Celoteh Mimpi

Biarlah orang bilang aku manusia pengkhayal. Pemimpi ulung yang terlalu lebay. Tapi selagi tak ada Undang-Undang Mimpi, Pajak Khayal, dan Peraturan Ke-lebay-an; aku ingin menuliskan beberapa keinginan.

Biarlah aku tak bisa memilih lahir dari dinasti ber-uang. Setidaknya aku berhak memutuskan untuk menjadi siapa, ingin apa, dan bagaimana mewujudkannya. Dan, jika aku menjadi ‘seseorang’ suatu hari nanti, keinginan inilah yang memerisai.

1. Kosan Bacaan
Aku punya kebiasaan duduk di bawah jemuran kosan saban pagi. Menikmati celoteh mentari sambil mengutui bacaan (apa saja). Letaknya di lantai 3, bak lapangan terbuka di atas bangunan.

Sayangnya, penghuni kosan yang semuanya berstatus mahasiswa, masih asik dengan bantal dan selimut. Satu dua jendela kamar terbuka, hanya terdengar dentuman musik saja.

Kasihan sekali. Mereka hampir tak pernah mencoba merasakan nikmatnya membaca di pagi hari. Itulah mengapa kuarsip semua buku kepunyaanku, kupersilahkan mereka meminjam buku mana pun dan kapan pun mereka mau.

Lumayan, satu dua mulai menyukai membaca. Ada juga yang memberanikan diri bertanya tentang bacaan yang belum ia pahami, hingga celoteh tanpa tema yang mengalir begitu saja. Semoga seiring waktu berjalan, upaya ini mampu menggaet tiap mahasiswa untuk mulai cinta membaca.

Berangkat dari sanalah hatiku membersit sebuah keinginan: semoga suatu hari bisa membangun kosan dengan taman yang membuat penghuninya kian cinta ‘membaca’.

2. Pendopo Kajian
Sejak bapak cerita ingin membangun mushola di depan rumah, hatiku seolah terdorong kuat untuk mewujudkannya. Jika mampu, sekalian sebuah pendopo untuk santri-santri bapak. Pendopo yang juga bisa dipakai pengajian oleh warga sekitar, agar bapak tak perlu keliling masjid lagi.

Melihat betapa besar tekad bapak dalam mengabdi pada agama dan masyarakat (meski tanpa ‘harga jasa’), agaknya sebuah mushola dan pendopo itu akan menjadi kado paling istimewa buat bapak.

Doakan anakmu, ya, Pak.

3. Kedai Rujak Nusantara
Entah apa yang membuatku begitu cinta pada makanan tradisional satu ini. Meski tiap kota punya cita rasa berbeda, bahan utama beda, juga nama lengkap yang berbeda; aku tetap cinta semuanya. Asal ada sebutan ‘rujak’ di depannya, berarti marganya sama.

Rujak manis, rujak tolet, rujak petis, rujak uleg, rujak beubeuk, (rujak) lutis, rujak asam manis, rujak buah, rujak cingur, es krim rujak, rujak tahunan, dan sederet rujak-rujak lain. Aku suka semuanya.

Sayang, di Indonesia masih belum kutemukan sebuah tempat yang khusus menjual aneka rujak dari seluruh nusantara. Itulah mengapa aku sangat sangat sangat ingin bisa membuat beraneka macam rujak, dan membangun Kedai Rujak Nusantara.

Bahkan meski nanti tidak laku, aku tetap senang menyantapnya sendiri. Xixix.. Tapi siapa pula yang mau berharap demikian.

Nah, itu tiga keinginan yang boleh dibilang mimpi konyol. Bila ada diantara pembaca yang tertarik untuk membantuku mewujudkan itu atau justru kepincut bikin sendiri, monggo.. aku senang sekali. Sebaliknya, mau menertawakan juga sah-sah saja. Toh, bermimpi itu tidak merugikan.

Facebook Comments

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *