Ada Apa dengan Jurnalistik? #2

Semakin saya memperhatikan jurusan Jurnalistik di kampus, rasanya semakin banyak tanda tanya yang bertebaran. Untuk Anda yang baru bergabung, silahkan klik disini untuk #1.

Semua sekuel tanda tanya itu, memang hanya satu ujung pangkalnya: Ada Apa dengan Jurnalistik?

Begini, kawan. Tiba-tiba saya teringat perihal pembagian beasiswa DIPA untuk mahasiswa Jurnalistik. Kasak kusuk yang beredar, semester kemarin manajemennya sangat mengecewakan. Bukan saya yang berbicara, lho. Melainkan data dan fakta.

“Saya heran, masa teman sekelas yang dapet beasiswa DIPA Cuma dua. Si ketos (baca: ketua kelas) dan si X (nama disamarkan). Itu pun dapetnya dari Dekan satu, satunya lagi gara-gara saudaranya orang kantor jurusan.”, celoteh seorang teman yang tak mau disebut namanya.

Awal mendengar, saya masih bersikap wajar. Tapi setelah berkunjung ke ruang jurusan dan menanyakan langsung pada petugas, barulah saya terbengong-bengong. Percaya tidak percaya. Menyakitkan, sob!

“Aduh, Damaeā€¦ kemana aja? Kenapa baru hari ini menanyakan info beasiswa? Geus beak eyeuna mah. Aturan mah ti kamari. (Sekarang sudah habis. Harusnya dari kemarin. Sunda, red) .Temen-temen udah pada dapet, kamu mah baru nongol.”, ucap petugas begitu melihat wajah saya di depan ruangannya.

Padahal, jujur, saya belum bicara sepatah kata pun padanya.

“Hampura weh nya. Da kumaha deui atuh. (Maaf saja, mau bagaimana lagi. Sunda, red).”, sambungnya sembari berlalu. Meninggalkan tatapan kosong saya yang masih dipenuhi tanda tanya.

Glek. Tubuh saya pun terhoyong ke sebuah kursi persis di depan pintu.

Hening.

Saya serasa tertampar. Menyaksikan sebuah adegan yang teramat rumit untuk dipahami. Sejujurnya, saya bukan tipe pengemis beasiswa, meski saya berhak mendapatkannya.

“Aku juga nggak ngerti sama menejemen beasiswa DIPA. Kayaknya siapa cepat, dia dapat. Nggak peduli IP empat atau mahasiswa abal-abal. Nyesek ati kalau dipikirin.”, celetuk seorang teman, saat saya mencurahkan kekesalan tadi di hadapnya.

Aku masih terdiam. Barangkali ucap teman saya ini ada benarnya: siapa cepat, dia dapat. Terbukti, banyak teman yang IP-nya pas-pasan, tapi bisa leluasa mengisi dan mengumpulkan formulir beasiswa. Sementara saya yang baru saja menerima anugrah IP 4,00, justru dipaksa merasa cukup dengan ucapan “Hampura weh nya,” dari petugas.

Gusti nu Agung.. Menghela napas.

—–

Satu catatan saya terkait penjelasan petugas yang tak saya minta tadi, soal waktu. Ia mengatakan “harusnya dari kemarin-kemarin”. Sementara pengumuman beasiswa turun itu hanya ada di satu papan pengumuman gd. Fakultas lt. 1. Itu pun hanya selembar kertas. Sekali lagi, selembar kertas.

Info tersebut menyalur ke ketua kelas, itu pun jika kebetulan ketua kelas berinisiatif mencari pengumuman. Ada ketua kelas yang aktif, dia tahu terlebih dulu dan menyebarkan info ke anggota kelasnya. Tapi, apesnya, ketua kelas saya tidak memberikan info apa pun. Padahal dia menjadi salah satu penerimanya.

“Aku juga nggak tahu apa-apa euy.”, begitu jawaban acuhnya saat kepergok mengumpulkan berkas persyaratan beasiswa, di depan mata saya

Jadi kalau petugas itu menyalahkan saya soal waktu, apa itu fair? Sedang pengumuman saja berbelit-belit begitu.

Sebagian lagi, ada yang dapat beasiswa melalui jalur organisasi. Tapi sayangnya dikendalikan oleh ketua Bem-J dan jajarannya. Saya pun, lebih tak tahu menahu lagi soal ini, walau saya tercatat sebagai salah satu pengurus organisasi itu. Aneh, kan? Memang.

—-

Huhf.. Menarik tali simpul terkait beasiswa DIPA, memang banyak polemik. Nanti, kalau ada kesempatan lagi, semoga mampu saya celotehkan lagi fakta dan data konkritnya.

Ini tak lebih dari celoteh. Unek-unek. Jika ada yang merasa tersungging, hampura weh nya, lurrr.. :)

Facebook Comments

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *