Set Dulu Mentalmu, Baru Packing Barangmu

Mai, kamu nyantai banget sih! Yang lain udah packing semua, kamu kok belum apa-apa?                                         tegur seorang teman sehari sebelum berangkat SOP.

Bukannya aku menyepelekan persiapan School Out Programming yang akan berangkat esok hari, tapi kalau boleh aku jujur, sungguh aku belum siap mengikutinya. Bukan pakaian, makanan, uang saku, make-up, de-el-el yang harus ku utamakan untuk di packing. Melainkan mental. Mentalku serasa belum siap untuk berangkat. Belum siap praktik conversation langsung sama tourist. Juga belum siap mengamalkan ilmu yang telah ku timba di pondok untuk mengajar santri-santri di pesantren yang akan ku tempati nanti. Mentalku juga belum siap beradaptasi di daerah yang belum pernah ku jamahi sebelumnya.

Meskipun demikian, bukan berarti aku tidak butuh pembekalan jasmani seperti yang telah kusebut tadi. Tentu saja aku harus memikirkannya. Apalagi tak ada izin pulang. Otomatis semuanya harus beli. Karena di pondok tidak menyediakan semua yang ku butuhkan. Seperti beras, lauk-lauk makanan, snack kering, termasuk sirup, gula dan teh untuk bekal begadang bikin report. Mau tidak mau aku harus keluar membelinya dan membuang yang tak sedikit hitungannya.

Ditambah lagi pikiranku harus berbagi pula dengan organisasi. Karena aku punya tanggung jawab terhadap organisasi yang aku bawahi. Hingga 5 jam sebelum pemberangkatanpun aku masih meeting dengan panitia acara yang akan diselenggarakan dua hari setelah kepulanganku.

Terima kasih kau telah mengingatkanku. Tapi, bajuku masih banyak yang dijemur. Mungkin besok pagi aku baru bisa packing                                        . Jawabku tenang.

Jadi teringat waktu briefing, hampir semua tutor tidak lupa menyampaikan modal atau bekal utama yang harus dibawa adalah kekuatan mental. Karena mental yang kuat akan membingkai hati dan pikiran mapan tak kan membuat kita gentar hadapi semua yang terjadi.

Sayang, sering kali hal ini disepelekan, kebanyakan mereka hanya berpikir bagaimana hidup mereka disana. Bukan memikirkan bagaimana mereka bisa menjalankan amanat sekolah dan pondok sebaik-baiknya. Bagai burung lepas dari sangkar, betapa bebasnya mengepakan sayap di angkasa. Mungkin itu yang sudah terbayang-bayang dalam benak mereka. (maklum namanya saja santri).

Setting waktu dan tempat sebenarnya : PP. Al Hikmah 2, EDS Room, Minggu, 20th June 2010.

Facebook Comments

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *