Review Blog: Sembilan Jam Didera Kemacetan Selomerta-Yogyakarta, Unforgattable!

Hutang tulisan ternyata tidak menyenangkan, :)

Baru tadi pagi saya posting untuk mengikuti GA Bibi Titi Teliti, GA perdana yang cukup menggelitik hati. Tapi ternyata membuat penyelenggara GA lain iri, hingga beberapa menit lalu menagih tulisan yang saya janjikan. Ya, saya kadung janji untuk mengikuti GA-nya: Idah Ceris.

Pertama mendengar nama itu memang agak aneh. Saya tak tahu persis bagaimana riwayat penamaan, makna, hingga alasan pemilihan nama Idah Ceris. Whatever, nama itu gampang diingat, meski bagi saya agak susah dilafalkan. *piss

Jadilah saya langsung mengoprek blog cantik miliknya yang baru dirilis. Dari dua kategori yang disediakan: Kisah Pandangan Pertama atau Review Postingan Idah Ceris, saya pilih kategori kedua.

Bukan karena saya tak suka bermain diksi dalam sastra, tapi agaknya poin kedua memaksa saya untuk lebih dekat dengan Mbak Idah, begitu sapaan akrabnya. Betapa tidak, dengan memilih review, otomatis saya harus mengubek-ubek semua postingannya, membaca satu persatu, dan memilih postingan yang dirasa paling tepat untuk direview. Setelah ber-kukuriling (keliling), jatuhlah pilihan saya pada postingan: 9 Jam Menuju Jogjakarta.

Dalam tulisan yang hanya berisi 7 paragraf itu, Mbak Idah mengisahkan perjalanannya menuju kota budaya Yogyakarta di penghujung sekaligus awal tahun. Mengesankan, baginya. Lantaran moment spesial itu membuat perjalanan macet di beberapa titik, bahkan ruas jalan Selomerta yang dulu lengang dan kerap dipilih sebagai jalur alternatif pun kebagian macet malam itu.

Apa mau dikata, kenikmatan perjalanan Banjarnegara-Wonosobo yang lancar harus diganggu oleh perjalanan Wonosobo-Yogyakarta yang macet total. Bahkan memakan waktu 6 jam lebih lama dari biasanya (3 jam), menjadi 9 jam perjalanan via travel.

Di sepanjang ruas kemacetan, ada hal yang membuat Mbak Idah tercenung juga tersenyum. Tercenung lantaran ada beberapa penumpang yang meminta turun, padahal posisi travel ditengah hutan. Beberapa penumpang lain berbisik dan menimbang: mau ikut turun atau bertahan dalam kemacetan. Untunglah Mbak Idah berpikir logis, Turun ditengah hutan tidak akan menyelesaikan masalah, terkecuali kita semua mempunyai sayap untuk terbang menuju Jogja. Jika Mbak idah tidak lapang dada, saya tidak yakin dia akan selamat di Jogja. :P *piss

Hingga hawa sumringah menyapa raut Mbak Idah saat travel menapaki tanda-tanda kota Jogja. Senyumnya kian melebar, saat bertemu dengan Tante NuNu, Sahabat Blogger dan Penghuni Jogja lainnya. Terlebih, Mbak Idah masih sempat berbagi sepenggal moment tahun barunya di kota antik itu lewat blog biru cantik miliknya.

Sayangnya, barangkali postingan itu akan lebih cantik jika judulnya diperjelas menjadi Sembilan Jam Didera Kemacetan Selomerta-Yogyakarta, Unforgattable!. Pun akan lebih jelas pemaparan kisah itu jika dilengkapi usut mengapa & untuk apa pergi ke Jogja. Lebih baik lagi jika ditulis sesuai EYD dan sistematika yang benar.

Overall, kisah Mbak Idah mengingatkan saya ketika tersesat di Cihampeulas jam 9 malam. Dalam moment yang sama. Satu pesan terindah dibait terakhir pada postingan Mbak Idah, Tetap semangat, Teruslah berbagi dan Salam Senyuum Cethar Membahana. . . ^_*

Selamat tahun baru juga, sobat Garuda. :)

Review dari http://idahceris.wordpress.com/2013/01/01/9-jam-menuju-jogjakarta/

Give

Balon Give Away Langkah Catatanku

    œSenyum Bersama Langkah Catatanku    

Facebook Comments

Leave a Reply

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *