JALAN PANJANG MENUJU MAGELANG

Bus pariwisata bermerk                                        ..(ah                                        lupa) sudah meluncur dari pintu gerbang Al-Hikmah 2 menuju Magelang, sekitar pukul setengah lima sore. Meski rombongan Gelombang I yang juga menaiki bus tersebut sudah sampai sejak jam tiga sore, namun pemberangkatan Gelombang II tetap dilaksanakan ba’da Ashar. Tentunya setelah membaca do’a safar yang dipimpin oleh akhi Fikri.

Wuizzzz! Semilir angin malam menembus pori-pori yang tersembunyi dibalik jaket berlebel EDS bagian depan dan sederet nama personilnya yang tertampang di punggung. Lima jam kemudian, bus transit di Masjid Agung Purworejo dimana terdapat bedug terbesar no. 1 di dunia (demikian keterangan yang tertulis).

Ada satu kejadian aneh yang saya temui di sana (selanjutnya kata aku                                         akan diganti saya                                        ). Sosok berbaju putih yang tak jelas wajahnya tertangkap kamera secara tak sengaja. Hal ini terjadi ketika beberapa anak mengambil gambarnya dnegan berdiri di sekitar bedug itu.

Setelah semua selesai sholat isya’ dan hunting makanan ringan, bus kembali melesat menguasai jalan raya. Tak lama kemudian, bus sudah memasuki kota Magelang. Kota yang akan kami (rombongan Gelombang II) singgahi selama 14 hari ke depan.

Saya yang duduk persis di belakang sopir dekat jendela, tak sedikitpun melepas pandangan ke arah luar. Dan bus tepat berhenti ketika kedua bola mata ini menangkap tulisan besar yang tertera Bendosari                                        . Itu merupakan tempat kos kelompok 5 di bawah bimbingan Mam Putri dan Mam Yuniar.

Beberapa menit setelahnya, bus singgah di Pulosari, setelah menurunkan semua personil Group B beserta barang-barangnya, bus kembali berjalan. Hanya ratusan meter jaraknya dari Pulosari, Group A pun akhirnya bermuara.

Di sanalah saya beserta 17 teman lainnya ditambah 1 pembimbing akan tinggal untuk melaksanakan tugas yang kami (Group A) emban.

Beberapa langkah dari koperasi Al-Maidah di sebelah kiri jalan raya, kami berbelok arah menyusuri gang, lurus ke arah selatan hingga menemukan gedung berlantai 3 yang sudah terlihat sepi bertuliskan PP. Nurul Qur’an, Jumoyo, Jalan Magelang, di sisi depan teras lantai 2.

Kami sempat panik ketika melihat barang bawaan yang telah bertengger di depan kantor lantai 1 belum lengkap semua. Mam Titut, pembimbing kamipun langsung mengontak agen bus yang kami miliki. Sementara kami meluruskan kaki di ruang tamu sambil H2C (harap-harap cemas). Ya Allah, hamba yakin, kau pasti menyelamatkan barang-barang kami yang mungkin sekarang terbawa oleh bus barang yang telah mendahului bus kami                                        , hati ini merintis di detik ke 3 saat jarum jam menunjuk angka 12 untuk yang pendek, dan angka 3 untuk yang panjang, terdengar detakannya. Bagaimanakah nasib barang-barang yang masih terbawa di bus ? ikuti lanjutan ceritanya                                        ..

Magelang, 22th June 2010

Facebook Comments

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *