Dunia Santri, Kembali Kunikmati Disini

Setelah puas berkelana ke tiga propinsi, lima Kota, dan puluhan tempat singgah juga beberapa tourism objek, yang semuanya saya lakoni dalam kurun waktu 2 bulan, kini saatnya kembali ke habitat.

Keluar dari kota santri -Brebes- setelah merampungkan studi SLTA disana, tidak lantas membuat saya seperti burung lepas dari sangkarnya. Disela keriweuhan saya mengurus pendaftaran dan seleksi PTN yang telah saya targetkan, saya mencoba berpetualang .

Bisa Anda bayangkan, perjalanan ke lima Kota yang saya tempuh seorang diri itu selesai dalam kurun waktu sekitar 2 bulan. Dari arah Brebes, saya pulang ke kampung halaman, Cilacap. Belum sempat menghela napas lega disana, saya meluncur ke Bandung. Ditanah kelahiran itulah saya berjuang mati-matian memperebutkan kursi calon mahasiswa baru yang ditempuh dengan seleksi nasional.

Ditengah debar jantung menanti pengumuman, saya berkelana ke negeri antah berantah yang belum pernah terjamah kaki-kaki mungil ini sebelumnya. Ya, Kediri. Bukan untuk sekedar jalan-jalan. Melainkan untuk mempelajari bahasa Inggris dari akarnya di salah satu desa yang terkenal dengan tahu kubahnya.

Itulah Pare. Sebuah kampung Ingris ( baca: Kampung tempat belajar bahasa Inggris) yang sudah dirintis sejak 1975 lalu. Persis sebulan saya menikmati speeking English everywhere and everytime dan belajar bersama the best teachers yang dianggap sesepuh disana. Sempat menjelajah beberapa objek wisata yang cukup ternama disana. Bahkan wisata kuliner yang murah meriah, hanya 5 ribu rupiah untuk semua jenis makanan.

Tapi ada dua hal yang belum saya capai selama bersemedi disana. Apa itu? Hmmm                                         cukuplah saya yang tahu. Semoga ada kesempatan untuk mewujudkan itu, meski entah kapan..

Selama menghirup panasnya udara Pare yang berhasil membuat sariawan saya bertahan sebulan, bolak-balik Bandung dua kali saya jalani. Sehabis paket program sebulan, saya mampir ke Brebes sebelum ke Cilacap lagi.

Tiga hari kurang dari Idul fitri, undangan dari HISBAN membawa saya menginjakkan kaki di Purbalingga. Meski tak kurang dari tiga hari, setidaknya berhasil masuk Goalawa, daerah yang bisa membekukan kaki jika berani menginjak lantai tanpa alas. Segudang tempat wisata Purbalingga, rasanya tak kan cukup diringkas disini. So, tunggu edisi selanjutnya ya.

Dirasa cukup merayakan hari Lebaran bersama keluarga di Cilacap, saya kembali ke Bandung. Sempat nomaden seminggu pertama. Berpindah dari tempat keluarga yang satu ke yang lainnya. Maklum, namanya juga numpang. Menikmati hiruk pikuk angkutan kota dan panasnya jalanan kota Paris Van Java yang kini sudah susah ditemukan kesejukannya.

Hingga sebuah petuntuk-Nya membawa saya kemari. Ya, Ma’had Al Jami’ah UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Sebuah pesantren modern yang fokus pada Arabic                          and English Learning. Dilengkapi aneka fasilitas yang mendukung proses belajar mengajar berlangsung nyaman. Tentunya tenaga pengajar pun didatangkan dari dosen bahkan syeikh undangan yang                          sudah banyak makan asam garam di negri orang. Bahkan tidak sembarang mahasiswa bisa masuk dan bertahan disini. Tentunya selain keterbatasan jumlah kamar di asrama, juga demi lancarnya koordinasi para pengelola ma’had dengan para santri.

Mengurai Ma’had Al Jami’ah, insyaallah lanjut di postingan berikutnya.

Facebook Comments

Leave a Reply

3 Comments


  1. ·

    selamat berjuang duhai petualang semoga yang hilang kembali datang, tepat dimana ia akan bersarang.

    thanks for your visiting

    Reply

  2. ·

    mba semangat tetap yaa.. keep spirit,……
    jg bangunkan kekuataN m2net kmbali,,,,
    agar yg sprti dlu…..

    yupz…!

    ulah gitu atuh, harusnya kalian yang sekarang semangatnya membara untuk m2net! saya mah dah GJ alias generasi jadul! he..he..

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *