20 Jam di Cirata, Antara Limpahan Rejeki dan Sakit yg Menanti

Istilah Ngaliwet di kalangan masyarakat Sunda, agaknya sudah biasa. Tapi bagaimana jika Ngaliwet ini dipadukan dengan bakar ikan air tawar yang dipancing atau dijaring sendiri dari laut? Terlebih dinikmati bersama keluarga, saat siluet mentari memberi tanda senja hendak tiba. Moment ini kian asyik karena ditemani panorama hamparan laut yang menyudut Purwakarta, Cianjur, dan Bandung Barat. Tempat ini cocok untuk Anda yang memang hobi berekreasi, atau sekedar melepas penat saat melintas dalam perjalanan jauh.

    —-

Ialah laut pembudidayaan ikan air tawar: Cirata. Perairan yang cantik dan menjadi sumber mata pencaharian warga sekitar ini dapat Anda temui di Cipeundeuy, Bandung Barat. Perjalanan memakan waktu lebih dari 3 jam dari pusat kota Bandung, dengan angkutan umum atau kendaraan pribadi. Namun Anda perlu berhati-hati selepas Tol, karena banyak jalan berbatu kerikil yang cukup ngeri untuk dilalui.

width=300Menyusuri Cirata dengan perahu motor, Anda akan disuguhi keramba-keramba ikan Mas, Nila, dan Gurame, yang kini jumlahnya melebihi 50.000 petak jaring apung. Dengan rumah-rumah panggung diatas keramba, sebagai tempat tinggal para petani ikan. Eits, jangan salah, kawan. Meski status mereka petani ikan, tapi tak hanya satu dua yang dapat menyekolahkan anaknya hingga menjadi profesor, memiliki lebih dari 3 rumah, bahkan dapat membeli kendaraan pribadi sekelas Menteri. #bahasabombastis

Betapa tidak, rata-rata masing-masing petani dapat memanen 5 ton ikan dengan harga 15 ribu/kg setiap 3 bulan, hingga dalam satu tahun mereka dapat mengantongi 300 juta. Tentu saja penghasilan ini belum dipotong biaya pembenihan, pakan ikan, dan pengelolaannya. Tak heran jika warga Cipeundeuy dan sekitarnya dapat dikatakan berkecukupan.

—-

Namun dibalik kesuksesannya, diam-diam Cirata mengidap sakit yang kian menghimpit usianya. Endapan pakan ikan tak termakan yang mencapai tiga meter, jumlah keramba yang melebihi batas normal, dan sumbangan sedimentasi dari sungai Citarum, Cisokan, Cikundul, Cibaladung, serta Cimeta, menjadi faktor utama langgengnya penyakit Cirata. Kondisi ini diperparah dengan dibuangnya perkakas tak terpakai dari jaring apung, seperti styrofoam, drum, dan bambu ke dalam perairan. Lantaran menyebabkan volume sedimen Cirata hingga 2007 mencapai 146 juta meter kubik, dengan rata-rata laju sedimen 3,9 milimeter/tahun.

Kepala PT Pembangkit Jawa Bali Badan Pengelola Waduk Cirata (PJB BPWC) Suhata E. Putra menuturkan, parahnya kondisi ini membuat Cirata harus kehilangan dua puluh tahun masa hidupnya.

Selain penyakit ganas nan membahayakan, Cirata juga menderita karena kualitas air semakin menurun. Dekat sungai Cimeta yang menyumbang sedimentasi besar pada Cirata, terdapat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti sebagai pusat sampah dari segala penjuru Bandung Raya. Maka lindi dari TPA inilah yang menjadi sumber pencemar air paling besar di Cirata. Sementara hasil penelitian, di muara sungai Cimeta terkandung 2,4 juta sel bakteri merugikan E-Coli per seratus milimeter yang mengalir ke Cirata. Padahal normalnya, dalam seratus milimeter terdapat dua ratus sel.

Dengan banyaknya polutan air, tentu ikan yang dihasilkan tak lagi sepenuhnya sehat karena mengandung logam berat. Maka dari itu, alangkah lebih baiknya kita mengatur pola makan ikan dari Cirata ini, terutama untuk Anda yang tinggal di Bandung dan Jakarta sebagai daerah distribusi.

Sejauh ini kita hanya bisa berharap pemerintah akan terus melakukan langkah strategis untuk menyelamatkan Cirata. Setelah langkah preventiv dengan menanam 230.000 tanaman keras di sepanjang sabuk hijau Cirata sejak tahun 2000 terwujud, semoga pembangunan 22 danau untuk menahan laju sedimentasi segera terwujud. Kerjasama para petani ikan untuk tidak membuang perkakas tak terpakai dari jaring apung ke dalam perairan, juga sangat diharapkan agar sedimen tak semakin menggunung. Jika tidak, bukan hanya Cirata yang mati, tapi mata pencaharian warga Cipendeuy, Plered, dan sekitarnya juga terancam punah.

—-

width=300Terlepas dari nasib Cirata, saya ingin berterima kasih pada peserta Teaching Program (TP) dari Madrasah Aliyah      Al Hikmah 2 (Malhikdua) beserta Ust. Fauzan sebagai pembina, yang telah mengundang saya untuk berjunjung ke Cipeundeuy, 25 Juni lalu. Berkat kunjungan itu, saya dapat menyapa Majelis Pengasuh PP. Al Hikmah 2, yakni Abah Sholahudin Masruri dan Abah Muhklas Hasyim yang juga sedang berkunjung. Terima kasih juga saya sampaikan untuk Ananda Atep dan keluarga yang telah menjamu saya dengan ikan-ikan segarnya, plus bonus menginap semalam bersama para peserta. Sungguh berkesan.

Meski hanya 20 jam saya singgah disana, tapi moment itu tetap abadi dalam memori. Apa Anda tertarik juga untuk berkunjung, kawan?

***

//

Facebook Comments

Leave a Reply

6 thoughts on “20 Jam di Cirata, Antara Limpahan Rejeki dan Sakit yg Menanti

  1. Isnan says:

    Seperti biasa, ulasan yang sangat baik, kronologis, dan tertata rapi.

    Good job buat Damae

    makasih mas isnan, :) hehe.. rindu bercapcus di kotak chat.

    • damai_wardani says:

      Terima kasih, semoga itu menjadi do’a yang akan benar2 terwujud. terima kasih atas kunjungannya, akhi. :)

  2. Utari Cahyani says:

    saya pernah sebulan (KKN) tinggal di desa dekat Cirata ini mbak.. Banyak warganya yang punya keramba maupun hanya jaga keramba yang dimiliki orang jakarta.. waktu itu (tahun 2007) belum terlalu banyak sampah yang mampir meskipun sampah tetap ada.. Tetapi yang membuat saya senang adalah penduduk daerah sekitar Cirata selalu menawari untuk ngaliwet di rumahnya.. Sungguh pengalaman luar biasa bagi saya..

    Salam kenal mb damae.. :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *