CERITA GADIS BERKACAMATA II : ANEH TAPI NYATA

Aneh! Itulah kata pertama yang tersirat dalam benak saya, ketika satu per satu kejadian-kejadian di luar kebiasaan itu terjadi begitu saja. Semua peristiwa yang akan saya ceritakan ini, ada yang saya alami sendiri, ada juga yang saya alami bersama my partner. Apa sajakah kejadian aneh itu? Yukz kita simak baik-baik ceritanya!

Sudah jadi konsekuensi kalau siswi yang tinggal di pondok berarti mendapat giliran jadwal mengajar (baca : belajar bersama) santri-santri pesantren Nurul Qur’an. Dan hampir semua pasukan kita bandel-bandel lah, susah diatur lah, kurang sopan lah, de-el-el.

Anehnya kalau giliran saya justru enjoy aja. Malahan saya tidak merasa kesal sedikitpun dengan kenakalan mereka. Saya tidak memungkiri kalau mereka memang buandelnya minta ampun. Tapi saya sadar kalau semua polah mereka semata karena sedang caper (cari perhatian) agar saya mengenal dan dekat dengan mereka. Justru asyik kalau sudah biasa menyelami karakter mereka. Saking asyiknya, seringkali mereka tidak mau menyudahi belajarnya bersama saya, walaupun jadwalnya sudah habis. Maka dari itu pasukan kami (Group A) sempat bertanya-tanya kok bisa! Aneh deh! Tentu saja itu sebelum mereka tahu hal yang sebenarnya.

Ketika pasukan kami banyak yang ditolak oleh foreigner, banyak pula yang dimarahi oleh guide-nya karena dirasa mengganggu waktu kerja mereka. Saya justru diberi turis yang sedang berjalan-jalan keliling candi bersama guidnya. Dengan ramah guidnya berkata Mr. her speaking is very good, please make conversation with her because she is practicing her English here                                        . Saya sentak kaget mendengarnya. Pa, apa ndak salah?                                        . Saya bertanya untuk meyakinkan. Ndak mbak, saya dari tadi memperhatikan anda bersama partner anda. Dan saya yakin anda mampu menjadi guidenya. Silahkan mulai conversationnya                                        . Guide itu menjelaskan panjang lebar.

Tanpa pikir ulang saya pun langsung take conversation sama foreigner yang diserahkan ke saya. Mereka ramah sekali dan ternyata mereka baru saja menikah dan tujuan pertama untuk bulan madu.

Dalam lubuk hati berbisik lirih, Alhamdulillah                                        .rezeki memang tidak kemana                                        . Tapi kalau dipikir aneh juga sih, kok ada ya guide yang sebaik itu.

Kok sendirian? Temen-temennya mana?                                         Tanya salah seorang pengurus ketika melihat saya termenung di teras depan kamar. Hmmm                                        ndak kok. Tu temen-temen di dalam kamar. Abisnya di dalam saya cuma jadi pendengar setia gosip-gosip mereka                                         jawabku tenang.

Gosip-gosip apa?                                         tanyanya penasaran. Ya                                        itu tentang pengurus putra, berhubung aku belum kenal sama sekali, jadi mendengarkan pun tak akan ngambang                                        . Ukhti                                        .ukhti                                        tahu nda, ukhti nda perlu kenalan sama mereka, mereka sudah kenal duluan sama ukhti                                         jelasnya penuh semangat.

What? Kok bisa?                                         sontak saya terkejut. Ini rahasia lho, ukhti, ketua pondoknya diam-diam naksir ukhti                                         sambil berbisik Wkkkk                                        .                                         Aku hanya tertawa ngakak. Setengah tak percaya, masa ketua pondok jatuh hati sama Damai yang item, kurus, jelek, kaya begini. Padahal yang jauh lebih segalanya kan banyak. Hmmm                                        ketika yang lain sibuk mencari perhatian mereka, saya malah diperhatiin sama mereka. Aneh ya!

Baru tahun ini peserta SOP Group A disibukkan dengan seabrek tugas yang diinstruksikan langsung oleh Pa’e. Berhubung akan diselenggarakan acara peringatan Isra’ Mi’raj besar-besaran, kami (Group A) diminta jadi panitia untuk mempersiapkan segalanya. Mulai dari melatih MC, hadroh (baca : rebana), regu koor, pembacaan puisi, de-el-el, deh!

Nah, di saat yang lain berpusing ria melatih anak-anak yang bisa dibilang makan hati tiap hari, saya justru diberi tugas pegang laptop untuk mengurus administrasi pondok sebagai persiapan penerimaan santri baru. Wah                                        enak sekali, padahal sebelum berangkat saya ditawati laptop oleh Gembul saja ditolak, karena dilarang keras bawa alat elektronik. Kok di sini malah dikasih laptop. Aneh                                        ya                                        !.

Nah, itu sekelumit kisah aneh yang terjadi, masih banyak yang lainnya lho                                        ..

Facebook Comments

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *