#KKM210 Malam Ketiga

Tragedi. Satu kata yang kukira paling pas untuk menggambarkan apa yang terjadi malam ini. Harus ku mulai dari mana agar kau tahu kesakitan air mataku?

Semua orang tahu kalau ini bukan salahku, bukan salah anggota kelompok 210, bukan salah sistem KKM, bukan salah siapa-siapa. Tapi tidak semua orang bisa dengan lapang dada menerima kami yang, tinggal serumah.

Begini. Ku urai dari jadwal pembagian kelompok KKM, tanggal 20 Januari. Setelah tahu ditempatkan di kota apa, kecamatan apa, desa apa, siapa saja anggota kelompoknya, sampai siapa dosen pembimbingnya, kami (angota kelompok) merencanakan agenda rapat terdekat.

Esoknya, 21, kami bertemu di Lecturer Hall (LH), dan itu perdana untuk 5 dari 10 anggota -termasuk aku di dalamnya. Lima orang lagi sudah bertemu sejak sesaat setelah melihat pembagian kelompok.

LH bukan hanya sesak kala itu, tapi juga ‘engap’. Terlebih ada rapat ketua kelompok di salah satu ruang kelas lantai 1. Sigkat cerita, kami menepi ke depan perpustakaan, di sanalah tempat rapat-rapat di hari kemudian. Hasil rapat hari itu baru satu: esok harus survey lokasi. Diputuskan ketua kelompok yang akan berangkat ke desa yang sudah ditakdirkan menjadi garapan kami: Budiasih, Sindangkasih, Ciamis.

Itu survey pertama. Hasilnya baru seputar profil singkat desa tersebut, dan 2 rumah yang rencananya akan ditempati selama KKM nanti. Satu rumah milik ibu kos yang memang biasa dijadikan markas oleh mahasiswa KKM dari berbagai kampus. Satu lagi milik pak RT, rumahnya hanya ditempati seorang diri. Kalau dinilai dari kelayakan tinggal dan kenyamanan, jelas pilih nomor 1, meski harus bayar biaya sewa 1,5 juta dalam sebulan.

Sayang, H-4 saat kami mulai menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan, pak Lurah Cihideung 1 -dusun yang akan kami tempati-mengabari kalau pemilik rumah pilihan 1 tidak mengizinkan rumah disewa untuk bulan ini. Sempat membuat kami galau. Untung ketua tidak keberatan untuk survey lokasi sekali lagi demi mencari rumah pengganti, meski dia setengah memaksa aku ikut serta ke sana.

Esoknya aku dan ketua berangkat dengan harap-harap cemas. Meski begitu, banyak hikmah yang ku dapat dari survey ke dua ini, dan nanti akan kuceritakan di lembar terpisah.

Benar saja. Kami tiba di lokasi pada waktu yang tak tepat. Pak Lurah dan segenap perangkat desa tengah sibuk menangani kasus “sakit jiwa” yang melanda Budiasih. Bahkan aku dan ketua harus jalan kaki sekira 3 kilo saat mentari persis di atas kepala. Kondisi jalan memang lumayan bagus, tapi nanjaknyaaamasyaampun! Hingga akhirnya tiba di kediaman pak RT.

Sampai di sana, yang terjadi kemudian adalah keputusan tanpa pilihan. Rumah nomor 1 tak bisa dinego lagi. Sedang rumah pak RT sudah dibersihkan, dicat ulang, dan dipindahkan semua barangnya agar bisa langsung ditempati oleh kami. Tentu tak berani kami mengecewakan kebaikan pak RT, terlebih sama sekali tidak ada pungutan biaya.

Satu yang perlu digarisbawahi, kalau hanya tersedia 1 rumah, mau tak mau kami harus menyatukan anggota laki-laki dan wanita untuk tinggal bersama.

Namun, bukan perjalanan namanya kalau selalu mulus. Bukan KKM namanya kalau kami tidak ditempa masalah. Baru dua hari kami menjadi bagian dari desa Budasih, sebuah tragedi menimpa kami.

Sore hari ke dua, pak Lurah tiba-tiba datang dengan baju batik bermodel koko lengan panjang. Mengajak kami mengobrol panjang lebar dan sedikit mencurahkan hati terkait kasus sakit jiwa tadi. Semula kami antusias dan merasa senang, karena dua kali kami berkunjung ke rumah pak Lurah tapi ia sedang dinas ke luar.

Namun saat adzan maghrib bergema, pak Lurah mengajak angota kelompok laki-laki solat berjamaah di masjid, sampai ditunggu ganti celana dengan sarung; kami mulai curiga.

Kecurigaan berlanjut saat warga lain sudah kembali dari masjid, tapi anggota kelompok laki-laki kami belum juga pulang. Padahal makan malam sudah siap, lapar pun sudah berapa kali dilontarkan oleh anggota kelompok wanita. Puncaknya, jelang isya, mereka kembali dengan wajah muram durja. Ketua tanpa basa-basi, tanpa ketuk pintu dan salam, langsung memerintah, “Ayeuna cewek pindah sadayana“.

“Maksudnya?”, tanyaku. Hening. Anggota laki-laki yang lain pun bungkam. Wanita hanya bisa menerka-nerka apa yang terjadi. Sambil mengemasi barang-barang dan bersiap untuk keluar dari rumah pak RT, malam itu juga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *