Rindu Tersenyum Denganmu

Ah, sejatinya aku malu. Sangat malu. Malu itu yang membuat lebih kurang 6 tahun hingga hari ini, kutekan perasaan -agar tidak kebablasan. Perasaan untuk peduli pada hal yang, jika boleh aku sedikit hiperbolis, membuatku trauma.

Kau tahu bagaimana rasanya trauma? Aku tidak yakin apakah ini termasuk gangguan mental atau keturunannya stress. Yang jelas trauma pernah dikisahkan oleh sebuah film Korea, Good Doctor.

Pemeran utama film itu memiliki cacat mental -untuk tidak menyebut idiot- akibat kebengisan, kekerasan, dan kejahatan sang ayah yang membuatnya trauma sejak masih bocah. Meski akhirnya dia berhasil menjadi dokter dan hidup layaknya manusia normal, tetap saja kengerian siksa trauma (sebagai anak idiot) membekas di hatinya.

Bersyukur traumaku tidak setebal itu. Bila dirating 1-5, mungkin aku menempati posisi 3. Karenanya masih bisa ku tahan, tekan, pendam, dan telan semua kepahitan trauma tanpa banyak bicara.

Namun hari ini, saat trauma itu diusik kembali, semua bulu romaku berdiri. Bergidik. Memekik jerit yang tak pernah mampu ku sua. Maka malu, benteng pertahanan yang berhasil menekan perasaanku untuk diam selama ini, agaknya mulai rapuh. Terkena trauma yang sengatnya naik level.

Trauma itu tentang pakaian -baju atasan dan kerudung sepanjang lutut, yang enam tahun lalu kau bilang macam robot berjalan. Hari ini, aku pakai celana panjang (bukan jins) berpadu kemeja lengan panjang -atau kaus lengan panjang plus cardigan, kau justru sinis: dulu berjubah kok sekarang sexy.

Haduh. Apa kau ingin pakai bajuku? Daripada hanya komen, ini aku kasih satu bajuku. Gratis.

Trauma itu tentang pergaulan -aku selalu menundukkan pandangan saat berjalan, menyapa seperlunya, enam tahun lalu kau sindir, “Dasar sombong! Papasan teman kok nggak mau nyapa!”. Dan hari ini, aku selalu tersenyum sembari memberi salam kawan lama jika bertemu di jalan, kau komen lebih tajam: duh, cantik sih, tapi sayang jual murah!.

Deg. Ulu hatiku seperti teriris pisau tumpul. Pelan sayatannya, sakitnya luar biasa.

Trauma itu tentang asmara -jangankan membalas surat yang saban hari membanjiri, membalas salam dari teman pria saja tidak berani, enam tahun lalu kau berkicau: sok alim banget itu orang!. Hari ini aku dikelilingi pertemanan dengan lelaki, kau malah mencibir, “Dasar ABG tengil! Tukang embat pacar orang!”

Astaghfirullah.. Aku hanya bisa berdoa, semoga kau senantiasa dalam lindungan-Nya.

Trauma itu tentang gaya hidup -hanya masjid, sekolah, perpus, dan kamarlah tempatku (bercinta dengan buku), enam tahun lalu kau sebarkan isu: mana ada orang yang mau berkawan sama pacarnya kutu buku!. Hari ini buku-buku itu sudah terindex rapi di smartphone, tablet, dan laptop, kau masih saja berhujat: huh, ngapaian berteman sama manusia gadget!.

Huhf.. Lalu menurutmu, manusia macam apa dikau itu?

Juga trauma-trauma lain yang, bila kusebut pasti semakin membuatku takut. Takut untuk berjumpa denganmu lagi, takut untuk menginjakkan kaki di tanah yang mempertemukan kita, bahkan saat tak sengaja namamu disebut pun aku takut. Sangat takut. Takut dengan tiap kata yang kau tata di balik gigi indahmu itu.

Sepertinya, ketakutan itu juga yang membuatku menutup jaringan, bahkan kalau bisa akan kututup lubang sekecil apa pun, agar hawamu tak terendus lagi. Ah, lebih tepatnya agar aku tak perlu takut lagi jika tiba-tba kau kembali (dengan semua trauma yang bisa kau lahirkan lagi).

Tapi andai takdir membawa kita bisa bertatap mata lagi, sungguh ada satu hal yang ingin kuakui. Aku, sejak pertama mengenalmu hingga hari ini, selalu rindu tersenyum denganmu. Ya, hanya tersenyum, satu hal itu. Satu hal yang mampu melunakkan hati kita, mengantar kita untuk saling menyapa, lalu mencoba bertanya kabar hingga mempertanyakan kembali “apakah benar kita sudah saling mengenal?”.

Satu hal itu pula yang membuatku senantiasa luruh emosi, luruh trauma, lalu berdoa: semoga kita senantiasa dalam ampunan-Nya.

Salam,

Yang merindu tersenyum denganmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *