Ada Sakit dalam Diam

Malam ini kusaksikan lagi, bagaimana menyakiti orang lain tanpa tertangkap jejak. Dan, tanpa bisa melakukan perlawanan kecuali DIAM.

Sejak lahir, aku memiliki beragam kelemahan fisik karena memang terlahir prematur. Sakit perdana yang paling terasa adalah batuk. Batuk yang, hanya bisa kunikmati hingga kini. Bukan karena tak ada obat yang mampu menyembuhkan, tapi badan ini terkadung lemah saat keluarga besar mengepul asap rokok setiap kali menjengukku di rumah sakit. Ya, perokok pasif. Aku terpaksa menjadi perokok pasif sejak lahir dan menanggung akibatnya sendiri hingga detik ini. Perokok pasif yang hanya bisa melawan dengan diam dan tangisan.

Beranjak anak-anak, hal paling menyakiti dan lagi-lagi hanya bisa kupendam dalam diam adalah, dipanggil si Rambut Mie. Dulu, semasa balita hingga remaja, rambutku memang keriting. Mirip sekali Mie Keriting jika digerai. Hal ini menjadi bahan ejekan yang tak pernah tak terlontar saat kelas 1 SD. “Hei, Rambut Mie.. Hahahah..” begitu gelak tawa teman-teman saat mengejekku sepulang sekolah. Dan, itu terjadi setiap hari.

Apa responku? Diam. Tak lebih dari itu. Namun dalam diam ku berdoa, doa yang terpanjat hampir setiap selesai solat. Yakni meminta dikarunia rambut lurus tapi bukan diluruskan. Dan, do’a itu terkabul ketika aku menginjak remaja akhir. Dalam diam pula kuteteskan air mata, tangis puji syukur.

Moment SMP, rasa sakit dalam diam kembali terpendam saat semua teman menjauhiku selama satu tahun. Bisa dibayangkan, betapa sedihnya menjadi orang terasing di sekolah. Selidik punya selidik, ternyata ada sekelompok teman yang mendendam padaku, hanya karena aku disukai ketua genk paling cool di sekolah. Padahal, jujur, aku pun tak tahu menahu perihal ini. Bahkan, setiap ada siswa (baca: cowok) mendekat dengan gelagat tidak wajar, pasti kujauhi.

Dapatkah Anda tebak bagaimana akhirnya aku bisa mendapat teman dan bahkan diidolakan? Aku berusaha keras dan senantiasa berdoa agar dinobatkan menjadi Siswi Teladan. Dalam diam. Lagi-lagi dalam diam. Dan, Allah kembali mengabulkan. Tahun kedua aku berhasil meraihnya. Menjadi Siswi Teladan. Artinya aku meraih peringkat paralel. Itulah titik balik semua sandiwara yang teramat menyakitkan, dalam diam.

Kisah SMA tak lebih baik dari sederet kesakitan sebelumnya. Justru lebih parah.

Tahun pertama, hampir setiap hari dicibir, dihukum, disidang, dijauhi, dibenci, difitnah, dan di-di yang lain. Bahkan, percaya atau tidak, kamar asramaku hanya untuk menaruh barang. Karena keseharianku di perpustakaan, sekolah, dan masjid. Kehidupanku di pesantren yang konon terbesar di Jawa Tengah itu, mati suri. Satu pun teman baik, tak kupunyai. Penyebabnya sepele, hanya karena aku bergabung dengan komunitas blogger di sekolah. Sayangnya, hal itu justru menimbulkan beragam kebencian yang aku sendiri tak tahu apa permasalahannya.

Tahun kedua, kebencian kian menjadi seiring dengan perjuanganku di sebuah lembaga informasi sekolah. Aku bukan saja difitnah, dihukum, dicibir, dijauhi. Tapi bahkan hampir tidak naik kelas dan hampir dikeluarkan. Kenapa? Entahlah. Sensitivitas pribadi yang akhirnya menjadi kebencian berjamaah, sangat cepat menyebar. Tanpa tahu duduk perkaranya, aku hanya bisa menikmatinya dalam diam. Hingga segala aktivitasku kulakukan di luar kamar asrama, saking takutnya mendengar ocehan yang menyakiti hati jika bertemu dengan teman-teman di asrama. Saking traumanya, sob. Percaya atau tidak, aku tidur, makan, mandi, belajar, dan mengaji pun semuanya di masjid. Kamar hanya untuk menyimpan lemari dan tikar alas tidur.

Barulah di tahun ketiga, tampak sinar mentari merona. Semua kesakitanku serasa terbayar dengan sendirinya. Dalam segala kediamanku, segudang prestasi telah kuukir. Tak hanya level sekolah, pesantren, Se-Jateng, DIY, tapi juga level nasional. Berita dari berbagai media sibuk mengabarkan keberhasilanku. Lurah, Camat, Bupati, Gubernur, bahkan Mendiknas, M. Nuh, pun memuji dan selalu menitip salam untukku.

Mulailah satu per satu kebencian mereka berguguran. Satu per satu meminta maaf dengan caranya masing-masing. Satu per satu pun takjub, salut, dan mengangkat topi tinggi-tinggi atas semua keberhasilanku. Dan lagi-lagi, aku hanya tersenyum dalam diam. Sama sekali tak kutunjukkan busung dada yang memang tak kupunya. Kecuali rasa yang sesekali mencoba percaya: diam dalam sakit itu bisa menjadi bumbu nikmat sebuah kebahagiaan.

Merambat dewasa, aku memasuki dunia perkuliahan. Dunia kampus, dunia yang sedari dulu tak pernah tersirat untuk bisa kusinggahi. Maklum, aku untuk makan saja susah, apalagi untuk kuliah.

Ya, tak jauh beda dari kisah sebelumnya. Segudang kesakitan dalam diam kembali dan kembali terulang. Mulai dari trik pengusiran terselubung dari asrama, hingga anggapan miring yang tak pernah tercroscheck sesuai fakta.

Dan, malam ini aku kembali menyaksikannya: bagaimana mereka merencanakan sebuah kesakitan untuk orang lain. Yang dilakukan dalam diam, diam-diam. Tapi meski objek yang disakiti dianggap tak menyadari dan tak tahu menahu, aku tetap merasa tersakiti bahkan sangat sangat sangat tersakiti. Terlebih jika aku ikut menjadi pelakunya. Sungguh hanya kediaman yang mampu kutujukkan. Diam dalam sakit, sakit dalam diam.

Sampai kapan dua hal itu terus menghantuiku?

Facebook Comments

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *