#KKM210 Malam Kedua

Hai.. Malam ini aku tidak terbangun karena tangis misterius seperti kemarin. Tapi sebuah hentakan mimpi. Mimpi yang seolah sengaja dikirim untuk menegaskan bahwa, ada seseorang yang ingin kutahui isi hatinya.  Selebihnya biarlah kuterka dan kureka, meski sejatinya aku sudah enggan bertanya-tanya.

Yang pasti detik ini aku merasa tidak sendirian. Ada 6 pria yang sedang tidur terlentang di hadapanku. Empatnya anggota KKM, dua lagi pengurus Karang Taruna di desa yang sedang kutempati alumni UIN yang juga kawannya salah satu anggota kelompok 210. Beberapa diantaranya mendengkur dengan wajah teramat menikmati tidur. Mungkin mereka lelah, jam 1 tadi baru usai ronda dengan warga di Pos Siskamling depan rumah.

Ah, kau pasti sudah menduga. Dua pria yang baru kukenal itu merasa heran dengan tingkahku: bangun di saat semua gadis di sini terlelap bersama mimpi. Kalau hanya solat mungkin dianggap wajar, tapi saat kubuka laptop, kupasang headset, dan jemariku asik menari sampai tak menghiraukan percakapan yang mereka ajukan sebagai tanda perkenalan; kiranya sah-sah saja jika kemudian mereka menyimpulkan: gadis aneh.

Tak masalah. Asal kau tetap di sisiku untuk mendengar keanehan lain. Soal Si Oman salah satunya. Abdurrohman, lengkapnya. Ia mengaku seorang jeger yang ditakuti oleh semua pemuda di sini. Pertama bertemu dengannya di pos ronda, Selasa lalu, usai survey lokasi. Semula kukira dia normal, hanya agak ‘polontong bin polos’.

Ku petik satu dagelannya kala itu, “Jeger mah nggak boleh mabok, kalau punya uang mending buat beli ayam”. “Terus ayamnya diapain?”, tanya seorang kawan. “Diadukeuan,”. Gubrak!! Adu ayam kan sama dengan judi! *tepuk jidat*

Super cerewet dia, apalagi kalau sudah mulai cerita tentang sesuatu, bisa 24 jam nonstop. Orang sini lebih sering menyebut: ditanggap. Tapi belakangan ku tahu dia tinggal kelas dua kali, hingga saat ini masih duduk di kelas 1 SMP dengan pola pergaulan layaknya anak SMA.

Aku lebih tercengang lagi saat bu Lurah cerita kalau dia punya kembaran. Wajah mereka sangat mirip, tapi adiknya jauh lebih pendiam dan pemalu. Abdurrohim, namanya. Keduanya sama-sama diambil dari Asmaul Husna, meski panggilan yang akrab untuk mereka justru “Oman Ohim”. Sayangnya kedua orang tua mereka tidak tinggal serumah. Tentang mengapa-nya, tidak kutanyakan.

Satu hal yang kutakuti diam-diam, ketika kenormalan Oman terkikis kenyataan pahitnya hidup, hanya waktu yang mampu menjawab. Meski kusemogakan ia akan baik-baik saja.

Nah, keanehan yang hendak kusebutkan ialah cara dia mengistimewakanku secara terang-terangan di hadapan peserta KKM lain. Bahkan dia selalu menyanyikan lagu “Perdamaian” setiap ada kesempatan lesehan di pos
ronda. Wajahnya merona setiap menatapku. Salah tingkahnya muncul tiba-tiba. Lebih-lebih saat kawan-kawan lain menyuruhnya untuk merayuku, dia akan tertunduk malu.

Duhai, pertanda apakah ini?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *