M2Net, Sungguh Beruntung (Refleksi 3 Tahun Blog Malhikdua)

Siapa bisa mengira nasib seseorang. Tidak selamanya apa yang kita lihat dari kasat mata itu benar. Tidak selamanya orang besar lahir dari bangsawan, keturunan priyayi, atau pun darah biru seperti banyak disebut orang. Tidak selamnya keberhasilan berpihak pada mereka yang berkuasa. Juga tidak selamanya kegagalan, keterpurukan, dan kehancuran, menjadi nasib wong cilik yang tidak berdaya.

Tidak kurang ribuan bahkan jutaan potret orang sukses di dunia yang bermula dari kegagala mereka. Sebut saja Billi P.S. Lim. Penulis buku Berani Gagal yang kini tercatat sebagai salah satu orang sukses justru karena ia membeberkan kegagalannya. Buku yang mengupas habis perjalanan hidup nan peluh, terjatuh, terpuruk, bangkit, jatuh lagi, terpuruk lagi, begitu seterusnya, hingga kini ia menjadi orang besar dan dikenal dunia sebagai trainer kelas Internasional.

Tak lain dan tak bukan ialah karena kegagalannya yang menjadi pelajaran amat berharga. Bukan hanya bagi dirinya namun bagi jutaan orang di dunia. Ya, ia spontan naik daun setelah buku tentang kegagalannya itu terjual jutaan copy bahkan menjadi best seller Internasional.

Tak perlu jauh-jauh, bila ingin bercermin. M2Net, barangkali tak asing lagi di pendengaran Anda. Lembaga Informasi Malhikdua ini pun pernah sukses menaklukan kegagalannya. Lahir dalam keadaan serba kekurangan, merangkak dengan segala keterbatasan, dan tumbuh dalam keterpurukan. Bahkan sepanjang perjalanan hidupnya (yang kini sudah berusia 4 generasi), jantung M2Net tak pernah berdegup dengan tenang. Napasnya selalu tersengal-sengal dan dihantui problematika yang kian memburu kematiannya.

Tiga tahun lalu, M2Net bangkit dari kegagalan eksisnya generasi pertama. Ramadhan, tepatnya. Berawal dari inisiatif Mas Novi, outsider Malhikdua yang tak pernah putus asa tuk menyambung napas M2Net hingga detik ini, untuk pertama kalinya generasi M2Net mengalami revolusi.

Alih tangan dari para Crew Child _yang tercatat sebagai generasi pertama M2Net_ ke tangan para siswa, memang bukan hal yang mudah. Tidak hanya merombak menejemen, melakukan perkrutan ulang, dan mengadakan berbagai pelatihan untuk generasi baru, namun juga membutuhkan konsekuensi akan apapun yang terjadi.

Masih terekam jelas dalam memori, bagaimana perjuagan Mas Nov dan Pak Ishack dalam membentuk generasi 2. Terpaksa curi-curi waktu sehabis pengajian sentral guna memberikan bekal seputar dunia blog dan web pada mereka yang terpilih untuk melanjutkan riwayat M2Net. Posting hingga jam 1 malam sehabis pasaran Ramadahan (karena pasarannya kadang sampai jam 11), dan pernah kalah dalam lomba blog nasional untuk pertama kali.

Juga masih hangat dalam ingatan, bagaimana pedihnya blogger-blogger Malhikdua dicap sebagai pendusta. Hanya karena kegagalan film Laskar Pelangi untuk diputar saat Launching T-GER.Net. Bukan kesalahan mereka, sejatinya. Mereka sudah berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan yang terbaik, namun agaknya tertipunya panitia dengan CD Film yang dipesan hanya berisi lagu, tak termaafkan oleh para penonton. Hingga kini nyawa T-GER.Net tak mampu bertahan lagi. Itulah sekelumit tragedi 1 Januari 2009.

Masih ada lagi. Perjuangan generasi 3 untuk mempertahankan kembang kempisnya jantung M2Net, hingga denyut nadi terakhir. Siapa yang tidak angkat topi pada mereka, bila mendengar ceritanya. Tidak diketahui banyak orang memang. Bagaimana 4 pejuang M2Net yang tersisa dari 50 anggota yang mundur, mati-matian belajar jurnalistik dan dunia organisasi dibawah temaram lilin. Mereka sengaja mengendap-endap dan memilih ruang kelas kosong diatas asrama. Proses belajar pun berlangsung setelah pengajian sentral ditutup Hidzib Syakron dan Al Mulk. Semua dilakukan tanpa setitik nila pun dihati mereka.

Satu lagi perjuangan yang benar-benar berarti. Kisah tim sukses lomba web tingkat nasional tahun lalu, dimotori oleh tiga pejuang putri yang benar-benar pemberani. Segala trik dan strategi yang tersusun rapi, mereka jalankan dengan sepenuh hati. Tak peduli letih, takut dita’zir, aneka cibiran atau pun terganggunya agenda yang ada, mereka beroperasi selama seminggu setiap habis sentral. Ya, mereka berangkat ke markas yang posisinya di lantai 2 gedung Aliyah, diatas jam 10 malam dan selalu pulang sebelum jam 6 pagi. Target yang dikejar tak lain ialah Malhikdua, Juara.

Kalau masih mau menguraikan, barangkali satu buku pun tak cukup untuk menceritakannya. Namun, semoga apa yang tertulis diatas cukup menjadi bukti bahwa M2Net tidak pernah main-main dalam segala hal. M2Net tidak pernah gentar mengahadapi cobaan. M2Net tidak pernah sampai pada kata Putus Asa                                        , meski bertubi-tubi badai menerpa.

Bukan mudah meniti langkah ke angkasa

Bukan mudah mengubah mimpi jadi asa pasti

Apa pun jua bisa terbukti

Andai langkahmu tidak terhenti

                                                                                .

(Theme song Akademi Fantasi Indosiar)

Al hasil, dua kemenangan besar Malhikdua dalam kurun waktu sebulan. Juara 2 Lomba Website SLTA Tingkat Nasional dan Juara 1 Lomba IOSA Tingkat Nasional berhasil disabet M2Net untuk Malhikdua.

Namun, itukah yang disebut kesuksesan sejati? Seandainya M2Net tidak berhasil menjuarai semua itu, apakah itu disebut kegagalan?

Hmmm                                         pertanyaan bagus. Tentu saja apa yang sudah M2Net raih selama ini bukanlah kesuksesan sejati. Itu hanyalah sebentuk bonus sebagai wujud penghargaan pada M2Net yang telah bekerja keras. Kesuksesan yang sejati justru ada pada proses pencapaian bonus itu. Ketika M2Net bangkit dari kegagalan, ketika M2Net bertahan dari berbagai terpaan, ketika M2Net berani mati melawan deraan, dan ketika M2Net tegak berdiri dari cobaan yang silih berganti, itulah yang dinamakan kesuksesan sejati.

Ombak laut dan angin ribut menyebabkan pelayar sukses melaut dan tidak mudah mabuk. Tak ubahnya dengan layang-layang                          yang terbang tinggi dengan menentang angin dan bukan mengikutinya. Tentu Anda tahu, pelangi hanya bisa dilihat setelah turun hujan. Begitu pun kegelapan yang memang diperlukan untuk melahirkan bintang.

Ingatlah, berlian menjadi berharga setelah melalui proses yang keras. Demikian juga emas yang semakin murni bila dilebur dalam bara api yang semakin panas. Satu perumpamaan lagi, bunga perlu diperah sebelum menjadi minyak wangi.

Kepuasan terletak pada usaha, bukan pada hasil. Usaha dengan keras adalah kemenangan yang hakiki                                        , wasiat Mahatma Gandhi.

Begitu juga dengan M2Net. Segala ujian yang datang memang seharusnya menjadi titik acuan agar M2Net melakukan dan menjadi yang terbaik untuk Malhikdua.

Kini, bukan hanya kemenangan yang telah digenggam. Namun, hidup M2Net seolah lebih terjamin masa depannya, dengan terus bertambahnya jumlah pejuang yang akan melanjutkan riwayatnya. Satu hal yang lebih berharga, terbitnya buku-buku M2Net yang tak lain ialah karya putra-putri Malhikdua, menjadi bukti sejarah kegagalan demi kegagalan M2Net yang berbuah manis sekali. Tentu hal ini sebagai wujud kepercayaan M2Net bahwa, Agar hidup tidak dilupakan bila telah mati dan busuk, tulislah sesuatu yang bermanfaat untuk dibaca atau buatlah sesuatu yang bermanfaat untuk ditulis                                        .

Ujian seseorang ialah perjuangan yang ia perjuangkan

Ketabahan yang ditunjukan setiap hari

Bagaimana ia berdiri tegak dan tabah

Menghadapi goncangan dan penderitaan yang sudah menjadi takdir

Pengecut pun dapat tersenyum bila

Ketika tidak ada rintangan

Namun lelaki sejati harus sanggup menerima keadaan

Manakala orang lain berlagak sebagai bintang

                         

Bukan kemenangan yang penting

Tetapi perjuangan yang diperjuangkan seseorang

Orang yang, bila terjepit dan terpaksa

Masih mampu berdiri tegak dan tabah menghadapi

Cobaan dan tak takdir dengan bangga

Meski berdarah, pucat, dan benjol

Dialah orang yang akan sukses diakhir hayatnya

Karena dialah orang yang berani gagal

Ya, apa yang dikatakan Billi diatas memang benar. Tidak selayaknya M2Net menjadi pecundang. Tidak seharusnya M2Net masih dipandang sebelah mata dan dilecehkan. Justru M2Net sungguh sangat beruntung, karena ia terpilih sebagai salah satu lembaga yang pernah gagal, hancur, bahkan mati, namun berhasil bangkit dan membuat semua orang tersenyum kembali. Ya, M2Net sungguh beruntung.

Facebook Comments

Leave a Reply

6 thoughts on “M2Net, Sungguh Beruntung (Refleksi 3 Tahun Blog Malhikdua)

  1. Anistok Dewa says:

    Sungguh dahsyat tulisanmu, dalam merangkai dan membeberkan kronologi m2net, dari bau kencur sampe bau axe, renyah dibaca, ringan, tak pelit jika otak menyisakan ruang untuk menyimpan ceritamu. Lanjutkan Generasi Superhero, tunjukan bahwa dunia mampu mengenal wong cilik*, dan sejarah berhasrat merekam namamu pada lembar iPad.

    thanks, my brother. i’ll never stop trying

  2. sawali tuhusetya says:

    selamat milad ke-3 buat malhikdua, semoga makin eksis, baik di dunia nyata maupun maya. bener banget, kamu, damae, orang sukses konon tak pernah mengenal kosakata gagal dalam kamus hidupnya.

  3. uun says:

    Super! semoga tulisanmu bisa menjadi pengingat generasimu di M2Net.
    bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan jasa para pahlawannya

    aah, sayang saya tak pintar berkata-kata…utk mengungkapkan perasaanku sekarang ini….. but, dari semua itu intinya You doing soooo GREAT!! Jadi ngebayangin Damae lagi di wawancara dlm bedah buku dlm sbuah stasiun TV… :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *