GARUDA,, 1001 opiniku

jurnalistikSayang banget nih baru bisa posting…

Begitu berat ku lepas jabat tangan dengan mba Ajek dan mba Phel2. Aku tak menyangka keterlambatan kedatangan mereka yang membuatku illfeel ternyata membuahkan hasil dan menoreh kenangan berharga. Beliau membuka cakrawala pikiranku tentang dunia jurnalistik yang amat menggelitik. Kekecewaanku terobati oleh kecakapan dan kepiawaian mereka dalam menyampaikan materi. Semua kata seolah disulapnya menjadi mutiara yang membuatku jatuh hati. Gaya bicara mereka                                                   menunjukan bahwa mereka memang jurnalistik sejati.

Sebut saja mba Phel-Phel. Pemilik nama asli Fattati Rahmawati ini membangun imajinasiku dan memaparkan sesuatu yang belum pernah ku ketahui_ aku angkat topi_ dengan begitu attraktif dan menggugah otak ini untuk mulai beraksi. Penjelasan wanita muda berkaca mata ini selalu diikuti gerak tubuh yang turut menggambarkan apa yang beliau maksudkan. Hal yang lebih mengesankan, bibir mungil beliau terlihat begitu ringan ketika mengevaluasi suatu data dan tanpa berpikir lama dengan lihainya beliau menyabet 1001 pertanyaan dari kami ( baca: para peserta ). Sejenak tersirat, Oh.. sebegitu luas pengetahuan seorang wartawan , mampukah aku mengikuti jejaknya?

Beranjak dari Mba Phel2, rekan kerja beliau yang menjabat sebagai redaktur Republika On line, ini pun tak kalah menariknya _ bukan dari sisi luarnya _. Panggilannya Mba Ajenk. Damai suka penjelasan beliau yang mengupas habis suatu permasalahan. Wanita yang berkulit putih dan berpenampilan rapi dengan model kerudung seperti Bu Muhsonah _ guru Malhikdua mapel Qiro’ati_ terlihat begitu dewasa saat menyampaikan materi.

Keduanya begitu ramah, pegertian dan baik hati pada kami. Seolah tak kenal lelah tuk bicara dan mau mencoba merasa apa yang kami rasa. Entah apa yang membuatku merasa begitu dekat dengan mereka dari awal bertatap muka. Rasanya aku sudah mengenal bahkan sepeti keluarga. Mungkin karena kita sama-sama wanita dan kita punya jiwa yang sama. Sayang sekali aku lewatkan satengah hari dari pelatihan jurnalistik ini karena mengikuti Pasaran Pasca Try Out UAN, ( bukan berarti Damai tidak ikhlas untuk mengaji ). Tak apalah,, toh aku tetap mendapat tugas yang sam yakni meliput berita. Hanya saja sampai detik ini aku belum tahu.. mengapa Mba Fattati dipanggil mba Phel2?

Facebook Comments

Leave a Reply

7 Comments


  1. ·

    tulisan kamu bahasanya semakin bagus dan enak di baca.
    Keep spirit!

    ah..itu biasa…tapi kalo tulisan Pak Ishack semakin jelek,itu luar biasa…hwe…

    Reply
  2. ulumuddin
    ·

    wah .. bagus juga

    wah.. ada pembaca baru rupanya…sepertinya Damai baru mengenal alamat ini. Terimakasih atas kunjunganya.

    Reply

  3. ·

    dirimu semakin cantik. Keep beatiful!

    mas, you are sleepy, please wash your face first!

    Reply
  4. Mr_Oef
    ·

    santri nyentriknya…koq gak disebutin

    maksute..

    Reply
  5. snipper
    ·

    waaah2 suppeeeeeer meeeeen buanyuaaaak pisanne puooool yooo blogggge ssiiii damai tentram ini
    emang supper yaaa orang cirebon iniii kab losari lagi

    maaf, damai bukan orang cirebon! apalagi losari! kayaknya salah alamat deh!

    Reply
  6. ajeng
    ·

    So touchfull Damai…dirimu sudah semakin mengalir dalam menulis. Maaf sekali saya belum memenuhi janji untuk segera mengedit liputan kalian tempo hari. Masih saya simpan, rapi. Saya bolak-balik sesekali, namun belum juga teredit. Maaf sekali ya. Semoga Damai dan kawan-kawan bisa memaklumi

    alhamdulillah,,berkat bimbingan mba Ajenk. Iya, nda pa-pa, damai bisa memaklumi.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *