tidak kalah menyenangkan.

Salam FLP Jatinangor.

Review Blog: Sembilan Jam Didera Kemacetan Selomerta-Yogyakarta, Unforgattable!

Hutang tulisan ternyata tidak menyenangkan, :)

Baru tadi pagi saya posting untuk mengikuti GA Bibi Titi Teliti, GA perdana yang cukup menggelitik hati. Tapi ternyata membuat penyelenggara GA lain iri, hingga beberapa menit lalu menagih tulisan yang saya janjikan. Ya, saya kadung janji untuk mengikuti GA-nya: Idah Ceris.

Pertama mendengar nama itu memang agak aneh. Saya tak tahu persis bagaimana riwayat penamaan, makna, hingga alasan pemilihan nama Idah Ceris. Whatever, nama itu gampang diingat, meski bagi saya agak susah dilafalkan. *piss

Jadilah saya langsung mengoprek blog cantik miliknya yang baru dirilis. Dari dua kategori yang disediakan: Kisah Pandangan Pertama atau Review Postingan Idah Ceris, saya pilih kategori kedua.

Bukan karena saya tak suka bermain diksi dalam sastra, tapi agaknya poin kedua memaksa saya untuk lebih dekat dengan Mbak Idah, begitu sapaan akrabnya. Betapa tidak, dengan memilih review, otomatis saya harus mengubek-ubek semua postingannya, membaca satu persatu, dan memilih postingan yang dirasa paling tepat untuk direview. Setelah ber-kukuriling (keliling), jatuhlah pilihan saya pada postingan: 9 Jam Menuju Jogjakarta.

Dalam tulisan yang hanya berisi 7 paragraf itu, Mbak Idah mengisahkan perjalanannya menuju kota budaya Yogyakarta di penghujung sekaligus awal tahun. Mengesankan, baginya. Lantaran moment spesial itu membuat perjalanan macet di beberapa titik, bahkan ruas jalan Selomerta yang dulu lengang dan kerap dipilih sebagai jalur alternatif pun kebagian macet malam itu.

Apa mau dikata, kenikmatan perjalanan Banjarnegara-Wonosobo yang lancar harus diganggu oleh perjalanan Wonosobo-Yogyakarta yang macet total. Bahkan memakan waktu 6 jam lebih lama dari biasanya (3 jam), menjadi 9 jam perjalanan via travel.

Di sepanjang ruas kemacetan, ada hal yang membuat Mbak Idah tercenung juga tersenyum. Tercenung lantaran ada beberapa penumpang yang meminta turun, padahal posisi travel ditengah hutan. Beberapa penumpang lain berbisik dan menimbang: mau ikut turun atau bertahan dalam kemacetan. Untunglah Mbak Idah berpikir logis, Turun ditengah hutan tidak akan menyelesaikan masalah, terkecuali kita semua mempunyai sayap untuk terbang menuju Jogja. Jika Mbak idah tidak lapang dada, saya tidak yakin dia akan selamat di Jogja. :P *piss

Hingga hawa sumringah menyapa raut Mbak Idah saat travel menapaki tanda-tanda kota Jogja. Senyumnya kian melebar, saat bertemu dengan Tante NuNu, Sahabat Blogger dan Penghuni Jogja lainnya. Terlebih, Mbak Idah masih sempat berbagi sepenggal moment tahun barunya di kota antik itu lewat blog biru cantik miliknya.

Sayangnya, barangkali postingan itu akan lebih cantik jika judulnya diperjelas menjadi Sembilan Jam Didera Kemacetan Selomerta-Yogyakarta, Unforgattable!. Pun akan lebih jelas pemaparan kisah itu jika dilengkapi usut mengapa & untuk apa pergi ke Jogja. Lebih baik lagi jika ditulis sesuai EYD dan sistematika yang benar.

Overall, kisah Mbak Idah mengingatkan saya ketika tersesat di Cihampeulas jam 9 malam. Dalam moment yang sama. Satu pesan terindah dibait terakhir pada postingan Mbak Idah, Tetap semangat, Teruslah berbagi dan Salam Senyuum Cethar Membahana. . . ^_*

Selamat tahun baru juga, sobat Garuda. :)

Review dari http://idahceris.wordpress.com/2013/01/01/9-jam-menuju-jogjakarta/

Give

Balon Give Away Langkah Catatanku

    œSenyum Bersama Langkah Catatanku    

Kisah Perdana Garuda Naik Merpati

Hallo sobat Garuda, :)

Sedikit berbeda dari tulisan bergenre tewe biasanya, kali ini saya tidak mengupas sebuah tempat wisata atau kuliner yummy. Melainkan semua suara hati tentang pengalaman perdana saya naik pesawat. Alat transportasi termahal, terunik, terhebat, dan ter-ter lainnya, bagi saya. Barangkali pesawat sudah sangat biasa untuk sebagian orang, tapi untuk traveller macam saya yang hampir tiap perjalanan hanya bisa menikmati bus atau kereta ekonomi, itu sangat luar biasa.

Ya, beberapa bulan lalu saya berkesempatan menjumput beberapa pariwisata menggiurkan di Jawa Timur. Perjalanan Bandung-Jawa Timur tentu tidak sebentar jika dilalui transportasi darat: 17 jam menggunakan bus, 14 jam menggunakan kereta. Terasa sangat membuang waktu untuk saat itu. Jadilah saya putar otak mencari celah lain: tiket pesawat murah.

Hampir tiap hari otak-atik harga tiket termurah di beberapa website penyedia layanan informasi terkait harga tiket. Terkadang ada harga yang sesuai, tapi jadwal tidak berjodoh. Ada jadwal yang pas, ternyata harga sudah melambung. Begitulah angka-angka di kotak-kotak informasi terus berubah, setiap saat. Bisa jadi naik selangit, bisa jadi turun selaut. Faktor keberuntungan boleh jadi berperan dalam kalkulasi ini. Entah bagaimana menejemen yang sebenarnya dari pusat pembelian tiket-tiket pesawat itu. Satu hal yang pasti, saya bersyukur bisa mendapat tiket termurah saat itu: 170 ribu. Ini lebih murah dari kereta bisnis seharga 185 ribu.

Ya, Merpati. Ini dia pesawat perdana yang berjodoh dengan saya. Selain harga dan jadwal penerbangan yang sesuai, pelayanan yang diberikan juga cukup memuaskan. Meski saya harus rela berangkat jam3.30 pagi menuju bandara, karena peraturannya satu jam sebelum penerbangan (jam 5.36 pagi) semua penumpang harus sudah ada di bandara. Sedang perjalanan saya menuju bandara Husein Sastra Negara selama satu jam. Semenit saja terlambat, bisa jadi saya gagal berangkat.

Beruntung taxi yang saya pesan datang on time. Meski akhirnya sempat panik karena saya bangun agak terlambat, tapi supir taxi tancap gas dan memberi jaminan tiba di bandara sebelum jam 4.30 pagi. Huhf     berdebar ini jantung saat beberapa menit terakhir menuju pintu masuk bandara.

Begitu sampai di bandara, saya pasang senyum termanis membalas sambutan para scurity di pintu masuk. Turut mengantri untuk diperiksa keaslian tiket serta barang bawaan. Dengan wajah lusuh dan dua tas di tangan, saya berlagak sok tahu mencari loket Passenger Service Change milik Merpati. Sempat berputar-putar di area yang sama, akhirnya menyerah dan bertanya pada salah satu OB. Beruntung dia baik (atau memang baik, diwajibkan baik, atau entahlah). Lebih beruntung lagi ternyata biaya charge hanya 25 ribu. Semula saya kira bandara kaliber Internasional Husein Sastranegara ini kisaran 40 ribu.

Selesai membereskan administrasi, saya langsung menuju ruang tunggu di lantai dua. Ternyata beberapa tempat duduk sudah dipadati para calon penumpang. Logat bicara Jawa, Sunda, Sumatra, Sulawesi, bahasa Asing, juga beberapa bahasa lain yang kurang saya mengerti, bercampur jadi satu dalam satu ruang tunggu. Berbagai aktivitas pun mereka lakukan, mulai dari baca koran, main gadget, meeting, ngemil, sampai bersenda gurau dengan beberapa calon penumpang lain.

Saya putar pandangan ke sekeliling. Tinggal deretan bangku di ujung yang masih tersisa. Tak mengapa, yang penting duduk.

Huhf.. Alhamdulillah, ucap saya lirih. Lega rasanya saya tidak terlambat. Perjalanan ini benar-benar akan dimulai. Bahkan sudah dimulai sejak saya riwa-riwi hunting tiket pesawat. Semoga dimampukan menyelsaikan hingga episode terakhir.

Sembari menunggu waktu boarding, saya sempatkan mengecek email, kabar terbaru dari jejaring dan media online. Tak lupa titip absen ke komisaris mahasiswa (kosma) lantaran meninggalkan beberapa mata kuliah selama perjalanan 3 hari ke depan.

Beruntung pesawat tidak delay. Hanya 30 menit berselang, sudah ada pengumuman boarding. Artinya, perjalanan nanti akan sesuai schedule yang telah saya buat. Karena molor 30 menit saja akan membuat serangkaian jadwal lain didbelakangnya ikut terlunta-lunta.

Tampak beberapa pramugari cantik, tinggi, sexi, rapi, berjalan anggun menuju ruang tunggu. Dengan senyum termanis mereka, meski tampak sedikit dipaksakan, memandu para calon penumpang menuju awak pesawat. Antri. Saya pun ikut berbaris. Dengan dua tas menempel di badan, saya merasa paling kecil dan pendek diantara calon penumpang lain. Seketika ingatan saya terbayang antrian pembagian zakat yang selalu, selalu, dan selalu ada saja yang ricuh, berdesak-desakkan, hingga terjadi keributan dan memakan korban. Ide konyol saya, barangkali, jika yang mengatur antrian itu para pramugari cantik ini, mereka bisa tertib dan tidak saling berebut.
* Ah, dasar Damae! Sempat-sempatnya berfikir konyol disaat seperti ini. Tapi katanya, mindset travel writer memang harus begitu. :)

Seat 14D, disanalah saya duduk. Persis samping jendela. Meski sempat fobi lantaran biasanya deretan kursi tengah itu paling bahaya jika terjadi kecelakaan pesawat. Tapi saya berusaha tenang dan menikmati perjalanan.

Mata saya terus terpaku pada kaca jendela. Tak besar memang, kira-kira cukup untuk mengintip rembulan yang belum sepenuhnya tenggelam. Juga mentari yang perlahan tersenyum di balik bukit. Mentari dan bulan itu seolah saling menyapa. Barangkali jika tahu saya bahasa mereka, ini yang mereka sampaikan: bulan, silahkan istirahat. Saatnya saya bertugas, kata matahari. Lalu bulan menjawab, Ok, brad! Jaga bumi baik-baik ya..

Haha.. Lucu sekali. Mereka tak pernah mengeluh dan selalu kompak. Sepenuhnya mengabdi untuk manusia, tapi kadang manusia lupa untuk berterima kasih. Bahkan tak pernah minta maaf jika tanpa disadari pernah membuat mereka tersiksa.

Pesawat terus melaju. Sesekali miring ke kiri dan kanan, menyeimbangkan posisi. Pramugari pun terus berlalu lalang menjalankan tugas utama mereka: memperagakan pemasangan sabuk pengaman, berkeliling menjajakan souvenir pesawat, membagikan snack & minuman, dan tentu saja senantiasa tersenyum lebar saat melakukan semua itu.

Jadi teringat kisah training calon pramugari di suatu negara tetangga, lupa tepatnya. Sedikit ngeri membacanya, karena ternyata untuk melatih pramugari ini selalu tersenyum manis adalah dengan memasang kawat pada mulut mereka. Kawat ini akan menarik mulut beberapa senti ke samping kanan dan kiri, hingga membentuk senyum. Lalu mereka tahan untuk sekian menit. Begitu diulang seterusnya. Ternyata tidak mudah menjadi pramugari itu.

Belum lagi isu miring terkait pemberitaan pramugari nakal. Mereka seringkali dimanfaatkan untuk memuaskan nafsu lelaki hidung belang yang beruang. Tidak hanya faktor cantik, tapi jauhnya jarak pramugari dengan suami mereka (karena pramugari biasanya tinggal di apartemen dekat bandara) juga menjadi faktor lengahnya pramugari untuk bermain diluar sana.

Ah.. Lagi-lagi pikiran saya melayang kemana-mana.

Kembali saya tatap jendela. Agaknya perjalanan tinggal setengah. Kini hanya gundukan awan dan birunya langit yang tampak. Indah sekali dilihat dari dalam jendela. Lurus sayap pesawat.

Penerbangan ini mengingatkan saya pada mimpi masa kecil. Ini benar mimpi saat tidur, bukan impian. Usia saat itu belum genap 5 tahun. Tapi sepenggal mimpi yang masih saya ingat, tiba-tiba saya terbang menunggangi layang-layang yang sedang saya kendalikan. Ya, dalam mimpi itu saya sedang bermain layang-layang. Tapi hanya saya saja yang tiba-tiba terbang, sementara teman-teman terkejut, bingung, dan bengong melihat layang-layang itu terus membawa saya ke arah selatan, kiat tinggi, kian jauh, dan menghilang.

Entah apa makna mimpi itu. Barangkali hanya bunga tidur yang memang tidak bermakna. Satu hal yang pasti, saya bersyukur akhirnya benar-benar bisa merasakan terbang yang sesungguhnya. Bukan dengan burung garuda atau layang-layang, tapi dengan pesawat yang sesungguhnya. Dan, impian untuk bisa keliling dunia itu masih tergenggam erat. Semoga suatu saat nanti impian itu benar-benar bisa terbukti.

Wallohu’alam.

Tak terasa pesawat sudah landing. Pramugari kembali memperingatkan untuk memasang sabuk pengaman. Kisah ini pun harus saya akhiri. Penerbangan kepulangan juga tak kalah indah dari penerbangan perdana ini. Dan semoga saya masih sempat mengabadikannya.

Ini kisahku. Mana kisahmu? :)

Foto: Menyusul (dikarenakan keterbatasan koneksi internet, :) )

Reblog: Festival Blog Sastra Indonesia

Festival Blog Sastra Indonesia    (FBSI)

Kabar Budaya     “ RetakanKata

festivalMendasarkan pemikiran yang ada di sini dan menyadari bahwa setiap pemikiran dalam upaya menumbuhkembangkan seni dan sastra Indonesia adalah berharga maka RetakanKata menyelenggarakan Festival Blog Sastra Indonesia.     Untuk FBSI kali ini khusus diselenggarakan sebagai bentuk penghargaan terhadap pelajar dan mahasiswa yang secara mandiri menuliskan karya-karyanya di blog. Untuk FBSI yang bersifat umum, kami menunggu kalau sudah ada sponsornya. Yang berminat menjadi sponsor FBSI untuk umum, silakan menghubungi Redaksi RetakanKata.

Untuk mengikuti festival ini, simak ketentuan-ketentuan berikut:

Kriteria Peserta

  • Pelajar dan atau Mahasiswa warga negara Indonesia yang berdomisili di Indonesia.
  • Usia peserta antara 17     “ 30 tahun.
  • Memiliki blog pribadi yang berusia minimal 3 bulan.
  • Sudah menjadi follower RetakanKata. Jika belum, sila daftarkan dulu blog atau user email pemilik blog sebagai follower blog yang ada di sidebar blog RetakanKata. (Perhatikan: follower blog bukan follower di facebook atau twitter)

Kriteria Blog

  • Blog mengandung unsur tema seni dan budaya Indonesia (tidak terbatas pada seni tulis saja). Blog yang     “minimal-, memuat puisi, cerpen atau otobiografi, diperbolehkan ikut serta.
  • Blog bersifat pribadi dan mandiri. Artinya blog bukan merupakan bagian dari blog keroyokan atau blog yang diisi oleh banyak orang.
  • Tidak ada batasan dalam penggunaan platform blog (wordpress, blogspot, blogger, multiply.)
  • Setiap peserta hanya diperbolehkan mendaftarkan satu blog.

Ketentuan Umum dan Tata Cara

Peserta mendaftarkan blog yang diikutsertakan festival blog sastra Indonesia dengan tata cara sebagai berikut:

1)                     Kirim surel (email) dengan subyek     œDAFTAR FBSI_NAMA     ke retakankata@gmail.com dengan dilampiri:

a)                     identitas diri (copy/scan) kartu identitas pelajar/mahasiswa

b)                 nama dan alamat blogmu, logo atau image Blog (ukuran maks 400    400) dan slogan (tagline) atau deskripsi blogmu (maksimal 120 kata). Buatlah sebagus-bagusnya sebab deskripsi blogmu akan ditampilkan di laman FBSI.

2)                     Lakukan reblog atas artikel festival ini dan pasang banner FBSI di laman depan (frontpage) blogmu.     Jangan lupa mentautkan banner dengan alamat link yang mengarah ke laman (page) FBSI.

banner

alamat yang ditautkan pada banner ini adalah:
http://retakankata.com/fbsi/

3)                     Jika proses pendaftaran di atas sudah purna, maka logo dan deskripsi blogmu akan ikut tampil di laman FBSI.

Keuntungan yang Didapat

  • Memperkenalkan blogmu pada pembaca yang lebih luas
  • Kamu bisa saling tukar menukar link dengan sesama pecinta sastra
  • Menambah kenalan para pecinta seni dan budaya dari seluruh Indonesia
  • Dan tentu saja, yang beruntung akan mendapat hadiah atau uang pengembangan blog sebagai berikut:
  1. Juara pertama mendapat Smartfren Andromax atau jika memilih uang tunai akan diganti dengan uang sejumlah Rp 750.000,-
  2. Juara kedua mendapat uang tunai sebesar Rp 500.000,-
  3. Juara ketiga mendapat uang tunai sebesar Rp 250.000,-
Kriteria Penilaian

Penilaian blog akan ditentukan dengan menggunakan gabungan cara-cara berikut:

  1. Penilaian juri independen
  2. Popularitas (rating) dan pendapat atas blogmu di laman FBSI. Gunakan hashtag #festivalblog untuk mengundang kawanmu di twitter dan google plus untuk memberi komen dan memberi rating logo blogmu di laman FBSI.

Untuk mengetahui rating dan pendapat, kamu dapat klik logo blogmu di laman FBSI.

  • FBSI akan dimulai sejak 16 Desember 2012 dan ditutup pada 10 Januari 2013.
  • Periode penilaian dimulai sejak 10 Januari 2013 sampai 10 Februari 2013.
  • Target pengumuman lomba tanggal 14 Februari 2013.

Contoh tampilan festival blog akan seperti Galeri Foto. Jika logo atau foto yang ditampilkan di-klik, maka akan tampak gambar diperbesar.

Di gambar tersebut terdapat tombol komentar, reblog dan suka. Kawanmu bisa memberi rating suka dan meninggalkan balasan di ruang komentar -di bawah nama gambar-. Jadi, tunggu apa lagi, ajak kawan-kawan bloger memperkenalkan blog-blog sastra di seluruh Indonesia melalui Festival Blog Sastra Indonesia (FBSI)

 

Reblog dari http://retakankata.com/2012/12/15/festival-blog-sastra-indonesia-fbsi/