Hampa Maya

Angin, benarkah aku seorang pengecut? Seorang yang membakar lumbung padi demi mencari tikus.  Seorang yang berjalan dengan mata kuda. Seorang yang.. egois dengan fantasi, tapi terlalu gegabah untuk melangkah di laring dunia.

Ah, tak mungkin kau tak paham, Angin. Ini tentang apa yang antariksa sebut sebagai “media sosial”. Benar. Tentang kenekatanku untuk menutup semua akun di istana maya itu, juga tentang segala persepsi di kepala para penghuninya.

Memang. Betapa naifnya aku yang mengambil 144 SKS di jurusan Ilmu Komunikasi konsentrasi Jurnalistik, justru sesak napas saat meghirup udara sosial media.

Kajian jurnalistik itu, Angin, kau tahu layaknya ruang angkasa yang planet-planetnya dihubungkan oleh jejaring sosial. Bahkan Jurnalisme Online, mata kuliah yang baru saja kukaji semester lalu, mewajibkan semua mahasiswanya untuk membuat akun baru di semua moda sosial media. Jika dosen matkul itu tahu, pasti huruf “E” yang akan tertulis di Kartu Hasil Semester-ku.

Nyatanya, dari ribuan pertemanan di jejaring sosial, hanya beberapa kawan yang menyadari dan menanyakan: mengapa aku menutup akun.  Sisanya, bukan, selebihnya? Mungkin saja lebih ingin bertanya tapi tak bisa. Atau justru tak peduli dan tak perlu peduli: mengapa aku menutup akun.

Aku pun tak yakin, Angin. Aku tak yakin dengan jawaban untuk pertanyaan itu. Dalam rumus penulisan berita, pertanyaan yang diawali “mengapa”, tentu harus dijawab “karena”. “Karena” itu mencerminkan alasan. Sedang alasan untuk menutup akun-akun itu, aku tak yakin kalau aku punya.

“Karena ada sesuatu yang kutakuti di sosmed. Karena sosmed terlalu bising hingga membuatku asing. Karena aku muak dengan kevulgaran jemari penghuninya. Karena aku ingin lebih tenang tanpa kamuflase pertemanan. Karena Facebook, Twitter, Link In, Google+, Path, Instagram, dan semua kawan-kawannya, justru membuatku autis.” Itukah alasanku?

Oya, kau tahu mengapa Mark Zukenberg mencipta Facebook, Angin? Dosen Kapita Selekta Komunikasi pernah bercerita, mulanya Mark ingin berinteraksi dengan kawan-kawan tidak hanya sebatas di kelas saja. Dimana pun dan kapan pun, ia ingin bisa berbagi kabar dan saling sapa. Itu hal mahal di negaranya.

Mulia sekali, bukan? Begitu pun kukira, tujuan para pencipta jejaring lainnya.

Dosen Jurnalisme Online juga pernah berkelakar, “Ketikkan kata ‘mahasiswi’ di mesin pencari gambar, yang muncul pasti para gadis tanpa busana”. Mesin pencari yang disembah sebagai makhluk serba tahu itu, sejatinya hanya dijerat user dengan mantra ‘link’.

Itulah mengapa dia mewanti-wanti: kuasai ilmu SEO. Kutambahi: lalu perangi ‘kebodohan’ mesin pencari. Dan, sosial media adalah salah satu senjata ampuh untuk menaklukkan SEO. Kurasa ini setara jihad fisablilillah (di dunia maya) tanpa harus menjadi teroris atau berperang di zaman Nabi.

Wuah, sosial media besar sekali manfaatnya. Tidakkah aku rugi jika melarikan diri?

Semula aku pun berpikir sama, Angin. Rugi besar. Bahkan seorang kawan sempat menyindir, “Kok bisa, ya? Kau kan masih muda. Di saat generasi muda berkoar tak bisa hidup tanpa sosmed, kau malah..”, ya, bolehlah dia sebut aku manusia tak wajar.

Tapi, jujur saja -aku tak tahu apa ini bisa disebut alasan, setahun terakhir ini sosmed seperti memenjarakanku di ruang hampa. Semakin banyak jaringan pertemanan, semakin aku tidak tahu apa arti itu semua bagi kehidupan.

Agaknya, sosmed melatihku untuk terbiasa ‘melihat dan dilihat orang lain’ ketimbang mendengar suara hati sendiri. Jean Baudrillard benar, “Kita berada dalam semesta yang begitu melimpah informasi, tetapi begitu hampa makna”.

 

Direpost dari http://jalandamai.com/2014/10/04/hampa-maya/

One thought on “Hampa Maya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *