Jika Anda punya waktu luang, bolehlah sesekali berkunjung ke Lembang. Selain sejuknya udara dan hijaunya tepian jalan, kawasan yang berjarak sekitar 30 KM dari utara Bandung ini siap mencuci mata Anda dengan wisata alam yang eksotis. Ada Tangkuban Perahu disana. Gunung yang berada pada ketinggian 2.084 meter ini menjadi tujuan wisata menarik di Jabar. Continue reading “Tangkuban Perahu dan Cihampelas, The Untold Story”
Perahu di Bulan Purnama
Pertemuan dengan para seniman, rasanya sayang jika tak dimanfaatkan. Nah, sobat, berikut kiriman cerpen dari bang Alex, ketua umum Komunitas Masyarakat Lumpur yang mau berbagi banyak hal terkait seni selama perkenalan Jambore Sastra 2012 kemarin. Cerpen ini pernah dinobatkan sebagai Cerpen Terbaik Se-Jawa Timur. Penasaran dengan indahnya guratan pena seniman yang juga jago melukis ini? Check this out!
Perahu di Bulan Purnama
by Anwar Sadat
Aku melihatnya !
Perahu kayu yang terkubur pasir dan berdiri di tepi pantai. Seperti bangkai ikan paus mati tergeletak begitu saja. Menyaksikan buih ombak, tega mengombang-ambing tak peduli. Orang-orang pesisir memungut besi tuanya. Hampir tiada bentuk kerangka yang terlihat.
Pada kesepianku, ini adalah pemandangan hidup sebagai nelayan yang hanya bisa mematar* jaring di tepian pantai saja. jarang ada ikan yang nyangkut atau terjebak di dalamnya. Hanya puing pasawat kabarnya sebulan lalu tenggelam di laut lepas. Tak lebih sampah berderet saat aku angkat jaring pelan-pelan.
Dari tepian pantai, saat tubuh setengah terkubur di laut. Kasim anakku memanggil. Anakku satu-satunya, dia hampir tidak pernah minta uang untuk jajan. Cukup ingus yang bergantung pelan di ujung lubang hidungnya yang ia jilati.
Untuk kesekian kali aku menyahut dan menghampirinya. Biarlah jaring terapung sendiri, menunggu pelayaran ikan-ikan di sela jerat talinya. Karena sebentar lagi akan kuangkat jaring itu.
Ada apa Cong*? aku menyapanya, dengan Bahasa Madura sedikit kaku anakku menjawab. Aku ingin naik perahu itu Pak!
Jangan, nanti kamu bisa dimarahi pak Rosidin Nak!
Perahu besar yang berdiri di tepi pantai itu milik Pak Rosidin. Seorang nelayan yang terkenal kaya di daerah ini. Dua kapal besar yang dimilikinya bukan hanya saja untuk mencari ikan, kadang digunakan untuk berdagang ke pulau lain.
Setelah keputusan yang aku ucapakan kepada Kasim, sepertinya ada sesuatu yang berbeda pada dirinya. Tak hanya panas matahari yang menyentak. Anakku juga terasa pilu di hati ini. Ketika kupandangi sekuntum wajahnya kuncup, diam dan layu.
Cepat-cepat tangannya kuraih. Menuntun Kasim ketepian. Bernaung di teduhnya pohon waru. Nak, saat ini Bapak belum berani mengijinkanmu naik perahu itu !. dengan usaha dan alasan yang teduh aku berusaha melerai pertikaian hati sang anak.
Sepertinya dia tidak ingin mendengar kata-kataku. Matanya selalu menghayal di ujung perahu. Berdiri sebagai nahkoda kapal pembelah lautan. Kuajak ia pulang agar hayalan Kasim tak begitu membekas. Aku membela dengan harapan-harapan agar mereda tekuk wajahnya. Karena tidak hanya sekali dia meminta kepadaku untuk mengajaknya naik perahu besar itu. Dan tidak hanya sekali aku membuat dia kecewa. Aku merasakan meskipun tanpa dia bicara, atau menangis di hadapanku.
Sampai saat ini aku masih memikirkan setiap kata yang kulontarkan kepada anakku kemarin. Pagi-pagi buta, aku duduk dalam cemas di ujung telaga. Karena aku lebih suka melihat sinar matahari yang menyentuh bibir laut, dari pada menyaksikan senja sore yang hanya sebentar lalu tenggelam. Aku lebih suka memandangi matahari pagi, karena semakin lama lukisan langit semakin jelas dengan warna yang ada di bumi. Dari pada melihat bulan purnama yang hanya bersinar dalam kegelapan.
Kucuran waktu seolah sia-sia. Menjadi angin menjagai telinga. Meniupku untuk berdiri. Kerikil di genggaman tangan kulempar ketengah laut. Lepas dari pandanganku, lalu aku sudahi senggama ini dengan suara pantai. Akan kupandangi wajah Kasim lama-lama setelah perjalanan pulang ini, dan aku menyesal.
Usia anakku hampir sejajar dengan jaring yang sudah lapuk itu. Bulan yang akan datang usianya genap tujuh tahun. Anakku Kasim tidak sekolah seperti anak-anak yang lain. Siapa yang salah? pastinya aku. Seharusnya dia berangkat dari rumah bukan mencari kerang atau menumpuk batu karang kering. Seharusnya dia berangkat untuk memahat tulisan masa depan di atap kepalanya.
Apa yang dapat aku berikan kepada dia, yang terbaik untuk anakku. Sementara hari terus mengisi kepenatan. Menjejal kepala dengan pikiran-pikiran kosong. Aku putuskan tidak melaut saja. Lebih baik aku menghabiskan waktu untuk membuat perahu kecil dari kerocot* kelapa. Aku tidak boleh membiarkan anakku dalam kecewa berlarut-larut. Aku ingin dia bahagia, memaparkan tingkah selayaknya anak pantai. Memijakkan kaki di atas pasir dan berjanji tidak akan mengubah warna Negeri yang tercipta untuk dia arungi sendiri.
Bila air pasang, pertanda angin akan bertiup kencang. Panas matahari sedikit tak terasa menyengat. Kubawa Kasim menyisir garis pantai kearah timur, mencari pohon kelapa yang sekiranya bisa aku panjat. Dalam setengah perjalanan Kasim mengeluh lelah. Keringat di dahinya juga melambai. Dengan senang hati aku gendong di atas pundak sampai aku menemukan gundukan pasir yang ditumbuhi pohon kelapa.
Ini yang aku inginkan dari sekian pohon kelapa yang tumbuh, hanya satu pohon menaruh kerocot di tubuhnya. Mungkin Tuhan sedang mendengar pintaku.
Turunlah Nak, itu ada satu kerocot kelapa. Bapak akan memanjat pohon kelapa yang tinggi dan besar itu.
Biarlah aku bisa paksa diri walau angin terus menyambar tubuhku dan membawa aku hampir terpeleset dari atas pohon dan membuat tangan lecet. Di sini awal untuk memulai menanam bunga di hati Kasim. Meraut kerocot seperti menikmati wajah Kasim pelan-pelan, mencari bentuk perahu yang ada dalam pikiran anakku. Di samping kiri dia duduk, kasim tidak pernah melepaskan pandangan matanya. Seakan-akan dia Arsiteknya dan aku adalah kuli bangunan.
Tidak hanya sekali tanganku terluka. Teriris harapan di antara serat kerocot yang aku raut. Sampai beduk Ashar terdengar, senja mengambang. Hampir keseluruhan perahu kecil telah selesai, termasuk layar dan tiangnya. Kelihatan di wajahnya, anakku tidak sabar karena lama menunggu. Tapi tubuh Kasim terburu lelah dan akhirnya pelan-pelan dia tertidur.
Suntuk sudah tiba. Kugantung mata di sekitar rumah untuk melepas lelah, tapi tidak lama. Karena aku memang benar-benar tidak suka melihat senja sore. Dan aku juga enggan melihat luasnya tempat ini yang sudah tidak lagi tumbuh pohon cemara. Bahkan tanaman bakaupun tumbuh jarang-jarang. Hanya batu karang mati yang ditumpuk untuk dijadikan pagar pembatas perkarangan rumah oleh orang-orang sekitar kampung ini. Sebentar lagi perahu kecil akan selesai. Sampai larut malam aku masih ingin menikmati pemandangan perahu kecil yang akan mengantarkan masa depan Kasim.
Pagi-pagi biasanya aku terbangun awal subuh. Menata embun di telinga belantara laut. Mengisi ruang-ruang jiwaku yang kosong. Tapi sekarang bukan itu lagi. Anakkulah yang terlebih dulu mengisi kekosongan itu. Dia bangun dari tidurnya dengan wajah penuh bunga lebih dari belantara laut.
Anakku bersorak gembira. Mengangkat tinggi-tinggi kapal kecil yang telah aku ciptakan dalam suntuk malam. Kasim menyuarakan perkenalan bahagianya kepada laut.
Inilah kapalku yang akan mengarungi tubuhmu wahai laut..aku akan kalahkan ombakmu! teriak Kasim di tepi pantai. Melepaskan perahu kecil itu di bibir laut. Bila ada ombak yang datang, dengan sombong anakku menghalangi dengan tubuhnya. Agar perahu kecil miliknya tidak terhempas terlalu jauh. Kadang dia menyelam di bawahnya atau mengawasi dari belakang.
Sampai matahari siang meninggi. Kala itu pasti banyak ikan-ikan menepi. Kasim seperti tidak ingin perduli untuk menghitung waktu dengan semua yang ada di dekatnya. Dia terus berjalan menelusuri karang-karang mengikuti jejak perahu kecilnya. Senyuman dan tawa meluntah-luntah. Tiba-tiba Aduh seperti ada yang menancap di kaki kirinya. Semakin lama semakin terasa perih.
Wajahnya pucat melihat darah beterbangan di sela telapak kaki. Dia menginjak sesuatu yang berduri, karena dia kira itu batu karang. Ternyata bukan, itu mahluk laut berwarna hitam. Durinya panjang dan beracun. Perih menjalar dan menyerang seluruh tubuhnya, Kasim menangis, bibirnya gemetaran. Pucat wajahnya terpaku.
Apakah itu..aku tidak pernah melihat mahluk itu sebelumnya. Sepertinya aneh!. Bising ombak dan warna asin lautan menambah pedih luka yang tersayat. Bahkan dia tidak sempat memikirkan perahu kecilnya lepas terseret ombak. Lepas dari pijakan air laut beban kakinya terasa lebih berat. Kasim menyeret kaki dengan kedua tangannya, bergesek dengan lumpur dan meninggalkan bekas darah yang meresap di bulir-bulir pasir. Dia benar-benar tidak sempat memikirkan perahu kecilnya pergi entah kemana.
Angin bertiup semakin kencang, Kasim sudah tidak mampu menahan panas matahari menyengat di kepalanya. Perubahan angin mengarah keselatan. Pertanda pergantian ombak semakin besar. kasim masih mencoba berjalan menuju perahu besar yang terikat di tepi pantai itu dengan maksud berteduh di dalamnya.
Nafas yang tertahan sesak kini terurai pelan. Namun masih terasa sakit meskipun tubuhnya rebah bersandar di antara rangkaian kayu tua penyanggah dalam perahu. Dalam waktu yang tidak lama Kasim mendengar suara di luar sana. Kasim mendengar semakin dekat dan langkahnya semakin jelas.
Itu suara Pak Rosidin, pemilik perahu besar ini. Ketika anak itu melepaskan matanya yang pejam menahan sakit, Pak Rosidin sudah ada di depannya. Ia ternyata tidak sendirian, ia bertiga dengan teman-temannya yang hendak akan melaut. Kasim terkejut, badannya terasa dingin tiba-tiba.
Hei, kau ingin mencuri barang-barangku ? bentak Pak Rosidin, dan suara temannya yang lain mengikuti bentakan lebih besar. Suaranya keras dan terasa kasar. Mulut Kasim terbungkam oleh darahnya yang berhenti mengalir seketika memucuk di atas kepala.
Tak ada orang di sana, hanya mereka bertiga. Tanpa menjawab sepatah katapun dan seperti sambaran petir tamparan keras jatuh di pelataran pipinya. Tidak puas dengan satu tamparan saja, Pak Rosidin membekam tubuh ringan itu. Menyeret lalu melemparkan keluar. Tubuh Kasim terjungkal di atas pasir. Ini hal yang remeh bagi neleyan berkulit hitam itu. Tapi bagi Kasim ini beban berat, karena dia seoarang anak kecil yang tidak tahu apa-apa.
Perahu kecilku hilang
Semua berlalu tanpa menghiraukan tetesan airmata terahir dari sekian ribu airmata yang terbuang sia-sia di mata Kasim. Perahu besar itu pergi, suara mesinnya terus memaki-maki dan akhirnya lenyap. Tapi begitu membekas di dalam hatinya. Hati Kasim.
Kesombongan waktu bahagia larut bersama perahu kecil yang telah hilang di telan kejahatan ombak yang tak berbisik. Merampas setiap detak ketulusan tanpa tawar menawar. Perbedaan bukan semata hak milik mereka yang telah pergi jauh menata kesombongan waktu itu sendiri.
Saat pulang tanpa perahu kecil. Kepala Kasim masih terasa pusing. Kakinya pincang dan memar di pipinya. Aku melihat kecemasan semakin mengambang, berdatangan pertanyaan-pertanyaan buruk berbahasa madura dari mulutku. Hampir semua tidak bisa diartikan. Tapi itu adalah kalimat pertanyaan yang semakin membentak. Agar Kasim satu-persatu menceritakan semua yang telah terjadi.
Pencarian pikiranku langsung saja mengarah ke pemilik perahu besar itu. Ternyata benar, Kasim bercerita ini ulahnya, ulah Rosidin. Kelihatan dari potongan rambutnya, keriting, panjang di belakang lehernya. Warna kulit hangus terbakar seram. Sangat benar sekali. Benar-benar jahat orang itu.
Bayang-bayang wajah Rosidin terkepung di keruh air ludah. Memaksa untuk membuka mulut dan lidah menghempaskannya muncrat keluar dari mulutku. Ludah tak berarti, kenapa masih muncul penuh dengan wajah itu lagi. Kali ini aku telan walaupun akan menjadi racun di perutku, menyebar keseluruh tubuh, menjadi kebencian yang tidak akan pernah sembuh dari kesadaranku.
Lima belas tahun yang lalu. Aku memang pura-pura tidak tahu permasalahan Rosidin dengan istriku. Diam-diam aku melihat dari celah bilik rumah. Dia mencumbui Istriku, sampai ahirnya sempat terjadi pertengkaran antara diriku dengan Rosidin.
Kala itu dia melawan. Emosinya melebihi rasa malu yang dia tanggung sendiri atas luka hati. Tak cukup matahari membakar kesabaranku. Aku berlari mengambil sebatang celurit yang saya selipkan di belakang kandang sapi. Karena aku sudah tidak tahan menyaksikan kelakuannya berkali-kali tanpa kuketahui. Melihat kemarahanku di ujung celurit ia lari dari ancaman beku di otak ini.
Tapi permasalahan itu hampir terlupa. Setelah kematian istriku yang terkena serangan jantung. Bukan maksud aku tidak benci melihat wajahnya. Tapi kenapa engkau lampiaskan dendam kepada anakku, anak semata wayang yang selalu kuhindarkan dari kata-kata kasar.
Satu minggu berlalu. Karena beban racun yang sudah menjalar di tubuhnya sampai saat ini anakku masih tekulai rapi di atas ranjang. Tubuhnya rata, mulutnya rapat, tidak ada selera makan di sana. Ia hanya minum tetes air mataku sepanjang malam. Ini kesedihanku yang paling mendalam.
Apakah harapan ini akan terpenggal dengan waktu yang tidak ingin mengalir. Atau akan terpajang menjadi bait puisi. Aku hanya bisa menahan tangis. Walaupun suara doa berbutir-butir. Tuhan mungkin lebih menginginkan anakku menghembuskan udara segar dari mulutnya untuk yang terahir. Selamat tinggal anakku.
Hidup memang tidak pernah lepas dari permasalahan. Saling betumpang tindih harapan yang tak mungkin selamanya akan terwujud. Satu keinginan di antaranya pasti akan terpenggal sebagai wujud duka maupun duka.
Setelah kepergian anakku, wajahku terpasung di tepian telaga. Memaksa diri melihat bulan yang aku benci selama ini. Sampai akhir bulan purnama tenggelam di sela langit hitam, aku menatapnya dalam-dalam.
Kini, purnama itu ada dua.
Purnama Istriku dan purnama Anakku
(musim hujan)
Bangkalan, 2008
Keterangan:
Mematar : menjejer
Cong : Bahasa Madura berarti panggilan untuk anak kecil
Kerocot : Pelepah bunga pohon kelapa
Biodata penulis:
Anwar Sadat, lahir di Bangkalan, 18 juli 1982.
Alamat, jalan Airmata Pandiyan Arosbaya Bangkalan Madura. Saat ini masih aktif dalam menulis naskah drama, cerpen dan aktifitas kesenian di Bangkalan. Antologipuisi Sastrawan Mutahir Muda Jawa Timur Pasar Yang Terjadi Pada Malam Hari tahun 2008. Antologi bersama Nobel Buat Adinda tahun 2007. Antologi puisi Malsasa tahun 2007. Pameran duet Seni rupa dan instalasi Detak Pertama 2007. Menjabat sebagai Ketua umum di Komunitas Masyarakat Lumpur. Pembina teater Exatsa di SMA dan guru Kesenian di SMA.. karya yang lain diantaranya Film Puisi Manusia tahun 2007, Film Edukasi Derita Pak Tani tahun 2007. Film Edukasi menari di atas Pelangi tahun 2008.
No Hp: 085.645 311 768
PUISI
Akhirnya bisa mendengarkan lagu ini lagi. Salah satu lagu kesukaan sejak masih berseragam merah-putih, :) Saya abadikan disini syairnya biar tak perlu searching lagi. Untuk Anda yang suka juga, selamat membaca.
Puisi
by Jikustik
Aku yang pernah engkau kuatkan
Aku yang pernah kau bangkitkan
Aku yang pernah kau beri rasa
Saatku terjaga
Hingga kuterlelap nanti
Selama itu aku akan selalu
Mengingatmu
Kapan lagi kutulis untukmu
Tulisan-tulisan indahku yang dulu
Pernah warnai dunia
Puisi terindahku hanya untukmu
Mungkinkah kau akan kembali lagi
Menemaniku menulis lagi
Kita arungi bersama
Puisi terindahku hanya untukmu
Jurnalistik D, Terus???!!!
Auaaaghh Serasa berat hendak berganti baju dan bersiap berangkat. Bukan karena mengayunkan kaki kanan diganti kaki kiri itu susah, tapi kisaran jam 1 siang diatas pembaringan yang empuk (lagi nyaman) rasanya sangat sayang kalau harus bangkit. Hihihi.. :)
Terlebih, sengatan mentari yang membuntuti sepanjang jalan tempat kost hingga lokasi acara, Ayam Hesti di bilangan Cibiru-Bandung, cukup membuat wajah memerah bahkan berbelang kecoklatan. Tak heran jika saya malas keluar.
Tapi, binar wajah kawan-kawan yang tak sabar menanti kemeriahan acara Ngariung Bareng Jurnal D seakan memanggil-manggil untuk lekas berkemas. Juga tentunya tak sabar untuk menikmati racikan sambal Ayam Hesti saat sesi makan-makan , :p
Baiklah, segera tancap gas, cuci muka, ganti baju, kunci pintu, dan berangkaaaat!
Lagu Kebangsaan Jurnal D ala Omon, Membuka Acara
Sedikit terlambat, hehehe.. Sudah biasa, kalau tepat waktu ya bukan Damae namanya. Saat hendak naik ke tangga lantai dua, sederet pasang sepatu warga jurnal D lainnya sudah bertumpuk tak rapi di depannya. Sound gitar dan khas suara Omon pun sudah terdengar, pertanda acara yang direncanakan serba dadakan ini sudah dimulai.
Benar saja, didampingi salah satu mahasiswi jurnal D yang sudah merambah dunia Script Writer KitaTV.com, Senja Khoirunnisa, Omon sedang asyik menyanyikan lagu kebangsaan jurnal D Ya Ya Ya ciptaannya. Diikuti oleh seluruh warga jurnal D yang duduk manis melingkar di ruang makan lesehan yang lebih mirip kelas ini, Omon tampak lihai memainkan gitar dan memancing gelak tawa dengan lirik lagu yang memang gokil abis. Tak terkecuali saya yang masih ikut antre di pintu masuk, sembari diberi marchandise: pin dan diary mini jurnal D, turut melepas gelak tawa yang benar-benar tak kuasa tertahan.
Beruntung, dinyanyikannya lagu itu bersama-sama ternyata sebagai pembuka acara, artinya saya belum terlalu terlambat :). Dilanjutkan dengan prakata kosma (komisaris mahasiswa yang lebih sering diplesetkan: korban suruhan mahasiswa) dan wakosma (wakil kosma) jurnal D, sementara para fotografer amatir (tanpa upah sepeser pun) sibuk mendokumentasikan setiap derap acara sejak baru satu dua kepala yang masuk ruangan. Ekspresi bibir maju, mata merem, jemari sibuk dengan mobile phone, wajah tersenyum, tertawa, gerombolan kaki , wajah serius mengisi diary mini, gerakan tangan saat berbicara, kehebohan acara demi acara, hingga jepretan terakhir sebelum semua berpisah, tak satu pun luput dari jepretan.
Sharing Hingga Dancing, 100% Seru!
Namanya Ngariung, kurang afdhol rasanya jika tak ada sepetik manfaat yang membekas. Karenanya, tak tertinggal sesi sharing together di sela-sela performance para pengisi hiburan. Selain dengan catatan yang ditulis dalam diary mini tadi, setiap mahasiswa juga berkesempatan maju untuk menyampaikan kesan dan pesan selama satu tahun hidup bersama dalam keberagaman, keunikan, dan kekeluargaan jurnal D 2011. Tak hanya curcol, mengungkap kekurangan dan kelebihan jurnal D, berbagi pengalaman paling berkesan, hingga permohonan maaf dan ucapan terima kasih dari lubuk hati terucap semua dalam sesi ini. Cara menentukan giliran maju pun terbilang unik, yakni dengan membagikan sedotan minuman yang berisi kertas di dalamnya. Siapa yang memperoleh tanda kertas tersebut, dialah yang mendapat giliran lebih awal. Tentu saja gilirannya dipasang-pasangkan, satu mahasiswi dan satu mahasiswa untuk setiap putarannya (kecuali Syahda dg Rifki, dan Epul dg Ipong). Benar-benar ungkapan suara hati, teman.
Untuk mengantisipasi rasa jenuh, sharing ini diselingi goyangan dangdut Si Uwa (Sista-red) dengan ABG Tua-nya. Beberapa mahasiswa iseng mengeluarkan lembaran ribuan dan ikut bergoyang, potret ini seolah selalu ada dalam setiap acara hiburan jurnal. Aha! Ada games seru juga, kawan. Tim kreativ yang dimotori oleh Bang Sani dan Chilo (Shiro-red), menantang dua grup yang terdiri dari 5 mahasiswi dan 5 mahasiswa untuk menghabiskan satu botol minuman masing-masing dengan beberapa sedotan yang saling berhubungan. Tentu saja, grup cowok yang menang, karena selain badan mereka lebih besar, triknya lebih jitu, agaknya hasrat haus mereka juga lebih dalam daripada para cewek, :D
Oya, satu hiburan yang benar-benar baru. Ialah aksi dancing Windi vs Jube dengan perpaduan musik beat, dangdut, dan romantic-melancolic secara bertahap. Tampak sangat lihai dan memukau, agaknya mereka sudah berlatih matang untuk mempersiapkan penampilan ini (sayang, tidak sempat wawancara dulu dengan keduanya, :) ). Bahkan segenap audince pun harus mundur dari posisi duduknya agar mereka leluasa bergerak, hingga memberikan standing applause untuk dance yang kreativ dari keduanya.
Ronde Terakhir, Saatnya Makaaan!
Tibalah saatnya menyantap hidangan lezat khas Ayam Hesti sebelum acara selesai. Satu per satu mengambil satu piring makan berisi satu bungkus nasi, satu paha yam serundeng, lalaban, plus sambal, dengan antrean yang tertib. Tidak lupa untuk cuci tangan, teman. Para gadis duduk meng-oval (karena tak tampak melingkar) di ruangan tersebut, sementara para pria mengelilingi meja lesehan persis di depan ruang itu. Nikmat dan membahagiakan. Bukan hanya makanannya yang lezat, tapi indahnya kebersamaan ini juga memberi nilai plus tersendiri yang pasti akan masuk kategori ‘unforgattable moment’. Kalau tidak salah, jurnal makan bersama seperti ini saat melakukan penelitian ke Kampung Naga, Tasikmalaya, semester lalu. Pantas saja jika saya merindukan saat-saat seperti ini. Saat dimana semua duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.
Setelah semua kembali cuci tangan dan merapikan bekas makan masing-masing, acara pun diakhiri dengan do’a bersama, foto bersama, bersalam-salam dan berpelukan, serta menyatukan tangan dengan teriakan Jurnal D, TERUS? sebagai jargon baru keberlanjutan riwayat jurnal D di semster berikutnya. Keberlanjutan kekompakan, kreativitas, semangat, dan segenap motivasi untuk menggapai masing-masing mimpi, tanpa melupakan kesatuan dan persatuan serta kekeluargaan jurnal D yang telah terbangun. Inilah bukti kebulatan tekad untuk menuju Jurnalistik yang jauh-jauh-bahkan sangat jauh lebih baik dari angkatan sebelumnya. Semoga.
Hari dilaksanakannya acara Ngariung Bareng Jurnal D ini juga dikukuhkan sebagai Hari Jadi Jurnal D yang pertama, Jum’at, 8 Juni 2012. Mengingat kelas Jurnal D adalah kelas pertama sepanjang sejarah berdirinya jurusan Jurnalistik UIN Bandung. Ya, dulu maksimal hanya 3 kelas, yakni sampai kelas C. Disepakati pula bahwa setiap tanggal 8 Juni, Jurnal D akan kembali mengadakan acara serupa untuk memperingatinya. Sungguh, ini baru gebrakan sejarah!
Benar-benar moment yang tak terlupakan, kawan. Persis seperti lagu penutup ala Project Pop yang dinyanyikan bersama sebelum semua berpisah, kembali ke kampung halaman, dan menikmati masa liburan 3 bulan ke depan. Inilah lagu pengingat sejarah Jurnal D, lagu kebersamaan dan bukti loyalitas serta solideritas bersama dalam membangun dan membesarkan Jurnalistik D.
Ingatlah Hari Ini
Kawan dengarlah yang akan aku katakan
Tentang dirimu setelah selama ini
Ternyata kepalamu akan selalu botak
Kamu kayak gorilla
Cobalah kamu ngaca tu bibir balapan
Daripada gigi lu kayak kelinci
Yang ini udah gendut, suka marah-marah
Kau cacing kepanasan
Tapi aku tak peduli
Kau slalu di hati
Reff.
Kamu sangat berarti, istimewa di hati
Slamanya rasa ini
Jika tua nanti kita telah hidup masing-masing
Ingatlah hari ini
Ketika kesepian menyerang diriku
Gak enak badan resah tak menentu
Ku tahu satu cara sembuhkan diriku
Ingat teman-temanku
Don’t you worry just be happy
Temanmu disini
(Don’t you get sad don’t be angry, mending happy-happy)
Inilah warna-warni jurnal D yang sangat berharga. Mari kita jaga aset keberagaman ini untuk saling melengkapi. Saya yakin, jika kedewasaan bersama bisa saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing, menjadikannya bahan pelengkap untuk setiap derap langkah jurnal D, niscaya indahnya pelangi itu tak ada apa-apanya dibanding keindahan kelas Jurnalistik D. Semoga. :)
JURNALISTIK D, TERUS???!!!
Galeri selangkapnya silahkan klik disini
Suara Hati Seorang Kekasih
Tak mengapa jika kau murung, aku tetap akan tersenyum
Tak masalah jika kau marah, karena senyumku tetap merekah
Tak peduli kau emosi, aku tetap tegar menghadapi
Bahkan silahkan saja kau membisu, pintu hatiku takkan pernah tertutup untukmu
Kasih, hanya namamu dihatiku
Jiwa dan raga takkan berdusta, Kau pasti tahu itu
Namun terkadang cinta terusik benci sesaat
Yang tak terobati meski seribu musim terlewat
Tak perlu kau perjelas
Tak perlu lagi kau pertegas
Banting pintu itu sudah cukup menjadi bukti bisu
Seakan hatimu benar dirajai emosi
Terima kasih untuk keindahan hari ini, kasih
Keindahan yang terlampau berharga tuk disudahi
Hingga amarahmu pun, tak memudarkan senyumku menyambut kepulanganmu
Ke hatiku
Hikmah di Balik Perkenalan dengan Pelayan
Teteh kok logatnya Jawa, sih?
Iya, saya kan dari Jawa
Jawanya mana?
Cilacap
Wuahahaha .! Sontak saya tertawa. Senang sekaligus bersyukur, menemukan kawan sedaerah di perantauan ini. Terlebih, setelah ditelusuri ternyata mereka tetangga desa, bahkan saudaranya adalah salah satu guru saya ketika di Al Hikmah. Wah, lengkaplah sudah! Bertemu tetangga desa di tanah orang, meski sejatinya tak saling mengenal, rasanya tetap membahagiakan bak bertemu saudara di tengah bencana. Seakan menjadi pelipur kerinduan pada keluarga, meski tak ada hubungan darah apalagi pertalian keturunan. Itulah ekspresi spontan saat saya tak sengaja berkenalan dengan pelayan warung makan Ayam Jago yang masyhur dengan kekhasan sambal penyetnya. Dan, kejadian serupa sudah lebih dari 5 kali saya alami di Kota Kembang ini.
Barangkali itu yang menjadi salah satu tambahan keunikan bangsa Indonesia. Lantaran saking pluralnya, sampai kadang lieur (pusing-red) jika berinteraksi dengan kawan yang datang dari berabagai sudut pulau. Berinteraksi dengan orang Sumatera, tentu akan berbeda bahasa dan gaya interaksinya dengan orang Sunda. Begitu pula orang Betawi dengan orang Jawa, apalagi orang Padang dengan orang Madura. Tak heran jika sesekali saya merasa sepi, lantaran Suku JaWa, Cilacap khususnya, terbilang cukup langka disekeliling tempat tinggal saya sekarang (bukan Bandung secara general lho, ya). Betapa tidak, satu kampus saja kurang dari 50 mahasiswa yang berasal dari Jawa Tengah, yang dari Cilacap? Bisa dihitung jari. Menjadi wajar kiranya jika sepercik rasa senang membuncah saat tak sengaja berkenalan dengan orang sesama daerah, sesama suku, sesama latar belakang, bahkan senasib-sepenanggungan.
Lantaran persamaan itulah, kemudian timbul rasa saling kasih dan peduli, bahkan rasa saling memiliki yang mengalir tanpa paksaan. Jika sudah demikian, kekeluargaan pun tumbuh dengan sendirinya, dan seolah menjadi saudara jauh yang justru meniadakan rasa pekewuh (sungkan-red). Seperti kekeluargaan yang tak sengaja terjalin dengan pemilik warung service TV di depan tempat kost saya. Meski bukan orang Cilacap asli, tapi karena keluarga besarnya tinggal di daerah Kebumen (tidak jauh dari Cilacap), maka kebaikan dan keakraban mereka dengan saya jauh melebihi hubungan baik dengan tetangga lain. Mereka selalu ramah menyapa dan memberi bantuan dengan suka rela. Ya, begitulah rasa persaudaraan itu hadir tanpa dipanggil.
Hikmah di Balik Perkenalan dengan Pelayan
Bertolak dari semua cerita diatas, kawan. Satu hal yang membuat saya tertegun saat berkenalan dengan para pelayan di rumah makan Ayam Jago tadi, ialah peringatan untuk kembali bersyukur. Bukan hanya bersyukur lantaran bertemu dengan tetangga desa, melainkan juga bersyukur atas nikmat pendidikan yang bisa saya kenyam hingga perguruan tinggi. Karena para pelayan itu, bukan saja masih terbilang gadis belia, tapi mereka juga sudah putus sekolah sejak SMP dan SMA. Jika tak karena putus sekolah, barangkali mereka tak kan berprofesi seperti sekarang. Melainkan duduk manis di bangku kuliah, menyandang gelar mahasiswi, menyongsong cita-cita dan masa depan yang bermartabat, serta menjadi bagian dalam pengkaderan Director of Change bangsa dan negara, seperti saya dan teman-teman rasakan.
Jika postingan sebelumnya sempat saya keluhkan ketidakberuntungan masuk UIN Bandung, kini saya kembali menyadari sepenuhnya bahwa itu salah besar. Menjadi bagian dari keluarga besar kampus, ialah hasil perjuangan panjang sejak saya TK yang sepatutnya disyukuri dan dinikmati. Tanpa jenjang pendidikan sebelumnya, TK-SD-SMP-SMA, mustahil adanya saya bisa masuk Perguruan Tinggi. Namun, lebih dari semua itu, diterima di Universitas Negeri adalah anugrah, karena dari 10 ribu pendaftar satu angkatan saya tahun lalu, hanya diterima 3500 peserta. Artinya, saya termasuk orang-orang pilihan yang berhasil menggeser 6500 lainnya. Jika saya masih tidak bersyukur, bagaimana dengan mereka yang tertolak?
Hal yang terpenting dari itu, kawan. Wujud rasa syukur saya tak selayaknya hanya di bibir saja. Melainkan juga dibuktikan dengan bakti dan pengabdian pada mereka, yang tak mampu merasakan pendidikan perguruan tinggi, juga paling tidak untuk masyarakat sekitar. Bukti bakti itulah yang menjadi cikal bakal pengabdian sejati pada bumi pertiwi. Pengabdian generasi penerus bangsa untuk membenahi kecarut-marutan negara, meski dengan prediksi keberhasilan yang tak seberapa. Bukankah itu menjadi tanggung jawab kita bersama?
Bagaimana menurutmu, kawan?
Secret Mission Dibalik Bedah Buku dan Workshop Tewe
Kalau dibilang terlambat, ya. Bahkan saya katakan amat sangat terlambat. Acara yang didukung oleh ICTWatch sebagai sponsor utama sudah terlewat 10 hari lalu, apa mau dikata jika saya baru menyempatkan diri untuk berbagi cerita sekarang. Tapi, jika kita menganut paham lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, rasanya tak jadi masalah, kawan. :)
Bedah Buku dan Workshop Travel Writer Bersama Damae Wardani
Sepuluh hari dihitung mundur dari terbitnya postingan ini jatuh pada Minggu, 27 Mei lalu. Ialah hari bertemunya kedua bola mata ini dengan ratusan pasang mata yang hendak menjadi ‘Duta Malhikdua’, dalam perhelatan mengasyikkan selama menyambangi Praktik Kerja Lapangan (PKL) dan School Outing Program (SOP) sebulan ke depan. Dalam program spesifikasi atau kegiatan ekstrakurikuler tahunan itu, saya berkesempatan berbagi seputar travel writing dan dunia kepenulisan dalam agenda Bedah Buku dan Workshop Travel Writer Bersama Damae Wardani. Benar-benar tantangan baru, kawan.
Meski sebelumnya saya harus berdebat hebat dalam proses perijinan orang tua dikarenakan perjalanan Bandung-Brebes seorang diri (andai ibu bisa membaca postingan ini, ananda sampaikan beribu maaf atas ketidaksopanan ananda waktu itu. Bukan maksud hati tidak patuh apalagi menentang ridhomu, tapi percayalah, anakmu hanya ingin belajar mandiri untuk menghafal 8 arah angin diseluruh penjuru), acara yang bertempat di GOR Al Hikmah 2 Brebes itu tetap terlaksana sesuai rencana. Bahkan satu hal yang tak terduga, serangkaian acara yang diikuti oleh seluruh siswa Madrasah Aliyah Al Hikmah 2 (Malhikdua) kelas dua itu diwarnai aneka batik yang dikenakan peserta, panitia, tamu undangan, juga para pembicara. Sebuah ketidaksengajaan yang unik, teman.
Opening ceremony prosesi bedah buku, dibuka dengan lantunan merdu ayat suci Al Qur’an, khas pesantren Al Hikmah. Dilanjutkan Wejangan atas nama Kepala Madrasah yang disampaikan oleh Drs. Sulkhi Azis. Dengan gaya bicara yang kharismatik, stockholder yang sangat berpengaruh di Malhikdua ini berhasil membangkitkan semangat dan menitipkan amanah sekolah untuk para peserta. Sedikit ice breaking, acara yang masuk dalam rangkaian agenda Briefing PKL ini juga dimeriahkan oleh Grup Rebana OSIS Malhikdua dengan personil baru. Boleh dikata kemajuan, segenap peserta duduk manis dan khidmat mengikuti satu persatu rundown acara dibawah kendali dua dara manis berbaju pink sebagai MC, Chacha dan Icha. Dibilang kemajuan, karena memusatkan perhatian peserta untuk acara semacam ini terbilang sulit di Malhikdua.
Sesi Bedah Buku
Diperkenalkannya Em Farobi Affandi sebagai moderator oleh MC, menjadi pertanda sesi Bedah Buku ‘Out Of D’Box’ dimulai. Inilah saat dimana buku saya akan dikupas tuntas oleh pembicara, Pradna Paramita, seorang cerpenis yang paling lemah dengan tawaran makan. Hadir pula sosok yang sudah tidak asing lagi di kalangan Malhikdua, ialah pemilik sapaan akrab ‘Paman Gembul’ yang juga tak pernah kuasa untuk menolak makanan, dibawah bendera M2Net Publishing yang baru saja dirintisnya. Disinilah, buku yang bercerita tentang perjalanan SOP saya dua tahun lalu dan petualangan ke Pare (Kampung Inggris di bilangan Kediri, Jawa Timur) 2011 lalu, dibabat habis oleh mereka (meski realnya penyampaian pembicara melenceng dari pesanan :p). Oya, hampir lupa, acara ini juga disaksikan oleh salah satu blogger Banyumas, Estiko (tapi saya lebih suka menyebutnya ‘es kiko‘, hehehe..) yang tampil sebagai tim penggembira. :)
Beruntung 10 pasang sandal (yang sengaja diselenkan) dari salah satu donatur berhasil menjadi penambah gairah dan antusias peserta untuk bertahan selama acara berlangsung. Setidaknya, doorprize ini terbukti ampuh sebagai pengusir kantuk (maklum, dunia santri tetap tak terpisahkan dari ‘ngantuk’ saat pikiran terlalu fokus mendengar dan melihat penyampaian para pembicara). Tak hanya untuk mereka yang beruntung, hadiah ini juga diberikan pada dua penanya terbaik saat sesi tanya jawab berlangsung.
Sebelum adzan dhuhur bergema, sesi bedah buku dicukupkan dan peserta diperkenankan beristirahat hingga jam 1 siang. Disela breaktime, panitia yang semuanya tergabung dalam Malhikdua Network (M2Net) sibuk merapikan tempat dan merapikan GOR lantai dua untuk acara workshop. Sementara bagian redaksi sibuk memposting berita acara, ada juga yang mewawancarai para narasumber disela jam makan siang. Semua terlihat kompak dan menggemaskan, saya senang sekali melihat keringat mereka bercucuran saat bahu-membahu demi suksesnya acara (karena inilah tujuan saya, hihihi –peace–).
Sesi Workshop
Sesi workshop tak seformal Bedah Buku, pesertanya juga tak sepadat acara itu. Selain memang dibatasi untuk menjaga kekondusifan acara, dari 65 pendaftar hanya hadir tidak lebih dari 50%-nya. Lumayan menghemat energi, kawan (betapa tidak, tubuh ringkih ini sudah mulai menguap dan terlihat sayu lantaran istirahat yang sama sekali tak terbilang cukup). Dengan ruangan lebih kecil dari sebelumnya, ditambah pengeras suara, tentunya sangat membantu konsentrasi peserta dalam mengikuti materi ‘Travel Writing’ yang saya berikan. Hanya saja, hawa panas di lantai dua tetap tak terelakkan meski sudah terpasang dua kipas angin di atas kepala.
Masih dengan moderator yang sama, saya berbagi seputar pengenalan dunia menulis, menulis perjalanan, dan cara memulainya. Tak banyak yang saya sampaikan, selain workshop lebih dekat dengan praktik langsung, juga karena sebagian materi sudah disampaikan oleh mas Pradna saat Bedah Buku sebelumnya. Buku bacaan dan Sandal yang sengaja diselenkan turut mewarnai lagi dalam sesi undian doorprize, tak terkecuali untuk tulisan perjalanan terbaik yang dihasilkan peserta tidak kurang dari 15 menit, dalam praktik travel writing. Miftah, ketua panitia yang baru muncul di sepenggal moment terakhir workshop ini, dikarenakan kepulangannya pasca kelulusan Malhikdua 3 hari sebelum acara, juga sempat memberikan hadiah untuk salah satu peserta.
Acara ditutup dengan foto bersama di bawah backdrop yang terpampang di dinding depan. Mantap sekali, kawan.
Oya, hampir saya lupa. Terima kasih dari lubuk hati terdalam saya ucapkan untuk Radio Tsania FM, yang sudah berkenan mengundang saya untuk berbincang seputar acara tersebut. Saya senang sekali bisa menyapa para pendengar setia, setahun lalu. Makin sukses dan maju terus untuk Tsania.
Satu lagi, untuk semua pihak yang telah tergabung dalam program Alumni Berbagi baik yang benar-benar alumni atau sekedar menjadi donatur, hatur nuhun ka sadayana. Kontribusi Anda sangat berarti demi terselenggaranya acara ini.
Untuk M2Net
Serangkaian acara yang baru saja saya ceritakan diatas ialah ide gila saya yang akhirnya disetujui Cak Novi setelah melalui perdebatan panjang. Berangkat dari keprihatinan saya akan kacaunya acara M2Net selama ini, menimbulkan semangat untuk menyelenggarakan acara besar yang semuanya murni dimotori oleh anggota M2Net sebagai pembelajaran. Bagaimana cara menyelenggarakan acara, mengatur kekompakan panitia, mengundang pembicara, menjaring sponsor dan donatur, membuat konsep acara yang menarik, hingga menyelipkan manfaat ganda dari penyelenggaraan acara tersebut: membekali calon peserta PKL untuk mendokumentasikan perjalanan mereka dalam bentuk tulisan.
Maka, mohon maafkan segala kemarahan saya, oprak-oprak, kecerewetan, benatakan, dan segala bentuk khilaf selama proses perencanaan, persiapan, penyelenggaraan, hingga evaluasi acara terhadap semua panitia. Semua itu saya lakukan tak lain dan tak bukan karena saya tak ingin acara yang sudah diperdebatkan sejak 3 bulan lalu kacau ditengah jalan. Terbukti, 4 jempol untuk kerja keras kalian, setidaknya saya cukup puas dan berterima kasih atas segenap partisipasi. Siapa bisa mengira, berkat penyelenggaraan acara ini pula, buku diary mini yang dua tahun lalu masih rahasia, bahkan tak berarti apa-apa, kini bisa dibaca sebagai travel writing (catatan perjalanan) yang setidaknya bermanfaat untuk peserta PKL sebagai panduan mengabadikan perjalanan mereka.
Satu hal yang saya ingatkan, ini baru permulaan, kawan. Saya tunggu event-event spektakuler berikutnya. :) ***
Urutan foto di atas:
- Tiket masuk peserta. Meski gratis tetap ada tiketnya loh.. Foto cewe berjejer di sisi kanan diambil dari muslimahbackpacker. belum ijin ybs. susah cari kontaknya. di web tsb ga ada kontaknya. maaf ya.. habis bagus banget. desainernya tergoda ;p
- Penerima Sandal Selen. Cukup seneng meski sandalnya selen.. Hmm.. beginilah santri. padahal dari lubuk hati panitia terdalam berharap penerima sandal akan mencari belahan sandal lainnya agar sempurna jadi sepasang.
- Backdrop 3 x 2 meter, didesain kotak-kotak agar bisa dipotong usai acara dan bisa dibawa pulang (maksudnya dijual) ke siapa yang minat. Habis sayang cetak mahal2 untuk sekali pakai.
Galeri Foto Tewe lainnya :


























