Pinta Intan

Sempurna. Gaun putih menjuntai rapat mata kaki bahkan lebih setengah meter kebelakang itu, indah membalut kulit bersih kekuning-langsatan gadis belia yang akrab disapa Intan. Rumbai-rumbai renda dengan manik-manik dibagian pundak dan pergelangan tanganya, menambah rona putri Cinderella yang memang sengaja didesain untuk gaun istimewanya ini. Mahkota ratu berhias kilau permata, dipadu dengan siluet cincin berlian yang cantik melingkar di jari manis kirinya, seolah menuntun mimik setiap mata yang memandang tuk berucap: sempurna.

Gile, bo! Rambutnya hitam lebat dan lurus alami, Bisik Rini, kawan satu kampus, satu fakultas, bahkan satu jurusan yang selalu setia menjadi dayang Intan, kapan pun dan dimana pun ia berada. Tak ada perjanjian khusus atau semacam fee spesial yang diberikan Intan padanya, namun hebatnya tali persahabatan yang telah mereka satukan sejak 8 tahun silam-lah yang mengikat emosi keduanya, hingga kontak batin itu seolah menancap dalam-dalam tanpa tendensi apa pun.

Halah! Menyulap rambut seperti itu cukup 5 menit disalon. Semua orang juga bisa melakukannya. sinis Siska. Sifat dengkinya yang membara sejak Randy, pengusaha muda terkaya di kota ini meminang Intan untuk menjadi pendamping hidupnya itu, memang belum bisa menerima kenyataan dan hidup normal layaknya seorang teman. Meski rumah keduanya berdampingan, bukan jaminan hati keduanya juga sejalan. Beruntung Intan tak pernah dididik menjadi seorang gadis pendendam, hingga seburuk apa pun perlakuan Siska padanya, hanya sesungging senyum yang ia berikan. Dalam hal ini, justru Rini, pemilik body menggemaskan dengan berat tiga kali lipat mahasisiwi umunya, yang selalu menjadi gerbang terdepan saat Siska mulai edan rasa irinya. Ya, Rini memang
baik hati.

Sementara keduanya sibuk bersahutan, segenap tamu undangan yang tak lain adalah kawan sekampus Intan, masih terpesona dengan sekembang senyum lesung pipit yang terpancar dari kesantunan hatinya. Perlahan ia berjalan, menuruni satu per satu anak tangga dari pintu kamarnya di lantai dua yang langsung tertuju pada karpet merah sepanjang tepian kolam renang, tempat pesta ulang tahunnya malam itu. Beningnya air mancur yang menjadi pusat diameter kolam itu, riuh mengalir senada dengan tuts-tuts yang indah mengalun dari keyboard piano. Seisi kolam dan halaman belakang rumah yang telah diset bak istana, seolah menjadi
saksi anggunnya Intan dimalam kelahirannya ini. Cantik sempurna.

Baiklah, kawan. Mari beri tepuk tangan paling meriah untuk Cinderella kita malam ini, Intan Vim Raditya Anggara., suara MC memecah keheningan. Yang disebut ialah nama keluarga besar Raditya Anggara, pemilik perusahaan tekstil termaju di kota ini. Vim, ‘sebongkah semangat’ keluarga iniyang akan menjadi pewaris tunggal segala aset Raditya Anggara baik perusahaan, tanah, rumah, dan milyaran keping rupiah yang belum tertotal jumlahnya.

Usai ice breaking oleh sang MC, Intan diberi kesempatan untuk make a wish sebelum memotong kue tart berbentuk istana tingkat tiga dihadapannya. Sembari bersiap meniup lilin berangka 19, ia pejamkan mata dan menundukkan kepala dengan pisau kue tergenggam ditangannya.

Segenap hadirin begitu khidmat, turut menundukkan kepala dan mengucap sebaris do’a dalam batin mereka. Satu menit, dua menit, tiga menit. Hati Intan basah. Matanya berair, deras mengalir hingga melunturkan balutan rias wajah yang menyulapnya secantik Cinderella malam ini, meski itu tak mengurangi inner beauty-nya sama sekali. Perlahan ia mendongakkan paras cantiknya, bola mata bundarnya menatap lekat ke arah bintang-bintang yang tergantung tinggi di angkasa. Dan, setiap kerlipan bulu mata itu memberi satu celah tetesan air yang kian deras mengalir. Satu detik, dua detik, tiga detik    

Aku tak meminta apa pun darimu, Tuhan. Kecuali satu hal. Tolong hadirkan ayah dan bunda malam ini. Ya, meski ini menjadi yang terakhir kali, pintanya lirih, namun terdengar hingga keujung hadirin yang berdiri. Dan, tetes demi tetes warna merah darah menodai gaun Cinderella putihnya. Tanpa menunggu hitungan detik, paras cantiknya memucat pasi seiring dengan jatuhnya tubuh Intan ke tangan Randy yang berdiri tepat disampingnya.

###

Tak tahu persis dimana Intan berdiri dan kemana akan melangkahkan kaki. Depan, belakang, kanan, kiri, atas, bawah, semuanya gelap. Ya, keenam arah itu seolah terbungkam pekatnya awan yang menghitam. Dengan tatapan kosong, ia edarkan mata sejauh tembus pandang. Tak satu pun tampak atap rumah, apalagi bangunan tinggi menjulang. Tak satu pun dedaunan melambai, apalagi pepohonan tinggi menjuntai. Bahkan tak satu pun tanda-tanda petunjuk jalan terlihat, kecuali anak panah yang lusuh terpaku ditepian.

Dan, disebrang anak panah      itu, samar terlihat cahaya temaram. Intan susuri perlahan, lamat-lamat terdengar gelak tawa dan senandung Selamat Ulang Tahun versi anak-anak.

An, hati-hati memotongnya, nanti gugur lho!, jelas terdengar ucapan salah satu bocah diantara mereka.

Mata Intan terbelalak. Beberapa jengkal dari kerumunan anak jalanan ini, Intan mematung dengan mulut menganga dan air mata tak terbendung. Subhanallah, batinnya. Betapa tidak, anak-anak manusia yang usianya ditaksir belum genap kepala satu ini begitu riang merayakan ulang tahun An, gadis tuna netra berambut keriting yang biasa mangkal di bawah lampu merah jalan raya samping rumahnya. Bukan untuk menengadahkan tangan sembari memelas pada setiap pengguna jalan yang melintasinya. Melainkan untuk menjajakan kue yang resepnya ia peroleh dari mediang sang ibu, mantan pembantu dirumah keluarga Raditya Anggara yang meninggal saat Intan masih SMP.

Sejatinya bukan itu yang membuat Intan meratap. Tapi kue ulang tahun dihadapan An itu, kue yang dikhawatirkan akan gugur bila tak hati-hati memotongnya, ialah nasi putih tanpa lauk yang dibentuk menyerupai pyramida empat sisi. Ya, hanya nasi putih. Itu pun sudah lebih dari istimewa bagi mereka. Dengan sesungging senyum, An membagikan potongan kue yang sejatinya hanya nasi putih itu pada sepuluh kawannya. Kawan yang telah tulus menjadi keluarga, sahabat sejati, bahkan pelangi bagi
An dalam setiap derap kehidupan.

Siapa yang belum dapat? Ini masih satu potong lagi., tanya An seraya mengangkat potongan      kue itu sejajar dengan mata, seolah ia bisa melihat.

Eum.. Sudah semua, An. Bagaimana kalau untukmu saja? An kan belum dapat bagian., tanggap salah satu diantara mereka.

Maaf ya teman-teman, An hanya bisa memberikan ini untuk kalian. Terimakasih, telah menjadi sahabat terhebat An selama 8 tahun ini. An bertutur lembut, bulat suaranya menentramkan setiap telinga yang mendengar.

Tak ada yang perlu dimaafkan, karena tak ada yang salah darimu, An. Ayo, kawan, kita ucapkan sekali lagi. Si kaos merah yang tangan kanannya hilang setengah, memberi aba-aba dengan komat-kamit bibirnya.

SELAMAT ULANG TAHUN, ANNNNNNN., kesepuluh anak jalanan ini senada seirama mengucapkannya.

Sementara Intan, masih diam membisu seribu bahasa. Tak bergeming. Sembab matanya menjadi saksi sebuah ironi yang kian menyayat hati. Seribu satu perbedaan perayaan ulang tahun An dengan pesta Cinderella ala Intan, memang jelas terbaca mata telanjang. Tapi satu kesamaan yang tak urung membuat hati Intan terpanggil, Intan dan An sama-sama merayakannya tanpa orang tua.

###

Denting demi denting      jam dinding, saluran infus, dan seperangkat alat medis, menjadi saksi bisu kembalinya Intan dari mimpi panjang. Lemah sekali, perlahan digerakkannya jemari kanan yang telah menjadi pelaku utama pemutusan urat nadi tangan kiri,pada perayaan hari jadinya semalam. Walau berat, Intan mencoba membuka mata yang rekat seperti dilem sebelumnya. Ia kerdipkan, ia pandangi seisi ruang pasien berkelas VIP ini.

Disisinya, Randy berwajah lelah tampak begitu pulas memejamkan mata. Dengan kemeja putih yang sudah tak rapi lagi, dasi pun setengah hati melingkar di leher, dan blazer hitam yang lusuh tersandar di kursi tempat duduknya, menjadi bukti betapa cemas dan repotnya Randy saat Intan berulah      tadi malam.

Cling.. Cling.. Cling.. Getar Hape Intan yang diikuti dering magic pertanda e-mail masuk, terpaksa mengalihkan fokus Intan pada Randy yang masih lelap. Benar dugaannya, bunda tercintanyalah yang terbiasa mengirim e-mail dini hari.

Dear, my beloved honey
How are you, honey? Fahter and mother say so sorry, cauze we have to go back to England before going home. But we promise that it’s just a moment.

And we won’t forget to say,
Happy Birthday, Intan Vim. We hope all of the best will be reached, as your dream. We love you forever.

Lovely,
Fahter and Mother.

Ingin rasanya Intan berteriak, berontak dengan semua yang terjadi. Tapi secepat kilat ingatan tentang mimpi tadi menjadi perisai, menjembatani segenap kedewasaan yang harus ia genggam erat seiring makin tuanya usia.

Ayah, bunda.. Intan hanya ingin kehadiran kalian..

-end-

Selasa, 13-03-2012. Mengenang hari jadi Damae Wardani yang ke-19. Kupersembahkan kisah singkat ini untuk orang tua dan adik tercinta. Tak lupa, segenap sahabat yang telah sudi mengirim sebaris do’a dan sekembang senyum ucapan selamat. Terimakasih, sahabat. Jazakumullah khairan katsiran.

width=169





Facebook Comments

Leave a Reply

2 thoughts on “Pinta Intan

    • damai_wardani says:

      :) apa cobaaa? hehhehe… iya, teteh. lagi belajar bikin cerpen nih. belum bisa bikin naskah skenario teater kaya teteh, ajarin dong….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *