#KKM210 Malam Keenam

Malam keenam ini hari Rabu. Seharian aku off dari semua aktivitas. Tidur. Malas-malasan di rumah. Sebenarnya memalukan untuk diingat apalagi diceritakan. Tapi adakalanya tubuh memberi warning untuk istirahat, bukan?

Bukan sakit, lho, ya. Hanya istirahat. Kawan-kawan yang lain langsung beraksi sesuai hasil raker dalam Lokakarya kemarin. Lokakarya 1 tepatnya. Karena nanti akan ada Lokakarya kedua.

Apa yang bisa kuceritakan di hari yang membosankan ini?

Aaa.. Aku ingat. Ini sehari sebelum pembukaan KKM. Setengah hari sebelum tragedi malam ketiga. Persis saat aku kebagian jatah observasi di RW 3, dusun Cihideung 1.

Niatnya mah, ke rumah pak RW. Perkenalan, ngobrol ringan, sekalian memberi undangan untuk acara pembukaan KKM. Tapi pak RW sedang dinas: keliling desa menagih bayaran listrik. Dalam perjalanan ke rumah pak RW itulah, aku menemukan sebuah rumah yang teramat sederhana. Saking sederhananya sampai bisa kusebut “kurang layak huni”. Anehnya, pak Lurah justru membantah, “Itu sudah layak sekali, Neng, sudah diperbaiki sama pemerintah, awalnya justru lebih parah”.

Padahal, jujur saja, ini lebih buruk dari rumah orang pinggiran yang sering dikisahkan tivi.

Ibu Dyah, pemiliknya. Cantik sekali namanya. Kamu tahu berapa usianya? 70 tahun. Hanya ada kamar berukuran (kurang lebih) 3×2 meter. Permanen dari lantai sampai sekira 1,5 meter. Sisanya pakai bilik. Itu, dinding yang terbuat dari anyaman bambu. Hanya ada satu ranjang tidur kecil yang berantakan. Sisanya dapur kayu yang juga berdinding bilik, berlantai tanah. Isinya satu pawon (tungku).

Ibu nuju nyangu, Neng“, nanak nasi, jawabnya saat kutanya sedang apa. Pakai kayu bakar yang sudah rayapan (di gigit rayap).

Jangan tanya di mana jamban, kamar mandi, air bersih, alat makan, dan perabot rumah tangga. Hanya ada itu saja, selain ranjang usang penuh serakan baju kumal: piring, gelas, ceret, panci, wajan; semuanya dalam keadaan tidak layak dan tidak bersih.

Ibu kunaon teu sareng murangkalih wae di ditu?”, tanyaku saat ibu Dyah bilang punya 3 anak. Anak pertama tinggal tidak jauh dari rumah itu. Bahkan dia buka toko kecil-kecilan. Anak kedua tinggal di tonggoh, istilah “atas”. Maksudnya, dusun Wanasari yang posisinya di atas dusun Cihideung 1 dan 2. Lawannya lebak (bawah), karena desa Budiasih memang pegunungan. Anak kedua? Nah, ini yang bikin aku lebih shock, tinggal berdampingan dengannya.

Serumah? Beda rumah tapi satu sisi dindingnya dempet. Kondisinya justru lebih buruk. Dan, jangan tanya bagaimana perasaanku. Setelah berkunjung ke rumah anaknya yang ternyata berusia sekira 30-an, seorang ibu, berbincang dengannya sejenak, lalu kupandangi segala sudut ruang yang sangat tak pantas disebut rumah itu, barulah kusadari. Anak ibu Dyah ini tidak baik-baik saja. Jiwanya.

“Masih banyak rumah yang kurang layak huni seperti itu, Neng. Dan contoh yang sakit jiwa, ya, anak ibu Dyah itu salah satunya.”, kata pak Lurah, esok sore saat berkunjung ke posko.

Satu yang kusayangkan. Warga sekitar tampak tak peduli, bahkan cenderung menghindar. Ibu Dyah dan anaknya itu tak pernah tersapa apalagi tersentuh tangan derma. Entahlah, semoga bukan karena warga takut tertular “kurang waras”, meski itu bukan penyakit menular. Bahkan sekali pun masyarakat tahu, mereka tak butuh harta benda atau belas kasihan. Mereka hanya ingin dimanusiakan.

Sementara anak ibu itu tak pernah tahu hidup macam apa yang sedang ia jalani. Ia terus bercerita, punya dua anak yang sangat ia cinta. Anak kedua tinggal bersamanya, sekolah SD. Anak pertama  merantau ke Bandung tapi tak pernah pulang….

Tak lama kemudian aku pamit sembari berdiri dan menyalami. Diikuti kubangan lalat di pepaya busuk samping ranjang tidur. Tahukah kau, apa yang membuatku serasa tertampar kemudian? Persis di samping dua rumah (mengenaskan) itu, sedang dibangun istana dua lantai memanjang sekira puluhan meter. Megah. Sangat. Dan, pemiliknya orang Bandung.

Lebih dari itu, desa ini sejatinya dihuni oleh sebagian besar orang mampu. Bahkan bisa disebut kaya (untuk ukuran desa). Masjid berserak di hampir tiap RT. Pengajian anak-anak juga ibu-ibu terselenggara saban sore. Barang tersier alias mewah menurut mata pelajaran Ekonomi (tingkat SMP) saja hampir dipunya saban keluarga. Pertanian melimpah. Ternak dan kolam ikan pun tak kurang jumlahnya. Juga home industri, terhitung puluhan.

Tapi di mana mata warga di sana saat menyaksikan kehidupan ibu Dyah? ataukah, warga membutakan hati agar tak perlu merasa peduli?

One thought on “#KKM210 Malam Keenam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *