Bibi Titi Teliti, Menulis dari Hati

Ini pertama kalinya saya ikut GA (Give Away). Bukan karena kurang doyan kontes semacam ini, tapi seringkali mindset otak minder duluan setelah melihat daftar kontestan membludak. Entahlah, serasa ciut. Seolah saya hanya blogger cilik yang tak pantas turut bersanding dengan blogger kawakan. Meski itu hanya prasangka, tapi justru berawal dari minder inilah yang membuat saya selalu menolak ajakan para sahabat blogger untuk mengikuti kontes GA.

Maka Anda pantas bertanya untuk keikutsertaan saya dalam kontes GA perdana ini, kenapa? Masih bersekuel, memang. Tapi jujur saya sendiri tidak tahu harus menjawab apa jika Anda bertanya kenapa. Kenapa saya mengikuti kontes GA ini?. Entahlah. Entah keberanian siapa yang telah singgah dan menggerakkan hati ini berkata: saya harus ikut GA Bibi Titi Teliti. Meski sudah memasuki detik-detik penutupan batas pengiriman karya.

Ya, GA Bibi Titi Teliti. Blog yang unik. Blog yang membahana. Blog yang jujur, apa adanya. Bahkan mungkin, blog miliknya layak disebut the truly blog.

Saya tidak sedang memuji, juga tidak sedang membuat Bibi Titi berbesar hati. Memang baru sekali saya singgah ke blog milik Korea Lovers itu, tapi dari tiap postingan yang saya baca, bisa ditebak bahwa semua rangkaian kata yang ia tulis, semua kisah yang ia curahkan, semua gagasan yang ia kemukakan, semua duka dan tawa yang ia bagi, itu berasal dari hati. Ya, dari hati. Bibi Titi Teliti ngeblog dari hati, dengan hati, dan semua tulisannya mengena juga membekas di hati saya (pembacanya).

Barangkali butuh berbulan-bulan untuk membaca satu persatu konten blog yang pemiliknya bernama asli Erry Andriyati ini. Saya juga tidak tahu banyak tentang siapa, bagaimana, mengapa, serta semua terkait blog ini. Namun diam-diam ada satu postingan yang memaksa saya menyelami lebih dalam tentangnya. Postingan bergenre travelling yang belum pernah saya coba. Postingan, yang akhirnya saya pilih untuk mengikuti GA itu: Being a Backpacker in Korea!

Sesuai ketentuan GA yang jelas tertampang di blog bi Titi:
Silahkan obrak abrik blog ini, dan pilih satu postingan yang lo suka di blog inih, dan buat postingan di blog lo tentang hal tsb, dan mohon berikan alasan nya ya, kenapa bisa suka ama post tsb.
Gue siap menerima kritik membangun lho yah

Agaknya saya memang jatuh hati pada postingan ber-English title itu. Tulisan bergenre Travel Writing (Te-We) ini berhasil memikat saya untuk membaca dari kata pertama hingga titik terakhir, bahkan mengunjungi link postingan sebelumnya yang ia cantumkan juga dalam tulisan itu.

Meski sempat agak bingung dengan beberapa istilah asing yang luput keterangannya, sistematika penulisan yang random juga membuat saya agak bingung dengan kronologi perjalanan, belum lagi ejaan non-EYD yang teramat banyak hingga saya harus memproyeksikan diri sebagai anak setengah alay untuk bisa membaca dengan lancar. Tapi terlepas dari semua itu, jujur saya turut merasakan kebahagiaan, keharuan, kesedihan, kegembiraan, dan segala nama rasa yang ia curahkan lewat baris demi baris dalam postingan itu.

Ia mengurai detail. Lebih dari sekedar penjelasan terkait tempat, suasana, waktu, kejadian, tapi juga segala yang ia tahu dari kelima indra. Maka tak heran jika ada sepenggal moment haru-biru saat ia merasa bahagia dengan perjalanannya. Perjalanan ala backpacker yang berhasil ia lakoni dengan semua persiapan yang dilakukan seorang diri. Bahkan sejak paragraf pertama ia sudah menegaskan bahwa perjalanan yang akan ia kupas itu ‘amazing’ baginya.

Memang demikian seharusnya travel writing. Mendokumentasikan setiap langkah kita di perjalanan. Menceritakan kembali dalam bentuk tulisan, yang bisa membuat pembacanya turut merasakan apa yang dirasa treveler, melihat apa yang dilihat traveler, mendengar apa yang didengar traveler, juga mampu memvisualisasikannya dengan kelengkapan bentuk dokumentasi: foto, video, dll.

Bagi saya, kisah Bibi Titi tentang perjalanan keduanya ke Korea ini layak disebut travel writing. Meski, lagi-lagi saya harus bilang meski, tulisan yang disajikan kurang sesuai dengan standar penulisan yang benar (sesuai EYD), begitu pula kejelasan bentuk tulisan: artikel, feature, depth reporting, dll, hingga saya bingung mau memasukkan tulisan bi Titi ini ke dalam bentuk apa.

Aha! Barangkali diary. Ya, tulisannya memang lebih mirip diary. Karenanya pantas jika saya mengatakan semua yang tertuang dalam blog itu keluar dari hati. Termasuk postingan itu. Tak heran juga jika berbagai komentar positif berdatangan dari para blogwalker yang tak lain adalah pembaca setianya.

Overall, tulisan dari hati (penulisnya) tentu akan sampai pada hati (pembacanya), dan Bibi Titi telah melakukan hal itu dengan baik. Salut!

Postingan Bibi Titi: <http://erryandriyati.blogdetik.com/2012/12/13/being-a-backpacker-in-korea/

Kita = Bersama

gandenganJika kehadiran menjadi kado termahal

Biarlah kuganti dengan segenap pengertian

Jika kebersamaan menjadi sepenggal impian

Ijinkanku menyemai cinta tanpa kehadiran

Kasih, bersama bukan jaminan mencintai

Bersama bukan berarti memiliki

Bersama bukan perkara aku-kamu dalam satu ruang & waktu

Bersama bukan sekedar tatapan dan pelukan

 

Lebih dari itu, kasih

Bersama adalah kolaborasi: pikiran, perasaan, dan kenyataan

Bersama adalah penciptaan kesempatan

Menjadi sebenar-benarnya kita yang saling memberi rasa

Ada dirimu dalam diriku

Ada diriku dalam dirimu

Saling melengkapi dan menggenapi: Kita

Dimana, Angin?

alone1

Cerita itu
Cerita setahun lalu,
Kau bilang hanya prolog

Cerita itu
Cerita semasa bukit bintang berdendang mesra
Kau bilang masih ribuan sekuelnya

Nanti saja di penghujung jalan
Alihmu menyakinkan

Namun rotase bumi berkehendak lain
Kau menghilang tanpa jejak
Perlahan, mengubur tiap kesemuan
Bahkan angin pun tak berhasil mengintip senyummu

Salahkah jika bola mataku terus mencari?

Entah…

Satu jujurmu yang tak terlupa
Aku tak punya alasan tuk membunuh rasa sayangku padamu

Masihkah kau ingat itu?

Kado Tak Sampai

Deru pantai setengah berbisik

Seperti biasa, mengajarkan arti kehidupan

 

Sembari berkecipak birunya air,

Aku tertegun

 

Hari ini kukabarkan padamu, wahai sahabat

Ia berucap pelan

 

Delapan kado yang tak bisa dibeli

Lanjutnya

 

Delapan kado yang hanya bisa datang dari dasar jiwa

Wajahnya serius, sembari menatap senyum mentari di Timur sana

 

Ialah Kehadiran

Karena kehadiran pembawa kebahagiaan

 

Ialah Mendengar

Karena perhatian akan tuturnya

Membuatmu sabar dan rendah hati

 

Ialah Diam

Dalam diam ada kekuatan

Karena diam menjadi bukti cinta atas pemberian ruang

 

Ialah Kebebasan

Mencintai bukan berarti memiliki dan mengatur

Maka memberi kebebasan adalah percaya dia mampu memenuhi keputusannya

 

Ialah Keindahan

Menjadi pribadi yang indah dan mengindahkan dia

Sungguh tak terupiahkan, meski itu sederhana

 

Ialah Positive Thinking

Karena ucapan terima kasih, maaf, dan pujian

Seringkali terlupakan

 

Ialah Kesediaan Mengalah

Karena bersedia mengalah kan lunturkan sakit hati

Juga meyakinkan diri adanya ketidaksempurnaan insan

 

Ialah Senyuman

Karena ia pencerah suasana muram

Pemanis wajah nan masam

Asal tulus

Sepele bukan?

 

 

—bersambung—

 

 

 

 

 

 

Kertas Merah dan Putih

Sudah 5 malam mataku terjaga

Mengurai tanya yang tak kunjung dijawab Tuhan

Gulana membahana

Batin ini, batin ini sungguh tersiksa

 

Tapi 5 menit lalu Tuhan memberi setitik cahaya untuk mataku

Tanpa banyak berkata

Tuhan tinggalkan dua lembar kertas di tepi jendela kamar

Dia berpesan, Tuliskan semua dukamu di kertas merah, dan semua bahagiamu di kertas putih

 

Aku turuti itu

 

Tak lama setelahnya kulihat goresan penaku di kertas merah, berkurang

Kian lama kian hilang

Sedang kertas putih, penaku bergoyang sendiri mengisi sisa baris yang baru satu kupenuhi

 

Aku berbisik pada Tuhan,

Mengapa bisa begitu, Tuhan?

 

Dengan sesungging senyum Tuhan membalas,

Hambaku, semua kesedihanmu ada bersamaku

 

Aku bertanya lagi,

Lalu mengapa ada dua kertas ini?

 

Kata Tuhan,

Kertas putih untuk menghitung semua karunia yang Ku-berikan padamu, sedang yang merah untuk membiarkan semua kesedihanmu pergi.

 

Rindu Hujan

Ijinkan aku rindu hujan

Yang membelai peluh hati dengan lembutnya

Yang menyemikan kerontang hati dengan dekapnya

Ijinkan kurindu hujan

Yang setia mendengar celoteh sebelum bulan tenggelam

Yang selalu bersabar menepuk pundak kala kubungkam

Ijinkan kurindukan hujan

Yang menyeka air mata tanpa diminta

Yang menjerat nestapa agar kubahagia

Yang mengerti, ketika akal ini tak mampu memahami

Ya, aku benar-benar rindu hujan

Sang pembalut luka

Pelindung, Penyaman, dan Penerang jalan

Hujan, pemberi senyuman

Tapi yang paling kurindu dari hujan

Ialah pelangi dibalik mentari

Adakah Engkau?